Para Penjelajah Semesta

Para Penjelajah Semesta
Kehidupan Setelah Serangan


__ADS_3

Beberapa bulan setelah peristiwa serangan itu, penduduk mulai merasakan masalah-masalah baru yang ditimbulkan. Satu bulan pertama penduduk memanfaatkan ikan hasil nelayan sebagai sumber makanan utama, namun mereka mulai merasakan jenuh karena kurangnya makanan karbohidrat.


Sebelumnya bahan makanan karbohidrat seperti kentang, ubi dan gandum dipenuhi dari negara lain. Kini mereka mulai merasa ada yang kurang dari makanannya. Sayur dan buah pun lebih banyak dihasilkan oleh negara lain.


Bulan kedua keuangan dan perekonomian negara menurun. Tingginya kebutuhan dan jumlah barang yang tersedia sedikit, membuat harga barang-barang meningkat. Penduduk makin kesulitan memenuhi kebutuhannya. Uang jadi tak terlalu bernilai.


Bulan ketiga kesehatan masyarakat menurun, stok obat-obatan di pusat kesehatan pun makin menipis. Akibatnya penyakit-penyakit berat tak dapat diobati, hanya diberi perawatan agar dapat bertahan lebih lama. Penyakit-penyakit lainnya mulai kehabisan obat dan tak dapat ditangani dengan baik.


Para ibu mulai mengkhawatirkan anaknya agar tidak terserang penyakit. Jika seorang anak terkena demam, mereka akan segera mengompres dan menyembuhkan sejak dini sebelum parah dan sulit disembuhkan.


Para bapak mulai lelah mencari ikan di laut karena di pasar harganya murah. Mereka mulai mencemaskan istri yang selalu murung dan anak yang mulai mengeluhkan kehidupan yang mulai susah.


Para remaja yang sempat memimpikan pergi sekolah ke negara-negara besar kehilangan semangatnya. Mereka juga kehilangan sahabat-sahabat yang berada di negara besar untuk sekolah atau bekerja.


Keceriaan sulit ditemukan di wajah-wajah mereka.


Bulan-bulan berikutnya Ferrata mulai merasakah masalah yang besar, yakni psikologi. Ketakutan, putus asa, dan kesedihan menjadi masalah yang dialami semua penduduk. Bulan-bulan yang berat.


Enam bulan setelah serangan, Negara Ferrata seperti penjara terbuka yang menyedihkan.


Di istana, sang Raja mulai memikirkan jalan keluarnya. Raja memanggil para Penasihat Kerajaan dan Dewan-Dewan Kerajaan.


“Bagaimana kita bisa menyelesaikan masalah ini? Rakyat mulai sengsara,” kata Raja.


“Tidak hanya rakyat yang sengsara, kerjaan dan kehidupan para Dewan pun mulai terkena dampaknya,” kata salah serorang Dewan.


“Kita tidak boleh hanyut dalam masalah, Raja. Kita harus memikirkan solusinya,” seorang Penasihat membuka suara.

__ADS_1


“Pertama, kita harus menyelesaikan masalah makanan, kemudian pusat-pusat ekonomi rakyat dihidupkan dan obat-obatan harus dibuat. Kita harus kembalikan semangat hidup rakyat,” kata Raja.


Para Penasihat mulai berunding dan memikirkan jalan keluar.


“Kita harus bangun pertanian dan perkebunan. Tanah-tanah di bukit dan gunung harus digunakan untuk menanam ubi dan kentang. Beberapa pulau subur lainnya juga dapat ditanami,” kata seorang penasihat.


“Kita harus memberi mereka pelajaran bertani,” kata seorang Dewan. “Selama ini rakyat kita hanya menjadi nelayan dan pembuat kain.”


“Betul. Saya setuju. Kita kumpulkan orang-orang yang mengerti pertanian untuk memulai bertani dan mengajari rakyat menanam ubi, sayur, kacang, buah, dan tanaman obat” jawab Raja.


Semua mengangguk dan mulai menyusun rencana membangun pertanian di Kerajaan Ferrata.


“Kita juga harus membangun tempat pendidikan. Lapangan dan alun-alun tempat tentara berlatih cukup luas. Kita bisa membagi tempat untum mulai membangun tempat pendidikan.” Seorang penasihat lain memberikan usul.


Rapat tertutup di kerajaan itu berlangsung cukup lama. Usulan-usulan dibahas dan segera dibuat rencana pelaksanaannya. Semangat baru muncul di kerjaan.


Seminggu setelah kerajaan mengadakan rapat, kerajaan sudah mengumpulkan 126 pemuda dan orang tua yang pernah belajar pertanian di negara besar. Mereka diminta mulai membangun pertanian kerajaan dan mengajak rakyat lain ikut bertani.


Akhirnya penduduk yang pernah belajar pertanian dan beberapa pernah mempraktikannya di rumahnya, mengatakan kesiapannya.


“Semoga ada harapan yang lebih baik bagi Ferrata,” kata seorang pemuda.


Selama sebulan dua hektar tanah di bawah bukit mulai digarap. Bibit yang berhasil dikumpulkan dari sumbangan rakyat dan sebagian persediaan kerajaan ditanam.


Bibit-bibit itu mulai tumbuh. Petani pemula itu menyirami bibit setiap hari. Namun pada penanaman pertama kegagalan cukup besar. Hanya beberapa tanaman yang menghasilkan dengan jumlah sedikit.


Penanaman kedua kembali dimulai dengan mengacu pada kegagalan sebelumnya. Setelah 3 bulan, hasil panennya lebih baik. Meski jumlah paneh tidak telalu banyak karena ada sebagian yang pertumbuhannya kurang baik, kerajaan cukup senang. Ini adalah awal yang baik.

__ADS_1


“Ini menunjukkan tanah kita subur dan dapat ditanami,” kata seorang Dewan.


Keesokannya Raja mengumumkan hasil pertanian kepada seluruh rakyat. Hal itu membuat semua rakyat gembira dan semangat untuk ikut menanam.


Penanaman ketiga menghasilkan lebih banyak ubi dan sayur berkat gotong royong dari penduduk. Hasil panen dibagi untuk kerajaan dan semua rakyat tanpa kecuali.


Panen keempat menghasilkan kebahagiaan dan semangat yang lebih berlimpah. Pada periode penanaman ini, semua perempuan yang sehat ikut menjadi petani. Sedangkan laki-laki kembali mencari ikan. Beberapa di antaranya tetap menjadi petani untuk membantu tugas berat perempuan.


Penanaman kelima menghasilkan panen seratus persen. Tidak ada kegagalan pertumbuhan. Mereka mempelajari penanaman pertama, kedua, ketiga dan keempat.


Hasil panen kelima ini disyukuri dan kerajaan mengadakan acara makan bersama rakyat sebagai rasa syukur pada Tuhan.


Hari itu penduduk membuat olahan makanan dari ubi dan gandum. Roti dengan aroma lezat, kue-kue dan makanan manis dibuat dari hasil panen.


Hasil laut tidak dilupakan. Ikan bakar, kerang bumbu dan olahan ikan lainnya menjadi hidangan yang dikumpulkan di alun-alun kerajaan yang baru saja selesai dibangun.


Malam hari, alun-alun baru itu dipenuhi rakyat. Tua dan muda, pria dan perempuan, serta anak-anak. Mereka memanjatkan doa keselamatan dan makan bersama di alun-alun belakang kastil.


Semua boleh makan sepuasnya makanan yang telah dibawa oleh siapapun.


“Ini baru langkah awal. Kita harus menghidupkan pasar rakyat untuk tetap menjaga kestabilan. Pertanian harus ditingkatkan dengan menanam buah-buahan. Bahan-bahan obat harus dikembangkan. Sekolah harus kembali dihidupkan. Kita harus bertahan sampai gerbang kembali dibuka,” kata Raja pada Penasihat dan Dewan yang duduk di sampingnya.


“Kita harus membuka misteri di balik semua peristiwa ini. Kita harus melihat sisa-sisa negara yang sudah hancur. Mungkin ada peninggalan yang dapat menjadi petunjuk atau kita gunakan untuk keselamatan kita. Bukan tidak mungkin serangan selanjutnya kembali menyerang,” tambah Sang Raja.


Setelah malam itu, seluruh penduduk kembali ke rumahnya.


Sementara itu, di tempat tidurnya, Sang Raja mulai memikirkan misteri dan segala tanda tanya di luar sana. Apakah negara besar betul-betul binasa tanpa sisa? Jika iya, apakah mereka bisa dikembalikan lagi? Dan apakah serangan itu akan kembali lagi?

__ADS_1


Raja memutuskan harus mencari petunjuk untuk membuka pintu-pintu pertanyaan ini.


[Next Part 3]


__ADS_2