
Tok! Tok! Tok!
Ketukan pintu itu terdengar ketika Saga baru saja membaringkan tubuh dan menarik selimut. Ia mendengus.
“Siapa?!” tanya Saga. Lebih tepatnya menggertak.
“Renn,” ujar seorang wanita dari balik pintu.
“Hei, sekarang aku ingin istirahat!” sahut Saga.
“Bisakah aku masuk?” jawab Rinn. Ia seakan tak peduli dengan perkataan Saga yang secara tak langsung menolak kedatangannya.
“Agh!” Saga mengadukan gigi-giginya. “Masuk!” ujarnya kemudian.
Daun pintu terkuak. Seorang wanita masuk dengan tersenyum simpul. Ia melangkah mendekati Saga.
“Apakah kamu sudah menyampaikan berita itu pada Ghanda?” ucapnya dengan nada santai.
“Sudah.” Saga sama sekali tak berminat meresponsnya. Ia tak mau ada banyak obrolan. Ia ingin istirahan mengendurkan otot-ototnya.
Dengan cuek Saga membaringkan tubuhnya kembali. Tak peduli meski Rinn ada di kamarnya. Jika ia sudah tidur, ia yakin Rinn pasti akan pergi.
“Aku tahu kamu penasaran dengan bulan biru itu, kan? Aku tahu banyak hal tentang itu,” ujar Rinn yang juga tak peduli lawan bicaranya sudah menutup diri dengan selimut.
Saga membuka selimut. Ia bangkit.
Tuh, kan! Rinn bersorak dalam hati.
“Cepat katakan, apa yang kamu tahu tentang semua itu?” Saga memburu.
“Eit, tenanglah sedikit. Jangan tergesa-gesa.” Rinn duduk di pinggir ranjang Saga. “Jika kamu ingin tahu semua tentang itu, ada syaratnya.” Ia memegang pundak Saga yang telah duduk di atas ranjang.
Saga melirik tangan Rinn yang menyentuh pundaknya. Ia menatap curiga.
__ADS_1
Rinn menangkap kecurigaan Saga. “Tenang, aku tidak seperti yang kamu pikirkan. Aku hanya ingin satu, kau menyingkirkan Ven.”
Saga berdegup. “Menyingkirkan Ven? Maksudmu? Dan, mm, kenapa?”
“Iya. Dia itu tak sebaik yang kamu pikirkan? Dia ingin menguasai tempat ini dan seluruh semesta. Jika kamu tak menyingkirkannya, kita yang akan disingkirkannya.”
Saga menatap lurus. Pikirannya penuh pertimbangan. Ven tak sebaik yang dipikirkan, kalimat itu menggantung di otaknya.
Ya, Saga sebenarnya juga tahu kalau Ven memang tak menyukainya. Sikap Ven juga sering tak ramah. Namun, sejauh ini ia tak pernah tahu kalau Ven ingin menguasai semesta. Pertanyaan berikutnya, menyingkirkan Wen? Itu pilihan sulit. Dengan cara apa? Ia tak mungkin membunuh Ven. Saga tidak memiliki kekuatan sebesar Ven.
Selain itu, Ghanda menaruh kepercayaan besar pada Saga di tempat ini. Jika ia melakukan pembunuhan, mungkin Ghanda akan marah dan tak memercayainya lagi.
Akan tetapi, keseriusan Ghanda meminta Rinn mencari tahu tenatng bulan biru itu juga harus diwaspadai. Sepertinya Ghanda punya rencana besar. Bahkan Ghanda meminta pasukan Abrasus yang ganas, brutal dan kuat untuk bersiaga menghadapi peristiwa itu.
Dan sampai sejauh ini Saga tak pernah tahu rencana Ghanda, yang mungkin suatu saat akan menyingkirkannya. Ia harus mengancang-ancang.
“Baiklah, aku terima tawaranmu,” ujar Saga.
*
Selepas Rinn pergi, Saga terdiam di kamarnya. Matanya menatap hamparan hutan di belakang istana yang serbahitam: tanah, pohon, bunga, rumput, jamur. Semua yang tumbuh di hutan itu hitam. Gelap. Dan pekat.
Dalam diam, pikiran Saga menerobos ke langit. Ia memikirkan peristiwa besar yang akan terjadi di Planet San yang baru saja ia dengar dari Rinmey. Peristiwa itu ialah munculnya bulan biru.
Bulan biru akan membangkitkan semua energi jahat dan energi baik di jagat raya, lalu mengumpulkannya. Energi itu bisa diserap oleh manusia atau makhluk apa pun dengan meditasi. Cara lain untuk mendapatkan energi itu adalah dengan menyerahkan diri kepada bulan biru bahwa ia rela menerima energi bulan biru demi kepentingan orang banyak. Tetapi, cara yang kedua ini hanya bisa dilakukan oleh orang yang memiliki garis keturunan darah dengan seorang yang pernah mendapatkan energi bulan biru di masa lampau. Dan itu sangat sulit, tak ada yang tahu siapa yang pernah mendapatkan energi itu ribuan tahun lalu. Bulan biru muncul setiap 1000 tahun sekali.
“Ini adalah kali pertama aku merasakan gelisah,” batin Saga. “Bagaimana jika peristiwa itu terjadi? Dan bagaimana jika Ghanda dapat mengambil kekuatan dari kerajaan Sankz? Ia bisa melakukan apa saja yang ia inginkan, mungkin juga menghancurkannku. Tidak mudah menghadapi Ghanda jika kekuatannya sangat meningkat!” gumamnya dengan suara setengah berbisik.
“Lalu, bagaimana juga dengan Ven, apa benar ia juga ingin menguasai energi tersebut?” Saga terdiam. Tatapannya lurus. Ia teringat bisikan Rinn bahwa Ven sudah mengetahui semua itu sejak lama.
“Aku harus melakukan sesuatu!” katanya.
Saga teringat tentang Hutan Terlarang yang selama ini ia abaikan. Selama ini ia tidak merasa perlu untuk mendapatkan kekuatan dari Roh Penjaga Hutan.
__ADS_1
Mengingat Roh Penjaga Hutan, Saga jadi teringat tentang elemen rahasia yang hanya diketahui Roh Penjaga Hutan untuk menyempurnakan dimensi ini.
Jika memang selama ini Roh Penjaga Hutan yang mengetahui elemen itu, mengapa Ghanda selama ini tidak meminta elemen itu. Apakah tantangan dan pengorbanannya sangat besar? Ataukah Ghanda tidak menginginkan kesempurnaan dimensi ini.
Dengan kesempurnaan Dimensi Kegelapan, apapun keinginan penghuninya akan terwujud. Bahkan jika keinginan itu berupa kekuatan.
“Baiklah, aku harus mendatangi Hutan Terlarang itu. Mencari tahu semuanya dan mendapatkan kekuatanku,” kata Saga.
Saga mengganti pakaiannya. Mengambil pedan dan jirah pelindung tubuhnya. Ia mempersiapkan diri untuk berangkat ke Hutan Terlarang saat itu juga.
Sekali lagi Saga berdiam memantapkan diri sebelum berangkat.
“Ya, kali ini aku harus pergi ke Hutan Terlarang!”
Saga keluar dari kamarnya. Berjalan melewati lorong. Menuruni tangga dan keluar dari istana.
Saga berjalan cukup lama sampai tiba dipintu Hutan Terlarang. Ia melewati sungai, bukit, pepohonan yang tak dapat dikenali dan jalan setapak yang mungkin pernah dilewati Ven dan Rinn saat pergi ke Hutan Terlarang dahulu.
Di dalam Hutan Terlarang, Saga mencari tempat yang tepat untuk semedi. Hutan ini sepi dan sunyi. Tak ada tanda-tanda keberadaan Roh Penjaga Hutan. Mungkin Sang Roh bersembunyi di suatu tempat dan hanya datang saat ada yang memanggilnya.
Ia meletakkan pedangnya di samping kakinya. Ia mengambil posisi duduk dengan nyaman. Menutup mata. Mengosongkan pikirn. Merapatkan tangan.
Saga fokus pada pikirannya memanggil Roh Penjaga Hutan.
Sementara itu, di kamar pribadi milik Saga, Ven bersembunyi di dalam dinding kamar Saga. Ia mengubah setiap sel tubuhnya menyatu mengikuti tekstur dinding sehingga tubuhnya melebur dalam dinding. Ven mengintip apa yang terjadi saat itu.
Sedari tadi Ven menguping percakapan antara Rinn dan Saga. Ia juga mendengar Rinn dan Saga merencanakan sesuatu meski belum tahu apa yang akan direncanakannya. Yang pasti, ia harus lebih waspada. Ia tak boleh kalah cepat dengan tindakan Saga yang masih tanda tanya itu.
[Next Part 11]
__ADS_1