Para Penjelajah Semesta

Para Penjelajah Semesta
Cinta dan Perjodohan


__ADS_3

Aula kerajaan di kastil New Ferrata dipenuhi seribu dua ratus lebih laki-laki dan perempuan. Yang termuda berusia 17 tahun, yang tertua berusia 48 tahun. Kerajaan sudah mengetes setiap penduduk di Kerajaan New Ferrata degan meminta mereka membaca mantra. Hasilnya seribu dua ratus lebih orang diminta berkumpul hari ini di aula kerajaan.


Seorang Prajurit Kerajaan menyampaikan berita bahwa orang-orang yang hadir hari ini adalah orang-orang pilihan. Kemudian Prajutit itu meminta semua yang hadir di ruang ini untuk bersedia mendapatkan pembinaan selama satu minggu ke depan.


“Kalian semua akan mendapatkan pembinaan eksklusif dari kerajaan. Kami sudah menyiapkan banyak orang-orang terbaik dan beberapa anggota Penasihat Kerajaan yang akan membimbing kalian,” ujar seorang Prajurit.


Bisik-bisik menggemuruh di antara mereka.


“Mohon tidak bersuara.” Prajurit Kerajaan menenangkan. “Kalian akan memulai bimbingan eksklusif ini besok. Hari ini kalian boleh pulang. Besok pagi kalian sudah berkumpul di ruangan ini pukul 9 pagi. Semua data kalian sudah kami miliki, jika ada yang tidak hadir, kami akan mendatangi rumah kalian. Jangan sia-siakan pembinaan ini,” Prajurit menutup penjelasannya. Ia membubarkan barisan dan memperbolehkan penduduk meninggalkan area kastil.


Neil bersama seribu dua ratusan penduduk yang diundung oleh kerajaan keluar gerbang kastil. Sebagian orang ke kedai untuk makan dan membicarakan apa yang tadi disampaikan di aula, sebagian kembali bekerja, dan sebagian lagi pulang. Neil menjadi salah satu orang yang kembali ke rumahnya.


Malam hari, di meja makan keluarga, Neil dan keluarganya menikmati makan malam mereka. Malam ini tak seperti malam biasanya, ada sosok Naira yang ikut makan malam. Ibu Neil yang mengundang Naira untuk ikut makan malam ini. Ibu Neil pun menyiapkan hidangan yang berbeda. Lebih enak dan banyak.


Bukan tanpa maksud Ibu Neil mengundang Naira untuk ikut makan malam ini. Ia ingin menjodohkan Neil dan Naira. Sudah dua tahun ini ibu dan ayah Neil membuat kesepakatan tanpa persetujuan Neil tentang perjodohan ini.


Naira merupakan anak seorang anggota Dewan Kerajaan. Naira sendiri menyambut perjodohan ini. seudah sejak lama ia menyukai Neil. Ia sering bercerita pada ibunya bahwa ia menyukai sosok Neil. Ibu Naira bercerita tentang lelaki yang disukai Naira pada ayahnya. Lalu perjodohan itu diinisiasi oleh kedua orang tua Naira. Pada saat acara festival tahunan kedua orangtua Naira menemui kedua orangtua Neil. Pembicaraan perjodohan itu berlangsung di kesempatan itu.


“Makan yang banyak Neil. Besok kamu akan mulai mengikuti pembinaan di kastil kerajaan. Kamu butuh stamina banyak,” kata ibu.


Neil tak menjawab. Ia terus makan dengan tenang dan tak terusik oleh apapun. Bahkan ia seolah tak menyadari keberadaan Naira.


“Ibu bangga padamu. Kamu memenangkan turnamen memanah. Dan sekarang kamu mendapat undangan pembinaan dari kerajaan. Ibu yakin kamu akan jadi yang terbaik dalam pembinaan tersebut. Betul, kan, Naira?” ibu melirik Naira.


Naira mengangguk dengan senyum. Ia sendiri ingin ikut memuji Neil, namun ia tidak siap jika nanti Neil tak menggubrisnya sama sekali. Ia tak mau itu. Sebagaimana yang selalu Neil lakukan.


“Di sana ada banyak orang, Bu. Pembinaan ini tidak sepenuhnya eksklusif menurutku. Jumlahnya lebih dari seribu orang. Ini sama saja dengan pembinaan umum. Lagi pula tak ada informasi apapun mengenai penilaian. Tak ada yang akan menjadi yang terbaik. Semua sama saja,” jawab Neil.


Ibu baru saja mau menjawab, namun Naira sudah lebih dulu mengangkat suara. “Di luar purnama indah, ya,” kata Naira mencari topik lain untuk menyamankan Neil. Tempat duduknya menghadap jendela luar.


Ibu segera menyambut. “Setelah makan malam, sebaiknya kamu jalan-jalan saja dulu melihat pemandangan laut pasang saat purnama. Jangan buru-buru pulang. Kamu temani Naira ya, Neil.”

__ADS_1


Naira melirik Neil demi mengetahui reaksinya.


“Iya, Bu,” jawab Neil singkat.


Neil dan Naira berjalan-jalan di pesisir pantai yang tengah pasang. Purnama bersinar terang. Gemuruh ombak dan kencangnya angin membuat malam mereka terasa hidup.


Naira menekan-nekan permukaan pasir dengan jempol kaki kanannya, sekadar iseng. “Selama program bimbingan dari kerajaan ini kamu akan dibebaskan untuk tidak masuk sekolah. Sepertinya aku akan jarang melihatmu,” kata Naira dengan sedikit dorongan ingin mengetahu reaksi Neil atas kalimat penuh maksudnya itu.


“Kamu bisa datang ke rumahku sore dan malam,” kata Neik. “Aku akan pulang setiap jam 4 sore,” lanjutnya.


Naira ingin mengungkapkan bahwa ia tak keberatan datang ke rumahnya, namun Neil selama ini tak pernah memberi sambutan yang baik akan kehadirannya. Ia ingin mendengar bahwa Neil pun akan merasa kehilangan dirinya selama mengikuti program bimbingan dari kerajaan.


“Sejujurnya aku tidak terlalu tertarik mengikuti program bimbingan itu tanpa kuketahui untuk tujuan apa.” Neil kemudian duduk di pasir pantai. Ombak yang merayap di permukaan pasir sesekali menjumpai kakinya. Terasa geli saat ombak kembali ke lautan.


Naira pun ikut duduk di samping Neil. Ia tak mengkhawatirkan pakaiannya yang menjadi basah. Mereka memandang lautan yang memantulkan cahaya purnama. Naira bersedia menjadi pendengar apa yang ingin Neil ceritakan. Namun Neil malah diam memandangi lautan.


Apa yang ada di pikiranmu, Neil? Apa yang membuatmu senang, suka dan nyaman? Kenapa sampai saat ini begitu sulit bagiku mendalami dirimu, kata Naira dalam batin.


“Jika kamu ingin menceritakan sesuatu, ceritakanlah.” Naira membuka pembicaraan. Ia menarik napas untuk perkataan selanjutnya. “Jika kamu tak menganggapku calon pasangan hidupmu, terimalah aku sebagai sahabatmu, Neil,” kata Naira akhirnya. Entah bagaimana ia bisa mengungkapkan itu. Ia hanya ingin menjadi orang yang hadir dalam segala kondisi Neil.


“Aku mencari-cari sosok Asteria di aula tadi. Tapi ia tidak ada di sana. Aku merasa ia sangat pantas berada di sana. Meski ia kalah dalam turnamen melawanku, aku melihat ada gairah dan semangat yang besar dalam Asteria. Ada tujuan dan ambisi yang besar. Aku ingin menjadi rivalnya dalam bimbingan. Tapi dia tidak ada.”


Naira mendengarkan.


“Aku tanya-tanya beberapa orang yang dekat dengan Asteria di kastil tadi, namun tak ada yang mengetahui keberadaannya. Aku sengaja mengambil jalan pulang memutar demi melewati rumah Asteria. Namun aku tak menemukan sosok Asteria di rumahnya. Aku menunggu lama di bawah pohon. Tak ada tanda-tanda keberadaan Asteria.”


“Kenapa kamu tidak masuk saja ke rumahnya dan pastikan langsung keberadaannya?” tanya Naira.


Neil menggeleng. “Tidak. Aku tidak terlalu dekat dengannya.”


“Kamu memang sulit dekat dengan siapapun Neil,” kata Naira. Sedikit ia menyesali kalimat yang terlalu jujur itu. Ia bisa mengubah suasana hati Neil yang mulai membaik.

__ADS_1


Neil menoleh. Ada maksud lain yang ditangkapnya dari kalimat Naira itu. Tapi secara umum ia mengakui penilaian itu.


“Aku tidak dekat dengan Asteria, tapi aku mengamati anak itu di sekolah. Sedikit yang kutahu, dia punya ambisi besar untuk keluar menembus dinding bersegel itu. Dia punya semangat besar akan petualangan,” ujar Neil.


Naira yang mendengar itu sedikit beripikir apakah selama ini Neil juga mengamati dirinya meski sulit untuk menjadi dekat dengannya. Ia berharap hal itu juga terjadi padanya.


“Kenapa dia ingin menjelajahi dunia luar? Apa yang menarik di sana selain hanya lautan?” tanya Naira.


“Entahlah. Aku tidak mengerti. Tapi begitulah cara begerja sebuah mimpi dan gairah. Kita tidak pernah bisa memahami apa yang menjadi mimpi orang lain karena kita tidak menginginkannya. Mutiara hanya akan bermakna bagi orang yang mencari, menginginkan dan mengaguminya. Bukan begitu?” jawab Neil.


Naira mengangguk. Sama seperti dirinya yang menginginkan Neil yang tak dapat dipahami atau dirasakan oleh Neil. Bahkan ia pun tak memahami mengapa ia begitu menginginkan Neil.


“Rasa penasaran yang dimiliki Asteria justru membuatnya hidup. Ia punya misi, ambisi, mimpi dan gairah. Ia yakin dunia tak selesai di tempat kita! Di sana, di tempat yang entah seberapa jauh dan luasnya, ia meyakini masih banyak hal yang bisa ditemui,” kata Neil seolah sudah membongkar isi pikiran Asteria.


Naira menyetujui. Alasan itu jugalah yang membuatnya selalu sulit untuk tidak mengagumi Neil. Ia sososk pendiam namun cerdas. Ia sulit dipahami, namun ia sulit terkalahkan dalam banyak hal.


Tiba-tiba Neil berdiri. Ia membuka tangannya lebar-lebar. Matanya terpejam, bibirnya tersenyum. Ia mencoba menikmati angin bebas yang datang dari lautan dan pergi ke tempat lain sesukanya.


“Kamu sedang apa Neil?” tanya Naira.


Tanpa mengubah posisi, Neil menjawab, “Besok aku akan mulai menjalankan program. Entah apakah akan melelahkan atau menyenangkan. Aku ingin menikmati alam ini sebelum disibukkan dengan tanggungjawab baru.”


Entah karena dorongan yang sama atau apalah, Naira pun ikut berdiri. Ia sedikit tersenyum geli mendapati dirinya yang mengikuti tindakan Neil. Beginikah cinta? Tak peduli paham atau tidak, kita akan tergoda mengikuti gerakan orang yang kita cintai, batinnya.


Setelah cukup lama, Naira menurunkan tangannya. Ia malah memandang Neil yang menikmati sesuatu. Sepintas ia punya ide menjahili Neil. Rasanya sekali-kali Neil perlu diajak bercanda agar membuatnya cair.


Naira mendorong Neil dari belakang sampai Neil tersungkur menemui ombak. Seluruh baju Neil kuyup. Neil berdiri dan mengusap wajahnya yang basah.


“Kamu bau! Kamu harus mandi dulu!” ujar Naira sambil terbahak.


Tak disangka Neil menggenggam pasir, lantas melemparkannya pada Naira. Neil tertawa saat baju Naira kotor oleh pasir cokelat. Naira yang tak mau melewati momen ini kembali menyerang Neil dengan pasir.

__ADS_1


Mereka pun bermain pasir dan air di bawah sinar purnama sampai merasa lelah.


[Next Part 28]


__ADS_2