
Ozha, Viana, dan Peri Lotus tiba di depan pintu rumah Ratu Penyihir yang berada di atas tanah, tidak seperti penyihir lain yang rumahnya di atas pohon. Rumah Sang Ratu Penyihir terlihat kecil dan sederhana. Viana heran mengapa seorang Ratu tidak tinggal di kastil atau puri, melainkan di rumah biasa seperti ini.
Tuk, tuk tuk! Ozha mengetuk pintu.
Langkah kaki terdengar mendekat. Daun pintu pun terbuka. Nampak jelas Ratu Penyihir dengan gaun berwarna merah berdiri di balik pintu. Sang Ratu Penyihir menatap Ozha, Viana dan terakhir Peri Lotus.
“Masuklah Viana dan Peri Lotus. Terima kasih Penyihir Ozha, sudah bersedia mengantar mereka. Biarkan mereka masuk,” ujar Ratu Penyihir.
“Baik, Ratu. Kalau begitu aku kembali lagi. Sampai jumpa nanti Viana, Lotus.” Ozha terbang kembali ke rumahnya. Meninggalkan Viana dan Peri Lotus di depan pintu.
Viana tak sempat memprotes kepergian Ozha. Ia juga merasa kehadirannya sudah diketahu oleh Sang Ratu sebab Sang Ratu sudah mengetahu namanya dan peri yang mendampinginya.
Ratu Penyihir melangkah ke dalam rumah. Viana dan Peri Lotus berpandangan, lantas masuk mengikuti Sang Ratu. Setelah kaki dan tubuh mereka memasuki rumah, pintu tertutup dengan sendirinya. Yang membuat Viana terpanda adalah keajaiban rumah itu. Dari luar terlihat biasa dan kecil, namun di dalamnya sangat luas, tinggi dan megah. Lampu gantung, lukisan Sang Ratu, dan berlian menghiasi singgasana Sang Ratu.
“Luar biasa!” Viana takjub. Peri Lotus tak berkomentar apapun. Ia hanya mengikuti ke manapun Viana akan pergi.
Sang Ratu sudah duduk dengan badan tegak di singgasananya. Viana berdiri di hadapan Ratu Penyihir ditemani Peri Lotus. Ia menunggu Ratu berbicara lebih dulu.
“Apa yang kamu cari di sini?” tanya Ratu.
Mendapat pertanyaan seperti itu, Viana bingung harus menjawab seperti apa. Ia hanya menjalani tugas dari raja Luid untuk menjelajahi dimensi-dimensi dan mendapatkan kekuatannya. Kini ia berada di Dimensi Penyihir, tapi ia tak tahu harus mencari kekuatan seperti apa di dimensi ini.
“Aku datang untuk ...”
“Aku sudah tahu,” sodok Ratu. Membuat Viana seketika diam. “Kamu ke sini untuk mendapatkan kekuatan, bukan?”
Viana mengangguk.
“Kekuatan apa yang kamu cari?” tanya Ratu.
Viana menggeleng. Itu lebih sulit dijawab dari pertanyaan sebelumnya.
“Tidak tahu? Bagaimana bisa kamu datang ke sini tapi tidak mengetahui apa yang kamu cari,” kata Sang Ratu. Viana tak tahu harus menjawab apa. Ia tampak seperti orang bodoh yang kesulitan berpikir.
“Sebelumnya ada beberapa gadis seusiamu datang ke sini untuk mendapatkan kekuatan. Dan kini mereka sudah mendapatkan apa yang mereka mau,” kata Sang Ratu akhirnya.
“Lalu ke mana mereka pergi setelah mendapatkan kekuatan?” tanya Viana kemudian.
“Mereka tidak pergi. Mereka tinggal di sini. Mereka sudah menjadi bagian dari kami. Mereka telah menjadi penyihir di Dimensi Penyihir. Dan Mmereka senang berada di sini. Tak perlu ada yang ditakutkan di sini. Dengan sihir kamu bisa menciptakan semua kebahagiaanmu tanpa bersusah payah. Dan tempat ini cukup untuk menampung semua hal yang orang mau, apa saja,” Sang ratu menjelaskan.
Viana mengangguk. Ia berpikir, mungkin kekuatan yang harus ia dapatkan di sini adalah kekuatan seorang penyihir. “Bagaimana cara mendapatkan kekuatan itu?” tanya Viana begitu saja.
Sang Ratu tersenyum. “Jadi kamu ingin menjadi penyihir?” tanyanya.
Viana ragu untuk mengangguk, juga ragu untuk menggeleng.
__ADS_1
“Kalau kamu ingin menjadi penyihir, kamu harus melewati ritual. Dan kamu harus siap menjalani kehidupan sebagaimana seorang penyihir di sini setelahnya,” kata Sang Ratu menyampaikan aturan mainnya.
“Menjalani kehidupan sebagaimana penyihir? Apakah itu artinya aku harus ikut dalam pesta kawin jika menjadi seorang penyihir?” Viana bertanya-tanya dalam batin.
“Bagaimana keputusanmu?” tanya Sang Ratu.
Viana menimbang. Ia membutuhkan kekuatan itu untuk menyelamatkan negerinya, hanya itu tujuannya. Bukan untuk kebahagiaan dan kepuasannya semata. Viana mencari akal untuk mendapatkan kekuatan sekaligus pergi dari kehidupan penyihir ini. Terbersit ide di kepalanya untuk menjadi penyihir, setelah itu ia pergi meninggalkan dimensi ini menggunakan kekuatan sihirnya. Bukankah dengan kekuatan sihir itu ia bisa mewujudkan mimpinya?
“Berapa lama ritual untuk menjadi seorang penyihir?” tanya Viana kemudian.
Ratu kembali tersenyum. “Paling lama lima hari,” jawabnya.
Viana mengangguk. Ia melirik Peri Lotus untuk mendapatkan masukan. Peri Lotus tak menjawab apapun. Ia sejatinya akan selalu mengikuti keputusan majikannya.
“Bagiaman Viana?” tanya Sang Ratu lagi. Jarinya mengetuk-ngetuk kayu singgasana tanda menunggu jawaban.
Berat hati bagi Viana, namun akhirnya ia menjawab, “Aku bersedia menjadi penyihir.”
Sang Ratu tersenyum lagi. Ia lantas berdiri. Ia mengangkat tangannya, kemudian Viana melayang mengikuti gerakan tangan Sang Ratu.
Viana mendekat ke arah Sang Ratu. Sang Ratu menggenggam pergelangan tangan Viana. Sang Ratu mencoba mencari tahu kekuatan yang dimiliki Viana sebelum mengkonfersinya menjadi penyihir. “Kemampuan memanipulasi kekuatan tanaman,” kata Sang Ratu. “Jenis kekuatan yang unik, namun lemah. Aku bisa menjadikanmu lebih kuat dari ini!” lanjutnya.
Sang Ratu pun menurunkan Viana. Viana merasakan kekuatan yang begitu dahsyat yang dimiliki Sang Ratu. Aura yang kuat dan berbeda dari orang-orang yang pernah ditemuinya. Bahkan terasa lebih menekan dari aura Raja Luid.
“Baiklah, kita akan mulai ritualnya malam ini. Sekarang kamu boleh kembali ke tempat Penyihir Ozha,” kata Sang Ratu. Di saat yang bersamaan, pintu keluar pun terbuka.
Mereka pun melangkah meninggalkan rumah Sang Ratu, mungkin juga kerajaan Sang Ratu. Kemudian mereka terbang menuju rumah Ozha.
Ozha menerima mereka dengan riang gembira. “Apa yang kamu dapatkan di sana?” tanya Ozha pada Viana. Ozha penasaran.
“Aku akan mengikuti ritual menjadi seorang penyihir,” kata Viana dengan kata-kata tak yakin.
Di luar dugaan Ozha berbinar-binar mendengarnya. “Apa? Kamu akan jadi penyihir? Benarkah?”
“Iya. Mulai malam ini aku akan mengikuti ritual itu,” jawab Viana.
“Wah, aku bahagia mendengarnya. Setelah jadi penyihir, kamu akan tinggal di sini selamanya. Aku bisa punya teman baru!” kata Ozha dengan semangat membara.
Mendengar itu membuat Viana mencari kalimat untuk menanyakan cara keluar dari tempat ini, namun tanpa membuat kecurigaan Ozha bahwa ia berencana kabur meninggalkan dimensi ini.
“Mmm, kalau boleh tahu, apakah ada yang pernah meninggalkan tempat ini?” tanya Viana.
“Apa kamu bilang, meninggalkan tempat in?”
Viana kikuk mendapat pertanyaannya diulang. Apakah Penyihir Ozha menangkap maksud lain dari pertanyaannya itu? Viana sedikit cemas.
__ADS_1
“Ya tidak ada!” kata Ozha akhirnya.
Viana mengendurkan ketegangannya.
“Setelah jadi penyihir, kamu bisa mendapatkan apa saja yang kamu mau di sini. Makanan lezat, sembuh dari rasa sakit, setiap tahun ada musim kawin, pokoknya sangat membahagiakan!”
Mendengar kata musim kawin membuat Viana ngilu harus membayangkan pesta kawin masal tanpa ada pernikahan dan ikatan. Namun sekaligus membangkitkan rasa penasarannya untuk bertanya.
“Apakah kalian tidak hamil dan melahirkan setelah pesta cinta itu? Mm, maksudku pesta musim kawin itu.”
“Melahirkan? Penyihir tidak bisa melahirkan. Kami tidak tahu apa itu melahirkan,” jawab Ozha.
“Lalu bagaimana kalian menambah keturunan, menambah jumblah penyihir?”
“Kami hidup ratusan bahkan ribuan tahun. Kami merasa tak perlu ada penerus. Untuk menambah jumlah, dalam seratus tahun ada saja lima sampai sepuluh orang yang tersesat seperti kamu, atau memang sengaja datang ke sini untuk mendapatkan kekuatan. Dan itu sudah cukup menambah jumlah kami,” kata Ozha.
“Jadi, ada banyak orang yang masuk seperti aku dan tak kembali lagi?” Viana makin pensaran.
“Mungkin mereka lupa tempat pulang atau asal mereka. Jadi mereka menimkati tinggal di sini,” kata Ozha.
Viana mengangguk. Meski masih banyak pertanyaan yang menggantung di kepalanya.
Di sela jeda obrolan itu, Peri Lotus justru mengajukan pertanyaan. “Apakah pernah ada seorang gadis bernama Rinn yang datang ke sini?”
“Rinn? Setahuku tidak ada. Memangnya kenapa?” tanya Ozha.
Peri Lotus menggeleng. “Tidak. Tidak ada apa-apa.” Namun dalam benaknya ia terpikir ke mana perginya Elf Rinn jika ia tidak ke Dimensi Penyihir ini? Bukankah dulu Rinn pergi menuju dimensi ini? Apakah Rinn tersesat ke dimensi lain? Pertanyaan-pertanyaan itu menggantung di kepala Peri Lotus.
“Kamu kenapa jadi melamun, Lotus,” tegur Viana.
Peri Lotus tersadar dari lamunannya. Ia menyengir demi menutupi apa yang menjadi pertanyaan-pertanyaannya.
“Kalau begitu aku ingin istirahat dulu sebelum memulai ritual malam ini,” sela Viana.
“Silakan, kamu boleh tidur di tempat tidurku,” kata Ozha sambil tersenyum ceria.
Viana berbaring di ranjang awan itu lagi. Namun sebelum ia terlelap, ia teringat satu pertanyaan yang ingin dia sampaikan pada Ozha. “Bagaimana Ratu Penyihir bisa tahu namaku dan Peri Lotus?” tanyanya pada Ozha.
“Oh, untuk hal itu. Saat Ratu Penyihir membuka pintu dan kami saling berpandangan, secapat itu aku menyampaikan nama kamu dan tujuanmu datang ke sini melalui pandangan,” kata Ozha datar seolah menceritakan hal yang sederhana.
“Telepati. Luar biasa,” kata Viana lirih.
[Next Part 33]
__ADS_1