
Pada jam istirahat kelas, Asteria dan Viana menghabiskan waktu sepenuhnya di perpustakaan sekolah. Mereka mencari buku-buku sejarah dan dokumen-dokumen berusia tua.
Asteria dan Viana duduk di satu meja yang sama, saling berhadapan. Asteria menumpuk belasan buku sejarah yang cukup tebal dan beberapa laporan atau dokumen usang. Mereka berdua membuka-buka halaman buku dengan cepat.
Mata mereka memindai tiap halaman. Mencari kata, judul, paragraf, atau apapun yang berkaitan dengan sejarah masa lalu kerajaan. Berharap menemukan kata kunci yang bisa membawa mereka pada penjelasan tentang peristiwa serangan dan terisolasinya kerajaan ini.
Perpustakaan pada jam istirahat hari itu sedang sepi. Hanya ada Asteria, Viana, seorang murid tingkat satu, dan penjaga perpustakaan.
“Kerajaan ini memang menutupi semua sejarah masa lalunya. Tak ada satu pun buku dan arsip yang menulis peristiwa serangan Pasukan Langit!” Asteria geram.
“Sttt, jangan keras-keras! Nanti kedengaran orang.” Viana mengingatkan dengan suara rendah.
Asteria menutup buku dan berpikir. Mencari cara untuk menemukan misteri sejarah negerinya. Sementara itu Viana tetap sabar membuka-buka halaman buku.
“Kalian sedang membaca buku atau hanya ingin membuat perpustakaan ini berantakan?” seorang perempuan berusa 30 tahunan berdiri di dekat Viana dan Asteria.
Asteria dan Viana mendongak. Ups!
Mereka menatap wajah seorang penjaga perpustakaan yang sudah berdiri di dekat mejanya. Lalu menyadari arsip-arsip dan buku-buku yang mereka bawa telah berantakan di atas meja.
“Kami sedang belajar sejarah, Bu. Kami ada tugas untuk besok tentang sejarah,” kata Viana. Sementara itu Asteria merapikan buku-buku di atas meja. Menumpuknya menjadi satu.
Penjaga perpustakaan itu tak menjawab. Asteria kembali duduk tenang setelah meja kembali rapi.
“Tadi kalian membicarakan Pasukan Langit. Betul?” tanya penjaga perpustakaan.
Viana menatap Asteria dengan tatapan menyalahkan. Seolah mengatakan, tuh kan, gara-gara kamu, sih!
Asteria dan Viana tak tahu harus menjawab apa.
“Ikut aku,” kata penjaga perpustakaan yang segera beranjak.
Asteria dan Viana hanya ikut dengan kecemasan bahwa mereka akan dibawa ke bagian Ketertiban Kerajaan. Atau penjaga perpustakaan yang terkenal kaku itu akan memarahi mereka untuk menghentikan mencari informasi mengenai Pasukan Langit dan sejarah kerajaan masa lalu.
__ADS_1
Penjaga perpustakaan bernama Surah itu membawa mereka ke ruang kerja pribadinya yang masih berada di dalam perpustakaan. Ruangan tertutup itu sekitar 4 kali 5 meter persegi, dengan satu jendela menghadap bukit..
Bu Surah duduk. Asteria dan Viana hanya berdiri menghadap meja Bu Surah.
“Kenapa kalian membicarakan Pasukan Langit? Ada yang sedang kalian cari?” Bu Surah bertanya.
Asteria tak tahu harus membuat alasan seperti apa. Menjawab dengan jujur sama saja memberi kesempatan untuk dimarahi Bu Surah. Ia yakin Bu Surah adalah bagian dari lingkaran penutupan sejarah oleh kerajaan. Begitu pula yang dipikirkan Viana.
“Kalian tidak tahu atau takut?” Mata Bu Surah tajam. Membuat Asteria dan Viana semakin merasa diinterogasi.
“Kami hanya penasaran. Apa betul Pasukan Langit itu ada, dan apa betul mereka pernah menyerang planet ini?” jawab Viana dengan takut, sekaligus memberi kelegaan. Apapun yang terjadi ia siap menerimanya.
“Aku tidak sengaja mendengar kalimatmu,” kata Bu Surah pada Asteria. “Tapi jika memang kalian ingin membuktikan keberadaan Pasukan Langit. Dari mana kalian mendengar tentang mereka?”
“Artinya mereka memang pernah ada?” Asteria mendapati keberadaan Pasukan Langit dari perkataan Bu Surah.
“Dari mana kalian tahu tentang mereka?” Bu Surah tetap pada pertanyaannya yang belum terjawab.
Mendengar suara Bu Surah yang menekan membuat Viana makin tertekan. Sementara Asteria makin merasa ia bisa membalikkan posisi dan menekan Bu Surah.
Asteria menoleh dan menyesali jawaban jujur Viana. Kenapa ia mudah terpojokkan?
“Baik. Seharusnya kamu jawab dari tadi.” Bu Surah menduga bahwa nenek Viana mendapat cerita dari ayah atau kakeknya yang pernah menjadi bagian orang dalam kerajaan.
“Aku akan beri tahu kalian lebih banyak informasi mengenai peristiwa serangan di Planet Sankz dan tertutupnya dinding pelindung negara ini asal kalian bisa menjelaskan apa tujuan kalian menggali sejarah itu.” Suara Bu Surah mulai menurun.
Perkataan Bu Surah memberi pertanyaan baru bagi Asteria dan Viana. Tapi dari perkataan itu pula ada peluang mereka akan mendapatkan petunjuk yang lebih jelas.
“Aku akan menjelaskan, Bu,” kata Asteria. “Sejujurnya semua bermula dari rasa penasaranku. Aku ingin sekali menjelajahi dunia di balik dinding bersegel itu. Seperti apa dunia luar itu? Apakah ada kehidupan manusia di sana? Bagaimana binatang-binatang laut di samudera luas, seperti apa mereka? Aku ingin pergi menjelajahinya. Aku juga penasaran dengan dinding tembus mata namun tak dapat ditembus fisik itu. Bagaimana cara membukanya?”
Asteria terdiam. Ia menunggu respons dari Bu Surah, namun tak ada komentar.
Akhirnya Asteria melanjutkan. “Aku mengungkapkan penasaranku pada Viana. Viana membawaku pada neneknya yang sedikit tahu dari kakeknya. Namun karena semuanya belum jelas dan penuh misteri kami mencari tahu di perpustakaan. Barangkali ada arsip yang pernah menuliskannya.”
__ADS_1
Bu Surah menatap Asteria. “Aku sudah menduga pasti akan ada orang yang penasaran dan mencari tahu semua itu. Dan kini orang itu sudah hadir.”
Bu Surah berdiri. Berjalan ke arah rak buku yang mungkin koleksi pribadi atau koleksi kerajaan yang jarang dimiliki orang lain. “Keluargaku menjaga perpustakaan ini turun temurun. Kami melindungi arsip-arsip yang tak boleh bocor kepada rakyat, bahkan banyak prajurit pun tidak mengetahuinya,” kata Bu Surah sambil berjalan.
Bu Surah mengambil satu tumpukan kertas tua yang diikat dengan kain. Kertas-kertas itu bukan berupa buku. Hanya kertas-kertas tua yang disatukan agar tidak berceceran.
“Sebetulnya semua yang ada di ruangan ini sangat rahasia. Aku mendapat cerita-cerita serta warisan buku dan penjelasan dari ibuku yang dulu menjaga perpustakaan ini. Dan aku akan mewariskannya pada anakku kelak saat ia sudah berusia dewasa. Begitu seterusnya. Semua buku ini harus diwariskan pada satu generasi yang dapat dipercaya.”
Bu surah kembali duduk dan meletakkan bukunya.
“Hari ini aku akan melanggar aturan turun-temurun itu. Namun aku harus memastikan, apakah kalian betul-betul layak mendapat semua penjelasan ini atau tidak. Dosa pelanggaranku harus dibayar dengan tujuan yang murni dan baik dari kalian. Apakah hanya itu tujuan kalian?” Bu Surah kembali menatap Asteria dan Viana bergantian.
“Adakah tujuan yang lebih baik?” Viana bertanya dalam gumam. Bingung dan ragu.
“Jika memang ada yang dirahasiakan kerajaan dari rakyat, artinya ada yang betul-betul berbahaya, penting, dan sangat berharga. Jika itu menyangkut keselamatan rakyat dan kerajaan, aku siap menjaganya. Jika itu sebuah masalah yang harus diselesaikan, aku siap menyelesaikannya,” Asteria berkata dengan keyakinan sekaligus memberi janji.
“Kamu yakin?” tanya Bu Surah.
“Iya, aku yakin. Sangat yakin!” tegas Asteria.
Bu Surah menatap Viana. Mencari jawaban.
Viana yang merasaa terjebak dalam kondisi yang tak diinginkan dan sama sekali tak berkepentingan merasa Asteria telah menjebloskannya pada masalah panjang. Dan intuisinya mengatakan masalah ini akan makin panjang.
“Iya, aku bersedia seperti yang Asteria katakan,” jawab Viana pada akhirnya.
“Baiklah. Aku akan jelaskan semuanya!” Bu Surah membuang napas. “Kalian tidak mau duduk?”
Viana dan Asteria duduk di kursi yang sejak mereka datangi tak berani mereka duduki.
Bu Surah memulai kisah yang selama ratusan tahun dirahasiakan pada rakyat.
[Next Part 13]
__ADS_1