Para Penjelajah Semesta

Para Penjelajah Semesta
Bertahan Hidup di Planet Mordoc


__ADS_3

Asteria berjalan di antara rimbunnya pepohonan yang tinggi menjulang. Pepohonan di hutan tempatnya berjalan memiliki ukuran yang tinggi-tinggi dan besar-besar. Asteria serupa kelinci yang berjalan di hutan, terlihat kecil.


Asteria sudah tiba di Planet Mordoc dua jam lalu. Ia menginjakkan kaki di hutan yang masih sangat terjaga. Tanahnya berupa dedaunan mati dan paku-pakuan yang menunjukkan hutan ini jarang tersentuh kaki manusia.


Jamur-jamur tumbuh segar di permukaan kayu-kayu pohon tumbang dan akar-akar mati. Udara sangat sejuk dan matahari yang menerobos di antara celah dedaunan menjadi cahaya yang menerangi gelapnya hutan tertutup ini.


Petuntuk dari Raja Luid untuk pencariannya di Planet Mordoc hanyalah pesaan bahwa ia harus mendapatkan senjata di dalam danau di planet ini. Sejauh ini Asteria belum menemukan danau apapun.


Sebetulnya bisa saja Asteria menjelajahi hutan itu dengan kemampuan terbang yang diberikan Raja Luid. Namun ia memilih untuk tetap berjalan karena energi yang dibutuhkan untuk melayang cukup tinggi. Sedangkan Asteria belum menerima asupan makanan sejak berangkat dari Planet Sankz.


Asteria harus mencari sumber makanan untuk mengisi perutnya. Ia memeriksa beberaapa jamur yang barangkali bisa dimakan. Namun selama hidupnya Asteria belum pernah mempelajari jenis jamur yang bisa dimakan dan tidak bisa dimakan, dan cara membedakan jamur beracun atau tidak beracun. Memakan jamur sembarangan hanya akan berisiko keracunan. Dan jika ia mati akibat keracunan jamur, itu hanya akan jadi tindakan yang konyol.


Asteria memutuskan tidak mengambil jamur apapun. Ayahnya pun, saat mengajari teknik hidup di hutan, belum pernah mengajarinya mencari jamur.


Asteria melanjutkan pencarian makanannya. Pencarian besar berupa alat perang harus didukung oleh cukupnya makanan, pikir Asteria. “Hutan seluas ini tidak mungkin jika tidak menyediakan buah dan binatang yang dapat dimakan,” batinnya.


Asteria terus menjelajahi hutan yang sangat luas itu. Sesaat ia berhenti. Ia mendengar ada langkah yang menggerusak di antara dedaunan yang lebat. Asteria mendekat dengan perlahan untuk melihat ada apa atau siapa di balik itu.


Saat Asteria dapat melihat dengan mengintip di antara dedaunan, ia melihat sepasang kancil yang tengah melangsungkan kawin. Kancil jantan menggesek-gesekkan kepalanya pada leher dan tubuh kancil betina. Atau mungkin sebaliknya. Asteria tak dapat membedakkan mana jantan dan mana betina.


Sampai kemudian puncak perkawinan itu berlangsung, Asteria baru mengetahui mana pejantan dan mana yang betina. Seekor pejantan menaiki setengah badan betina dari belakang. Si jantang sedikit menggelejat singkat seperti terkena sengatan listrik seakan sedang menggenjot si betina.


Asteria yang menyaksikan itu dibuat meradang dan tegang. Sebetulnya ia ingin sekali memukul salah satu kanci untuk dijadikan bahan makanan. Namun ia tak tega merusak kebahagiaan dua binatang yang sedang merayakan pesta cintanya. Di sisi lain pemandangan itu sangat langka baginya. Ia tak pernah melihat adegan percintaan sebelumnya. Di laut, tidak pernah ia melihat ikan bercinta di hadapannya. Umumnya ikan-ikan berenang bergerombol, mungkin di saat seperti itu ikan merayakan percintaannya.


Perkawinan dua kancil sudah usai. Asteria mengambil sebatang kayu yang tergeletak di tanah. Ia bersiap memukul salah satu kancil itu dan membuatnya pingsan. Untuk tindakan ini Asteria menggunakan kemampuan melayangnya.

__ADS_1


Asteria melayang dan mendekat perlahan dari udaraa. Saat sudah cukup dekat, ia menghantam kepala kancil jantan dan membuatnya tersungkur. Badannya kejang dan tak bisa diam. Sementara itu kancil betina lari terbirit-birit menembus hutan dan dedaunan. Ia memang sengaja memilih kancil jantan, supaya kancil betina dapat melahirkan kancil-kacil penerus spesiesnya.


Asteria tak tega jika harus membunuh kancil dengan pukulan, namun ia lebih tak tega melihat kancil itu tersiksa akibat pukulan pertamanya. Ia lantas memukul kancil itu sekali lagi untuk membuatnya lebih tenang. Dari balik pakaian pemberian Raja Luid yang dikenakannya, ia segera mengambil pisau dan menggorok leher kancil. Darah pun mengucur deras.


“Aku tidak tahu senjata yang akan kudapatkan di planet ini berada di bagian mana, dan aku tidak tahu akan menghabiskan berapa banyak waktu di sini. Aku harus bertahan dengan cara seperti ini, mungkin sampai aku menemukan permukiman,” kata Asteria.


Ia lantas menguliti kancil itu. Ia hanya mengambil bagian daging yang diperlukan. Sisinya yang tidak digunakan ia kubur supaya tidak menghasilkan bau busuk.


Asteria berjalan mencari tempat yang nyaman untuk istirahat. Daging kancil dibungkus dedaunan dan dijinjing


Setelah menemukan tempat yang pas, Asteria mencari kayu daan membuat perapian dengan cara menggesekkan kayu-kayu untuk membuatnya terbakar. Setelah usaha cukup lama, Asteria berhasil membuat api. Ia memanggang daging itu di atas bara api. Ia memakan daging yang sudah matang secukupnya. Sisanya ia simpan sebagai persediaan.


Hari sudah sore. Asteria harus membuat tempat bermalam. Ia melihat sekeliling untuk membuat shelter dari kayu dan dedaunan. Namun akhirnya ia memutuskan membuat tempat istirahat di atas pohon yang cukup tinggi.


Asteria membawa kayu-kayu ke atas pohon dan menyusunnya untuk dijadikan alas. Sebagai pengikat ia gunakan tanaman merambat yang cukup kuat. Ia membuat kerangka dinding dan atap dari kayu-kayu berukuran sedang. Untuk penutup dan pelindung dari angin dan hujan, ia menggunakan dedaunan.


Asteria teringat akan ayahnya yang sering mengajaknya ke hutan dan laut. Ayahnya sering mengajarkannya akan pentingnya bertahan hidup dalam kondisi apapun. Ia diajarkan cara membuat api, shelter, makanan dan beberapa teknik bertahan hidup lainnya di hutan dan laut.


“Bukan tidak mungkin suatu saat negeri kita akan dilanda bencana. Kita harus punya keterampilan bertahan hidup, Asteria,” kata ayah suatu hari saat mereka berjalan mendaki salah satu gunung di pulau utama Kerajaan New Ferrata.


“Kenapa teman-temanku tidak berlatih, Ayah? Kenapa hanya aku?” tanya Asteria waktu itu.


“Ayah tidak bisa mewajibkan semua orang untuk berlatih seperti ini. Mereka di luar kendali ayah. Kecuali kerajaan atau sekolah mewajibkannya,” jawab ayah.


“Kalau sekolah mewajibkannya, Ayah pasti akan diminta sekolah jadi guru buat teman-temanku,” balas Asteria. Usianya baru 13 tahun saat itu.

__ADS_1


Ayah tertawa.


Asteria tersenyum melihat shelternya sudah jadi. Ia turun dengan cara terbang untuk mengambil sisa makanan yang sudah matang. Ia menyimpanya di shelter miliknya. Sisa pembakaran dan arang ia tutup dengan dedaunan.


Malam datang, Asteria duduk di dalam shelter menghadap sisi shelter yang dibiarkan terbuka. Ia memandangi hutan, bulan dan bintang-bintang. “Berapa lama aku akan berada di planet ini? Aku masih belum menemukan petunjuk selanjutnya.”


Bulan tengah bersinar terang. Hutan yang gelap terlihat jelas dari atas akibat sinar bulan. Asteria akhirnya terbang dan melihat betapa indahnya hutan yang sangat padat ini. Hanya pepohonan dan daun yang ia lihat dari atas.


Asteria pun mengedarkan pandangan lebih luas. Hanya hutan dan pohon yang ia lihat. Asteria memutuskan terbang lebih jauh dan jauh. Dan terkejutnya ia bahwa planet ini hanya berupa hutan dan daratan. “Apakah di planet ini tidak ada lautan?” tanyanya entah pada siapa.


Asteria kembali ke shelternya. “Jika memang planet ini hanya daratan, artinya pencarianku akan semakin sulit. Berapa waktu yang kubutuhkan untuk menjelajahi semua daratan dan hutan di sini? Aku harus segera mendapatkan petunjuk!” pikirnya.


Tiba-tiba, di dalam saku bajunya, kompas pemberian Raja Luid menyala. Asteriaa mengambilnya. Ia melihat jarum jam berwarna merah menyala. “Tanda bahaya? Ada apa ini?” gumam Asteria.


Dari bawah, ada sesuatu bergerak dan berjalan. Asteria mengintip dari atas shleternya. Bayangan itu tidak terlalu jelas. Hitam dan gelap. Sinar bulan tidak terlalu menerangi sampai bawah.


Asteria keluar shelter dan mencari tempat untuk melihat lebih jelas. Ia mengawasi dari balik batang pohon.


Di darat bayangan gelap itu terlihat lebih jelas. Ada 3 sosok manusia namun tidak memakai pakaian. Semuanya telanjang bulat. Asteria tertegun melihat itu. 3 sosok itu baru saja menangkap seekor ****.


Asteria diam dan hanya memerhatikan.


**** itu dipotong-potong menjadi beberapa bagian. Lalu mereka membagi potongan itu untuk dibawa masing-masing, seakan membagi beban. Yang paling membuat Asteria terkejut adalah, saat salah satu manusia itu memotong sedikit daging, membaginya menjadi 3, lalu mereka memakannya mentah-mentah. Asteria hampir muntah melihatnya.


Ketiga manusia yang tidak jelas itu lalu pergi dengan potongan-potongan ****.

__ADS_1


“Ini petunjuk,” pikir Asteria. Diam-diam, dari atas Asteria mengikuti perginya 3 manusia itu. Ia mengabaikan jarum kompas merah yang sebelumnya memberi peringatan bahaya.


[Next Part 24]


__ADS_2