
Tengah malam, dalam keadaan tertidur, Viana meraba-raba bantal untuk menyangga kepalanya. Tangannya juga mencari selimut yang mungkin tergeser atau tertendang saat tidur. Viana mencari-cari dua benda itu dengan mata tertutup, setengah sadar.
Angin malam dari jendela yang tak ditutup membuat Viana dingin. Ia membuka mata untuk mencari selimut. Namun terkejutnya Viana saat ia mengetahui tubuhnya melayang di atas ranjang dengan posisi berbaring.
Viana mencoba menggapai ranjang, namun tubuhnya seakan tertekan ke langit-langit oleh udara. “Ada apa ini?” Viana mulai merasa gelisah.
Jendela kamar yang terbuka membuat angin yang makin kencang masuk dan mengibar-ibarkan gorden. Di luar, hutan lebat dan gelap. Viana mulai ketakutan. Ia mulai mencemaskan adanya hantu yang mengganggu.
Detak jantung Viana makin berdetak lebih cepat. Ia takut ada hantu yang ingin mencelakakannya. Lampu kamar kerajaan yang dimatikan makin membuatnya merasa takut. Ia ingin berteriak, namun suaranya tercekat. Tak ada suara yang bisa ia keluarkan.
Viana memanggil-manggil nama Asteria dan Pangeran Sagi, berharap siapa saja datang dan menolongnya. Namun mulutnya hanya megap-megap tanpa menghasilkan suara. Seakan ada sesuatu yang membuat vita suaranya berhenti berfungsi.
Viana mulai panik. Wajahnya mulai memanas dan berkeringat. Padahal angin malam membuat suhu di kamarnya dingin. “Tuhan, kumohon lindungi aku,” ratap Viana dalam hati.
“Viana,” suara seorang pria di sudut kamar yang gelap membuat Viana makin berdegup. “Jangan takut,” lanjut pria yang berdiri di kegelapan itu.
Pria itu melangkah mendekat pada Viana. Viana melihatnya dan ia merasa ragu pria dengan penampilan bak seorang Raja itu adalah hantu. Atau mungkin ia hantu dari Raja yang mati ratusan tahun di kerajaan ini? Viana kembali cemas.
“Si-s-siapa kamu?” tanya Viana gugup. Akhirnya ia dapat mengeluarkan suaranya yang tadi sempat hilang.
Pria itu menggerakkan tangannya dan menurunkan Viana. Kini mereka berdiri berhadapan.
“Namaku Luid Cornius. Aku adalah Raja di kerajaan ini 993 tahun yang lalu,” kata pria itu tanpa basa-basi.
Viana menjerit dan menahan mulutnya. “Jadi betul kamu adalah hantu?”
“Aku bukan hantu. Aku akan menjelaskan semuanya padamu.”
Viana tak bisa menyembunyikan rasa ketakutannya.
“Kamu harus tenang. Aku tidak akan menyakitimu. Aku hanya ingin berbicara denganmu,” kata Raja Luid.
Melihat Viana yang tak bisa tenang, Raja Luid menjentikkan jarinya. Seketika ruangan itu berubah manjadi pepohonan. Mereka ada di dalam hutan. Hal itu justru membuat Viana makin takut.
“Kamu harus bisa mengendalikan rasa takutmu. Setelah itu kita bicara.” Raja Luid masih mencoba menenangkan Viana.
Viana akhirnya menenangkan degup jantungnya. Ia memang memiliki traumatis tersendiri terhadap rasa takut. Pada saat ayah dan ibunya meninggal diterjang badai, ia menjadi takut pada air laut. Kemudian, ia menjadi penyendiri dan kurang bergaul sampai Sekolah Tingkat Tengah. Di Sekolah Tingkat Atas ia baru menemukan sahabat bernama Asteria.
__ADS_1
“Aku sudah mengenal isi hati dan pikiranmu. Aku merasakan gelisah dan ketakutan saat cahayaku merasuk ke tubuhmu,” kata Raja Luid. Ia akhirnya menceritakan peristiwa masa lalu, serangan Pasukan Langit, dan jiwanya yang tersimpan dalam mantra sampai akhirnya jiwa itu kini terbebas meski fisiknya sudah tiada.
“Kamu tahu, aku harus mengorbankan diriku dengan kemungkinan gagal yang sangat tinggi saat aku memutuskan menyimpan jiwaku dalam mantra terlarang. Jika saja Pangeran Sagi tidak mengaktifkan mantra itu, selamanya aku akan terjebak dalam mantra. Untuk membuat keputusan itu aku membutuhkan keberanian dan menghilangkan rasa takutku,” tutur Raja Luid.
Viana mulai bisa mengendalikan dirinya. “Sekarang kita ada di mana?” tanyanya.
“Ini adalah Dimensi Rasa Takut. Di sini ketakutan akan sangat terasa besar. Kamu harus bisa lebih mengendalikan rasa takutmu. Kamu harus memiliki keberanian. Sebab ada yang harus kujelaskan padamu.”
“Aku akan mencoba menenangkan diri,” kata Viana.
Di hutan sekitar Viana kini ada api yang menyala, ada beberapa sosok makhluk yang melayang tanpa wujud yang jelas, bayangan yang melesat, ular yang meiliit di dahan, dan pohon yang bisa menggerakan diri seperti manusia. Viana kembali merasa takut.
“Semakin kamu mencoba berani, semakin energi ketakutan di sekitarmu membesar. Kamu jangan paksa untuk berani, tapi kendalikan rasa takutmu,” kata Raja Luid.
Sekali lagi Viana menenangkan diri dan mencoba melawan rasa takutnya. Ia memejamkan matanya. Selama ini ia sudah hidup dengan rasa cemas dan takut yang cukup panjang. Mungkin inilah waktu yang tepat bagi dirinya menyembuhkan diri dari rasa takut berlebih, dan jadi lebih berani.
“Rasa takut dalam setiap diri manusia merupakan hal yang almamiah dan tertanam secara biologis, sama seperti hasrat dan nafsu. Kita semua secara alami memilikinya. Saat terlahir kita membawa rasa takut pada semua hal, keberanian muncul setelah kita mempelajarinya. Keberanian tidak kita bawa saat lahir,” jelas Raja Luid. “Kamu harus mempelajari dan mengenal semua yang membuatmu takut agar kamu lebih berani.”
Viana membuka matanya. Saat ia melihat sekeliling, semuanya sudah berubah. Hutan itu kini berganti menjadi taman yang indah.
“Keberanian itu seperti bunga yang mekar. Ia akan memberi rasa nyaman pada pemiliknya, dan rasa suka bagi orang yang melihatnya. Kamu harus memiliki keberanian dan percaya diri untuk membuatmu mekar seperti bunga,” ujar Raja Luid.
Kini Vana sudah lebih tenang. Taman yang sejuk dan bermekaran membuatnya lebih merasa nyaman.
Raja Luid kembali pada tugasnya. Ia menjelaskan tentang perjalanannya melihat masa depan dan melihat serangan Pasukan Langit yang akan kembali menyerang 1000 tahun setelah serangan pertama. Tepatnya pada saat bulan biru yang hanya muncul 1000 tahun sekali.
“Tujuh tahun lagi Pasukan Langit akan menyerang,” kata Viana.
“Dan aku sudah melihat bagaimana mereka menyerang dengan kekuatan besar,” tambah Sang Raja. “Kerajaan ini butuh pahlawan yang memiliki keberanian untuk melawan Pasukan Langit,” lanjutnya.
“Di mana kita bisa menemukan pahlawan itu?” tanya Viana.
“Pahlawan itu sudah ada. Dia berdiri di hadapanku,” kata Raja Luid.
Viana melihat ke belakang. Tak ada orang lagi selain dirinya. “Maksudmu diriku?” tanya Viana.
“Ya, siapa lagi?” jawab Raja Luid.
__ADS_1
“Tapi .... bagaimana bisa? Aku tidak memiliki kemampuan apapun sebagai mana pahlawan. Dan aku terlalu penakut untuk menjadi pahlawan.”
“Masih ada waktu untukmu menyiapkan diri. Kamu bisa menjadi sangat kuat melebihi yang kamu pikir asalkan kamu mau. Yang kamu butuhkan saat ini adalah keberanian,” kata Raja Luid meyakinkan.
Apakah aku bisa? Gumam Viana.
Raja Luid memetik setangkai bunga tulip yang tumbuh di taman itu. Ia lantas menyerahkannya pada Viana.
Viana yang mulai percaya pada Raja Luid, tanpa berpikir macam-macam menerima bunga itu. Bunga tulip yang kini ada di tangannya itu perlahan mengeluarkan akar halus berwarna putih. Saat Viana membuka telapak tangannya, bunga tulip itu berdiri di permukaan telapaknya dengan akar menancapnya.
Dengan kecepatan per detik, Viana merasakan ada sesuatu yang mengaliri aliran darahnya. Dari dalam setiap pembuluh darahnya, akar-akar yang halus menjalar ke seluruh tubuh Viana. Lalu bunga tulip yang mekar di tangannya menjadi kuncup. Perlahan kuncup bunga itu mengecil seperti mengikuti alur waktu yang mundur. Semakin lama, bunga itu semakin mengecil dan masuk ke dalam kulit permukaan Viana.
“Setangkai bunga yang kini ada di tubuhmu akan menjadi bekal untukmu menemukan kekuatan dan kepercayaan dirimu. Kamu harus membuatnya mekar bersama hidupmu,” kata Raja Luid. “Sekarang coba kamu fokuskan pikiranmu. Pikirkan ada sebuah tanaman keluar dari tanganmu.”
Viana mengikutinya. Ia memikirkan tanaman keluar dari tangannya. Setelah beberapa menit, ia gagal.
“Cobalah tenangkan dirimu. Fokus, yakin dan keluarkan,” ujar Raja Luid.
Viana pun mencobanya kembali. Namun tetap gagal.
“Kamu masih belum memiliki keyakinan yang kuat. Kamu harus menemukan keyakinan dalam dirimu. Kamu harus melampaui kemampuanmu. Kamu harus menghadap tantangan untuk mendapatkannya.” Raja Luid mencoba membangkitkan keinginan Viana.
“Apa saja yang harus kulalui?” tanya Viana.
Tanpa berpikir panjang, Raja Luid mengembalikan mereka berdua ke Dimensi Rasa Takut. Hutan gelap dan segala keanehan kini muncul lagi.
“Kamu harus melewati Dimensi Rasa Takut ini. Setelah melewati dimensi ini, kamu akan memasuki dimensi-dimensi lain yang berbeda. Tiap dimensi akan semakin sulit. Kamu harus menemukan jati dirimu di sini,” tutur Raja Luid.
Viana berpikir. Ia menimbang keraguan dan keyakinannya. Semakin ia ragu, semakin tinggi rasa penasarannya untuk membangkitkan keyakinan yang ada dalam dirinya.
“Aku bersedia melewati semua tantangan ini,” kata Viana akhirnya.
Raja Luid tersenyum. Tanpa banyak penjelasan lagi Raja Luid menyimpan mantra di lengan kiri Viana untuk digunakan saat Viana menyelesaikan misinya.
“Waktumu tidak banyak. Kamu harus bisa mengingat waktu,” kata Raja Luid.
“Aku akan menggunakan kesempatan ini dengan baik. Aku akan kembali di waktu yang tepat,” ujar Viana.
__ADS_1
Raja Luid pun pamit dan menghilang. Meninggalkan Viana sendiri di Dimensi Rasa Takut.
[Next Part 20]