
Sagi merupakan anak tunggal pasangan Raja Maxza dan Ratu Julia. Sang Raja, ayah Sagi, meninggal dua tahun lalu karena terkena serangan jantung. Sang Ratu sendiri memilih mencari kesibukan di puri daripada di kastil.
Saat ini posisi Raja di Kerajaan New Ferrata kosong. Sagi tidak mau menjadi Raja menggantikan ayahnya. Ia merasa masih terlalu muda. Usianya baru 18 tahun.
Sagi berdiri di balkon kamar pribadinya di lantai teratas kerajaan. Ia memandangi pemandangan malam di sisi utara kastil. Dua kilometer dari kastil kerajaan, terhampar pasir pantai dan lautan lepas. Bintang-bintang di angkasa bertaburan dan berkerlipan. Dari tempatnya berdiri, Sagi juga bisa melihat pasar, pemukiman, alun-alun, lapangan latihan, sekolah, dan hutan.
Di usia semuda ini, ia harus siap menerima semua beban ini. Ayah meninggal dan ibu jarang berada di kastil. Ia juga harus mengikuti jadwal-jadwal latihan fisik, bela diri, berkuda dan berenang. Belum lagi jadwal belajar berbagai keilmuan untuk mengurus kerajaan. Semua laihan dan belajar itu dilakukan dengan guru-guru pribadi, tanpa kelas dan sekolah. Usianya baru 18 tahun, tapi ia tidak seperti remaja pada umumnya. Ia terlihat dewasa, berwibawa dan dapat bersikap dengan baik.
Dengan badan kokoh, tegak, berisi dan berotot, serta kulit bersih dan wajah rupawan membuatnya menjadi Pangeran yang diimpikan banyak gadis di Kerajaan New Ferrata.
Namun, dibalik keistimewaan dan fasilitas kerajaan dalam hidupnya, ia tetap memiliki keresahan yang tak bisa ia bendung di saat sendirian. Sagi kerap merasa butuh orang yang dapat mendengar segala kecemasan hidupnya. Semua orang yang ada di kastil memperlakukannya sebagai orang yang harus dihormati. Hal itu membuatnya harus bersikap tenang dan tidak kekanak-kanakan.
Selain itu rahasia kerajaan yang selama ini hanya diketahui keluarga kerajaan membuatnya merasa terbebani. Ia mengetahui bahwa tak lama lagi Pasukan Langit akan menyerang planet ini.
Seorang Penasihat Kerajaan menceritakan semua detail peristwa serangan. Hasil analisis dan terawangan pengguna mantra kerajaan mengatakan bahwa pada saat bulan biru muncul, bulan itu menyerap kekuatan langit sehingga kekuatan langit tidak seimbang.
Pada saat itu sangat rentan makhluk di balik langit akan menembus langit dan melakukan serangan pada Planet Sankz. Diduga Pasukan Langit dan pemimpinnya menggunakan mantra yang sangat kuat untuk membuat lubang sebesar itu dengan waktu yang lama.
Jika analisis itu benar, dan jika terawangan pengguna mantra juga benar, maka bulan biru berikutnya Pasukan Langit atau makhluk apapun yang hidup di alam sana, akan melakukan serangan lagi.
“Bagaimana pun kerajaan harus bersiaga,” kata seorang Penasihat saat berbicara dengan Sagi mengenai keamanan negara dan kerajaan.
“Aku setuju. Akan tetapi kita harus mengatur cara agar rakyat tidak merasa terteror. Jika rakyat mengetahui semuanya, mereka akan menuntut kerajaan memberi perlindungan,” kata Sagi.
“Betul Pangeran. Namun menurutku, kita perlu melibatkan rakyat untuk melawan jika serangan itu datang. Kita harus membangun kekuatan dengan rakyat.”
“Bagaimana jika rakyat menganggap cerita kita bohong? Selama ini kerajaan sudah menutup total kisah dan sejarah masa lalu negara kita. Kerajaan membuat cerita baru tentang dinding pelindung, yang mengatakan bahwa dinding itu dibuat Tuhan untuk melindungi manusia,” jelas Sagi.
“Untuk hal itu aku pun masih mencari solusinya, Pangeran,” balas Penasihat.
“Kita harus mempersiapkan banyak hal dengan segera,” kata Pangeran. “Minggu depan kita adakan raapat dengan para Penasihat Kerajaan. Rapat ini harus tertutup dan rahasia. Kita harus membuat rencana.”
“Siap, Pangeran. Akan saya kumpulkan semua Penasihat minggu depan.”
Dua hari lagi pertemuan dengan para Penasihat Kerajaan akan dilaksanakan. Sagi makin tidak tenang. Bagaimanapun ia adalah pewaris tunggal kerajaan ini. Dan ia harus berupaya menyelamatkan kerajaan ini dari serangan.
Mengapa para leluhurku membuat cerita bohong tentang sejarah kelam kerajaan ini? Sagi menatap pemandangan di hadapannya.
__ADS_1
Sagi memikirkan Ratu Julia, ibunya, yang jarang pulang. Apa yang sedang dilakukan ibunya di puri? Sagi berharap ibunya banyak menghabiskan waktu di puri bukan karena kesedihan atas kepergian ayahnya.
Mengingat ibunya, Sagi teringat tentang nasihat ibunya untuk belajar tentang sejarah di perpustakaan. Di sana ada ruang yang khusus menyimpan arsip-arsip tua kerajaan yang tidak boleh diketahui oleh rakyat.
Sagi mendapatkan kesadaran, mungkin saja selama ini di ruangan itu disimpan banyak peninggalan berharga selain arsip sejarah. “Aku harus ke sana,” gumam Sagi.
Setelah pertemuan dengan para Penasihat Kerjaan, Sagi berencana akan pergi ke perpustakaan itu.
Pertemuan terlaksana dengan pembahasan yang cukup panjang dan alot. Berbagai pendapat dan nasihat terlontar dari para Penasihat. Dari semua pembahasan itu, hasilnya berikut ini:
Pertama: kerajaan akan mengumpulkan para Pewaris Mantra dan menyadarkan mereka bahwa mereka dapat mengaktifkan banyak mantra. Untuk menemukan mereka, kerajaan membentuk tim yang akan pergi ke setiap rumah dan pulau-pulau untuk menemui setiap orang. Setiap orang akan dibacakan mantra sederhana yang akan membuat mereka mengeluarkan energi dan getaran di tubuhnya. Bagi siapa saja yang merasakan energi dan getaran itu, ia akan langsung dibawa ke kerajaan.
Kedua: Para Prajurit Kerajaan harus berlatih dengan lebih padat dan tingkat latihan yang makin tinggi. Mereka akan diuji dengan berbagai medan pertempuran mulai dari pegunungan, hutan dan laut.
Ketiga: Dewan Peralatan Perang harus menyiapkan banyak perlengekapan yang kuat dan canggih. Mereka akan diberi dana besar untuk membuat alat-alat baru yang lebih canggih.
Keempat: Para pemuda akan diberi tambahan pelajaran kelas, yakni kelas bela diri dan militer. Semua pemuda dan siswa sekolah tinggat atas harus mengikutinya.
Pertemuan itu ditutup menjelang matahari terbenam.
Tak lama pintu diketuk.
Sagi keluar dan membukanya. Di balik pintu ibunya sudah berdiri dan tersenyum.
Sagi mengajaknya masuk.
“Kamu sedang mempersiapkan kekuatan untuk menghadapi serangan itu, Nak?” tanya ibunya.
“Iya, Bu. Aku ingin mengajak ibu dalam pertemuan tersebut, tapi sepertinya ibu sedang tidak ingin diganggu,” kata Sagi.
“Iya, Nak, tidak apa-apa. Ibu justru senang kamu sudah bisa mengadakan rapat dengan para Penasihat. Bagaimana pun kamu harus terbiasa memimpin mereka. Kamu akan melanjutkan kepemimpinan di kerajaan ini.”
Sagi dan ibunya duduk di tepi ranjang.
“Ibu sengaja menghabiskan banyak waktu di puri. Ibu juga sedang mempersiapkan diri untuk menghadapi serangan itu. Kau tahu, Nak, keluarga kerajaan merupakan Pewaris Mantra.”
Sagi terkejut. Benarkah yang diucapkan ibunya itu? Kenapa selama ini ia tak pernah mengetahuinya?
__ADS_1
“Keluarga kerajaan sudah diberkati kemampuan mengaktifkan mantra oleh leluhur kita. Ibu mengetahi itu sebelum ayahmu meninggal. Ia mengatakannya langsung pada ibu. Meskipun ibu hanyalan anak seorang Penasihat Kerajaan yang tidak memiliki ikatan darah dengan keluarga kerajaan lainnya, ibu sudah mendapatkan kemampuan Pewaris Mantra saat berhubungan badan dengan ayahmu,” jelas ibunda.
“Kalau begitu, aku juga dapat mengaktifkan mantra, Bu? Kenapa selama ini aku tidak pernah mencobanya,” ujar Sagi.
“Betul, Nak. Saat ini ibu akan banyak menghabiskan waktu di puri untuk mencari arsip-arsip tua di ruang bawah tanah. Arsip-arsip tentang mantra akan ibu serahkan padamu. Kamu harus mempelajarinya.”
“Baik, Bu. Aku juga akan pergi ke perpustakaan untuk mencari buku-buku mantra. Ibu jaga kesehatan di puri,” kata Sagi.
“Iya, Nak. Kamu juga jaga kesehatan. Selamat istirahat.” Ibunda mengelus rambut Sagi lalu meninggalkan kamar anak tunggalnya.
*
Keesokannya, Sagi berjalan ke arah perpustakaan setelah siswa-siswi pulang sekolah. Pada jam tersebut membuatnya tak perlu khawatir terlihat oleh siswa dan siswi.
Sagi mengetuk pintu perpustakaan. Tak ada yang menjawab atau membuka.
Ia mengulanginya. Masih belum ada tanda-tanda keberadaan penjaga di dalam. Mungkin ia sedang istirahat, pikir Sagi.
Sagi membukanya dan ternyata pintu tidak dikunci. Ternyata benar di dalam perpustakaan tak ada siapapun.
Sagi berkeliling mencari ruangan tersembunyi yang dikatakan ibunya. Ia tak menemukan pintu lain selain pintu masuk perpustakaan. Namun ia melihat satu lemari buku yang posisinya sedikit tergeser ke belakang seperti pintu yang sedikit terbuka.
Sagi mendekat. Ia dapat memastikan bahwa ruang rahasia itu berada di balik lemari buku ini.
Sagi mendorongnya dengan sedikit kekuatan. Lemari terdorong dan terbuka.
Di mejanya, Bu Surah terkejut mendapati Pangeran membuka pintu. Bu Surah segera berdiri dan memasang sikap hormat.
Sagi memberi salam. Namun saat ia melirik ke sudut lain, ia melihat seorang lelaki remaja tengah duduk di kursi. Di mejanya terbuka buku usang yang mungkin tengah dibacanya.
Remaja yang juga terkejut melihat kehadiran Pangeran tidak berdiri memasang sikap hormat. Ia merasa sudah dipergoki seseorang memasuki ruang rahasia. Dan tak main-maian, orang yang memergokinya adalah Pangeran Sagi.
“Siapa kamu?” tanya Sagi tanpa memberi salam atau pun maaf telah masuk tanpa mengetuk.
Remaja itu dengan kaku berdiri. Ia tak tahu harus dengan cara apa memperkenalkan diri. Hanya bisa berkata dengan kaku, “A-s-t-e-r-i-a.”
[Next Part 15]
__ADS_1