
Viana berjalan menembus hutan yang terasa dingin dan mencekam. Raja Luid tak membekalinya pakaian tebal atau jubah pelindung dari dingin. Di samping kiri kanannya ada beberapa keanehan seperti sebuah bayangan yang melesat atau pohon yang bergerak. Hal tersebut harus membuatnya harus meyakinkan diri bahwa ia berani. Viana tidak tahu harus berjalan ke arah mana. Ia hanya memiliki tugas melewati dimensi ini untuk menaiki dimensi-dimensi selanjutnya.
Semakin ia melangkah, semakin ia merasa perjalanannya tanpa henti. Viana memasuki hutan dengan pepohonan yang sangat besar dan tinggi. Ia berjalan di antara akar-akar yang rimbun dan memayungi jalan. Ia serupa rayap yang berjalan di antara akar-akar. Tubuhnya semkin terasa kecil dan pepohonan semakin raksasa.
“Tuhan, mohon lindungi aku,” kata Viana.
Di dalam akar-akar sendiri tidak terlalu dingin. Namun suasanya semakin mencekam sebab ada banyak tengkorak bergeletakkan di antara akar. “Tempat macam apa ini? Mengapa semakin menakutkan?”
Terbebas dari akar pepohonan yang menakutkan, Viana justru memasuki tempat yang lebih mengerikan. Sebuah jurang yang lebar dan panjang, seolah membelah daratan menjadi dua. Uniknya, di sisi jurang seberang ada matahari yang membuatnya terang sebagaimana siang. Sedangkan sisi jurang tempat Viana duduk hanya gelap sebagaimana malam.
Di sisi jurang yang terang terdapat pepohonan dengan buah-buahan segar menggantung, taman-taman bunga, aliran sungai dan pamandangan gunung tinggi bersalju yang indah. Sementara itu bagian bawah jurang itu hanya gelap tanpa terlihat sedikitpun dasarnya.
Viana berdegup melihatnya. Tidak ada satu pun jembatan penghubung dua tebing jurang itu. “Ya Tuhan, bagaimana aku bisa melewatinya?”
Viana duduk dan mengistirahatkan diri. Ia merasakan lelah di kakinya akibar berjalan panjang nyaris semalaman. “Kalau aku harus menyeberangi jurang ini, bagaimana caranya?”
Akhirnya Viana berkeliling menyusuri bibir jurang berharap menemukan satu jembatan untuk menyeberang. Setelah disusuri cukup lama, Viana tak menemukan jembatan apapun untuk menyeberang. Di saat yang bersamaan Viana mulai merasakan lapar dan haus. Tenggorokkannya kering dan perutnya terasa kosong.
Viana mengedarkan pandangan dan ia melihat sebuah gubuk tua di pepohonan sedikit masuk ke hutan. Viana memasuki hutan den mendekati gubuk itu. Ia tidak salah, ada sebuah gubuk tua dengan bangunan dari kayu yang kokoh. Namun gubuk itu seperti lama ditinggalkan penghuninya. Dan siapa yang pernah tinggal di tempat seperti ini?
Di dalam gubuk ada sebuah kayu yang dijadikan dipan, mungkin pernah digunakan sebagai tempat tidur. Viana duduk di sisi dipan itu. Ia murenggangkan kaki-kakinya. Dari gubuk itu, pemandangan dan sisi seberang jurang dapat dilihat.
Di dekat jendela belakang gubuk Viana melihat satu tanaman yang memiliki buah-buahan kecil sejenis berry berwarna merah. Viana tergoda untuk mencicipinya. Ia memetik satu buah dan mengunyahnya. Tidak ada rasa apapun pada buah itu, hanya tawar. Viana menunggu reaksi pada tubuhnya, dan tidak ada mual atau pusing.
“Buah ini tidak beracun,” katanya.
Viana lantas memetik satu lagi. Baru saja ia akan memakan buah itu, Viana tersungkur dan pingsan.
__ADS_1
Viana terbangun di sebuah gurun pasir yang gersang. Apakah ini mimpi? Pikirnya. Ia mencubit pipinya, namun terasa sakit. Ah, ini nyata!
Viana bingung dengan semua ini. Belum juga ia lepas dari Dimensi Rasa Takut, kini ia sudah berada di tempat lain. Viana memutuskan berjalan dan terus berjalan. Ia mencari jalan keluar dari tempat itu. Namun kini ia merasakan haus yang sangat parah. Di saat yang sama, ia melihat sebuah oase di kejauhan. Ia berjalan menuju oase itu.
Setibanya di sana, Viana segera meminum air di danau oase tersebut. Ia merasakan segar di tenggorokkannya. “Jika ini mempi, kenapa ini terasa segar?” Viana makin kebingungan dengan semua ini. “Apakah ini bagian dari Dimensi Rasa Takut.”
“Viana, sedang apa di sini?” dari belakang, di balik pepohonan kurma oase, Suara yang tak asing di telinga Viana terdengar.
Viana menoleh, dan betapa terkejutnya ia melihat ibunya berdiri memegang keranjang berisi kurma-kurma yang baru dipetik dan terlihat manis. Viana mendekati ibunya.
“Ibu, kenapa Ibu ada di sini?” Viana segera memeluk ibunya. Ibunya balas memeluk dan membelai rambut Viana.
“Kita ke rumah, yuk. Ayah ada di sana,” kata ibunya. Mereka berdua pun berjalan bersama. Viana merasa bahagia dapat bersama ibu dan ayahnya kembali.
Sesampainya di rumah kayu di bawah pohon kurma, ayah memeluk Viana. Keduanya terlihat bahagia dan melepas rindu.
“Kenapa kamu baru pulang?” tanya ayah. Viana bingung harus menjawab apa. Apakah ini di Surga? Apakah ia sudah mati akibat memakan buat berry itu?
“Yasudah, sekarang kita makan buah kurma ini,” kata ibu. Mereka pun makan kurma bersama. Rasanya sangat manis.
“Kamu jangan pergi lagi, ya. Malam ini dan seterusnya kamu tidur dan tinggal di sini. Kita memanen kurma setiap hari. Di sini tenang dan enak,” kata ibu.
“Iya, Bu.” Viana mengangguk. Ia sangat senang dapat kembali bertemu dengan ibunya.
__ADS_1
Malam hari Viana tidur di ruang yang berbeda dengan kedua orangtuanya. Namun Viana menemukan keganjalan saat tidur. Ia seperti berada di antara tidur dan tidak. Entah apa penyebabnya.
Viana bangun. Kenapa aku sulit tidur? Bukankah seharian ini aku sudah kelelahan? Viana melihat keluar jendela. Padang pasir yang disinari bulan terlihat memesona.
Viana keluar untuk melihat-lihat keindahan alam. Ia terpesona melihat indahnya langit bertabur bintang. Namun tiba-tiba ia merasakan lapar. “Bukankah aku sudah makan banyak kurma tadi?” gumamnya.
Viana makin kesulitan menerjemahkan ini semua. Ia memikirkannya. Dan ia pun teringat bahwa terkahir kali ia merasa lapar saat di gubuk tua yang ada di hutan Dimensi Rasa Takut. Rasa laparnya sama.
Viana membuka mata. Tidak, ini pasti hanya bagian ilusi Dimensi Rasa Takut. Aku harus segera sadar. Viana mencoba mencari jalan keluar. Dan ia melihat danau tempatnya minum tadi siang berwarna jernih namun tidak memantulkan cahaya bulan. Sesuatu yang sangat aneh.
Viana berjalan ke arah danau. Ia melangkah memasuki danau. Tak peduli dinginnya malam gurun. “Ya, ini ilusi.” Katanya.
Viana memasuki danau lebih dalam. Di saat Viana melangkah, ibu dan ayah Viana sudah berdiri di bibir danau memanggil-manggil namanya. Ibunya meminta Viana kembali. Ia mengajak Viana makan kurma bersama lagi dan menjauhi danau itu.
Viana menolak. Ia ingat bahwa sebagian kesadarannya hilang saat ia memakan kurma itu. Ibu Viana menangis melihat Viana pergi. Ia mengatakan bahwa Viana tak sayang pada ibunya.
Viana mencoba menahan rasa ibanya. “Ini ilusi!” pikirnya.
“Ibu dan Ayahku sudah meninggal. Aku sudah oernah kehilangan mereka. Dan ini hanya ilusi, aku pasti bisa.” Dengan berat hati, Viana melepaskan ketakutannya akan kehilangan kedua orangtuanya dan memutuskan berenang ke dasar danau.
Viana terus berenang ke dalam. Di dasar danau, ia melihat ada seorang gadis tergeletak tak sadarkan diri. Itu adalah dirinya sendiri, Viana. Viana pun terus berenang dan meraih gadis itu. Saat ia berhasil menyentuhnya, Viana terbangun dari pingsannya. Kini ia sudah kembali berada di samping gubuk tua di hutan Dimensi Rasa Takut.
Viana berjalan kembali. Ia memasuki gubuk itu dan merebahkan tubuhnya yang kelelahan di atas dipan. Tanpa sengaja tangannya meraba sebuah permukaan yang kasar akibat goresan. Viana memeriksanya. Dan ternyata itu adalah goresan tangan seseorang yang memberi pesan. Entah didigores dengan pisau, kayu, batu atau kuku, yang jelas tulisan itu berisi petunjuk:
Jangan lawan rasa takutmu. Tapi pelajarilah mengapa kamu takut akan hal itu. Dan saat kamu sudah memahaminya, kamu akan menemukan keberanian.
[Next Part 26]
__ADS_1