Para Penjelajah Semesta

Para Penjelajah Semesta
Volcano Melawan Ven


__ADS_3

Volcano alias Saga memasuki istana melalui balkon jendela kamarnya. Roh Penjaga Hutan yang telah berubah menjadi seekor elang terbang menemani Volcano. Sang Roh lantas bertengger di pagar balkon.


Volcano melangkah memasuki kamarnya. Ia membuka bajunya yang sudah beraroma tidak sedap oleh keringat. Kemudian ia menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Volcano keluar dari kamar mandi. Ia menggunakan pakaian yang lebih lembut. Ia ingin beristirahat setelah melewati perkelahian yang melelahkan.


Tanpa disadari, sejak kehadiran Volcano dan Sang Roh, seseorang telah hadir di ruangan itu tanpa diketahui dan tanpa dapat dilihat. Seseorang itu berada di dalam dinding kamar Volcano. Tubuhnya yang dapat menyesuaikan unsur atomik setiap benda dengan mudah menyatu dalam dinding istana yang keras. Kemampuan itu telah digunakannya sebagai cara untuk memata-matai.


Ketika Volcano baru saja membaringkan tubuh, sesosok manusia di dalam dinding itu keluar dan menampakkan diri. Sosok lelaki itu kini berdiri di dalam ruangan.


“Rencana apa yang akan kamu persiapkan, Saga?” tanya lelaki itu.


Volcano terkesiap. Ia bangkit dan turun dari tempat tidurnya. “Sedang apa kamu di sini, Ven?” Volcano sangat tidak suka dengan sifat Ven yang satu ini: memanfaatkan kemampuannya untuk memata-matai dan masuk ke ruang orang lain tanpa permisi.


“Sedang apa? Hah!” Ven melipat kedua tangannya di dada. Ia melangkah mengitari tubuh Volcano. Matanya tajam menatap Volcano.


“Aku sempat mendengar kamu punya rencana dengan Rinn. Rencana apa yang sedang kalian atur? Dan, hampir dua bulan kamu pergi entah ke mana. Apakah itu bagian dari rencanamu?”


“Kamu menguping pembicaraanku dengan Rinn? Dasar licik!” Volcano ikut menajamkan matanya seperti yang dilakukan Ven. Menegaskan bahwa ia tak takut oleh gertakan Ven.


Ven makin terlihat meremehkan Volcano.


“Kamulah yang punya rencana busuk. Kamu licik! Kamu memanfaatkan Ghanda untuk kepentinganmu. Aku tahu kamu tak suka menjadi pengikutnya. Tapi kamu bertahan karena kamu membutuhkan Ghanda untuk melancarkan rencana busukmu itu!” kata Volcano tanpa sedikit pun rasa gentar. “Aku pergi ke mana pun, itu bukan urusanmu. Berhentilah urusi urusaan orang lain, Ven! Dan satu lagi, panggil aku Volcano!” tegasnya.


“Tahu apa kamu soal diriku? Hah! Kamu hanya anak baru di sini. Usiamu masih 21 tahun saat Ghanda membawamu ke istana ini! Kamu hanya dimanfaatkan oleh Ghanda. Pada saatnya tiba, kamu akan mengetahuinya!” kata Ven tak kalah sadis dan mengolok.


Volcano menahan diri. Ia tak mau terpancing emosi oleh Ven.

__ADS_1


Ven mundur beberapa langkah dari sisi Volcano. “Begini saja, bagaimana kalau kita bekerja sama. Kita buat rencana sendiri. Kecerdasanmu dan kekuatanku akan menjadi perpaduan sempurna.”


Ven mendekat lagi. “Bagaimana?” bisiknya di telinga Volcano. Ia meletakan tangannya di bahu Volcano agar terlihat lebih akrab.


“Kalau pun aku punya rencana, aku tidak membutuhkanmu sama sekali. Kamu pikir seberapa kuat dirimu untuk kuandalkan? Kerjasama kita hanya akan merugikanku, sebab kamu tidak akan banyak berguna,” kata Volcano santai dan pedas.


Ven tersinggung oleh kaliman Volcano. “Kamu memang anak kesayangan Ghanda, tapi bukan berarti kamu lebih baik dari yang lain. Jangan sombong dulu. Setelah Ghanda menyelesaikan misinya, kamu akan dibuang dan dianggap tak berguna lagi.” Ven tak mau kalah angkuh.


Volcano tak terpancing sama sekali. Ia malah ketawa senatural mungkin. “Menyelesaikan misi? Lalu dibuang? Hey, hey, hey, itu adalah rencanamu jika aku menerima tawaran kerjasamamu, kan?” kata Volcano dengan nada merendahkan.


Ven tak berkutik.


“Kamu memang licik, Ven!” ujar Volcano. Ia lantas melangkah mendekati ranjang untuk melanjutkan rencana istirahatnya. Baginya Ven sudah tidak penting untuk diladeni.


Sementara itu Ven tidak terima mendapatkan penghinaan dari Volcano yang fisiknya lebih muda 7 tahun darinya. Di dalam Dimensi Kegelapan, fisik seseorang tidak akan berubah sejak pertama kali ia datang, meski pun ia sudah tinggal di Dimensi Kegelapan puluhan bahkan ratusan tahun. Dimensi Kegelapan dapat mengunci pertumbuhan manusia. Saat Volcano dibawa Ghanda ke Dimensi Kegelapan sekitar seratus tahun lalu, usia Volcano 21 tahun. Sampai saat ini fisik Volcano tetap sebagai lelaki 21 tahun, dan Ven 28 tahun.


Dari belakang, Ven meninju Volcano hingga tersungkur. Volcano yang terkejut dengan sikap Ven segera bangkit dan melompat ke sisi ranjang berlawanan. Volcano segera mewaspadai tindakan Ven.


Segumpal bola Api Suci melesat dari tangan Ven menuju wajah Volcano. Beruntung Volcano dapat menghindar. Bola api itu mengenai dinding.


Ven mengubah unsur atomik dalam tubuhnya menyerupai lantai dan bangunan istana. Ven tenggelam ke dalam lantai seperti masuk ke dalam air.


Volcano yang menyadari bahwa Ven ingin menyelakainya meningkatkan kewaspadaannya. Ia melangkah ke arah jendela dengan waspada. Matanya melirik ke setiap sudut untuk mengantisipasi kemunculan Ven yang tak diketahui.


Ven muncul dari arah pintu masuk. Ia segera melempar Api Suci miliknya pada Volcano.


Beruntung Volcano dapat dengan cepat menghindar. Api Suci milik Ven melesat keluar jendela. Kali ini Volcano tidak mau menganggap sepele. Ia menyiapkan dirinya untuk bertarung.

__ADS_1


Ven berlari, melompat lalu mendorong Volcano hingga keduanya terdorong keluar jendela. Keduanya terjatuh dari kamar Volcano yang berada di bagian paling atas.


Volcano yang berada tepat di bawah Ven, menghantam Ven dengan kepalannya berkali-kali. Mereka meluncur dari ketinggian beberapa ratus meter di atas permukaan tanah. Istana Ghanda memang berada di puncak bukit yang menjulang dan terjal ke atas.


Cengkeraman tangan Ven di bahu Volcano sangat kuat. Dari telapak tangan Ven, keluar api merah menyala. Volcano pun merasakan panasnya membakar pundak dan lehernya. Panas Api Suci milik Ven terasa pedih sampai-sampai kelopak mata Volcano dibuat terpejam merasakan sakitnya.


Sekali lagi Volcano membenturkan kepalanya dengan kepala Ven. Kedua tanganya meraih kepala Ven dan ia mengeluarkan api vulkanik di tangannya.


Ven merasakan panas namun ia bisa menahannya. Melihat Ven mampu menahan api vulkaniknya, Volcano pun mengeluarkan api lebih panas dengan sedikit cairan yang mengalir ke wajah Ven.


Ven terkejut mengetahui Volcano mampu mengeluarkan cairan api yang mampu membakar wajahnya. Ven kesulitan melihat akibat api vulkanik yang mengganggu di wajahnya. Ven melepaskan cengkramannya di bahu Volcano. Api di tangan Ven pun redup.


Ven berupaya membersihkan cairan api di wajahnya. Ia kesulitan melihat dan mengontrol dirinya. Ia pun terjatuh ke permukaan tanah.


Volcano menarik napas lega. Ia melayang beberapa meter di atas Ven yang sudah terbebas dari api vulkaniknya. Pundaknya yang sempat terbakar api Ven menciptakan kepulan asap halus. Tubuh Volcano yang sudah dialiri cairan api vulkanik telah melindunginya dari Api Suci yang sangat panas dan mampu membakar apapun. Meski tetap terasa panas di pundaknya, Volcano masih merasa beruntung dengan kemampuan barunya.


Di bawah, Ven sudah mampu berdiri. “Tunggu pembalasanku!” teriak Ven.


Volcano enggan meresponsnya. Ia terbang menuju jendela kamarnya. Ia ingin segera beristirahat. Sebenarnya, jika mau, ia bisa mengeluarkan lebih banyak dan lebih panas cairan api vulkaniknya saat bertarung tadi. Namun ia tidak ingin memperpanjang masalah ini. Perlawanannya tadi, baginya, sudah cukup menjadi pelajaran buat Ven.


Volcano tiba di jendela. Burung elang perwujudan dari Roh Penjaga Hutan berkata dalam telinga Volcano, “Mengapa kamu tidak membunuhnya, padahal kamu sanggup melakukannya, Kawan?” katanya.


“Tidak perlu. Aku tidak mau mengotori tanganku dengan membunuh orang licik sepertinya,” kata Volcano sambil melangkah menuju ranjangnya.


Dari jendela di kamar lain, Rinn duduk manis di pagar tembok balkonnya. Ia menyaksikan pertempuran Ven dan Volcano saat terjatuh dari jendela. Rinn makin mengagumi Volcano dengan kemenangannya melawan Ven.


“Ghanda memang tidak salah menculik dan mencuci otaknya. Dia akan menjadi petarung sejati,” gumam Rinn.

__ADS_1


[Next Part 23]


__ADS_2