
Asteria terbang di atas pepohonan. Tujuannya adalah wilayah sekitar gua tempat ia menemukan Sikka. Ia yakin Danau Dewa terletak tak jauh dari gua itu. Sebelum pergi meninggalkan gua Bangsa Bawah, Sikka sempat memberinya bekal daging asap yang siap disantap. Asteria menyimpan daging asap itu dalam tas kulit yang diberikan Ketua Suku agar tidak kesulitan membawa daging itu.
Perjalanan terbang jauh lebih cepat daripada perjalanan jalan kaki. Asteria tetap mewaspadai sekiranya di bawah ada manusia-manusia Bangsa Atas yang melihatnya. Mendekati wilayah Bangsa Atas, Asteria turun dan berjongkok di sebuah batang pohon. Ia harus lebih wasapada karena ini bisa saja wilayah penjelajahan mereka. Perjalanan dilanjutkan dengan terbang di antara pepohonan.
Tengah hari, Asteria tiba di shelter pohon yang sudah dibuatnya. Tidak ada tanda-tanda kerusakan ataupun jejak kaki orang di sekitar shelter pohonnya. Ia menyimpulkan bahwa suku Bangsa Atas belum mengetahui shleter ini, bahkan belum melewati tempat ini.
“Sebelum melanjutkan misi, sebaiknya aku istirahat di sini untuk makan siang,” kata Asteria. Ia menyimpan tas kulitnya di shelter.
Asteria makan siang di shelter itu. Sebagian daging asap pemberian Sikka ia simpan di shelter bersama tasnya. Ia juga menyimpan jubahnya di sana untuk memperingan pergerakannya. Shelter itu akan berguna untuknya istirahat atau bersembunyi jika ia belum mendapatkan benda yang dimaksud Raja Luid itu.
Sementara itu gerombolan Bangsa Atas yang akan menyerang Bangsa Bawah pergi melewati jalur lain, yang sedikit memutar namun relatif lebih tersembunyi. Mereka tak mau penyerbuan ini diketahui Bangsa Bawah yang sedang mencari kayu atau bahan makanan, lalu mengabarkan kepada Ketua Suku Bangsa Bawah sehingga mereka melarikan diri. Mereka ingin penyergapan ini berjalan sempurna dan penuh penderitaan.
Seusai makan siang, Asteria terbang dari satu pohon ke pohon lain di depannya. Hinggap dari dahan ke dahan besar. Ia mengawasi daratan sekitarnya, memastikan tak ada siapapun yang dapat melihatnya. Hingga ia tiba di sebuah dahan pohon yang langsung menghadap gua tempat Sikka disembunyikan.
Di gua itu tak tampak ada kehidupan. Asteria turun dan berjalan di sekitar gua. Ia menyempatkan masuk dengan penuh kehati-hatian dan tak menemukan siapapun. “Pasti mereka sudah pergi ke tempat tinggal Bangsa Bawah. Aku harus bergegas sebelum ada korban berjatuhan,” kata Asteria.
Ia keluar gua, kemudian melayang menjelajahi sekitaran gua. Kisaran 400 meter dari gua, ada aktivitas penduduk. Di sana ada beberapa rumah kayu dengan atap daun-daun pandan.
“Ini pasti perkampungan mereka,” gumam Asterai sembari bersembunyi di dedaunan pohon.
Asteria melihat ada dua wanita yang datang membawa kendi berisi air. Dua wanita itu masuk ke rumahnya. Asteria menduga mereka mengambil air untuk keperluan memasak atau apapun. Namun yang terpenting dari analisisnya adalah bahwa ada tempat air di sekitar permukiman ini.
Tak lama seorang wanita diikuti anjing membawa kendi keluar rumah gubuknya. Ia dan anjingnya berjalan mengikuti jalan setapak tempat dua wanita yang membawa air sebelumnya. Asteria tak mau menyia-nyiakan kesempatan ini. Ia terbang perlahan dari satu pohon ke pohon lain mengikuti wanita dan anjing itu.
Di tengah perjalanan, anjing si wanita itu mengguguk keras sambil menatap ke arah pohon tempat Asteria bersembunyi. Si wanita pembawa kendi menyuruh anjing itu diam. Asteria berharap wanita itu tak memastikan apa yang diteriaki anjingnya.
Asteria beruntung, si Wanita melanjutkan perjalanan tanpa menggubris anjingnya yang mencium bau asing di antara pepohonan. Asteria bersyukur, namun anjing itu masih tak bisa diam. Asteria memutuskan memanjat pohon lalu terbang di atas pepohonan. Sampai anjing itu tak dapat mencium bau tubuhnya.
Asteria terus terbang memandang lurus. Ia sudah kehilangan jejak wanita itu, namun instingnya mengatakan wanita itu akan berjalan ke pusat air yang ada di depan.
__ADS_1
Di saat ia terus melaju di udara, di luar dugaan pepohonan di hadapannya hilang. Hanya pemandangan luas dan hamparan air. Kini yang ada di bawah Asteria hanyalah air danau yang luas.
Asteria terperanga. Ia segera kembali ke pepohonan untuk bersembunyi sebelum ada yang melihatnya. Ia mengamati sekeliling untuk melihat bagaimana penjagaan di sekitar danau. Dan ia melihat beberapa lelaki dengan otot-otot tubuh terlatih memegang tombak, berdiri di sisi-sisi danau. Asteria bersyukur mereka tak melihatnya yang sempat terbang sedikit di atas danau.
Asteria terus mengedarkan pandangannya. Ternyata, di setiap sisi sungai, dengan jarak per 200 meter, mungkin kurang atau lebih, ada lelaki-lelaki yang berjaga. Benar kata Sikka, mereka melindungi danau ini menjelang Upacara Pengorbanan.
Waktu sudah semakin sore. Asteria harus mencari cara untuk mengetahui apa yang ada di sungai ini. Ia mulai berpikir, bagaimana menelusuri danau sementara penjagaan ketat seperti ini?
Mata Asteria melebar. “Ah, kompas itu!” ia teringat kompas pemberian Raja Luid.
Asteria merogoh kompas yang ada di sakunya. Ia mencoba memutar-mutar arah kompas demi mendapatkan petunjuk.
Alhasil, jarum kompas berwarna hijau bergerak dan menyala. “Sebuah petunjuk!” jarum hijau itu selalu bergerak dan menyala ke tengah danau. Asteria mengangguk tanda memahami sesuatu.
“Jadi aku haru ke tengah danau. Tapi bagaimana caranya? Terlalu banyak penjaga di sini. Terbang ke sana hanya akan membuat tombak-tombak mereka melayang bebas, atau mereka menyerbu dengan perahu dan rakit mereka yang ada di sisi sungai.” Asteria diam sejenak.
“Aku harus mencari cara,” gumamnya.
“Aku harus berenang ke tengah danau,” pikirnya.
Asteria menceburkan diri sangat perlahan. Ia tak mau membuat riak gelombang air yang akan menarik perhatian para penjaga danau. Beruntung cuaca sore membuat kabut-kabut hutan turun. Danau itu pun mulai mengepulkan asap kabut.
Di dalam air, Asteria segera berenang ke tengah. Ia harus bergegas sebab jika tidak ia akan kehabisan napas. Ia sering berenang di laut, kekuatan bertahannya di dalam air hanya 2 menit. Asteria harus menggunakan ketahanannya itu dengan baik.
Setiba di tengah danau Asteria tak menemukan apapun. Ia mulai kebahisan napas dan lelah. Ia memutuskan sedikit menaikkan wajahnya ke permukaan untuk menarik napas. Kabut-kabut yang mulai tebal membuat riak air tak terlihat jelas.
Mengetahui kabut ini menghalangi pemandangan para penjaga, Asteria sedikit mengeluarkan kepalanya. Ia menarik napas lebih panjang. “Aku harus berenang ke dasar danau untuk mengetahui apa yang ada di dalamnya,” pikirnya.
Asteria menenggelamkan diri. Berenang lurus ke bawah dengan sekuat tenaga. Ia terus berenang sampai pemandangannya tak terlalu jelas. Di dasar danau yang diperkirakan mencapai 9 meter itu Asteria tak menemukan apapun. Hanya ada lumpur, kerikil, daun-daun dan kayu-kayu busuk.
__ADS_1
Asteria kembali kehabisan napas. Ia segera berenang ke permukaan untuk mengambil napas. Asteria muncul ke permukaan dengan rambut basah kuyup. Ia bernapas cepat.
Dan terkejutnya ia menyadari bahwa kabut-kabut itu sudah menghilang tertiup angin lembah hutan. Yang lebih mengejutkan lagi ternyata para penjaga melihat sebuah kepala muncul di permukaan dengan riak air akibat gerakan seseorang.
Mereka segera menaiki perahu dan rakit demi memastikan apa yang mereka lihat. Mereka menduga itu roh danau, namun tetap saja mereka perlu memastikannya.
Asteria yang panik segera menenggelamkan diri. Ia berenang kuat ke sisi danau yang berlawanan dari sisi tempat ia masuk. Rasa cemas membuatnya berenang dengan lebih kuat, bahkan sampai membuatnya lupa untuk menarik napas lebih dari 2 menit.
“Sial! Sial! Mengapa mereka bisa melihatku!” gumam Asteria.
Asteria tiba di sisi sungai yang berbatu cadas. Bebatuan itu memiliki celah-celah seperti memayungi sisi danau. Ia bersembunyi di celah batu itu. Kepalanya sedikit naik ke permukaan untuk mengambil napas sambil melihat para penjaga di tengah danau.
Celah batu dan hari yang mulai gelap membuat Asteria tersembunyi di situ. Namun, ia tak mungkin naik ke daratan dari sisi itu sebab tepat di atasnya ada seorang penjaga berdiri. Beruntung ia tak mencurigai riak air yang berasal dari celah batu di bawahnya.
Asteria kembali berpikir. Ia harus mencari cara lain untuk mencari benda itu. Sementara itu malam terus menggelap. Asteria harus segera mencari jalan keluar.
Asteria merogoh saku pakaiannya. Ia melirik kompas petunjuk. Jarum berwarna hijau bergerak dengan getaran kuat. Asteria segera menyimpannya di saku pakaiannya. Dengan debar dan keyakinan, Asteria menyimpulkan, “Petunjuk itu sudah sangat dekat!” batinnya.
Asteria melirik ke belakang. Ternyata celah batu tempatnya bersembunyi itu terus masuk ke dalam. Insting Asteria menyuruhnya untuk masuk mengikuti celaah tanpa takut. Jika mengingat panah kompas tadi mengarah ke arah tempatnya kini, Asteria menaksir petunjuk itu berada di seberang danau dari tempatnya bersembunyi tadi, bukan tengah danau.
Asteria berenang ke dalam memasuki lorong bebatuan di bawah daratan. Lorong celah itu merupakan gua dengan lubang yang tak terlalu besar. Ia terus masuk perlahan. Dan saat gua itu masuk lebih dalam tanpa ada ruang udara, Asteria berenang ke dalam. Ia mengikuti gua dalam air yang tak diketahui jaraknya itu. Asteria hanya berharap ia akan menemukan ruang untuk mengambil napas.
Setelah berenang cukup jauh, Asteria sampai di permukaan air. Ia keluar dan mengambil napas cepat-cepat. Ruangan itu gelap dan tak dapat ditaksir kedalaman dan isinya. “Aku harus waspada. Aku tak tahu bahaya apa yang ada di gua ini,” kata Asteria.
Asteria berdiri. Ia berjalan meraba di ruang gelap itu. Sampai tak sengaja ia meraba kayu yang menempel di dinding. Ia menarik kayu itu untuk dijadikan pegangan. Saat ia menarik kayu itu, ada tali yang mengikat kayu itu ke dinding. Asteria menarik kayu itu lebih kuat, dan api-api obor pun menyala di sudut-sudut gua. Rupanya kayu itu terikat dengan pemantik api di setiap obor.
Saat semua api menyala, terlihat jelas ruang gua tersebut cukup luas. Pada dinding-dindingnya terdapat batu-batu permata yang berkilauan dan cantik. Dan dari pemandangan itu semua, ada sesuatu yang membuat Asteria memundurkan langkahnya dan ekspresi wajah terkejut bukan buatan.
Di tengah gua itu ada seekor ular raksasa yang melingkar. Di tengah lingkarannya terdapat sebuah batu cukup tinggi. Pada batu itu terdapat tiga buah benda: pedang, kapak, dan perisai.
__ADS_1
“Inikah yang dimaksud Raja Luid?” tanya Asteria pada dirinya sendiri.
[Next Part 31]