Para Penjelajah Semesta

Para Penjelajah Semesta
Dimensi Penyihir


__ADS_3

Viana dan Peri Lotus terbang tinggi menembus awan-awam. Mereka masih belum tiba di Dimensi Penyihir seperti yang dikatakan Peri Lotus.


“Apakah Dimensi Penyihir itu masih jauh?” tanya Viana pada Peri Lotus.


“Aku tidak tahu. Aku belum pernah ke sana. Yang kutahu majikanku sebelumnya terbang ke atas dan tak pernah kembali lagi. Ia bilang mau pergi ke Dimensi Penyihir,” kata Peri Lotus.


Mereka terbang bersisian menuju langit yang tak diketahui batasnya. Udara di langit makin dingin dan awan-awan makin tebal. Viana mulai merasakan kesemutan dan lemas.


“Sepertinya aku sudah tidak kuat untuk terbang,” kata Viana.


“Kita harus bertahan,” ujar Peri Lotus.


Viana menahan rasa nyerinya. Ia terus terbang tanpa tahu akan sejauh apa. Kepalanya mulai terasa berat. Tenggorokannya mulai terasa perih. Bibirnya mulai kering.


Saat Viana hampir kehabisan kekuatannya, mereka berhasil memasuki dimensi lain. Mereka seperti menembus dunia lain. Ajaibnya, sewaktu mereka menembus dimensi baru itu, gravitasinya berubah. Kini mereka jusru terbang meluncur ke daratan, seakan bertolak dari langit.


Viana mencoba mengembalikan kekuatannya. Ia mencoba untuk terbang supaya tidak terjatuh ke daratan. Namun ia sudah kehabisan kekuatan.


Dan, brukkk!


Viana terjatuh di sebuah taman, tubuhnya menghancurkan bunga-bunga.


“Ugh!” Viana menahan nyeri di tubuhnya. “Kenapa tiba-tiba kita meluncur ke daratan?” kata Viana dengan menahan sakit.


“Kamu baik-baik saja?” tanya Peri Lotus.


Viana mengangguk pelan, namun rasa ngilunya tetaplah bukan mimpi belaka.


Tak berapa lama beberapa gadis terbang mendekati Viana yang baru terjatuh. Mereka mengelilingi Viana seolah makhluk asing yang jatuh dari bumi.


Salah seorang dari mereka mendekat dan memberi Viana minum. “Minumlah,” kata gadis itu.


Viana meminumnya perlahan-lahan. Dan ajaibnya, air terasa menjalar di sekujur tubuh Viana. Perlahan rasa sakitnya hilang dan Viana dapat duduk.


Si gadis yang memberi minum tadi meminta gadis-gadis lain untuk tidak berkerumun. Mereka pun bubar teratur.


Viana mengedarkan pandangannya ke setiap sudut tempat itu. Ribuan bahkan jutaan bunga bermekaran di sepanjang daratan. Ia melihat gadis-gadis tadi terbang meninggalkan Viana dengan gadis berambut merah dan bermata biru yang memberi minuman penyembuh.


“Aku Ozha. Kamu siapa?” tanya gadis berambut merah itu.


“Aku Viana.”

__ADS_1


“Dan aku Peri Lotus,” sambung Peri Lotus yang terbang di dekat Viana.


“Kalian dari mana? Mengapa bisa sampai ke sini?” tanya Ozha.


“Aku dari Planet Sankz. Dan Peri Lotus dari Dimensi Elf. Kami bertemu di Dimensi Rasa Takut. Untuk sampai ke sini, ceritanya cukup panjang,” jawab Viana.


Ozha mengerti. Ia akhirnya membawa Viana ke rumahnya di sebuah pohon yang masih berada di taman bunga itu.


“Kamu bisa berjalan?” tanya Ozha.


Viana mencoba bangkit. Lalu perlahan ia mulai mengangkat tubuhnya dengan kekuatan yang ada. “Sedikit-sedikit aku bisa terbang.”


“Kalau begitu, mari kita ke rumahku,” kata Ozha. Ozha sedikit membopong Viana agar tidak terjatuh tiba-tiba.


Mereka tiba di rumah Ozha yang berada di atas pohon yang tak diketahui jenisnya. Rumah itu hanya berupa satu ruangan dengan tempat tidur dari awan. Lantai dan dindingnya terbuat dari kayu.


“Kamu berbaringlah di tempat tidurku,” kata Ozha pada Viana.


Viana menerima tawaran Ozha. Ia memeriksa awan itu sebelum ditiduri. Ternyata awan itu dapat disentuh dan empuk seperti kapas. Viana berbaring di kasur awan itu. Terasa lembut dan nyaman. Menariknya kasur awan dapat menyesuaikan dengan tubuh dan berat badan Viana. Dengan sendirinya kasur itu menyesuaikan supaya punggung Viana menjadi lurus dan relaks.


Di meja tak jauh dari kasur, Ozha menggerakkan tangannya pada sebuah apel seperti sedang menyihir apel itu. Lalu ia meminta Viana memakannya. “Apel ini bisa membuatmu cepat pulih,” katanya.


Viana menerimanya. Ia memakan apel itu. Dengan cepat tubuhnya terasa nyaman. Ia menghabiskannya. Dan kekuatannya mulai kembali normal.


Seperti yang sudah disampaikan di taman, Viana pun menceritakan tujuan perjalanannya sampai ke sini.


“Luas biasa! Kamu melakukan ini semua demi menyelamatkan rakyatmu,” Ozha mengomentari.


“Aku sebenarnya takut, namun aku terlanjur terpilih karena telah terkena ledakan cahaya mantra penyegel Raja Luid,” balas Viana. “Lalu ini tempat apa? Bukankah seharusnya aku ke Dimensi Penyihir? Mengapa tempat ini begitu indah dan nyaman?” tanya Viana.


“Ini memang Dimensi Penyihir. Kami menyebutnya Dunia Penyihir,” kata Ozha.


“Kenapa tempat ini begitu indah?” tanya Viana lagi.


“Memangnya kamu pikir tempat penyihir itu seperti apa?” tanya balik Ozha.


“Yang kubayangkan para penyihir itu menyeramkan, horor, gelap, penuh kebencian, tumbal, dan mantra-mantra,” ujar Viana.


“Dari mana kamu dapat khayalan itu? Dunia Penyihir adalah dunia yang indah. Kami hidup damai dan tentram selama jutaan tahun. Penyihir tidak membutuhkan mantra atau perantara apapun untuk membuat sihir atau hal ajaib lainnya. Sihir itu sudah tertanam sejak kami menjadi penyihir. Hanya makhluk-makhluk selain penyihir-lah yang membutuhkan mantra atau perantara lain untuk mendapatkan kekuatan atau keajaiban. Kupikir mereka itu hanya meniru supaya terlihat seperti penyihir,” tutur Ozha.


Penjelasan itu cukup membuat bayangan dan khayalan Viana akan penyihir selama ini terbalikkan.

__ADS_1


Viana melirik ke luar jendela. Ia beru menyadari bahwa semua yang ada di tempat ini adalah perempuan. “Di mana laki-laki di sini?” tanya Viana.


“Di Dunia Penyihir, laki-laki dan perempuan hidup terpisah. Kami sebagai perempuan tinggal di tempat ini, sedangkan laki-laki hidup di pegunungan yang cukup jauh. Kami hanya bertemu pada saat musim kawin.”


Viana terbelalak. Musim kawin? Terdengar seperti binatang. “Maksudmu?” tanya Viana akhirnya.


“Ya, musim kawin. Pada waktu yang sudah ditentukan, laki-laki akan turun dari gunung dan mencari rumah-rumah penyihir perempuan yang mereka anggap layak dijadikan pasangannya selama musim kawin. Setelah mereka semua memilih, Ratu Penyihir akan mempersilakan mereka masuk. Dan mereka pun masuk ke rumah-rumah penyihir perempuan. Kami para penyihir perempuan sudah berada di dalam rumah masing-masing dan menunggu penyihir lelaki mana yang tertarik pada rumah kami masing-masing. Selama satu bulan penuh kami akan di dalam rumah tanpa keluar untuk terus merayakan pesta kawin dengan pasangan masing-masing,” jelas Ozha panjang lebar.


“Dan kamu akan ikut kawin?” tanya Viana.


“Iya.”


“Apa? Bukankah usiamu baru 16 atau 17 tahunan?” taksir Viana.


“Kamu pikir aku ini bayi? Aku sudah berusia tiga ratus tahun lebih!” protes Ozha.


Viana melotot terkejut. “Oke, oke. Sepertinya aku harus berhenti mebayangkan apapun tentang kalian dengan duniaku.”


“Apakah kalian akan menikah pada musim kawin itu?” kali ini Peri Lotus yang bertanya.


“Kami hanya akan menerima restu dari Ratu Penyihir. Jika Ratu Penyihir sudah membolehkan setiap lelaki memasuki rumah yang mereka suka, para lelaki penyihir akan masuk dan baru keluar sebulan kemudian.”


“Kapan waktu itu akan tiba?” tanya Peri Lotus lagi.


“Stop menanyai itu, Lotus. Aku tak sanggup membayangkannya!” protes Viana.


“Minggu depan. Itu sebabnya saat ini kami sedang sibuk menyiapkan rumah semenarik mungkin supaya lelaki penyihir tergoda untuk memilih kami,” jawab Ozha.


Kali ini Viana hampir pingsan mendengarnya. “Minggu depan? Lalu bagaimana dengan nasibku?”


“Aku tidak tahu. Kamu yang datang ke sini tanpa permisi. Jadi aku tidak tahu harus bagaimana,” balas Viana.


“Oh Tuhan, aku akan terjebak dalam pesta percintaan masal yang tak sanggup kebayangkan,” keluh Viana. Ia menatap keluar. Melihat sesuatu yang indah dengan pikiran yang mulai tak jelas.


“Bagaimana caraku keluar dari dimensi ini?” tanya Viana kemudian.


“Mungkin kamu perlu menemui Ratu Penyihir,” celetuk Ozha.


“Di mana tempatnya?” Viana membalas cepat.


“Aku antar kamu ke tempat Ratu Penyihir,” ajak Ozha.

__ADS_1


Ozha terbang keluar rumahnya. Diikuti Peri Lotus dan Viana yang sudah dapat terbang sendiri. Mereka melintasi taman bunga, sungai yang jernih, dan rumah-rumah penyihir lain di pepohonan yang sedang dihiasi bunga-bunga. Viana tak menduga hal tak masuk akal seperti ini benar-benar nyata.


[Next Part 32]


__ADS_2