Para Penjelajah Semesta

Para Penjelajah Semesta
Neil dan Naira


__ADS_3

Hari pertama mengikuti program bimbingan di kerajaan, semua peserta dibagi dalam 11 kelompok. Neil tergabung dalam Kelompok 8. Ia bersama 100 orang lainnya dibawa ke satu ruangan. Di ruangan itulah mereka mendapat pembekalan awal dari seorang Prajurit Senior Kerajaan.


Semua peserta yang hadir duduk di kursi panjang yang sudah disediakan secara melingkar. Seorang Prajurit Senior mulai memperkenalkan diri, namanya Darda. Ia lantas menjelaskan mengenai mantra dan Pewaris Mantra setelah perkenalannya. Pada penjelasan ini semua peserta diberi tahu mengenai sejarah Pewaris Mantra. Dan yang mengejutkan adalah bahwa mereka semua adalah seorang Pewaris Mantra.


“Pada jaman dahulu, nenek moyang kita membagi-bagi kerajaan di Planet Sankz ke dalam beberapa tingkatan dan kemampuan. Dari situ terbagi menjadi Penyerang, Pelindung, Penyembuh, dan Pengendali atau Pusat. Pertukaran suku dan penduduk terjadi besar-besaran pada waktu itu. Setiap orang dikirim ke negara atau kerajaan lain sesuai potensi kemampuannya. Negara kita dahulu bernama Ferrata, sistem pemerintahan menganut sistem kerajaan yang bertahan sampai sekarang. Kerajaan Ferrata menjadi Kerajaan Pelindung dengan tingkatan bawah. Setiap orang dari berbagai kerajaan yang memiliki potensi kekuatan perlindungan dan tingkat kemampuan bawah dikirim ke kerajaan kita,” kata Prajurit Senior itu.


Semua peserta mendengarkan. Termasuk Neil yang mulai tertarik.


Prajurit Senior itu kembali menjelaskan. “Tidak semua penduduk dipindahkan. Bagi penduduk yang tidak memiliki kemampuan atau potensi kemampuan di luar manuisa lainnya tetap berada di negaranya sebagai penduduk asli. Di kerajaan kita terjadi percampuran darah dan kekuatan yang tak terkontrol pada awal-awal penyesuaian antara pendatang dan penduduk asli. Perkawinan campuran menghasilan anak-anak yang acak. Dari pasangan suami istri yang sama dapat melahirkan anak yang memiliki kekuatan menggunakan mantra, dan ada yang tidak dapat menggunakan mantra sama sekali. Anak-anak yang memiliki mantra mulai disebut sebagai Pewaris Mantra.”


Prajurit Senior itu menengguk segelas air di tengah penjelasannya. Lalu ia melanjutkan.


“Untuk mengetahui setiap anak yang lahir adalah Pewaris Mantra atau bukan, orangtua mereka meminta anak mereka membacakan mantra sederhana. Jika anak itu mendapatkan kekuatan dari mantra itu seperti melayang atau menggerakkan benda, maka anak itu adalah Pewaris Mantra. Namun bagi anak-anak yang tak mendapatkan kemampuan apapun meski dicoba berkali-kali, ia tidak menjadi Pewaris Mantra. Sampai di sini ada yang ditanyakan?” tanya Prajurit Senior pada peserta bimbingan.


Seseorang yang duduk di tengah mengangkat tangan. “Kenapa sekarang kerajaan kita menjadi New Ferrata? Dan di mana kerajaan-kerajaan lain berada saat ini?” tanyanya.


Prajurit Senior itu menjelaskan mengenai serangan Pasukan Langit dan peristiwa ditutupnya kerajaan ini dengan mantra segel perlindungan yang sampai saat ini belum pernah dibuka. Lalu peristiwa demi peristiwa dijelaskan. Hilangnya Raja Luid, diubahnya nama kerajaan menjadi New Ferrata, sampai ditutupnya sejarah dari generasi penerus rakyat.


Seseorang kembali bertanya. “Lalu bagaimana cara membuka dinding itu?”


Prajurit Senior menjawab bahwa untuk membukanya dibutuhkan para Pewaris Mantra yang akan membacakan mantra pembuka segel perlindungan secara bersamaan.


Neil mengangkat tangan. Prajurit Senior mempersilakannya.


“Terima kasih,” kata Neil. “Yang ingin kutanyakan sederhana. Untuk apa kami diberi bimbingan ini? Kenapa tidak semua penduduk diberi tahu tentang sejarah itu?” tanyanya.


Mulai dari pertanyaan itu, Prajurit Senior akhirnya menjelaskan. “Karena kalian semua adalah Pewaris Mantra. Kami mencari kalian, menguji kalian, dan kalian mampu membuktikan bahwa kalian seorang Pewaris Mantra,” katanya.


Dari situ Prajurit Senior menjelaskan mengenai perkiraan Pasukan Langit yang akan kembali menyerang setelah 1000 tahun serangan itu. Pada momen ini akhirnya semua peserta tahu bahwa Pasukan Langit akan menyerang pada kemunculan purnama bulan biru yang akan datang 6-7 tahun lagi. Mereka semua yang hadir akan dirancang untuk bersiap menghadapi serangan itu.

__ADS_1


Pertemuan pertama itu selesai sampai siang hari. Peserta bimbingan diberi waktu untuk beristirahat, materi kelas bimibingan akan dilanjutkan setelah istirahat siang. Pembekalan kedua mengenai potensi yang dimiliki seorang Pewaris Mantra. Setiap Pewaris Mantra memiliki kemampuan mengaktifkan dan menggunakan semua mantra. Namun mantra yang dapat diaktifkan tergantung tingkatan kekuatan yang dimiliki seorang Pewaris Mantra.


“Artinya semakin tinggi tingkatku, semakin besar pula mantra yang dapat kugunakan,” gumam Neil.


Pembekalan kedua selesai jam 4 sore. Neil segera pulang ke rumah seusai mengikuti materi-materi kelas sebagai pembekalan awal pada program bimbingan ini. Di rumahnya sudah ada Naira yang menemani ibunda Neil memasak.


Naira tersenyum ramah melihat kehadiran Neil. Neil membalas dengan senyuman yang lebih tulus daripada yang biasa Neil lakukan sebelumnya. Melihat itu, ibunda Neil merasa senang. Ia meminta Naira mengajak Neil keluar menikmati pemandangan.


Neil meminta waktu mengganti pakaian. Setelah itu mereka berdua keluar rumah. Hari itu suasana hati Neil sedang baik. Penjelasan bahwa ia termasuk orang yang memiliki potensi mengendalikan mantra meningkatkan semangat dan penasaran akan kemampuan yang akan dimilikinya kelak. Di sisi lain hal itu juga membangkitkan rasa cemasnya akan serangan Pasukan Langit yang diperkirakan akan datang 6-7 tahun mendatang. Bagaimana jika kerajaan dengan prajurit dan para Pewaris Mantra tak dapat melindungi rakyat dan kerajaan? Bagaimana jika semua ini musnah?


Neil dan Naira duduk di perahu kayu yang terparkir di bawah pohon. Naira menunggu Neil yang membuka obrolan. Pengalaman-pengalamannya bersama Neil mengajarkannya apa  yang harus dilakukan bersama Neil.


Neil orang yang sulit diajak bicara secara mengalir. Ia selalu memberi jawaban yang singkat dan tak memberi ruang untuk tanggapan yang lebih luas. Naira mengakui bahwa ia sangat mencintai Neil, namun ia ingin Neil menerimanya atas kerelaannya sendiri. Dorongan perjodohan, usahanya yang selalu datang ke rumah Neil, dan semua yang ia lakukan demi bersama Neil, bagi Naira itu semua hanyalah cara untuk memberi ruang bagi dirinya dan Neil agar lebih dekat. Sisanya ia tak mau memaksa Neil untuk mencintainya. Ia tetap ingin Neil yang mencintainya dengan ketulusan.


“Bagaimana kabar sekolah, apakah ketidakhadiran siswa-siswa yang ikut bimbingan jadi pembicaraan?” tanya Neil, sedikit berbasa-basi, namun lebih natural daripada sebelumnya.


“Iya, Neil. Beberapa orang membicarakan kalian yang ikut bimbingan kerajaan. Kalian dianggap anak-anak terbaik yang dipilih kerajaan,” kata Naira. “Selain itu, menghilangnya Asteria mulai dibicarakan di sekolah. Kabarnya orangtua Asteria sudah melaporkan kehilangan Asteria pada pihak keamanan kerjaan. Bukan hanya Asteria, Viana juga menghilang tanpa jejak. Penyelidikan sedang dilakukan. Terakhir kali mereka rutin berhubungan dengan penjaga perpustakaan,” lanjutya.


“Belum ada berita resmi ataupun kabar yang lebih jelas. Hanya desas-desus yang masih simpangsiur dibicarakan,” jawab Naira.


Neil mengangguk. Ia menatap lautan. Entah apa yang dipikirkannya.


“Kita bersampan ke lautan, yuk,” ajak Neil pada Naira.


Naira sedikit terkejut dengan ajakan tak biasa dari Neil ini.


“Kita nikmati sore ini di atas air laut,” tambah Neil.


Mereka berdua pun mendorong sampan yang sebelumnya mereka jadikan tempat duduk. Keduanya naik dan mulai mendayung ke arah lautan. Neil mendayung di sisi kiri, Naira mendayung di sisi kanan.

__ADS_1


Setelah cukup jauh dari daratan, dan lautan sudah lebih tenang dari ombak pesisir, Neil menghentikan dayungannya. Naira pun mengikuti menghentikan dayungnya. Neil bergerak dan berpindah tempat duduk di ujung sampan. Untuk membuat sampan seimbang, Naira bergeser ke ujung sampan lain. Mereka duduk berhadapan di kedua pojok sampan.


“Menurutmu, apa jadinya jika semua daratan ini menghilang?” tanya Neil. Ia teringat penjelasan Prajurit Senior tentang Pasukan Langit yang menghancurkan negara bersama daratan-daratannya.


“Kita akan terapung-apung di lautan dengan sampan seperti ini,” jawab Naira.


“Jika semua manusia ikut menghilang, bagaimana?” tanya Neil lagi.


“Hah?” Naira agak bingung dengan pertanyaan kedua ini. “Mmm, barangkali kiamat. Sebab untuk apa bumi ini ada jika penghuninya menghilang?”


“Masih ada ikan-ikan, kerang, terumbu karang, penyu, cumi, dan masih banyak binatang lain. Masih ada makhluk hidup,” balas Neil.


“Tapi mereka bukan manusia. Mereka tak punya tujuan seperti kita,” sanggah Naira.


“Menurutmu planet ini hanya diciptakan untuk umat manusia? Bukankah sebelum manusia hadir, planet beserta isinya sudah lebih dahulu ada. Kita hadir sebagai tamu. Dan kita semua akan pergi pada waktunya, meninggalkan planet dan isinya seperti semula.”


“Bukankah itu kiamat namanya?” balas Naira.


“Maksudku, bagaimana jika memang Tuhan punya rencana menghilangkan manusia tanpa menghancurkan planet tempatnya tinggal?” tanya Neil.


“Aku rasa hal itu tidak masuk akal,” jawab Naira.


“Kenapa tidak masuk akal? Bukankah di luar sana, di semesta langit yang luas, banyak planet yang tidak kita ketahui? Planet-planet itu tidak semua dihuni manusia. Artinya planet kita memang tidak sepenuhnya untuk manusia. Dan Tuhan bisa saja menarik manusia di planet ini untuk membuat planet ini seperti planet lainnya.”


“Apa yang sebetulnya sedang kamu bicarakan, Neil?” Naira mencari jawaban lain.


Neil membayangkan serangan itu dan kehancuran yang mungkin terjadi. Semua manusia musnah bersama daratannya. “Tidak, Naira. Aku hanya ingin berdiskusi saja,” jawab Neil.


Naira tersenyum mendengar kalimat ‘ingin berdiskusi saja’. Ada bahagia yang dirasakan, sebab Neil mulai menganggap kehadirannya dengan membawanya pada diskusi pribadi ini. Selama ini Naira tak pernah mengetahui isi pikiran Neil. Neil begitu hebat menutup rapat ruang pribadinya selama ini. Dan kini ia mengajak Naira berdiskusi. Itu sudah cukup membuat bahagia Naira. Meski pun di dalam lubuk hatinya, Naira masih merasa ada yang disembunyikan Neil darinya.

__ADS_1


Matahari sudah mendekati batas permukaan laut di ufuk barat. Neil dan Naira memutuskan kembali ke daratan sebelum gelap.


[Next Part 29]


__ADS_2