Para Penjelajah Semesta

Para Penjelajah Semesta
Melewati Tahap Satu


__ADS_3

Para peserta yang memilih gerbang barat dan timur sudah memasuki hutan. Hutan di bagian timur berdekatan dengan 3 bukit yaitu Bukit Nashi, Bukit Andas dan Bukit Kal. Mereka menduga patung kayu akan banyak disimpan di perbukitan. Sedangkan hutan bagian barat berupa hutan dengan dua bukit yang memiliki banyak aliran sungai


Asteria sudah berjalan di dekat sungai. Para peserta lain yang memilih gerbang barat sudah berpencar jauh sedari tadi.


Dari kejauhan, Asteria melihat seorang peserta di seberang sungai baru saja memanah patung kayu. Remaja itu segera kembali ke lapangan setelah mengambil kain yang ada di leher patung. Kain itu akan dijadikan bukti pada para juri bahwa ia sudah memanah 1 patung.


Asteria tetap melanjutkan perjalanan. Ia menyusup di antara ranting-ranting tanaman perdu dan semak. Beberapa remaja lain berlari di dalam hutan, menaiki bukit dan mengikuti sungai. Asteria tahu mereka sudah pergi begitu jauh memasuki hutan.


Dengan tenang Asteria memerhatikan sudut-sudut hutan, dahan-dahan pohon, celah batu dan semak yang gelap. Tidak ada yang tahu para prajurit kerajaan menyembunyikan patung-patung itu di mana. Asteria barharap keberuntungan ada di pihaknya.


Sampai akhirnya ia menemukan sebuah patung di kejauhan.


Asteria mengejar patung tersebut. Setibanya di dekat patung itu, bagai lesatan cahaya, sebuah panah menancap tepat di dada patung. Asteria membuang napas lelah dan kekesalan.


Seorang remaja seusianya berdiri di atas dahan besar, sambil nyengir melihat Asteria. Ia merasa puas telah lebih dulu memanah patung itu.


Ia melompat ke daratan. Mengambil kain itu. “Seharusnya kau tak perlu berlari. Panah saja dari tempatmu berdiri jika kau memang pemanah sejati,” katanya sambil melewati Asteria yang diam menjaga ketenangan.


Asteria melanjutkan perjalanan. Sudah 40 menit waktu berlalu sejak ia melewati gerbang. Ia masih seperti semula, berjalan sambil melihat dengan ketelitian.


Keberuntungan sepertinya masih ingin memberi kesempatan padanya. Saat tak sengaja ia menoleh ke atas, sebuah patung kayu tergantung dengan tali pada sebuah batang pohon. Asteria tersenyum.


Ia melangkah mencari posisi yang nyaman dan tepat untuk melakukan pemanah. Asteria menarik busur kuat-kuat, matanya ditajamkan.


Srettt! Panah melesat.


Menancap tepat di dada patung.


Asteria memanjat pohon untuk mengambil kain di leher patung. Asteria tersenyum puas.

__ADS_1


Tahap 1 sudah dilewati.


*


Semua peserta berkumpul kembali di lapangan. Mereka sudah dibagi menjadi dua kelompok: kelompok gugur dan kelompok lolos.


Semua peserta yang memilih gerbang timur tidak ada satu pun yang mendapatkan patung dan kain. Sedangkan peserta yang memilih gerbang barat nyaris semuanya mendapatkan patung dan lolos ke tahap selanjutnya. Hanya 9 peserta gerbang barat yang gugur. Itu karena mereka kehabisan waktu, padahal sisa patung yang ada masih cukup untuk 23 peserta.


Asteria sudah menebak ada ‘sebuah tipuan’. Saat pertama kali gerbang dibuka dan semua peserta sudah menghambur ke timur dan barat, Asteria masih balum tahu gerbang mana yang akan dipilih. Hingga akhirnya ia memerhatikan pangeran dan beberapa prajurit yang berdiri di dekatnya.


Kebanyakan dari mereka memperhatikan arah barat, hanya beberapa saja yang tidak menoleh lantaran memperhatikannya yang masih berdiri di lapangan. Asteria membuat analisa sendiri, jika kebanyakan prajurit melihat ke arah barat, kemungkinannya mereka ingin melihat bagaimana aksi para peserta mendapatkan patung dan tidak memedulikan mereka yang tidak mendapatkan patung.


Dan itu benar terjadi, rupanya patung yang disediakan hanya disebar di hutan sebelah barat. Sementara di sebelah timur tidak ada sama sekali. Kini, masih ada patung-patung yang tersisa di bagian barat yang belum dipanah.


Asteria merasa bangga akan keberhasilannya menganalisa. Tak lama Prajurit Eri datang ke tengah lapangan. Ia siap menyampaikan peraturan Tahap 2.


“Aku ucapkan selamat bagi kalian yang masuk Tahap 2. Dan bagi yang gagal di tahap sebelumnya, dengan hormat dipersilakan meninggalkan lapangan,” kata Prajurit Eri lantang.


Prajurit Eri menatap para peserta yang lolos ke Tahap 2.


“Baiklah, untuk Tahap Kedua ini akan lebih menantang dari tahap sebelumnya. Untuk itu, sebelum kusampaikan peraturan Tahap Dua, aku minta kalian mengambil masing-masing 1 kain yang ada di kotak hitam.”


Seorang yuga berjalan ke hadapan peserta dengan membawa kotak hitam, di dalamnya ada kain yang jumlahnya sama dengan jumlah peserta.


Satu persatu peserta pun mengambil kain dalam kotak hitam setelah dipersilakan oleh Prajurit Eri.


“Silakan kalian berdiri berpasangan sesuai warna kain kalian,” ujar Prajurit Er kemudian.


Asteria melihat kainnya, berwarna kuning. Baiklah, ia akan mencari orang yang memiliki kain yang sewarna dengannya.

__ADS_1


Asteria melihat sekeliling.


“Kamu mencariku?” seseorang berdiri di belakang Asteria.


Asteria menoleh. Ia tersenyum setelah melihat orang berdiri di belakangnya menggenggam kain berwarna kuning.


“Hay, salam kenal. Aku Asteria.” Asteria mengulurkan tangannya. “Kau boleh memanggilku Aster atau Asteria.”


“Aku Neil,” ujar lelaki itu tanpa membalas uluran tangan Asteria.


Asteria tersenyum. “Nama yang keren!” Ia menarik kembali tangannya. “Semoga kita bisa menjadi tim yang kompak.”


“Ya, semoga saja,” ujarnya.


Prajurit Eri memerintahkan peserta untuk kembali berbaris dengan pasangannya masing-masing. “Kalau kalian sudah mendapatkan pasangannya masing-masing, peraturan Tahap 2 akan kusampaikan.”


“Pertama, kalian akan mendapatkan 1 patung kayu untuk 1 pasangan. Kedua, kalian harus bersama dalam keadaan apa pun, namun tugas kalian dibagi. 1 orang bertugas menjaga patung dengan dengan berbagai cara, dan 1 orang lagi bertugas sebagai pemanah. Untuk lolos ke tahap 3, tim harus mempunyai 2 patung. Artinya, seorang pemanah harus memanah patung yang dijaga lawannya. Dengan begitu patung yang berhasil dipanah menjadi miliknya. Tim yang patungnya dipanah tim lain harus menyerahkan patungnya dan secara otomatis dianggap gugur. Mengerti?”


“Mengerti!” jawab semua peserta serentak.


“Bagus kalau kalian mengerti. Peraturan ketiga, dalam tahap ini kalian diperbolehkan melakukan perlawanan fisik, namun tidak diperbolehkan menggunakan senjata apapun. Alat panah hanya dipergunakan untuk memanah patung, bukan untuk senjata melumpuhkan lawan. Dan peraturan tearkhir, seluruh Negara New Ferrata boleh kalian jadikan tempat persembunyian atau bertarung, namun tidak diperbolehkan membuat kekacauan di tempat umum. Kawasan yang tidak diperbolehkan menjadi tempat persembunyian dan pertarungan adalah kawasan kastil dan puri kerajaan. Siapapun yang melanggarnya akan kami diskualifikasi.” Prajurit Eri menutup lembaran peraturan pertandingan.


“Sekarang kalian boleh beristirahat. Tidak akan ada peluit atau tanda lainnya untuk memulai pertandingan. Saat matahari sudah berada di tengah langit, di mana pun kalian berada, silahkan bertanding. Dan waktu pertandingan berakhir saat matahari sudah tenggelam. Jika diketahui masih ada yang memperebutkan patung ketika matahari sudah tenggelam, maka akan kami anggap gugur. Pengumuman hasil pertandingan dilsampaikan esok hari. Sekain.” Prajurit Eri kembali ke istana.


Asteria mengepalkan tangannya. “Aku pasti bisa!” katanya. Lantas ia menoleh pada Neil.


Neil hanya membalas tatapannya dengan wajah datar.


[Next Part 6]

__ADS_1


 


 


__ADS_2