Para Penjelajah Semesta

Para Penjelajah Semesta
Peri Lotus


__ADS_3

Viana berupaya menahan rasa laparnya. Ia berjalan mendekati jurang itu kembali. Ia kembali mencoba mencari cara untuk menyeberangi jurang. Kenali ketakutanmu, maka kau akan mendapatkan keberanian¸ia teringat inti kalimat itu.


Viana mencoba mengingat apa yang menjadi ketakutan terbesarnya selama ini. Ia teringat paska kematian orangtuanya, ia takut untuk pergi ke laut. Namun di tempat ini tidak ada air laut. Ia tak akan mengarungi lautan. Hhal yang menakutkan itu tidak perlu dikhawatirkan.


Viana meyakinan dirinya bahwa ia tidak perlu menakutkan apapun. Ia sanggup melewati ini. Dengan sisa tenaga, Viana mencoba mengeluarkan kekuatan pemberian Raja Luid yang pernah gagal dicobanya itu.


Viana menempelkan kedua tangannya di bibir tebing. Ia memejamkan mata dan merasakan kekuatan yang mengalir di setiap aliran darahnya.


Dari telapak tangannya keluar tanaman yang merayap dan mengakar pada bebatuan bibir jurang. Dari situ tanaman yang merambat saling menguatkan satu sama lain. Tanaman merambat itu menjulur panjang sampai ke seberang tebing.


Viana membuka mata. “Akhirnya, aku bisa berani,” kata Viana.


Viana memastikan kekuatan tanaman yang membentang itu. Ia menggoyang-goyangkannya dan membebani dengan kakinya. Setelah dirasa kuat, Viana bangkit. “Sekarang aku harus berani menyeberangi jurang ini.”


Viana membuat tali pengaman tubuh dengan tanamannya. Ia mengikat kuat dua tali pengaman di tubuhnya pada jembatan tali tanaman yang membentang di kedua sisi jurang. Ikatan tali pengaman dengan tali jembatan dibuat sedikit longgar agar mudah saat bergerak.


“Aku harus bisa melewati jurang ini agar bisa sampai ke sana dan mendapatkan makanan,” kata Viana.


Viana melewati jembatan tali buatannya itu dengan cara menggantung. Tangannya bergantian meraih tali dan saling menyambung seperti seekor simpanse. Ia terus bergerak dengan talinya.


Setibanya di tengah jurang, Viana kelelahan. Tangannya bergetar dan sakit menahan beban tubuhnya terlalu lama. Namun Viana tak punya pilihan. Ia harus terus menggunakan tangannya untuk terus bergerak maju.


Saat tangannya ingin meraih tali di depannya, ia tak sanggup menggapai karena kelelahan. Viana mencoba meraihnya sekali lagi dengan cara mengayunkan badannya agar lebih terangkat. “Aku tidak mau mati di sini,” kata Viana.


Tangannya berhasil meraih tali di depannya, namun hal itu membuat hentakkan dan talli bergoyang hebat. Tiba-tiba tali terputus. Viana menggenggam tali dengan kuat. Ia jatuh dan terayun ke arah tebing seberang bersama tali yang putus. Badannya membentur tebing batu dengan kencang.


Viana menjerit kesakitan. Namun sekuat tenaga ia menahan pegangannya dan tak mau terjatuh. Kini ia menggantung pada ujung tali di tebing yang terjal. Kakinya mencoba menggapai batu yang cukup datar di dekatnya.


Kaki Viana berhasil meraihnya. Ia menginjak batu itu dan melepas pegangannya pada tali. “Semoga batu ini cukup kokoh,” katanya.


Viana duduk menghadap seberang dan menyandarkan tubuhnya. Ia menahan sakit di badan dan lecet di kulit tangannya. Ia sudah lupa akan rasa laparnya. Kini yang ia pikirkan hanyalah keselamatannya.


Viana melongok dasar jurang yang gelap. Lalu ia mendongak ke atas tebing. Apakah Viana harus memanjat tebing itu, sedangkan ia tidak punya pengalaman memanjat tebing? Atau ia memanjat dengan menyusuri tali tanaman yang menjuntai di atasnya. Tapi tali itu sudah pernah putus. Bagaimana jika tali itu putus kembali?

__ADS_1


Viana bingung harus bagaimana. Ia sudah kelelahan. Ia memikirkan rumah dan neneknya. Sedang apa neneknya sekarang? Apakah nenek memikirkannya yang tidak ada di rumah? Bagaimana jika ia gagal dan tidak pernah kembali lagi? Bagaimana Asteria dan Pangeran Sagi yang tak mengetahui kepergiannya ini?


Viana kembali merasakan takutnya. Ia takut mati di sini. Ia takut tak kembali lagi ke New Ferrata. Ia takut membayangkan negerinya hancur tanpa seorang pahlawan. Pada detik itu ia berpikir bahwa ia harus menjadi pahlawan.


“Aku tidak boleh menyerah! Kalau pun aku mati di sini, setidaknya aku sudah berjuang. Daripada aku mati berdiam diri, lebih baik aku mati berjuang. Aku harus menyelamatkan diriku untuk menyelamatkan kerajaan! Selama ini aku selalu berdiam diri. Selama ini aku merasa bahwa aku tak berguna. Selama ini aku hidup dalam ketakutan. Sekarang aku tidak punya siapa-siapa yang akan membantuku. Aku harus mencoba sekali lagi!” tegas Viana.


Pada saat itu, tiba-tiba tubuh Viana bergetar. Kakinya perlahan terangkat ke udara bersama tubuhnya. Ia merasakan kekuatan mengalir di tubuhnya dengan lebih besar. Tanaman-tanaman keluar dan menjalar dari balik pakaiannya. Viana melayang sampai ke atas jurang melebihi daratan.


Di atas, Viana dapat melihat daratan dan hutan dan taman di kedua sisi jurang. Rambutnya berubah warna menjadi hijau dan pakaiannya telah berpadu dengan tanaman merambat menjadi sebuah gaun yang indah. Kini ia merasa lebih ringan dan tenang.


Viana terbang ke sisi jurang taman. Ia menginjakkan kakinya dan mengedarkan pandangannya. Dari balik pohon berbuah, ada sinar yang seakan bersembunyi dan mengintip.


Viana memerhatikannya dan mendekatinya. Cahaya itu pergi menjauhi Viana.  Viana mengejarnya. Ia menggunakan tanaman merambat dari tangannya untuk meraih cahaya itu. Cahaya itu berhasil ditangkap dan Viana menariknya.


Setelah berada di hadapan Viana, rupanya cahaya itu berupa makhluk mungil dengan sayap serupa capung, dengan tubuh manusia, dan bertelinga lancip. Maklhuk kecil itu menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


“Hai, aku Viana. Apakah kamu bisa bicara?” tanya Viana.


Makhluk kecil itu membuka wajahnya. Ia memerhatikan Viana. Viana tersenyum melihat wajah lugu dan lucunya. Rupanya makhluk kecil itu berjenis kelamin perempuan. Viana melepaskan ikatannya. Makhluk itu terbang di hadapan Viana.


“Aku Peri Lotus. Aku dari Dimensi Elf,” kata makhluk itu.


“Dimenasi Elf? Apa itu?” tanya Viana.


“Dimensi Elf itu tempat di mana para Peri Lotus dan elf hidup. Setiap elf memiliki satu Peri Lotus. Dan aku salah satu peri milik seorang elf yang pergi ke dimensi ini puluhan tahun lalu.”


“Lalu di mana elf yang memilikimu itu?” tanya Viana.


“Dia sudah lolos dari dimensi ini. Aku ditinggalkan olehnya di sini,” kata Peri Lotus. Wajahnya berubah jadi murung.


“Kenapa?” Viana heran.


“Karena dia sudah mendapatkan kekuatan penuh yang lebih besar. Dia sudah tidak membutuhkanku lagi. Setiap elf memiliki peri untuk kekuatannya. Elf tanpa peri tidak akan bisa memaksimalkan kekuatannya dan lemah. Sedangkan Peri Lotus tanpa majikan tidak mampu mengeluarkan kekuatannya. Kami saling melengkapi,” jelas Peri Lotus.

__ADS_1


“Dia meninggalkanmu. Lalu ke mana dia pergi?” tanya Viana.


“Enathlah. Mungkin ke Dimensi Elf atau pergi ke dimensi lain. Aku tidak pernah mengetahuinya. Ia pergi begitu saja setelah mendapatkan kekuatannya di dimensi ini. Dan aku terjebak di sini sampai sekarang. Aku tidak bisa kembali sebab kekuatanku menghilang saat majikanku memutus ikatan.”


“Kasihan. Bagaimana cara ia pergi dari sini?”


“Ia terbang menuju langit. Di sana ada dimensi lain. Sepertinya ia mencari kekuatan lain di sana,” kata Peri Lotus.


“Kalau begitu aku harus terbang ke sana untuk pergi dari dimensi ini,” gumam Viana.


“Apakah kamu juga akan pergi dari dimensi ini?” tanya Peri Lotus.


“Iya, aku harus meninggalkan tempat ini. Aku harus mendapatkan kekuatan untuk menyelamatkan negeriku, rakyat dan semuanya. Aku membutuhkan kekuatan yang lebih besar untuk menyelamatkan negeriku.”


“Kupikir aku akan mendapatkan teman di sini. Ternyata aku akan sendiri lagi.” Peri Lotus murung kembali.


Viana tersenyum. “Katamu kekuatanmu akan maksimal jika kamu memiliki majikan. Bagaimana kalau aku jadi majikanmu?” tanya Viana.


Peri Lotus tersenyum ceria. Matanya yang bulat membelalak gembira. “Benarkah?”


“Benar. Aku tidak bercanda,” jawab Viana.


Peri Lotus terbang dan menari-nari. Lalu ia kembali lagi. “Akhirnya aku punya majikan lagi!”


Viana mengulurkan tangannya. Peri Lotus dengan tangan mungilnya membalas uluran tangan Viana. Mereka bersepakat. Lalu dari tubuh Peri Lotus keluar cahaya yang lebih terang. Peri Lotus merasa lebih kuat dari sebelumnya.


“Dengan kekuatanku yang sudah sempurna, aku mampu terbang sampai ke langit,” ujar Peri Lotus.


“Kalau begitu, sekarang kita terbang ke langit,” Kata Viana.


“Bagaimana kalau kita makan dulu? Kamu pasti belum makan,” usul Peri Lotus. Viana menyetujui usulannya. Mereka makan buah-buahan yang ada di pohon sekitar taman. Setelah kenyang mereka pun terbang melambung tinggi menuju langit.


Dengan kekuatan yang sudah didapatkan oleh Viana dan kekuatan Peri Lotus yang sudah maksimal, mereka akan menghadapi dimensi yang tak terbayangkan sebelumnya. Jika di Dimensi Rasa Takut lawannya adalah diri sendiri dan ketakutannya sendiri, di dimensi selanjutnya mereka harus siap bertarung dan mengeluarkan semua kekuatan yang mereka miliki.

__ADS_1


[Next Part 27]


__ADS_2