Para Penjelajah Semesta

Para Penjelajah Semesta
Menerima Kekalahan


__ADS_3

Asteria berpikir keras, ia mencoba menenangkan diri.


Semuanya sudah berakhir, aku kalah, batinnya. Ia membalikan badan bertepatan saat Neil tiba di  pusat labirin.


Neil menghentikan langkahnya. Meski ia telah berlari mengelilingi labirin yang penuh kebuntuan, napasnya tetap stabil. Ia memang sudah berlatih menstabilkan degup jantung dan paru-paru. Tubuhnya tegap menantang Asteria.


Keringat berkucuran dari rambut Neil yang pendek. Pakaiannya yang berbahan kain micha sudah basah. Sampai-sampai pakaiannya rapat pada punggung dan dadanya. Ia melihat Asteria yang mematung, lantas beralih pada patung kayu.


Tak ada anak panah yang menancap di sana, artinya Asteria belum memanah patung itu, simpulnya. Ia baru memahami apa yang terjadi saat ia melihat busur panah Asteria yang putus.


“Jadi, semuanya sudah berakhir,” kata Neil dengan suara tegasnya.


“Tidak! Semua belum berakhir!” Asteria melirik kain kuning yang terikat pada lengan atas Neil. “Kau takkan mendapatkan patung itu!”


Asteria memasang kuda-kuda. Matanya tajam. Dan Neil segera mengerti maksud Asteria. Ia mengikat kencang kain kuningnya. “Kamu tidak akan mendapatkan kain ini. Meskipun hanya menyentuhnya saja, itu tidak akan!”


Asteria membulatkan tekadnya. Menajamkan insting dan intuisinya. Ia harus bisa memenangkan perjuangan terakhir di tahap ini. Meski sebenarnya ia tidak menyukai perkelahian, namun ini cara terakhir agar ia bisa meraih kemenangan. Lagipula, ia berkelahi bukan karena kebencian, melainkan demi memenangkan pertandingan.


Perjuangannya adalah mendapatkan kain itu, lalu menghentikan langkah Neil merebut kemenangan dan mendapatkan pujian dari saeluruh penduduk New Ferrata. Ia juga mengingat-ingat setiap sikap dan pergerakan Neil saat bersamanya, mencari kelemahannya.


Asteria sulit berpikir panjang. Ia punya rencana mendorong tubuh Neil ke dinding, mengunci pergerakan Neil. Lalu mengambil kain kuning di kepalanya.


Melihat Asteria yang menatapnya tajam, Neil pun bersiap.


Kaki Asteria menendang Neil. Neil menangkisnya. Asteria memberikan tinjuan namun dapat dihindari Neil dengan mudah. Adegan ini sangat menegangkan apabila waktu dapat diputar dengan mode slow motion.


Tangan Neil melayang. Asteria pun dapay menangkisnya. Akan tetapi tenaga Neil yang lebih kuat darinya membuat tangannya ikut terdorong dan mengenai wajahnya. Asteria meringis.


Asteria mundur beberapa langkah. Dadanya kembang kempis tak beraturan. Keringat membanjiri tubuhnya. Wajahnya terasa panas.


Penonton ikut tegang. Viana menutup mulutnya.


Mata Neil tetap awas, namun emosinya tetap stabil. Kepalanya yang berambut tipis membuat sisa lecet pada keningnya terlihat jelas.


“Aku tidak menyangka kamu bisa segarang ini. Tapi aku justru menyukainya.” Neil tersenyum penuh semangat. “Mari kita selesaikan pertandingan ini!”

__ADS_1


Asteria tidak mendengarnya. Ia memerhatikan lecet di kepala Neil yang diakibatkan perkelahian dengan tim lain di Tahap 2. Asteria teringat bagaimana Neil dijatuhkan oleh lawan dan kepalanya membentur pohon.


Asteria terkesiap oleh pikirannya sendiri. Kini ia tahu kelemahan Neil. Kelemahannya terletak pada kakinya, pada kuda-kudanya. Ya, meski tangan dan tubuhnya berotot, namun Neil memiliki kuda-kuda yang tidak kokoh.


Yang harus Asteria lakukan selanjutnya adalah menunggu momen yang tepat untuk menyerang kakinya, kemudian mendorongnya ke dinding dan mengunci tangannya di balik punggung, dengan begitu ia bisa melepaskan ikatan kain pada lengan Neil dengan mudah. Ya, begitulah strateginya, ucap Asteria dalam hati.


Asteria kembali mengepalkan tangannya. Darah yang sedikit keluar akibat pukulan tadi diusapnya. Kali ini ia harus berhasil. Ia menunggu momentum yang tepat.


Asteria maju. Tangannya memburu wajah Neil, namun sebanyak Asteria menyerang, sebanyak itu pulalah Neil menangkisnya. Tak sedikitpun wajah Neil berhasil disentuhnya. Hingga akhirnya Neil balik menyerang. Tangannya meninju Asteria.


Asteria menghindar dengan merendahkan tubuhnya. Di saat itu, tangan Asteria memukul kaki Neil, disusul menjegal kedua kaki Neil.


Neil terjatuh. Asteria segera bangkit. Rencananya mendorong Neil ke dinding ternyata tak mungkin dilakukan. Tubuh Neil tak seringan yang dipikirkan. Ia malah naik ke atas punggung Neil yang baru terjatuh. Dengan kakinya, Asteria mengunci kedua tangan Neil di punggungnya.


Busur dan tabung anak panah yang berada di punggung Neil sedikit mengganggunya, namun ia berhasil mengatasinya. Membuat posisi aman dan kuat. Neil tak bisa bergerak.


“Sudah kubilang, aku bisa mengalahkanmu.” Asteria makin percaya diri.


Di sisi lain, Neil mengerang-ngerang. Ia mencoba melepaskan tangannya, namun kesulitan. Ini merupakan erangan pertamanya yang didengar Asteria.


Darah Asteria mendesir, seakan kemenangan sudah menghampirinya. Ia tak mau menunggu lama, kain itu harus segera dilepaskan.


Viana melihat Asteria sedang memandangnya. Viana hanya menggelengkan kepala dan melihat sisi Asteria yang lain, Asteria yang tak ia kenal. Hanya demi kemenangan, Asteria terlihat brutal.


Asteria menangkap sinyal kecewa dari Viana, gadis yang sudah sejak lama dikaguminya. Asteria melihat dirinya. Ia melihat sisi binatang yang hanya mementingkan kemenangan, kekuasaan dan pujian.


Menyadari Asteria mengendurkan tenaga dan tidak fokus, Neil mengeluarkan segala tenaganya. Kepalanya diangkat sekuat tenaga, membuat setengah tubuhnya terangkat. Membentuk lengkungan. Sekali ia gagal. Kedua, ketiga, dan keempat, tubuhnya membuat Asteria berguncang. Dan seketika dadanya diangkat ke belakang. Kepalanya membentur pada wajah Asteria.


Asteria terguling ke belakang. Dari hidungnya ke luar darah.


Neil segera bangkit. Kali ini, ia yang tak biasa terengah-engah, cukup kesulitan mengatur napas. Dadanya kembang kempis. Ia geram, tak disangka anak yang dianggapnya lugu dan lemah itu bisa menggulingkannya. Hampir, saja ...


Neil mengencangkan kembali ikatan kainnya. Lantas ia melangkah mendekati Asteria yang masih tersungkur.


Asteria mencoba bangkit dengan menahan sakitnya. Ia baru saja mengangkat setengah badannya, saat Neil menggenggam lengan atasnya. Neil mengangkatnya. Asteria berdiri kokoh. Matanya terpana. Ada apa ini? Kenapa Neil membantunya berdiri?

__ADS_1


Baru saja Asteria mau menanyakan itu, Neil sudah menggenggam tangan Asteria yang satu lagi. “Semua sudah berakhir,” ujar Neil. Dengan tenaga di tangannya, ia dengan mudah membalikkan tubuh Asteria.  Lantas merapatkanya ke dinding labirin.


Wajah Asteria menyentuh permukaan dinding.


Genggaman tangan Neil sudah terlepas. Asteria membalikkan badan.


“Kau sudah berakhir!” suara Neil sangat kuat. Ia mengangkat tangannya. Memperlihatkan kain kuning Asteria yang sudah berada digenggamannya.


Asteria tak berkata apa-apa.. Tatapannya datar. Batinnya bergumam, strateginya mengunci ke dinding ternyata benar-benar terjadi, hanya saja dirinyalah yang terkunci dan dikalahkan.


Neil melangkah melewati Asteria. Ia berhenti dan berdiri di lingkaran merah. Busur dan anak panah disiapkannya.


Dan seketika anak panah itu melesat. Menembus patung kayu raja.


Skor akhir menjadi Asteria 120 poin dan Neil 170 poin. Neil memenangkan pertandingan.


Asteria menunduk. “Aku sudah kalah!” katanya.


Bukan hanya kekalahan dalam turnamen yang ia sesali, lebih dari itu ekspresi tak suka yang diperlihatkan Viana di tribun menjadi beban tambahannya. Bagaimana kalau Viana tidak menyukai sikap brutalku tadi. Mungkin ia sudah punya penilaian lain tentangku ...


Asteria merasakan sebuah tangan di bahunya. Ia menoleh, Neil sudah berdiri di belakangnya.


“Kamu petarung sejati. Saya suka semangatmu! Kuharap lain kali kita bisa punya kesempatan bertarung lagi,” ujar Neil sambil tersenyum.


Asteria membalas senyumnya. “Terima kasih. Kamu luar biasa. Selamat atas kemenanganmu.”


Mereka berjabat tangan. Lalu Neil meninggalkan Asteria lebih dahulu.


Penonton bersorak saat Neil keluar labirin.


Di sisi lain, meski berat, Asteria harus menerima kekalahan ini. Ia menarik napas dalam dan membuangnya.


Asteria berjalan meninggalkan labirin. Ia tak berani melihat Viana.


[Next Part 9]

__ADS_1


 


 


__ADS_2