Para Penjelajah Semesta

Para Penjelajah Semesta
Rencana Besar Pangeran


__ADS_3

Asteria berdiri mematung, sebisa mungkin untuk tetap tenang dan dapat berpikir jernih. Ia menunggu Pangeran Sagi mengatakan sesuatu. Apapun itu akan diterimanya.


“Apa yang sedang kamu lakukan di sini?” Pangeran Sagi bertanya pada Asteria. “Apakah ia saudaramu, atau adikmu?” tanyanya lagi, kali ini pada Bu Surah.


“Saya hanya membaca,” jawab Asteria.


“Dia bukan saudaraku, Pangeran. Dia murid Sekolah Tingkat Atas yang tengah belajar di sini.” Bu Surah tak dapat berbohong. Ia memegang prinsip bahwa kebohongan hanya akan mendatangkan kebohongan lain dan masalah baru. Bagaimanapun pihak kerajaan dapat dengan mudah mencari data keluarganya jika ia tidak jujur.


Pangeran Sagi melangkah pelan memasuki ruangan.


“Bukankah ruangan ini tidak boleh dimasuki siapapun?” Pangeran Sagi bertanya dengan nada interogasi pada Bu Surah.


Di pihak Asteria, ia merasa bersalah jika Bu Surah menjadi orang yang disalahkan. Semua ini berawal dari dirinya.


“Betul, Pangeran.” Bu Surah tak tahu harus menjelaskan apa lagi.


“Sudah berapa lama dia mempelajari buku-buku yang ada di sini?” Pangeran Sagi masih belum menemukan pembenaran apapun terhadap apa yang ia lihat di ruangan ini. Ada pelanggaran yang dilakukan di lingkungan kerajaan.


“Belum lama Pangeran. Baru tiga hari,” jawab Bu Surah.


“Ini sebuah pelanggaraan! Kamu sudah mengkhianati kerajaan!” Pangeran Sagi membentak Bu Surah  yang terlihat ketakutan.


Perempuan yang terkenal kaku dan tegas itu kini di mata Asteria terlihat sebagaimana perempuan yang umumnya. Asteria merasa harus menyelamatkan nama baik Bu Surah. Namun ia sendiri belum berani memotong interogasi Pangeran Sagi.


Pangeran Sagi beranjak dari ruangan itu dengan langkah tegas. Ia menutup pintu ruangan rahasia tanpa menoleh. Ia  merasa peraturan harus tetap ditegakkan. Meski ia sendiri merasa bahwa kerajaan pun telah bersalah membohongi rakyat selama ini.


Langkah Pangeran Sagi terhenti beberapa meter sebelum pintu keluar. Seseorang memegang tangannya dari belakang. Menahannya.


Pangeran Sagi menoleh. Dilihatnya Asteria berdiri dengan wajah yang diupayakan setenang mungkin.


“Mohon maaf jika ku lancang.” Asteria melepaskan tangan Pangeran Sagi.

__ADS_1


“Bu Surah tidak bersalah. Akulah yang salah. Aku dapat menjelaskannya, Pangeran.” Asteria merendahkan suaranya sebagai rasa hormatnya pada Pangeran Sagi.


“Apa yang ingin kamu jelaskan? Kalian berdua bersalah dalam hal ini!” Pangeran Sagi tetap mempertahankan sikapnya.


“Mohon dengarkan penjelasanku, Pangeran.” Asteria menyiapkan penjelasan.


“Sejak memasuki Sekolah Tingkat Tengah, aku mulai penasaran dengan dindin pelindung kerajaan yang tak dapat ditembus itu. Sama sekali tak ada lubang ataupun pintu untuk keluar. Aku ingin menjelajahi dunia di balik dinding, Pangeran. Keingin-tahuanku sangat besar. Rasa penasaranku akan hal baru sangat tinggi. Dan selama bertahun-tahun rasa penasaran itu hanya aku pendam dan menjadi masalah sendiri. Batinku selalu memberontak dan itu mengganggu emosionalku,” tutur Asteria.


Pangeran Sagi mulai tertarik dengan penjelasan Asteria. “Lalu, bagaimana kamu bisa berada di ruangan itu? Kamu tahu, kan, kalau ruangan itu sangat rahasia?” dalam hati kecilnya, Pangeran Sagi menyesali bahwa ia sendiri pun baru tahu tentang ruangan itu, yang ternyata ada rakyat biasa yang lebih dulu memasukinya.


“Meski aku hanya memendamnya, sebetulnya aku tidak pernah berhenti mencari jalan untuk menemukan cara keluar dari dinding pelindung itu. Aku mencarinya ke mana-mana. Sampai aku menemui nenek sahabatku yang sedikit mengetahui tentang sejarah kelam kerajaan ini. Dalam pencarian itu aku terdorong untuk mencari di perpustakaan ini. Sampai akhirnya Bu Surah mengetahui keinginanku tanpa sengaja.”


Pangeran Sagi mendengarkannya dengan baik. Ekspresinya tetap tak berubah.


“Semula Bu Surah memarahiku. Namun setelah kujelaskan semuanya, Bu Surah bersedia memberiku akses ruangan itu dengan catatan tidak boleh ada yang tahu.” Asteria menyudahi penjelasannya. “Mohon maafkan Bu Surah, Pangeran.”


Pintu perpustakaan terbuka.  Seorang gadis berdiri di ambang pintu dengan wajah terkejut karena melihat Pangeran Sagi berhadapan dengan Asteria di dalam ruangan perpustakaan. Pasti telah terjadi sesuatu, pikir gadis itu.


“Dia Viana. Sahabatku yang menemaniku sampai berada di ruangan ini,” jawab Asteria. “Selain dia, tak ada lagi yang mengetahui ruangan rahasia itu,” lanjutnya sebelum Pangeran Sagi berpikir lebih panjang.


Pangeran Sagi mencari solusi bagaimana menyikapi kondisi ini. Ia harus menghukum mereka sebagai sikap konsistensi menjaga peraturan kerajaan, namun ia sendiri penasaran dengan anak muda bernama Asteria yang memiliki kegigihan mencari jawaban atas rasa penasarannya.


“Kalian berdua ikut aku ke kastil,” kata Pangeran Sagi akhirnya.


Asteria dan Viana saling berpandangan. Mereka mengikuti langkah Pangeran Sagi yang sudah lebih dulu keluar dari ruang perpustakaan.


Di balik pintu ruang rahasia, Bu Surah berharap tidak ada hukuman bagi Asteria dan Viana.


*


Pangeran Sagi membawa Asteria dan Viana ke ruang rapat pribadinya. Ruangan itu tak terlalu besar, terdapat satu meja kayu bundar dengan 4 kursi mengelilinginya. 1 kursi khusus Pangeran, 3 kursi untuk tamu atau siapapun yang hadir pada rapat terbatas.

__ADS_1


Sepanjang Asteria dan Viana melangkah sampai ruangan itu, mereka dibuat tertegun dan kagum dengan arsitekur, furnitur, lukisan, lampu, dan semua yang ada di kastil. Semuanya sangat bagus dan pastinya mahal.


Melihat Pangeran dari belakang saat berjalan, Viana dibuat berdesir melihat punggungnya yang lebar, kokoh dan pasti berotot.


“Apa saja yang sudah kalian pelajari di ruang itu?” tanya Pangeran Sagi saat mereka sudah duduk.


“Aku baru membaca tentang negara-negara di planet ini yang dahulu dibagi menjadi beberapa golongaan, yakni golongan Penyerang, Pelindung, Penyembuh dan Pengendali. Semua negara menggunakan sistem pemerintahan kerajaan. Semua diatur kerajaan. Kerajaan kita sebagai Negara sekaligus Kerajaan Pelindung. Kerajaan Pelindung dianugerahi orang-orang yang dapat mengaktifkan mantra perlindungan, sekaligus bisa digunakan untuk menyerang. Kerajaan Penyerang sendiri memiliki kemampun menyerang dan membuat alat perang dengan sangat canggih dan lebih hebat daripada Kerajaan Pelindung. Kerajaan Penyembuh memiliki kemampun menyembuhkan luka dan sakit, bahkan jika mereka meningkatkan kekuatannya, mereka dapat berumur panjang karena semua sakit dapat disembuhkan oleh mereka. Dan Kerajaan Pengendali sebagai pengatur startegi dan pusat pengendalian. Orang-orang di kerajaan itu memiliki kecerdasan yang tinggi,” jelas Asteria cukup panjang.


“Aku belum belajar apa pun.” Viana menggelengkan kepala.


“Selain itu, ada lagi yang sudah kamu pelajari?” Pangeran Sagi makin tertarik dengan Asteria.


“Baru itu yang kupelajari. Aku sangat tertarik dengan dunia luar, jadi aku banyak membuka kisah tentang kerajaan-kerajaan jaman dahulu di planet ini,” jawab Asteria. “Oya, dari semua kerajaan jaman itu, ada satu kerajaan yang tidak mau ikut dalam persekutuan kerajaan, yakni, kalau tak salah, namanya Kerajaan Gybon. Mereka merupakan golongan Penyembuh. Tak ada yang tahu apakah Gybon termasuk kerajaan yang musnah atau selamat seperti kerajaan kita.”


“Gybon ....” Pangeran Sagi menggumamkan nama Gybon. “Baiklah, kalian akan aku maafkan asalkan dengan satu syarat.”


Asteria dan Viana siap mendengar syaratnya.


“Kalian membantuku membuka sejarah dan misteri kerajaan ini!” kata Pangeran Sagi.


Viana hampir saja menjerit mendengar tawaran membantu Pangeran. Ia terkejut bukan buatan. Apapun rela dilakukan asal bisa dekat dengan Pangeran.


“Jadi selama ini Pangeran juga tidak mengetahuinya? Kupikir ....” kata Asteria.


“Selama ini aku dianggap masih terlalu muda untuk mengetahui semuanya. Dan sekaranglah saatnya yang tepat,” jawab Pangeran Sagi.


Pangeran Sagi meminta Asteria mencari tahu semua informasi tentang dunia luar. Adakah peninggalan di sana yang bisa digunakan sebagai senjata untuk melawan Pasukan Langit atau tidak. Sebagai imbalannya, Pangeran akan membukakan dinding bersegel bagi Asteria jika ia sudah melaksanakan tugasnya.


Sementara bagi Viana, ia diminta mempelajari manta-mantra. Mantra-mantra itu diciptakan oleh siapa. Dari mana sumber kekuatan mantra yang terdengar fiksi itu.


Asteria dan Viana menerima tugas itu dengan mantap. Mereka saling bersalaman sebagai tanda persahabatan dimulai.

__ADS_1


[Next Part 16]


__ADS_2