
Tengah hari, Asteria dan Sikka istirahat di dekat aliran sungai. Asteria mencari ikan dengan tombak yang dibawanya dari gua. Sudah satu setengah jam ia menelusuri area sungai yang dangkal. Mengamati tiap celah batu, kayu, dan lubang-lubang di pinggir sungai. Asteria baru mendapatkan seekor katak seukuran genggaman tangannya sebagai menu cadangan sekiranya ia tak mendapatkan satu pun ikan.
“Bertahun-tahun aku hidup di laut, dan ternyata menombak ikan tidak semudah yang kupikir. Apalagi di sungai yang airnya tidak tenang begini,” kata Asteria dalam batin. Ia sedikit menyesali tak pernah mencoba mencari ikan dengan tombak. Ia sering ikut melaut, tapi semua yang ia ikuti menggunakan jaring dan sesekali pancing untuk mendapatkan ikan.
Sikka menceburkan kakinya ke sungai. Lantas ia mengambil tombak dari Asteria. Sikka menjelajahi sungai bahkan ke wilayah yang belum dijelajahi Asteria. Sejam berlalu, Sikka berhasil mendapatkan 3 ikan air tawar gemuk selebar jari orang dewasa.
“Setelah makan kita harus bergegas ke Bangsa Bawah. Jika kita mempercepat langkah, kita akan tiba dalam 3 jam perjalanan,” kata Sikka sambil menunggu ikan bakar matang.
Asteria menjaga bara api agar tetap menyala. “Bagaimana kamu bisa ditangkap mereka dan dijadikan tumbal?” tanya Asteria.
“Saat itu aku dan dua orang penduduk Bangsa Bawah mencari getah pohon yang dapat dijadikan bahan bakar. Sore itu kami menyudahi pencarian. Kami berjanji bertemu di bawah pohon akas yang besar, namun aku tidak menemui mereka di sana. Aku menunggu. Namun tiba-tiba 4 orang lelaki berbadan besar menyergapku, membekap mulutku, mengikat kedua tangan dan kakiku. Mereka menggotongku seperti membawa seekor **** hasil buruan. Aku dibawa ke gua itu.”
“Pasti dua rekanmu itu bingung ketika datang dan tak menemukan keberadaanmu,” kata Asteria.
“Pasti mereka banyak diinterogasi oleh Kepala Suku,” balas Sikka.
“Kenapa kalian membagi kelompok menjadi Bangsa Atas dan Bangsa Bawah?” tanya Asteria sambil mengambil ikan yang sudah dibakar. Ia menekan ikan dengan jari telunjuk untuk mengetahui tingkat kematangannya.
“Aku tidak begitu tahu sejarah awal mula kami membagi kehidupan menjadi bawah dan atas. Aku hanya tahu bahwa aku lahir di keluarga yang tinggal di bawah daratan ini. Di luasnya daratan ini, ada sebuah lubang besar sebagai pintu masuk ke gua bawah tanah. Di sana ada ruangan yang sangat luas yang dapat menampung ribuan manusia. Gua bawah itu terbentuk alami. Namun selama ratusan tahun bangsa kami membuat kamar-kamar dan ruang lain sehingga di dalam banyak ruang buatan sebagai tempat tinggal setiap keluarga. Kami yang tinggal di bawah gua itu disebut Bangsa Bawah, dan mereka yang tinggal di atas disebut Bangsa Atas.” Sikka mulai memakan ikan bakar yang diberikan Asteria.
“Sejak dahulu yang kutahu Bangsa Bawah dan Bangsa Atas tak pernah bisa damai dan saling bekerjasama. Bangsa Atas merasa sebagai bangsa yang dijaga para Dewa, dan mereka menganggap Bangsa Bawah adalah manusia-manusia yang dikutuk Dewa. Sebab kami Bangsa Bawah tidak menyembah Dewa yang mereka sembah. Kami meyakini Sang Hyang Esa, bukan Dewa-Dewa yang Bangsa Atas agungkan. Perbedaan kepercayaan ini yang membuat Bangsa Atas menganggap kami sebagai manusia-manusia sesat. Mereka menganggap kami lebih rendah dan terkutuk. Jumlah mereka 3 kali lebih banyak dari Bangsa Bawah, mungkin juga lebih,” jelas Sikka.
Asteria memandang Sikka. “Di tempatku ada banyak keyakinan, dan ada juga yang tak meyakini apapun. Bangsaku menganggap perbedaan adalah hal yang wajar,” balas Asteria.
__ADS_1
“Memangnya kamu dari mana? Kamu juga bisa terbang. Apakah kamu titisan Tuhan?” tanya Sikka.
“Aku dari Planet Sankz yang jauhnya tak terbayangkan dari sini. Dan aku sama sekali tak ada kaitannya dengan Tuhan atau Dewa. Aku ke sini datang untuk mencari kekuatan atau senjata baru untuk melawan Pasukan Langit yang akan menghancurkan planetku beberapa tahun yang akan datang. Apakah kamu pernah mendengar sesuatu yang memiliki kekuatan besar, yang disimpan di dalam danau?” tanya Asteria.
“Aku tidak pernah mendengar benda apapun yang memiliki kekuatan seperti itu. Jika kamu mencari danau, ada sebuah danau yang dianggap suci oleh Bangsa Atas. Namanya Danau Dewa, tempat pelaksanaan Upacara Persembahan nanti. Kami Bangsa Bawah tak pernah pergi ke sana sebab kami dianggap akan mengotori danau yang menurut mereka adalah pemberian Dewa,” kata Sikka.
“Setelah kuantarkan kamu, aku akan pergi ke danau itu untuk memastikan itulah danau yang dimasksud Raja Luid,” kata Asteria.
Asteria dan Sikka meneruskan perjalanan setelah menyelesaikan makan siangnya dan melepaskan katak hasil buruan Asteria.
Mereka tiba di sebuah lubang besar yang dipagari kayu-kayu agar binatang buas tak masuk sesukanya. Di salah satu bibir gua ada tangga kayu untuk menuruni gua dan masuk ke dalam.
Sikka membimbing Asteria memasuki gua. Cahaya dari luar memberi penerangan sebagian ruang gua. Di dalam ada beberapa orang yang sedang menguliti musang dan membersihkan buah-buahan untuk dimakan. Melihat kehadiran Sikka dan Asteria, mereka berteriak gembira.
Salah seorang dari mereka memberi tahu kedatangan Sikka pada kedua orangtanya. Ibu dan ayah Sikka datang dengan perasaan senang dan wajah yang menahan cemas. Mereka berpelukan.
Ketua Suku menyampaikan terima kasih atas kebaikan Asteria menyelamatkan Sikka dari Bangsa Atas. Sikka menceritakan semuanya pada keluarga, Ketua Suku dan Bangsa Bawah yang ada saat itu.
Asteria dibawa ke ruang utama. Di sana penduduk Bangsa Bawah berkumpul dan merasa aneh dengan pakaian Asteria dan kulitanya yang bersih.
Malam menjelang, penduduk suku Bangsa Bawah menyalakan obor di dinding-dinding dan ruangan-ruangan gua. Setelah perkenalan dengan Bangsa Bawah, Asteria duduk di depan pagar gua. Ia menikmati pemandangan langit dan hutan yang gelap.
Sikka datang dengan daging bakar dan sebatok minuman hangat dari rempah-rempah yang tak diketahui bahannya.
__ADS_1
“Minuman ini akan memberikanmu kesegaran dan kekebalan dari penyakit,” kata Sikka.
Asteria menerimanya. Ia meminum air rempah dalam mangkuk batok kelapa itu. Rasanya sedikit pahit dan aromanya aneh. Namun demi menghargai Sikka ia meminum dua kali tegukan, lantas memakan daging bakar untuk menutupi rasa tak nyaman di mulutnya.
“Sudah malam, sebaiknya kamu tidur. Ketua Suku ingin berbicara denganmu besok pagi. Kamu istirahat saja,” kata Sikka. Ia kembali menuruni tangga ke dalam gua.
Asteria terdiam. Ia sudah menyelesaikan tugasnya menyelamatkan Sikka. Sekarang gilirannya untuk melanjutkan misi utamanya datang ke sini. Besok, setelah ia menemui Ketua Suku, ia akan pergi ke Danau Dewa yang dimaksud Sikka itu.
Pagi sekali, Asteria menemui Ketua Suku Bangsa Bawah di ruangan pribadinya. Di sana mereka berbicara tentang maksud kedatangan Asteria ke Mordoc dan masalah yang dihadapi Bangsa Bawah. Ketua Suku sedang memikirkan cara agar Bangsa Atas tidak mengambil gadis-gadis dari Bangsa Bawah sebagai persembahan mereka.
“Upacara Pengorbanan mereka akan dilaksanakan dalam waktu dekat. Besok atau entah kapan pun, mereka bisa saja datang ke sini untuk mengambil gadis kami secara paksa. Mengetahui Sikka kabur akan membuat mereka marah. Dan mereka tidak segan-segan untuk mengambil paksa jika sudah begini,” keluh Ketua Suku.
Asteria menyimak.
“Jika mereka sudah datang untuk mengambil paksa, mereka juga akan melakukan keonaran sesuka hati. Membantai siapa saja yang melawan.” Ketua Suku membayangkan penyerangan akan terjadi.
Mendengar itu membuat Asteria geram pada tindakan barbar Suku Bangsa Atas. Ia harus melukukan sesuatu. Seusai pertemuan singkat itu, Asteria pamit untuk pergi. Ia tak mengatakan akan pergi ke Danau Dewa. Ia hanya mengatakan akan pergi untuk mencari tempat lain untuk ditinggali Bangsa Bawah. Ia berjanji akan kembali secepatnya.
Asteria terbang meninggalkan gua bawah tanah itu. Dilepas Ketua Suku dan Sikka yang mulai mencemaskan sukunya.
Sementara itu, nan jauh di hutan sana, tepatnya di gua tempat pengurungan Sikka sebelumnya, lebih dari 70 lelaki berbadan kekar berkumpul dengan wajah marah. Mereka menyiapkan senjata apa saja yang mereka punya. Mereka siap menyerang tempat tinggal Bangsa Bawah Mordoc.
[Next Part 30]
__ADS_1