Para Penjelajah Semesta

Para Penjelajah Semesta
Perlawanan


__ADS_3

Di sebuah kedai makanan di Pusat Kota New Ferrata, Asteria begitu bersemangat menyantap makan siangnya. Sementara di hadapannya, Viana hanya menikmati makanan-makanan ringan.


“Pokoknya, aku harus makan banyak. Supaya energiku tetap terjaga!” kata Asteria sambil mengunyah makanannya.


Di samping Viana, Neil sudah menyelesaikan makan siangnya. Ia menyapu mulutnya.


“Kalau kamu tidak segera menyelesaikan makan siangmu, kita akan diserang lawan!” komentar Neil.


Asteria tak menghiraukan ucapan Neil. Ia tetap makan sampai suapan terakhir. “Ah, enaknya!”


Asteria mendorong piringnya ke tengah meja. “Baiklah, aku sudah selesai. Mari kita berangkat.”


Neil sudah berdiri.


Asteria mengambil patung kayu yang tidak memiliki tangan dan kaki yang ia sandarkan pada dinding. Di luar dugaan semua peserta sebelumnya, patung kayu itu ternyata ringan.


Asteria bertugas menjaga patung kayu dengan menggendongnya, meski sebelumnya ia memprotes karena ia sudah berlatih memanah dengan mati-matian. Ia ingin jadi pemanah, bukan penggendong kayu.


“Kamu harus menjaga patung itu apapun yang terjadi,” ujar Neil tak peduli pada kekesalan Asteria.


Asteria menggendongnya menggunakan tali seperti menggendong ransel. Tali yang kecil membuat kulitnya terasa sakit. Menjadi penggendong patung sangat serba salah dan berisiko.


Jika saja ada lawan dari belakang yang memanah patung, Asteria tidak mungkin menghindarinya dengan membalikan badan, bisa-bisa anak panah akan menancap ke tubuhnya. Butuh kewaspadaan dan trik untuk menghindar.


Asteria dan Neil berjalan bersama di antara kedai-kedai yang berjajar rapi di sepanjang jalan. Berpisah dengan Viana di kedai.


“Kamu tinggal di pulau mana?” tanya Asteria pada Neil.


“Tak jauh dari sini,” jawab Neil datar. Matanya lurus.


Asteria merasa tak menemukan jawaban yang memuaskan dari Neil. Menurutnya, Neil begitu misterius. Selama bersamanya, Neil tak pernah sedikitpun bertanya atau membuka obrolan. Lelaki itu begitu dingin.


“Tahan!” langkah Neil berhenti. Ia tampak waspada. Tangannya menghadang tubuh Asteria.


Asteria pun menghentikan langkahnya.


“Ada apa, Neil?” Asteria penasaran.

__ADS_1


Neil tak menjawab. Ia malah menarik lengan Asteria. Membawanya berlari menembus jalan-jalan kedai dan para pedagang.


Mereka memasuki pasar. Asteria yang heran, tak bisa bertanya apapun lagi. Ia hanya mengikuti Neil.


Mereka akhirnya tiba di hutan yang berbatasan dengan pantai. Neil membawa Asteria berlari menembus semak dan duri-duri daun pandan pantai. Keduanya kemudian bersembunyi pada akar sebuah pohon besar.


Asteria bingung. “Ada apa Nei ...” Neil segera membekap mulut Asteria. Ia memberi isyarat agar Asteria diam.


Sebuah langkah terdengar dari arah kedatangan Asteria dan Neil.


Mata Asteria dan Neil mengintip pada celah kayu akar. Mereka melihat dua orang remaja, satu orang membawaa panah dan satu lagi membawa patung kayu. Terlihat berani.


“Kamu tetap di sini,” bisik Neil.


Asteria mengangguk, meski sebenarnya ia merasa benci diperlakukan lemah dan hanya sembunyi.


Neil melangkah perlahan mengitari pohon. Tubuhnya sedikit dibungkukan. Ia mengambil sebuah anak panah di punggungnya.


Saat kedua remaja itu membalikan badan karena tak menemukan Asteria dan Neil, Neil makin menajamkan bidikannya. Sementara Asteria memperhatikan dari belakangnya.


Neil melepaskan anak panahnya. Melesat dan saat mendekati patung kayu, kedua remaja itu serempak merunduk. Anak panah melesat melewati dua remaja itu. Neil terbelalak.


Neil berdiri. Menampakkan tubuhnya pada mereka. Tatapannya tegas dan berani.


Tak disangka kedua remaja tadi berlari ke dua arah berlawanan, utara dan selatan. Mereka bermaksud menyerang Asteria dan Neil dari dua sisi.


Asteria pun bangkit. Ia panik. Apakah akan ada perkelahian?  Jantung Asteria berdebar.


Tanpa diduga, lawan menyerang Neil dan Asteria dengan tinjuan. Beruntung Neil dapat menahan si pemanah itu dengan tangannya sebelum mengenai wajahnya. Namun naas bagi Asteria, wajahnya terkena tinjuan seorang penjaga patung. Asteria tersungkur.


Waktu berjalan begitu menegangkan. Neil dan seorang pemanah sudah bertarung. Beberapa pukulan lawan dapat ditangkisnya, namun Neil tak menyangka serangan lawan makin meningkat dan cepat.


Neil kewalahan. Sesekali tubuhnya terkena pukulan. Bahkan kakinya kena tendangan lawan.


Neil terjatuh. Ia meringis kesakitan. Wajahnya yang terbentur pohon sedikit lecet dan memar. Di kubu lain, seorang penjaga kayu dari kubu lawan sudah mengunci tangan Asteria. Ia memosisikan patung yang berada di punggung Asteria menghadap sang pemanah.


Si pemanah dari kubu lawan mengambil anak panah dari tabung di punggungya. Busur digenggamnya erat. Ia lalu menarik anak panah setelah dipasangkan pada busur. Mata panah tajam menghadap patung kayu yang ada di punggung Asteria. Siap dilepaskan.

__ADS_1


Susah payah Asteria melirik ke arah Neil. Di bawah, Neil sudah tersungkur di antara semak. Neil meringis menahan sakit di kakinya.


Saat ia melirik Asteria yang ketakutan, matanya dan mata Asteria saling bertemu.


Neil menggerak-gerakkan tangannya. Memberi kode instruksi pada Asteria. Asteria mencoba menafsirkan maksud Neil. Insting dan keyakinannya dikuatkan, ia menangkap maksud Neil yang menjelaskan agar Asteria membalikan tubuhnya dan tubuh lawannya dalam hitungan ketiga.


Sementara Neil pun menyiapkan busur dan anak panahnya dalam kondisi tersungkur. Dengan kedipan matanya Asteria menyatakan kesiapan. Kedua lawan tak menyadari hal tersebut.


Pemanah lawan sudah menarik busurnya. Dari bawah, Neil pun sudah melakukan hal yang sama. Sampai sejauh ini aksinya tak ada yang melihat. Asteria cemas. Ia mencoba menguatkan batinnya. Tak ada cara lain yang bisa dilakukan.


Neil menghitung dengan jarinya. Ekor mata Asteria memperhatikan dengan jelas. Pada hitungan ketiga, secara mengejutkan Asteria balas menggenggam kedua tangan musuhnya. Ia mengumpulkan tenaga pada kaki dan tangannya. Dan, hup!


Kedua anak panah berbarengan menancap tepat pada patung kayu sang lawan.


Asteria berhasil membuat lawan lengah dan memutar posisi tepat waktu. Anak panah milik Neil dan sang lawan menancap tepat di patung kayu tersebut. Mereka terkesiap dan tercengang.


Asteria membuang napas lega.


Neil menjatuhkan busur panahnya. “Kami berhasil! Kalian lengah!” jempol tangannya diangkat terbalik pada lawan.


*


Setibanya di rumah, Asteria merebahkan tubuhnya. Ia merasa lelah. Setelah mengganti pakaian, Asteria memilih untuk segera tidur. Pakaiannya sudah bercampur keringat. Menguarkan aroma tak sedap, namun Asteria tetap akan mengenakan pakaian itu untuk besok.


Saat baru saja ia memejamkan mata, ibunya berteriak memanggilnya dari arah ruang makan. Namun Asteria tak menghiraukannya.


Daun pintu kamar Asteria terbuka. Ibu berdiri di ambang pintu menatap Asteria. “Ibu sudah siapkan air hangat, Asteria, sebaiknya kamu mandi dulu. Setelah itu, kita makan malam. Baru kamu boleh tidur.”


Asteria tetap diam. Ia pura-pura sudah tidur.


“Ayolah. Ibu sudah menyiapkan makanan banyak untukmu malam ini. Ibu tahu kamu baru saja melakukan turnamen, makanya ibu membuat makanan yang lezat dan penuh energi. Ibu juga membuatkan makanan dengan bumbu pedas kesukaanmu,” kata ibu.


Asteria bangkit dengan muka lesu. Matanya terasa berat. “Baiklah, aku datang.”


[Next Part 7]


 

__ADS_1


 


__ADS_2