Para Penjelajah Semesta

Para Penjelajah Semesta
Berdua di Ujung Senja


__ADS_3

Asteria menatap deburan ombak di halaman rumahnya. Hari sudah malam, namun ia belum merasakan ngantuk. Asteria menatap hamparan laut yang memantulkan sinar rembulan.


Pikirannya terbang lepas melewati samudera. Pergi ke dunia di balik dinding tranparan yang entah sejak kapan tak pernah dibuka, Asteria tak mengetahuinya. Setelah berhasil menenangkan hatinya dan menerima kekalahan, Asteria kembali pada khayalannya tentang dunia yang ada di balik dinding pelindung negaranya. Sejak kecil ia penasaran dengan dunia di luar sana. Ada apa di sana? Kenapa nenek moyangnya menutup negeri ini dari dunia luar?


Menurut desas-desus, untuk membuka dinding tersebut, dibutuhkan banyak para Pewaris Mantra yang akan membaca mantra pembuka segel. Namun, kerajaan menutupi keberadaan Pewaris Mantra pada generasi baru setelah kepulauan ini tersegel. Hal itu justru menjadi tanda tanya tersendiri.


“Tidak mungkin kerajaan tidak mengetahui tentang manta pembuka segel. Kenpa mereka menutupi ini dari rakyat?” Asteria berbicara sendiri.


“Asteria, masuk. Sudah malam. Angin laut tidak baik.” Ibunda Asteria berteriak dari teras rumahnya.


“Iya, Bu. Sebentar lagi aku masuk.”


Ibunda Asteria kembali memasuki rumah. Ia berpikir Asteria masih belum menerima kekalahannya. Padahal Asteria sudah tidak menerima kekalahannya.


Ya, seperti yang sudah diceritakan, sebelumnya Asteria menyesali dan menyalahkan dirinya akibat nafsu yang menguasainya di akhir pertandingan. Ia sendiri belum menemui Viana. Dan Viana belum menemuinya. Mereka masih sama-sama diam.


Asteria akhirnya mengambil batu karang. Ia melemparkannya pada deburan ombak yang tak terpengaruh apapun oleh lemparannya.


Laut ini luas, tapi duniaku sempit! Begitu pikir Asteria. Sudah sejak lama ia ingin menembus dinding tak kasat mata yang membuat semua manusia di kepulauan New Ferrata tak dapat menembusnya. Juga semua benda tak dapat melewatinya. Ikan di dalam laut pun serupa terkurung dalam akuarium raksasa.


Liburan akan berakhir seminggu lagi. Itu artinya ia akan bertemu Viana meski selama seminggu ini pun ia tak menemuinya.


Asteria memasuki rumahnya. Ia memutuskan ingin berbaring di ranjang dan beristirahat.


Di dalam kamar, Asteria masih kesulitan untuk tidur.


*


Seminggu berlalu dan Asteria belum menemui Viana.


Di area gedung sekolah, saat Asteria akan memasuki kelasnya, ia menjumpai Viana.


Baik Asteria dan Viana tak mengucapkan kata apapun. Mereka saling berhadapan dan berdiam.


Asteria akhirnya membuka suara, “Sudah sarapan?” tanyanya.


Viana menggeleng.


“Kita cari tempat makan dulu, yuk,” ajak Asteria.


Viana tak menolak. Mereka pun pergi berdua ke tempat makan di luar gedung.


“Kamu masih menyesali kekalahan turnamen?” tanya Viana setelah mereka duduk berhadapan sambil menunggu sarapan mereka datang.


“Tidak aku tidak mempermasalahkannya. Aku sudah menerimanya.”


“Lalu, kenapa seminggu ini kamu menghilang?”


“Aku tidak menghilang. Aku ada di rumah. Sesekali pergi memancing dengan sampan. Kamu saja yang tidak ke rumahku,” jawab Asteria.


“Biasanya, kan, kamu yang datang ke rumahku. Mengajak ke perpustakaan kastil, mendaki bukit, bahkan memancing,” balas Viana.


Asteria tak menemukan dalih untuk menjawab.


“Ada yang ingin kubicarakan padamu,” kata Asteria.


Viana mengerutkan dahinya. “Apa?”


“Tidak bisa kusampaikan di sini. Terlalu ramai.”

__ADS_1


“Tentang?”


“Rahasia. Nanti akan kusampaikan semuanya.”


“Oke, oke. Kalau gitu. Di mana tempat yang tepat membicarakannya?” tanya Viana.


Makanan mereka berupa roti bakar dan ptongan daging ikan dengan bumbu gurih tiba di atas meja.


“Sore ini. Di rumahku, atau di rumahmu,” kata Asteria.


“Baiklah. Nanti sore aku datang ke rumahmu.”


*


Sore hari Viana mendatangi rumah Asteria. Dengan pakaian santai dan sopan ia berjalan kaki dari rumahnya. Kedua rumah mereka berada di permukiman tak terlalu padat, di sebuah pulau yang cukup dekat dengan pulau utama tempat kerajaan berada.


Asteria sudah duduk di kursi pinggir pantai di bawah pohon. Viana mendatanginya dan langsung ikut duduk.


Asteria menoleh pada Viana yang sudah hadir. Rambut Viana berkibaran oleh angin. Asteria memujinya dalam hati, begitu cantik dan natural, batinnya.


“Aku ambilkan minum dulu, ya. Kamu tunggu di sini,” kata Asteria.


“Ibumu ada?” tanya Viana.


“Ada. Ia lagi masak makan malam. Nanti malam kamu makan di sini ya. Aku sudah bilang pada ibu kamu akan datang dan makan malam di rumah,” jawab Asteria.


“Kalau begitu aku ikut masuk. Setidanya aku harus menyapa ibumu dulu.”


Asteria dan Viana memasuki rumah. Ibunda Asteria yang mengetahui kedatangan Viana tersenyum. Mereka saling sapa dan bertanya kabar.


Asteria dan Viana kembali ke kursi panjang di bawah pohon dengan masing-masing segelas teh dari daun salabi, tumbuhan khas yang hanya ada di New Ferrata.


“Iya. Di kelasku banyak orang yang membicarakan Neil. Bahkan banyak yang menanyaiku karena pernah satu tim dengan Neil. Mereka menanyakan karakter dan sosok Neil yang jarang bergaul,” balas Asteria. “Aku hanya meladeni mereka dengan jawaban bahwa aku bersykur pernah satu tim denagn pemenang turnamen tahun ini.”


“Aku yakin kamu dan Neil suatu saat akan jadi sahabat baik. Kalian sudah saling kenal dan pernah bekerjasama.” Viana meminum tehnya.


“Ya, kuharap begitu,” balas Asteria.


“Lalu, apa yang ingin kamu bicarakan?” tanya Viana.


Asteria menatap lurus hamparan air. Senja mulai berlabuh. Begitu indah dan tenang.


“Kamu lihat hamparan laut di sana?” tanya Asteria.


“Iya. Kenapa?”


“Tidakkah kamu penasaran dengan semua misteri yang ada di balik dinding penutup negeri kita ini?” tanya Asteria.


“Sejak kecil aku suka menanyakan hal itu pada nenek...” kata Viana belum selesai, dan disambung oleh perkataan Asteria.


“Aku ingin menjelajahi hamparan laut dan semua yang ada di balik dinding itu. Aku yakin ada alasan kenapa dinding itu dibuat. Dan aku yakin kerajaan mengetahui semua yang nenek moyang kita sembunyikan dari generasi penerusnya.”


“Nenekku mengetahuinya,” sambung Viana.


Asteria membelalak. Ia menatap Vaiana. “Nenemu mengetahui semuanya? Kenapa kamu tidak pernah bilang?”


“Selama ini aku tidak tahu kalau kamu ingin menjelajah keluar. Lagi pula aku tidak terlalu peduli dengan tertutup atau terbukanya dinding aneh itu,” Viana membela diri.


“Kalau begitu kita temui nenekmu.”

__ADS_1


“Kapan?” tanya Viana.


“Sekarang!”


Viana lebih terkejut. Mereka baru duduk di kursi itu belum setengah jam. Viana kira Asteria ingin mengajaknya bicara santai sambil menunggu matahari terbenam.


*


Setibanya di rumah Viana, mereka berdua menemui nenek Viana di halaman belakang sambil memerhatikan anak-anak kecil bermain.


“Nenek, Asteria ingin becara dengan nenek,” kata Viana.


Asteria menyapa nenek Viana dam duduk di sampingnya.


“Nek, apakah benar Nenek mengetahui rahasia di balik dinding penyegel negeri kita. Dan mengetahui apa yang dirahasiakan kerajaan?” tanya Asteria tanpa basa-basi.


Nenek Humida, begitu namanya, menatap Viana. Seolah mengetahui bahwa Asteria mendapat info itu dari Viana.


“Betulkah itu, Nek?” tanya Asteria lagi.


Nenek Humida mengajak Asteria masuk. Di rumah itu sudah tidak ada siapa pun lagi. Nenek Humida dan Viana tinggal berdua di sana. Ibu dan ayah Viana meninggal pada kecelakaan saat pergi ke kastil dengan sampan. Sampan mereka rusak dan tenggelam. Saat itu tak ada orang yang melihatnya, sehingga tak ada yang dapat menolong mereka.


“Apa yang ingin kamu ketahui, Nak Asteria?” tanya nenek di dalam.


“Apakah kita bisa menjelajahi dunia luar? Dan apa yang sebetulnya terjadi dengan negeri kita, Nek?” Asteria mencecar dengan pertanyaan.


Nenekl Humida menarik napas. “Mungkin ini sudah saatnya,” katanya.


“Nyaris seribu tahun lalu planet kita mendapat serangan dari Pasukan Langit. Semua bangsa, negara dan kerajaan hancur dan menghilang. Untuk melindungi negeri, kerajaan kita menutup negeri dengan mantra penyegel. Dari luar dinding segel, negeri kita hanya terlihat seperti hamparan laut dalam. Negeri kita tersembunyi,” kata Nenek Humida.


Asteria dan Viana mendengarkan.


“Setelah peristiwa itu, kerajaan membuat banyak perubahan dan perbaikan untuk menyelesaikan masalah yang ada di dalam negara. Rakyat ikut bahu membahu membantu kerajaan. Namun di tahun ketiga setelah penutupan gerbang, raja menghilang. Tak ada yang mengetahui kepergiannya. Putri raja yang terkenal cantik menikah dengan pemenang Turnamen Memanah pertama 4 tahun setelah raja menghilang. Ratu berusaha mencari raja yang hilang bertahun-tahun.” Nenek Humida menarik napas.


“Lalu apa yang terjadi Nek?” Asteria penasaran.


“Sang Ratu menutup diri di istana bertahun-tahun sampai kematiannya. Sang Putri yang sedih meminta Pangeran yang juga suaminya menutup kerajaan dari rakyat. Sejak saat itu semua info tentang kerajaan dibatasi. Dan cara untuk membuka dinding segel ditutup dan dihilangkan dari generasi selanjutnya. Semua itu tak pelak menyisakan misteri dan keanehan. Kerajaan tetap berjalan dipimpin oleh generasi Sang Putri selanjutnya dibantu Dewan Kerajaan.”


“Apakah Nenek mengetahui cara membuka dinding itu?” Asteria memburu.


Nenek Humida menggeleng. “Semua informasi sangat terbatas. Aku dapat mengetahuinya karena kakekku pernah menjadi Prajurit Kerajaan. Ia menceritakan sedikit cerita masa lalu. Dan penutup dari cerita itu, seribu tahun setelah peristiwa serangan Pasukan Langit, serangan itu akan datang kembali.”


“Kapan itu, Nek?” Viana bertanya.


Asteria menoleh, mengira Viana sudah mengetahuinya.


“Nenek belum menceritakan bagian itu padaku,” kata Viana.


“Aku juga tak mengetahuinya. Sistem penanggalan baru kita dimulai kembali 734 tahun silam. Tak ada yang mengetahui berapa tahun peristiwa itu berlalu. Jarak antara peristiwa serangan dengan penanggalan baru tak diketahui. Mungkin kerajaan mengetahuinya,” lanjut Nenek Humida.


“734 tahun setidaknya sudah berlalu. Kita hanya perlu mencari tahu berapa jarak waktu antara serangan Pasukan Langit dengan sistem penanggalan ulang. Sekaligus kita cari tahu mantra pembuka dinding,” kata Asteria pada Viana.


“Bagaimana caranya?” tanya Viana.


“Kita cari tahu di kerajaan!” jawab Asteria.


Viana tak menjawab. Ia tidak tahu bagaimana cara Asteria mencari tahu hal itu pada kerajaan.


Malam itu mereka kembali ke rumah Asteria untuk menikmati makan malam yang sudah disiapkan ibunda Asteria.

__ADS_1


[Next Part 12]


__ADS_2