PART OF MY HEART in EDINBURGH

PART OF MY HEART in EDINBURGH
13. Surprise


__ADS_3

Pagi sekali, blandina sudah bangun namun masih nyaman di tempat tidurnya.


Pada saat bersamaan, pintu dibuka secara perlahan. Blandina menatap sebentar dan menarik simpul di bibirnya.


" Selamat pagi " sapa blandina sambil tersenyum kearahnya.


Ternyata sosok yang masuk adalah Austin.


Austin membalasnya sambil duduk disampingnya dan mencium mesra puncak kepalanya.


" Gimana tidurnya ??" Tanya Austin sambil menatap wajah sang kekasih yang dicintainya.



" Aku bermimpi indah, dan aku hampir tidak ingin bangun lagi " jawab blandina diselingi senyum manisnya


" Eitsss, boleh bermimpi indah tapi jangan berharap untuk tidak bangun, sayang " timpal Austin sembari menyentuh bibir kenyal milik blandina.


Blandina menarik tangan jenjang milik Austin dari bibirnya dan menggeleng pelan.


" Jangan terlalu menafsir terlalu jauh Mr.Stewards aku yang tampan " balas blandina sambil meremas gemas tangan jenjang kekasihnya.


Austin yang mendengar ucapan blandina sontak merasakan sesuatu yang membuncah dari dalam hatinya.


Dia lalu memeluk posesif kekasihnya dan mengusap pelan wajah teduh bak Dewi itu.


" Bagaimana dengan perutmu, sayang ?? Tanya Austin terlihat mulai cemas.


" Sepertinya lukanya sudah lebih baik " jawab blandina sambil memegang bekas jahitannya yang dilapisi perban.


" Sebentar lagi dokter Edward akan sampai kesini " jelas Austin



" Ya ampun sayang, disini juga kan ada dokter yang handal seperti dokter Edward. Kenapa harus menyuruhnya kesini ?? Tanya blandina dengan ekspresi herannya.


" Dia adalah dokter yang dari awal menangani mu, jadi aku tidak ingin memanggil sembarang dokter untuk mengurusi " timpal Austin terlihat sangat posesif.


Blandina merasa apa yang diperbuat Austin terlalu berlebihan, namun sekuat apapun dirinya membantah, Austin tetap akan Keukeh dengan ucapannya.


" Baiklah Mr.stewards " ucap blandina menyerah.


Austin tersenyum dengan hati yang menghangat. wanita masa kecilnya makin hari makin membuat hatinya berdesir bahagia.


" mau aku bawakan sarapan kamu kesini ??" tanya Austin menawarkan


" bolehkah aku makan dimeja makan bersama kalian ? " tanya blandina tanpa menjawab pernyataan Austin.


" sure, grandpa dan momi pasti senang " jawab Austin sumringah


blandina bahagia. Austin benar-benar membuatnya menjadi wanita yang paling beruntung didunia.


" akan aku panggilkan madam Merrie untuk membantumu bersiap-siap " timpalnya sambil bergegas meninggalkan kamar blandina.


" Austin !!! " panggil blandina saat tangan Austin hendak menggapai pintu kamarnya.


yang dipanggil pun menoleh.

__ADS_1


" ada apa, sayang ??? " tanya Austin


" aku bahagia memilikimu " jawab blandina pelan


mendengar hal tersebut, Austin pun bergerak cepat dan sontak memeluk blandina erat. sampai-sampai dirinya sedikit meringis kesakitan karena dekapan Austin yang begitu erat hingga luka diperutnya terasa perih.


" am sorry beib, Im so happy.. really happy " ucapnya dengan wajah yang benar-benar bahagia


" aku berjanji akan membuatmu bahagia blandina avelia " lanjutnya dengan senyum kebanggaan nya.


" i trust u Mr.stewards " balas blandina


Austin pun dengan hati yang bahagia keluar dari kamar blandina dan menemui madam Merrie.


" naiklah ke kamar nona Ave dan bantulah dia bersiap-siap. panggil aku kalau sudah selesai" titah Austin dan berlalu.


Austin bergegas menemui ibunya. dia telah memantapkan hatinya untuk melamar blandina.


Austin mengetuk pintu kamar ibunya.


" masuk " terdengar sahutan dari dalam


Austinpun mendekati sang ibu yang sedang merias diri didepan meja riasan nya.


" what happened, darl ?? " tanya nyonya Alice bingung melihat kehadiran putra satu-satunya.


" aku akan melamar Ave, mom. " ucapnya antusias


" of course,darl. when ?? " tanya ibunya sedikit terkejut namun ada perasaan bangga dan bahagia melihat putranya yang bahagia saat melihat kesungguhan di wajah putra kesayangannya.'


" pagi ini saat breakfast "



" kamu benar-benar tidak romantis, darl " sungut nyonya Alice.


Austin mengerutkan keningnya bingung.


" cukup dengan sikap cuekmu dan dingin terhadap orang yang sama seperti daddy kamu. tapi please darl, jangan seperti daddymu yang kaku dan tidak romantis saat bersama dengan wanita yang dicintainya " ucap nyonya Alice setengah bernostalgia.


" so...... ?? " tanya Austin kembali


" kamu tenang saja, momi yang akan mengurusnya. lets breakfast " timpal nyonya Alice sembari mengajak Austin menuju meja makan.'


..


" pergilah duluan,grandpa sudah menunggu di sana. aku akan kembali bersama Ave " jelasnya sembari menuju lift yang langsung mengarah ke lantai tiga.


beberapa saat kemudian, Austin dan Blandina datang dan bergabung dengan yang lainya dimeja makan.


sarapan pagi ini terlihat cukup menyenangkan saat, kakek Russel melihat suasana di meja makan yang tampak ramai dengan kehadiran cucu tercintanya dan putri Edelweis Swan.


setelah sarapan selesai Austin segera membopong blandina ke kamarnya.


mengingat dokter Edward yang sebentar lagi akan sampai di mansion.


" beristirahat lah sayang.aku akan menunggu Edward dibawah " tukasnya cepat.

__ADS_1


" kamu tidak ingin menemaniku disini,Austin ? " tanya Blandina dengan wajah setengah memelas.


Austin menelan salivanya kasar.


" aku hanya menghindari beberapa hal yang mungkin akan membuatku kesulitan sayang " ucapnya sedikit serak


" excusme ?? tanya blandina bingung


" aku ingin memakanmu sekarang juga, Ave ". jawabannya membuat blandina semakin bingung


" memakanku ??? really ?? are you cannibal, honey ??? ucap blandina ceplas-ceplos.


Austin menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


pada saat yang sama pintu diketuk dari luar.


madam Merrie masuk.


" maaf tuan muda, dokter Edward sedang menunggu anda dibawah" ucap madam Merrie sopan


" katakan , sebentar lagi saya akan kebawah menemuinya " balas Austin


madam Merrie mengangguk dan bergegas meninggalkan kamar blandina.


austin pamit dan menemui dokter Edward.


" maaf harus menyuruhmu kesini,Ed " timpal Austin sambil menepuk pundak sahabatnya.


" easy bro..itu sudah menjadi tanggungjawabku " balas dokter Edward merendah.


austinpun mengantarkan Edward menuju kamar blandina.


blandina menyambut kedatangan Edward dengan senyum simpulnya. Austin mulai terlihat berlagak aneh saat blandina tersenyum kearah dokter tampan sekaligus sahabatnya di bangku kuliah dulu.


blandina menyadari hal tersebut,dan menunduk menghindari tatapan tajam dari Austin.


Edward yang mengenal betul dengan sifat sahabatnya hanya geleng-geleng kepala merasa lucu dengan tingkah sahabatnya.


" aku akan memeriksa lukanya terlebih dulu " ucap Edward.


ada perasaan tak suka saat Edward menyingkap baju blandina dan memperlihatkan perutnya yang putih bersih.


" jangan memandangi ku seperti itu. seakan-akan aku ingin merebut pacarmu " ucap Edward yang seakan menyadari tatapan Austin walaupun tanpa melihat kearahnya.


Austin tersentak mendengar ucapan Edward.


berbeda dengan blandina yang terlihat gugup dengan kedua pria tampan didepanya,apalagi sang kekasih yang dari tadi memasang wajah dingin.


" lukanya sudah mengering,nona ave. aku pastikan dua hari kedepan,anda akan beraktivitas seperti biasanya. hanya saja,jangan melakukan hal yang berat-berat !!! " ucap dokter Edward mewanti-wanti.


blandina hanya mengangguk pelan tanpa menoleh kearah Austin yang dari tadi memandangnya dingin.


" kalau begitu saya kebawa dulu, grandpa sudah menunggu saya. semoga cepat sembuh nona ave !!" timpal dokter Edward dan bergegas meninggalkan kamar blandina.


" aku akan mengantar dokter Edward bertemu grandpa. beristirahat lah sayang !!! " timpal Austin sembari mencium bibir blandina dan berlalu keluar dari kamar blandina.


blandina mengempaskan napas panjang, serasa baru habis di cekik oleh Austin.

__ADS_1


" dia benar-benar membuatku merinding " Rintihnya bergidik ngeri


" sekaligus menggemaskan " lanjutnya dalam hati


__ADS_2