
Edinburgh seperti buku sejarah, deretan bangunan kuno dengan arsitektur cantik disepanjang royal mile. Jalan bebatuan dengan lorong bawah tanah dikota tuanya, kastil Edinburgh yang ikonik dan istana holyrood yang indah.
Dikota inilah, aku kembali menyusuri setiap kenangan bersama ibuku "
Dirinya tersenyum melihat keindahan didepan matanya.
Langit pagi terlihat sangat indah di kota Edinburgh.
Sebagai ibu kota dari Skotlandia, Edinburgh adalah salah satu kota pariwisata di dunia.
Namun bagi seorang blandina, kota Edinburgh seperti kota sihir.
Ketika sampai disini setahun yang lalu, dia mampu menghempaskan barang haram tersebut meskipun sedikit kesulitan karena dirinya sudah termasuk pecandu.
Namun, salah satu psikiater nya memberikan saran agar dirinya berangkat ke Edinburgh adalah pilihan yang benar.
Dan disinilah dirinya berada.
"The old town"
Hmmm...." Dirinya bergumam penuh kebahagiaan.
" Aku akan berjalan dari sini dan akan berakhir di The new town" imbuhnya bersemangat.
Yuppp, Edinburgh dibagi menjadi dua wilayah berbeda dengan dipisahkan oleh Princess street. Jalan utama sepanjang 1,2 km yang sangat terkenal dengan kawasan komersial.
Kedua wilayah tersebut telah ditetapkan oleh UNESCO sejak tahun 1995.
Edinburgh adalah kota kecil, jadi dirinya tidak akan kesusahan saat berjalan kaki.
Dulu, dia dan ibunya sering berjalan-jalan saat mereka ingin mengelilingi kota hijau tersebut.
Saat lagi menikmati perjalanan kecilnya itu, nampak seorang pria jangkung mendekatinya dan menggenggam tangan kecilnya.
Blandina tersentak dari kesenangan kecilnya.
" Austin ??" Ucapnya hampir tak terdengar.
" Kenapa tidak mengajakku jalan-jalan, Ave ??" Sambil melirik tajam kearahnya.
" Eeh..itu, mphhh, maksud aku..." Kata-katanya tergantung.
" Sudahlah, ayo kita lanjutkan lagi jalan-jalannya" potong Austin cepat, lalu menariknya lembut.
Blandina menatap sekilas tangan kirinya yang digenggam oleh cinta masa kecilnya.
Rasa nyaman dan bahagia nampak terekam jelas diwajahnya.
Diapun, memeluk lengan kekar kekasihnya dan berjalan beriringan sepanjang jalan tersebut.
__ADS_1
Austin tersenyum diam-diam saat menyadari hal romantis yang dilakukan blandina barusan.
" Aku akan menjagamu,Ave" Rintihnya dalam hati
" Kenapa senyum-senyum begitu, Austin ?? Bikin merinding tahu !! " Ucapnya sambil mencubit pinggangnya lembut.
" Its okay, jika hantunya kamu" goda Austin sembari mencubit gemas pipi sedikit chubby milik kekasihnya.
" Apa-an siy, masa cantik-cantik begini dikatain hantu " protes blandina,sambil memanyunkan bibir berisinya.
Cuuuupp......
Terdengar bunyi kecupan kecil...
Blandina berhenti sejenak dan menatap Austin sedikit kesal.
" Ada apa sayangku, kenapa wajahmu seperti itu, salah yah kalau aku mencium pacarku sendiri..eits, maksud aku calon istriku " ucapnya sembari kembali menggoda wanitanya.
" Tapi ini kan di jalan, Austin " protes blandina seakan memberikan petunjuk lain kepadanya.
" Jadi maksud kamu, aku harus menciummu di kamar ya" goda Austin terkekeh.
Blandina salah tingkah, ucapanya barusan malah menjadi Boomerang untuk dirinya sendiri.
" Dasar, Austin sialan " umpatnya dalam hati.
Sesampainya di depan hotel Balmoral, blandina berhenti sejenak dan menatap gedung mewah dan landmark dikota itu.
" Dulu saat sampai disini,momi selalu menunjukan menara jam besar itu " Blandina tersenyum pilu mengingat setiap moment bersama ibunya dulu.
Austin menggengam jemari tangan blandina dan mengusap lembut wajah kekasihnya.
" Dia selalu bilang, pemilik hotel tersebut sengaja menyetel lebih cepat tiga menit sejak tahun 1902. Konon katanya,agar warga Edinburgh tidak ketinggalan kereta mereka " lanjutnya terlihat antusias menceritakan cerita yang telah ibunya ceritakan.
" Pantasan J.W Rowling memilih Edinburgh sebagai tempatnya mencari ide-ide cemerlang untuk bukunya" timpal blandina tiba-tiba.
" Oh iya ??" Tanya Austin pura-pura tidak tahu
" Tempat ini menjadi tempat inspirasi Rowling untuk membuat cerita tentang Harry Potter, Austin " imbuhnya pelan
" Dan kamu sukses menyihir hatiku untuk tidak menyukai perempuan lain " ucap Austin sambil menggodanya kembali.
Bluss !
Seketika wajah blandina memerah bagaikan tomat.
Austin benar-benar dibuatnya gemas dengan wajah Blandina yang memerah.
__ADS_1
" Aku ingin sekali memakanmu, Ave " ucap Austin hampir tidak terdengar.
" Maksud kamu ??" Balas blandina saat mendengar ucapannya barusan.
" perjalanannya masih panjang, ayo " ucap Austin sambil menggandeng tangan blandina mesra.
Setelah dari Balmoral hotel, mereka berhenti sejenak didepan Scott monumen dan Austin menyuruh blandina berdirih di depan monumen tersebut.
Jeprettt...
Austin cepat cepat memotret blandina dengan handphonenya.
" Coba sini aku lihat !!" Pinta blandina
Austin pun memberikan handphonenya
" Cantik juga " gumannya pelan
" Kamu memang cantik " balas Austin sembari mengambil handphone miliknya.
" Ayo " ajak Austin sembari menggenggam tangan blandina kembali
Sampailah mereka di the new town.
Austin memeluk Ave dari belakang sambil menikmati suasana di pagi yang indah.
" Besok akan diadakan the fringe festival " ucap Austin
" Benarkah ??" Jawab blandina dengan mata berbinar, sambil berbalik kearah Austin
Austin mengangguk diikuti senyum simpulnya.
" Waktu benar-benar berjalan sangat cepat, padahal aku merasa baru beberapa bulan merayakan the fringe festival" ucapnya sambil menatap kedepan
" Benarkah ??" Ucap Austin kaget
Blandina mengangguk tanpa menoleh kepadanya seperti tadi.
" Jangan bilang tahun lalu kamu disini merayakan fringe festival ??"
".......,aku memang disini setahun yang lalu. Bukankah, Luke sudah menceritakan hal ini kepadamu ?" Tanya blandina sambil mengerutkan keningnya.
" Dasar tikus, kenapa dia tidak pernah menceritakan kepadaku kalau Ave pernah ke edinburgh,setahun yang lalu " Rintihnya dongkol.
" Hey....,ada apa ??" Tanya blandina bingung melihat Austin yang hanya diam saja
" Eh...,itu..mphh " ucapnya terbata-bata karena ketahuan sedang memikirkan sesuatu.
" Kamu aneh deh.., ayo pergi. Pasti Jasmine dan Luke sedang mencari kita berdua " timpal blandina sembari mengajaknya kembali ke villa.
__ADS_1