
Seminggu sudah kepergian tuan Anderson. Blandina masih berkutat dengan kesedihannya di rumah milik orangtuanya bersama dengan nyonya Celine dan arabele. Dan juga uncle Thomas anderson beserta istrinya Rachel stuard.
Austin masih setia menemaninya walaupun ada keresahan yang dirasakannya saat harus meninggalkan perusahaan disaat gentingnya permasalahan di anak cabang perusahaan. Untungnya ada Anthoni dan beberapa orang kepercayaannya dikantor yang mampu menyelesaikan masalah tersebut.
Hingga suatu saat, saat selesai makan malam.blandina mengajak Austin mengelilingi daerah Seminyak saat malam hari.
Mereka duduk di pasir menghadap deburan ombak dan angin malam yang terasa sejuk dikulit.
" Kembalilah ke Inggris, aku tahu Anthony tidak mungkin menghandle seluruh pekerjaan kantor sayang !!" Ucap blandina yang sedang bersandar didada bidang milik Austin.
Terdengar helaan nafas berat dari Austin.
Blandina mendongak kearah Austin.
" Tenanglah, aku tidak apa-apa.ada paman Thomas dan bibi Rachel. Perempuan dua itu tidak akan macam-macam " ucapnya meyakinkan.
" Sebenarnya ada satu hal yang ingin aku sampaikan, tapi apakah ini tidak terlambat??" Tanya Austin
Blandina merubah duduknya sambil menghadap Austin dengan tatapan ingin tahu.
" Katakanlah, aku akan mendengarkan nya " jawab blandina diikuti anggukan kecilnya.
Austin menarik napas panjang dan menghempaskan begitu saja.
Nafasnya terasa segar saat menampar wajah milik blandina.
" Sehari setelah ayahmu dimakamkan, aku mendapatkan informasi yang lengkap dan sangat meyakinkan bahwa ayahmu dibunuh secara perlahan oleh Celine melalui makanan yang dikonsumsi oleh tuan anderson secara terus-menerus" jelas Austin panjang.
Blandina menganga dengan mulut terbuka, tidak habis pikir dengan perbuatan Celine dan putrinya.
" Kenapa baru memberitahukan sekarang, Austin ??" Timpal blandina kesal.
" Aku ingat saat dimana akan dimakamkan ayahmu, kamu begitu histeris. Aku saja sampai sedih dan tidak bisa berbuat apa-apa melihatmu seperti itu. Aku turut merasakan beban itu, Ave !!" Jujur Austin dengan sorot mata penuh kejujuran. terhadapnya.
Blandina terharu dengan ucapan Austin.
" Maafkan aku sudah membuatmu sesedih itu " jawab blandina
" Aku memahami seberapa dalam kesedihan yang kamu rasakan, untuk itu aku belum mau memberitahuimu"
Ucap Austin sembari mencium puncak kepalanya.
Austin mengeluarkan sebuah flashdisk lalu diberikan kepada blandina.
" Ini bukti rencana Celine dan putrinya. Terserah kamu akan apakan mereka berdua.aku akan selalu disisimu " ucap Austin
Mata blandina berkaca-kaca mendengar ucapan Austin.
'" aku beruntung memilikimu,Austin. Terimakasih!!" Ucapnya tulus sambil mengecup bibir Austin.
Austin menangkup wajah blandina dan membalas ciuman blandina.
Bibir blandina adalah candu untuk dirinya. Rasanya seperti strawberry, serasa tidak pernah puas dengan kenikmatan bibir ranum milik surai panjang tersebut.
Cukup lama saling memagut satu sama lain, sampai-sampai blandina kesulitan bernapas. Paru-parunya membutuhkan pasokan oksigen.
__ADS_1
Austin tertawa geli melihat nafas tersengal milik kekasihnya.
" Kamu seperti orang yang baru pertama berciuman,darl ..haha !!! Ucapnya setengah meledek.
" Itu kan kebiasaan kamu, membuat aku kesulitan bernafas Austin !!" Protes blandina cemberut.
" Tuh kan, bibir aku bengkak !! Lanjutnya masih dengan aksi protesnya.
Austin malah cekikikan mendengar ucapan blandina, dan itu membuatnya gemas diwaktu yang bersamaan.
" Ini udah larut, ayo pulang. Aku akan mengantarmu dan kembali ke hotel "
Ucap Austin saat melihat jarum jam di arloji mahal miliknya.
" Austin, kalau sudah tiba saatnya, maukah kau hidup normal seperti biasanya ??? Tanya blandina dengan binar mata yang seperti mengharapkan sesuatu.
" Normal?? Apa kamu bisa jelaskan secara harafiah,arti normal bagimu ?? Ini terkesan ambigu buat aku,darl !!! Jawab Austin
" Hiduplah normal, tanpa harus memikirkan perusahaan terus-menerus !!" Jawab blandina
Austin mulai mengerti dengan ucapan blandina barusan.
" Sekalipun satu atau dua perusahaan mengalami kerugian besar, toh belum tentu kamu jatuh miskin kan !!!" Sambungnya dengan wajah sedih.
Austin berdehen pelan.
" Aku tidak ingin membuat kakek kecewa,darl. Perusahaan ini sudah dibangun oleh kakek sejak dia muda. Dan dipercayakan kepada Daddy. Lalu Daddy mempercayakan tanggung-jawab ini kepadaku sejak aku berusia 18tahun. " Sambil menghempaskan nafasnya kasar.
Berbeda dengan blandina yang terlihat kecewa dan berusaha menyembunyikan raut wajah tersebut.
" Kamu terlihat capeh dan hampir sebagian waktumu hanya untuk bekerja. Cercaan blandina sedikit membuat Austin bergetar.
" Maafkan aku, mungkin ini terlalu kasar tapi aku sedih harus melihatmu bekerja sepanjang waktu. Dan bukan hanya aku, momi Alice pun demikian , Austin " ucapnya tanpa jeda.
Austin tak menampik hal tersebut. Karena ibunya pernah menyinggung hal tersebut.
Ibunya selalu mengkhawatirkan kesehatan anaknya. Dia tidak ingin apa yang dialami suaminya, dialami juga oleh anak semata wayangnya.
" Darl, bolehkah kita membahasnya lain waktu??" Ucap Austin mengalihkan pembicaraan.
Blandina mendengus kesal.
" Baiklah, ayo antarkan aku pulang !!" Jawab blandina lalu berdirih tanpa menunggu bantuan dari Austin.
Austin menelan salivanya kasar lalu mengejar blandina yang telah lebih dulu berjalan.
-
Keesokan harinya, aunty Rachel sudah mempersiapkan menu kesukaan ponakan tercintanya ditemani uncle Thomas.
Setelah membersihkan diri, blandina segera bergabung dengan paman dan bibinya dimeja makan.
" Good morning, aunty, uncle !! Sapa blandina sembari duduk di kursi biasanya. Matanya mulai berkaca-kaca saat melihat kursi kosong diujung meja tersebut.
Dia teringat sang ayah.
__ADS_1
Aunty Rachel yang melihat wajah sedih ponakan tercintanya,langsung memeluk blandina Dan menyemangati nya.
" Jangan sedih lagi yah sayang. Daddy sudah bahagia bertemu momi Edel di surga " hibur aunty Rachel sambil mengusap pundaknya pelan.
Blandina tersenyum getir. Lalu mendongak menatap aunty Rachel dengan mata berembun.
" Terimah kasih aunty. aku tidak tahu apa yang terjadi kalau aunty dan uncle tidak ada disini !!" Ucapnya pedih.
" Yah sudah , kita tunggu nyonya Celine dan arabele dulu ya !!"
Blandina mengangguk pelan. Hatinya seperti dihunus ribuan pedang saat mendengar nama kedua perempuan ular.
Dia teringat flash disk yang semalam telah ditonton. Dimana video itu memperlihatkan nyonya Celine dan arabele seperti sedang mengobrol dengan seseorang via panggilan video. Tapi karena Cctv tersebut ada didepan nyonya Celine dan arabele, maka dari itu blandina tidak bisa melihat dengan jelas siapa yang sedang mengobrol dengan mereka, saat mereka berada di ruang tamu.
Cctv tersebut dapat menangkap percakapan mereka, sehingga memudahkan blandina mengetahui rencana demi rencana yang telah di susun rapi oleh mereka .
Pada saat bersamaan, nyonya Celine dan arabele keluar dari kamar mereka dan ikut bergabung di meja makan. Hati blandina merasa panas melihat tingkah mereka yang merasa tidak bersalah .
Blandina berdecih pelan.
Berbeda dengan nyonya Celine dan arabele yang terlihat ragu-ragu mengambil makanan didepan mereka.
" Makanlah Celine, aku yang memasaknya !!" Timpal Rachel lembut.
" Makanlah, aunty Rachel memasak makanan yang sehat dan tidak akan membuatmu sampai mengalami penyakit berbahaya !!" Sindir blandina sambil mengunyah makanannya.
Jantung Celine maupun arabele berdetak kencang, saat mendengar sindiran halus dari mulut blandina.
Berbeda dengan Thomas dan istrinya , Rachel malah kebingungan mendengar ucapan ambigu dari mulut ponakannya.
" Kamu ada-ada aja, sayang !!" Ucap aunty Rachel diikuti tawa kecilnya.
Sarapan pun berjalan dengan khidmat. Berbeda dengan Celine dan putrinya yang hanya saling pandang, seakan-akan mereka sedang berbicara dari hati ke hati yang hanya didengar oleh mereka berdua.
" Setelah 40 hari nanti, Tuan Arka akan membacakan pewaris sah di Anderson Corp, jadi uncle harap kamu harus mempersiapkan diri kamu dengan baik " timpal uncle Thomas, saat sedang berkumpul diruang keluarga.
Nyonya Celine dan arabele saling tatap dengan gelisah.
Blandina jelas melihat kekhawatiran diwajah dua perempuan ular tersebut.
" Belum tiba saatnya, blandin mengurus perusahaan papa. Blandin akan menyerahkan semuanya kepada uncle !! " Terang blandina tanpa ragu dan sukses membuat nyonya Celine dan arabele menelan salivanya susah payah.
" Dasar anak sialan, tidak akan aku biarkan itu terjadi " geram nyonya Celine dalam hati.
Begitu juga dengan arabele yang terlihat menatap blandina tajam.
" Anda setuju kan nyonya Celine ??" Tanya blandina memancing amarah Celine.
Nyonya Celine tersenyum kikuk
" Terserah kamu, blandina. Saya ikut yang menurut kamu baik " jawabnya berbohong.
" Baguslah kalau kamu setuju, setidaknya kamu masih mengakui aku anak Tuan Robert Anderson, pemilik sah anderson Corp " ucapnya penuh penekanan.
Mata Celine memerah menahan amarah, dan seketika pamit menuju kamarnya diikuti arabele.
__ADS_1
Blandina bersorak penuh kemenangan dalam hatinya .
" Aku berjanji akan membuat hidup kalian berdua bagaikan neraka dirumah ini !!" Rintihnya dengan emosi yang tertahan.