PART OF MY HEART in EDINBURGH

PART OF MY HEART in EDINBURGH
26. Memulai Hari


__ADS_3

Saat keluar dari bandara,tepat pukul 13.45 siang waktu london, udara disiang hari terasa dingin. Padahal kalau di indonesia jam jam seperti ini hawa panas akan menyeruak di sekeliling mereka


Blandina,dan uncle Thomas beserta istrinya telah di tunggui Austin dan asistennya, Anthony diruang tunggu khusus.


" I Miss u " ucap blandina saat dipelukan pria yang memilik manik hijau tersebut


" Me to, darl !!" Bisiknya ditelinga sang kekasih.


Uncle Thomas dan aunty Rachel tersenyum hangat melihat kemesraan blandina dan Austin.


Austin segera mengajak mereka meninggalkan bandara dan bergegas menuju rumah utama.


Sesampainya mereka disana, ternyata nyonya Alice dan kakek Russel telah menunggu mereka.


" Wellcome home, sweetie" sambut Nyonya Alice sambil memeluk blandina. Pelukan tersebut disambut blandina hangat.


" Kami turut berdukacita atas meninggalnya tuan Anderson" ucap kakek Russel berbelasungkawa.


Blandina hanya tersenyum getir mendengarnya. Berbeda dengan uncle Thomas dan istrinya mereka hanya mengangguk pelan.


" Terimah kasih tuan besar Stewards" jawab uncle Thomas sopan.


Mereka diajak makan siang walaupun sebenarnya sudah lewat jam makan.


Di meja makan seperti biasanya mereka makan secara hikmat tanpa ada suara yang keluar dari mulut mereka. Yang terdengar hanya denting sendok dan piring.


Setelah makan, kakek Russel mengajak mereka keruang keluarga.


" Jadi begini Ave, Austin telah menceritakan masalah diperusahaan Tuan Anderson yang ada di Indonesia " ucap kakek Russel membuka pembicaraan.


Uncle Thomas menarik napas pelan, takut kalau permintaan blandina ditolak. Padahal perusahaan butuh asupan dana saat ini gegara Celine dan putrinya yang terlalu boros.


Blandina mendengar dengan seksama apa yang diucapkan kakek Russel.


" Jadi aku sudah memutuskan untuk menolak mengambil ahli perusahaan Anderson Corp" jawab Austin mantap.


Blandina, paman beserta bibinya dibuat menganga dengan ucapan Austin yang terdengar menggantung.


Austi menyadari perasaan mereka terutama blandina yang matanya mulai memerah, tidak percaya tunangannya mau menolak permintaannya.


" Austin tidak bisa menerima perusahaan itu sebagai pewaris utama,karena itu adalah milikmu Ave" jelas kakek Russel.


Mata blandina mulai berembun. Keluarga Stewards adalah satu-satunya harapan untuk mengembalikan kejayaan Anderson Corp.


Tapi sekarang dia pasrah kalau Austin tidak bisa menerima permintaannya kali ini.


" Aku tidak bisa ,sayang. Tapi aku akan mendanai full perusahaan itu. " Ucapnya cepat saat menyadari kesedihan diwajah kekasihnya.


Pupil blandina melebar saat Austin mengatakan hal tersebut.


Begitu juga uncle Thomas dan aunty Rachel. Seuntai senyum terbit dari bibir mereka berdua.


Mendengar ucapan Austin, blandina segera memeluk Austin dengan wajah gembira.


Kakek Russel dan Nyonya Alice ikut tersenyum kearah blandina.


" Benar ave,...Austin sama sekali tidak ingin menjadi pewaris Anderson Corp. Karena satu-satunya pewaris Anderson Corp adalah kamu. Saat ini stiff tengah berkumpul dengan general manager dan clowy diruang meeting. Segala sesuatu yang dikeluarkan oleh Anderson Corp akan melewati izin dari mu. Termasuk uang yang akan digunakan oleh ibu tirimu " jelas nyonya Alice.

__ADS_1


Blandina menangis terharu. Dia tahu betul permainan yang akan di pakai ibu tirinya dengan bantuan tuan Aston while salah satu pengusaha terkenal dari Amerika untuk mengakusisi perusahaan milik daddynya.


Sebelum itu terjadi, Ave terlebih dulu meyakinkan tuan Edwin Wijaya dan clowy agar tidak mudah termakan ucapan ibu tirinya yang cenderung sok berkuasa.


Sekarang dia mendapatkan dukungan penuh dari keluarga Stewards, tentu saja hal tersebut tidak akan menjadi ketakutannya lagi.


*


*


Beberapa hari setelah menginap di kediaman Stewards, uncle Thomas dan aunty Rachel pun kembali ke Edinburgh terlebih dahulu, Karena telah cukup lama meninggalkan perusahaan utama keluarga Anderson disana.


" Beberapa hari lagi, aku akan menyusul kesana paman" ucap blandina sambil memeluk uncle Thomas dan aunty Rachel.


" Kami akan menunggumu, sayang " ucap aunty Rachel dengan sorot mata yang penuh dengan kelembutan.


Setelah kepulangan Paman dan bibi Rachel, blandina menemani Austin kekantornya.


" Austin, terimah kasih untuk semuanya. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika kamu tidak bersamaku" ucap blandina dengan mata berkaca-kaca.


Austin mendekatinya lalu memeluk blandina erat.


" Bagiku, saat melihatmu bahagia akupun akan merasa bahagia" jawab Austin sambil mendekap blandina.


" Tidak perlu memikirkannya lagi.perusahaan tuan Anderson dalam keadaan yang aman terkendali" sambungnya.


Blandina menatap wajah kekasihnya dalam.


Lalu sebuah kecupan yang tiba-tiba mendarat di bibir merekah miliknya.


" Aku tidak sabar untuk memilikmu seutuhnya " ucap Austin di sela-sela cumbuannya.


" Selesaikan pekerjaan mu dan ayo menikah" ucap blandina penuh keyakinan.


" Segera sayang, beberapa hari lagi kita akan ke Edinburgh bersama dengan Luke. Aku akan mengunjungi salah satu perusahaan Tekstil disana selama seminggu. Setelah itu aku akan menikahimu di St Gile' Chatedral" terangnya dengan wajah bersemangat.


Blandina tersenyum berkali-kali saat Austin menceritakan rencana yang telah disusun rapi.


" Aku tidak sabar menunggunya " jawab blandina bahagia lalu mencium Austin.


" Sekarang, beristirahat lah. Aku akan keruang meeting. Aku akan menyelesaikan rapat hari ini dengan cepat.lalu kita akan berkeliling sampai kamu bosan." Ucapnya lalu mencium mesra kening blandina.


Tok


Tok


Tok


Terdengar suara pintu diketuk. Austin mempersilahkan masuk.


" Tuan , lima menit lagi rapat segera dimulai. Anda harus keruang rapat " ucap Anthony


" Ya...,mari kita ke ruang meeting" balas Austin.


Setelah Austin meninggalkan ruangannya, blandina bergegas keruang rahasia Austin dibalik lemari kayunya.


Sebuah pintu rahasia terbuka dan Blandina segera masuk kedalam dan menghempaskan tubuhnya diranjang king size milik Austin.

__ADS_1


" Mom, dad.... I Miss u guys so badly" ucapnya dengan wajah sendunya.


Dua buliran bening lolos tanpa permisi dari pelupuk mata indahnya.


Blandina terisak mengingat keharmonisan keluarga nya dulu.


Jauh sebelum mominya meninggal dan daddynya berakhir di tangan Celine.


" Suatu hari nanti, aku akan memasukkan kalian berdua ke penjara" rintihnya menahan sakit


Terlalu lama menangisi kehidupannya, blandina pun tertidur dengan mata sembabnya.


Entah berapa lama dia tertidur, diapun sama sekali tidak menyadari kehadiran Austin dikamar itu.


Austin mengernyit melihat bekas air mata blandina diwajahnya.


Austin menaiki kasurnya dan tidur disamping blandina.


Mereka tertidur sampai sore hari.


Blandina merasa ada sebuah beban di perutnya. Ternyata tangan kekar Austin tengah mendekap posesif perutnya.


Blandina menatap pahatan indah didepannya.


Bulu mata lentik milik Austin jauh lebih indah dari miliknya. Alis hitam tebal miliknya membuat seorang Austin Stewards seperti seorang dewa yang dilukiskan dalam mitologi Yunani.


Sungguh ciptaan Tuhan yang sangat sempurna.


Diapun menatap lama wajah yang sedang tertidur didepannya.


" Aku sangat beruntung memilikimu,Austin. Aku berjanji akan bersamamu sampai menua nanti " ucapnya pelan.


Tiba-tiba Austin membuka matanya. Manik hijau miliknya membuat dirinya seperti terhipnotis dan tidak bisa bergerak.


Lama saling menatap, tiba-tiba dengan rakusnya Austin mencium bibir milik blandina yang menjadi candu untuk dirinya.


Lama saling bertukar Saliva, tanpa disadari blandina bibirnya membengkak. Dan itu yang sering membuatnya kesal.


" Kamu memang suka sekali membuat bibirku seperti baru saja di filler" umpat blandina kesal.


Austin terkekeh mendengar ucapan pratagonis dari Blandina.


" Setelah menikah nanti, aku jamin bibir indah milikmu akan setiap hari difiller oleh bibirku" balas Austin sembari menggodanya.


" Ck...,ayo kita cari makan. Aku lapar !! " Rengek blandina sambil mencubit pinggang Austin.


Austin bukan merespon ucapan blandina, dia malah memeluk erat kekasihnya dan mencium tengkuk putih susu milik blandina.


Bau khas bunga mawar milik blandina membuatnya betah berlama-lama memeluk blandina.


" Mari kita awali hidup bahagia di hari ini , aku tidak ingin melihatmu bersedih lagi " ucapnya pelan.


Austin merasakan kepala blandina mengangguk pelan.


Austin melepaskan pelukannya dan tersenyum penuh cinta kepadanya.


" Let's go " timpal Austin sembari menarik lembut blandina dan meninggalkan gedung pencakar langit tersebut.

__ADS_1


__ADS_2