
Setelah kejadian penculikan di Italia, Luke langsung menyuruh Vincent membawa Ave dan prince kembali ke Swiss.
Apalagi Celine dan arabelle sama sekali belum ditemukan. Mereka bisa muncul kapan saja.
Akhirnya Vincent membawa prince dan Ave kembali ke Swiss.
Berbeda dengan Austin yang masih menunggu kabar terbaru dari anak buahnya yang sedang memburu Celine dan putrinya.
Setelah menyiksa Jasmine di markas temannya, Austin bergegas kembali ke hotel tempat dia menginap.
Saat berpapasan dengan Luke dan Sarah di lobi hotel, Luke meminta Sarah membawa Arthur ke kamar mereka duluan.
" Berbicaralah selayak sahabat lama, sayang. Tuan Stewards telah banyak menderita !!!" Bisik Sarah terhadap suaminya.
Luke hanya membalasnya dengan sebuah senyuman kecil lalu mengecup puncak kepala sang istri.
" Saya permisi,duluan tuan Stewards. " Pamit Sarah sopan.
Austin hanya mengangguk pelan. Sorot matanya menangkap sosok mungil dipelukan Sarah.
Dia teringat prince, putra kecilnya yang sama sekali tidak pernah dia gendong ataupun menceritakan sebuah dongeng sebelum tidur. Rasa penyesalan terus menerus menghantui kehidupannya, semenjak dia tahu keberadaan bocah kecilnya. Namun kali ini dia lebih memilih menurunkan egonya untuk mendapatkan kembali Ave dan putranya.
Udara di ruangan tersebut serasa ikut membeku saat dua sahabat lama hanya saling diam dan saling tatap lama.
Terdengar hembusan nafas dari Austin maupun Luke.
" Sudah lama kita tidak saling sapa " ucap Austin membuka suara.
Terdengar helaan nafas dari mulut Luke.
" Dia anakmu " timpal Luke tanpa menoleh ke arah Austin.
" Aku tahu !!! Dari awal aku tahu prince adalah putraku " ucap austin sambil menatap Luke.
" Hmp.., selesaikan masalahmu dengan Ave. Mereka telah kembali ke Swiss !!! Timpal Luke sembari meninggalkan Austin.
Austin hanya memandangi kepergian sahabatnya dari belakang . Sungguh, rasa penyesalan terus menghantui pikirannya.
Diapun kembali ke kamar hotelnya untuk bersiap ke London.
__ADS_1
" Temui nona ave, Austin. Sebelum segalanya tambah sulit " timpal stiff tanpa menoleh kearahnya.
" Kenapa akhir-akhir ini semua orang selalu berbicara kepadaku, tapi tidak pernah melihat kearah ku ??" Sungut Austin kesal.
Stiff menarik napas pelan.
" Mungkin karena mereka lelah menghadapimu !!" Jawab stiff sembari memeriksa beberapa berkas.
" Termasuk kamu ??" Tanya Austin dengan sorot matanya yang tajam
" C'mon dude. Turunkan sedikit egomu. Prince butuh seorang ayah !!" Timpal stiff kesal
" Apa yang harus aku lakukan stiff, Ave selalu menolak ku !!" Ucapnya dingin.
" Hanya segitu perjuangan mu ??" Tanya stiff sambil menatap sahabat sekaligus bosnya.
Lama tak menjawab, Austin berlalu meninggalkan kamarnya dan meninggalkan stiff sendirian memeriksa berkas sebelum kembali ke London.
Blandina, Vincent dan prince telah kembali ke Swiss.
Bern, ya Bern adalah tempat kelahiran prince.mengetahui perjuangan seorang blandina di negeri asing tersebut, tentu membuat Austin semakin bersalah. Apalagi setelah dia tahu yang sebenarnya tentang hubungan blandina dan vincent dan perjuangan Vincent melindungi blandina dan putranya dari serangan publik di Swiss.
". Terimah kasih banyak,vincent.maaf aku selalu membuatmu dalam masalah " timpal blandina sambil memeluk sepupunya.
" Dad, apakah Daddy akan tinggal malam ini ??" Tanya prince sambil memeluk kaki Vincent.
Vincent menatap blandina sejenak.
" Apa kita harus memberitahukan yang sebenarnya, Ave ??" Tanya Vincent
" Aku rasa belum sekarang,Vincent " cicit blandina sambil menghempaskan nafasnya berat.
" Ave, aku rasa tuan Austin adalah laki-laki yang baik " timpal Vincent sambil menatap blandina.
" Aku tidak ingin membahas tentang dia sekarang,Vincent " ucapnya sambil mengusap lengan vincent.
" Terlalu dini untuk kembali padanya, Vin. Aku tidak ingin kecewa yang ke dua kalinya. Dia terlalu posesif dan emosional. !!!" Ucapnya sambil mengusap keningnya pelan.
" Baiklah, terserah kamu Ave. Sekarang adalah waktu yang terbaik untuk memperbaiki hubungan kalian berdua. Ini sudah empat tahun berlalu !!" Balas Vincent sambil tersenyum.
__ADS_1
" Aku akan menemani prince tidur dan secepatnya harus kembali ke Zurich" ucapnya pelan.
Blandina mengangguk pelan.
" Terimah kasih untuk segalanya Vin " timpal blandina kembali.
" Its okay !!" Sembari mengangkat prince menuju kamarnya
" Ayo kita pergi tidur jagoan. Daddy akan membacakan sebuah dongeng yang bagus untukmu " timpal Vincent lalu menggendong prince ala-ala pesawat terbang.
Terdengar tawa prince yang menghilang dibalik pintu kamarnya.
Blandina menerawang kearah jendela putih besar.
Ada rasa yang membuat hatinya bergejolak ingin memarahi semesta yang terkadang suka mempermainkan hatinya.
" Ini sudah empat tahun berlalu, namun aku sama sekali tidak bisa menghilangkan perasaan ini dari hatiku " gumannya lirih.
Rasa sakit hati dan cinta terhadap Austin membuatnya sulit mengambil keputusan,setelah pertemuan pertama mereka setelah empat tahun.
Dilema membuat hatinya terasa tercabik-cabik.
Sesekali blandina menelan wine yang berada ditangannya.
Cukup lama dirinya berada di teras sambil menikmati minumannya.
Sehingga kedatangan Vincent membuyarkan lamunannya.
" Tidurlah, ini sudah larut. Prince sudah tidur, Felix mungkin sudah tertidur di mobil karena menungguku " timpal Vincent sembari menc ium puncak kepala blandina.
" Sampaikan salamku untuk Jesicca " ucapnya
" Beristirahat,Ave. Jaga kesehatan mu. Turunkan egomu dan pertemukan prince dan tuan Stewards" timpalnya lalu bergegas ke mobil.
Ternyata sopir pribadi nya ,Felix telah tertidur karena terlalu lama menunggu sang boss.
Langit di kota Bern sangat indah. Namun keindahan tersebut tidak dapat membuat sang pemilik wajah teduh merasakan hal tersebut. Dirinya semakin tenggelam dalam kegundaan hatinya .
Blandina meninggalkan tempat itu dan menghampiri prince yang telah tertidur lelap .
__ADS_1
Dirinya naik keatas ranjang putranya dan memeluk sang bocah tampan tersebut.
Diapun ikut tertidur tanpa melepaskan pelukannya.