Pelangi Asmara

Pelangi Asmara
Pengecut


__ADS_3

kkkrriinnggg...krriinngggg..


Alarm menunjukkan pukul 06.00 dan otomatis membangunkan sang pemilik kamar yaitu Stevan Maxmiliano pria mapan berusia 30th. Matanya masih berat dan kepalanya masih sedikit pusing untuk digerakkan mengingat semalam cukup lama dia bermain solo didalam kamar mandi sehingga hampir menjelang pukul 2 dia baru terlelap tidur.


Namun dia harus tetap professional berangkat kantor karena kedisiplinan lah yang paling utama diajarkan sang kakek selama dia menetap di Melbourne. Sang Kakek Scott Maxmilian adalah keturunan campuran Meksiko-Indonesia sedangkan sang Nenek yang masih terlihat cantik dan segar bugar itu asli Indonesia tepatnya dari Manado itu kenapa Stevan juga bisa sedikit berkomunikasi dengan bahasa Spanyol karena tempat sang Kakek Meksiko juga menggunakan bahasa Spanyol.


Kenapa memilih tinggal di Melbourne?. Karena setelah lulus kuliah sang Kakek merintis usahanya disana yang masih berhubungan dengan usaha buyut Stevan di Indonesia namun karena desakan buyut putri Stevan yang asli Indonesia Kakek Scott mendirikan cabang Maxmilian di Indonesia agar ada alasan mengunjungi Indonesia. Sepeninggal buyut lelaki Raphael Maxmilian maka seluruh usaha yang didirikan oleh buyut Raphael dan Kakek Scott disatukan dalam satu manajemen yang dipimpin langsung oleh Kakek Scott kemudian dilanjutkan Papi Stanford sedangkan cabang di Melbourne sempat dijalankan Kakek dan Uncle Stanley tetapi Uncle memilih menjadi Dokter sehingga Kakek menjalankan bersama anak buahnya saja disana kelak Kakek mau menyerahkan pada Stephani atau anak dari Uncle Stanley namun untuk saat ini semua menjadi tanggung jawab penuh Stevan Maxmiliano


Ceklekkk..pintu dibuka di kamar Stevan


"Kak,turun yok sarapan udah mau jam 7" ajak Mami Rita masuk dan mendapati putranya sudah rapi dan sangat tampan dengan stelan kemeja light grey dan jas abu abu metalik senada dengan celananya menambah kegagahan putranya ditambah dasi garis garis hitam putih menempel sangat manis di tubuh sempurna Stevan.


"Duh..dah ganteng aja Stevan Maxmiliano, kamu semakin mirip Papimu kak" mata Mami Rita mulai mengeluarkan airmata mengingat sang kekasih tercinta yang telah mendahuluinya ke surga.


"Mami" suara lembut Stevan menenangkan Mami Rita sambil memeluk sang mama erat. Dia tau rasanya sakit kehilangan Papi.


"Gracias sayang" jawab Mami Rita sambil mengecup keningnya


Mereka pun turun kebawah dan disana sudah ada Fani dan Vanessa yang akan sarapan bersama.


Hari ini Kakek dan Nenek Stevan Tuan Besar dan Nyonya besar Maxmilian akan datang dari Melbourne dan akan menambah kesibukan keluarga besar menyambut Tuan besar yang sudah sangat jarang ke Indonesia. Tuan Besar lebih memilih menghabiskan masa tuanya di Melbourne mengurus cabang Max Grup disana.


Sedangkan Indonesia,Singapore dan India sepenuhnya dipegang Stevan yang masih dibantu Uncle Stanley. Kakek berharap putranya Stanley segera menikah lagi agar segera memiliki penerus dan melanjutkan Max Grup namun hingga saat ini putranya Stanley masih betah menduda walau tanpa anak setelah istri tercintanya meninggal karena kanker rahim.


"Sayang..nanti bareng bareng ya jemput kakek" ucap Vanessa


"Ya Van..ehmm ya sayang" jawab Stevan malas

__ADS_1


"Kak, Fani ga ikut ya ada kelas pagi kak" sebenarnya Fani kurang cocok sama kakeknya belakangan ini karena Fani mengambil kuliah Psikologi dan tidak menuruti permintaan kakek mengambil Manajemen atau Bisnis jadi pasti nanti dia akan kena sindir lagi seperti biasanya. Dia pun kurang semangat sang kakek datang padahal waktu kecil dia sangat dekat dengan kakek dan neneknya kalau sudah ke Melbourne dia akan sulit pulang ke Indonesia tapi sejak dia mengambil kuliah Psikologi dia pun bersitegang dengan kakek Scott.


"Sama Mami juga ya kak" Mami Rita menawarkan


"Ya mam" jawab Stevan


Selebihnya sarapan dilakukan dengan tenang sampai selesai begitulah kebiasaan keluarga Max


"Selamat pagi Tuan Muda" sapa Tian yang muncul tiba tiba


"Selamat pagi Mami,selamat pagi Nona muda dan selamat pagi Nona Vanessa" sapa Tian


"Pagi Tian..tumben sepagi ini disini" Stevan bingung


"Kak,mulai hari ini Tian akan jadi Asisten Pribadi kamu dan Fani sedangkan Wakil Direktur Keuangan akan Mami berikan ke Sinta karyawan kepercayaan Mami. Selama 3th ini Sinta sudah menunjukkan hasil bekerja yang bagus" Mami Rita menjelaskan


"Sayang..aku ada jadwal syuting tapi nanti sebelum ke bandara jemput aku di Restoran B ya" pinta Vanessa sambil bergelayut manja di lengan Stevan


"Ya sayang" sambil mengecup kening Vanessa dia pun pamit berangkat


Vanessa mengerucutkan bibirnya karena Stevan hanya mengecup kening biasanya masih ada kecupan bibir walau hanya menempel saja


"Silahkan Tuan muda" sambil senyum ledek dari Tian


"Tian...serius Tian.."Mami mengingatkan


"Hhhhehehee,Maaf mam" jawab Tian

__ADS_1


"Napa wajahmu bro kusut amat kyk daun kering" sapa Tian sambil menengok ke kaca spion. Saat ini Stevan duduk dikursi belakang


Stevan bersyukur Mami mengambil sahabatnya untuk menjadi Asisten Pribadinya sehingga dia lebih mudah bercerita tanpa rasa segan berlebihan


"Sedang memikirkan bagaimana reaksi Kakek dengan permintaan Vanessa nanti" jawab Stevan


"Elu yang ragu melanjutkan atau Vanessa yang sibuk?" tanya Tian


"Apaan sih Tian" tolak Stevan


"Ehhhhmmm..aku terlalu pengecut menolak Vanessa atau aku yang terlalu pengecut mengakui perasaanku. Dyandra" batin Stevan sambil senyum tipis agar Tian tidak curiga namum Tian dapat menangkap ekpresi Stevan dari depan


Tian harus menyelidiki hal ini sepertinya ada yang salah dengan sahabatnya ini padahal baru 3 hari di Indonesia tapi ada yang dia sembunyikan


"Kau memang dari dulu selalu takut menyakiti wanita karena Mami Rita dan Fani tapi bukan berarti harus tunduk tanpa akal dengan Vanessa bro" batin Tian sambil mata kedepan


"Aku akan cari tau siapa wanita yang sudah mencuri hatimu Van,aku yakin ini pasti soal wanita juga. Semua pria sama jika obsesinya adalah wanita maka dunianya akan berbeda seperti sekarang aku akan lebih dekat dengan Fani karena sekarang Fani masuk dalam daftar tanggung jawabku..oooo Fani.." batin Tian sambil senyum senyum juga tanpa ada yang memperhatikan


Kedua sabahat ini saling senyum senyum tipis mengingat wanita mereka masing masing.


Untuk menghindari macet kadena asa blokir jalan maka mereka mengambil jalan potong dan melewati Kampus GRACIA International College dimana Fani dan Dyandra kuliah dan tadi Fani mengatakan mereka ada kelas pagi ini.


Tampak Dyandra sedang berjalan masuk ke halaman kampus bersama beberapa mahasiswi lain namun dia sedang tertawa senang dengan seorang teman prianya disana.


Tak disangka, Tian melihat Stevan memukul dudukan mobil sangat keras dengan kepalan tangan menandakan kekesalan yang luar biasa


Mata Tian pun menyapu pemandangan didepan melihat apa yang menyebabkan boss sekaligus sahabatnya ini marah besar dan nampaklah seseorang yang mereka sama sama kenal

__ADS_1


"Dyandra???" batin Tian dengan rasa tidak percaya


__ADS_2