
"Kenapa tubuhnu bergetar Ndra?.apa yang mereka lakukan padamu?" batin Fani
"Ffa..fffaaannn..aku takut,dia ss..ss..hhuu..mati" jawab Dyandra
"Sudah...sudah..tidurlah lagi..aku disini" jawab Fani sambil memeluk tubuh ringkih Dyandra yang terus bergetar hebat
Dyandra pun tertidur kembali setelah meminum obat dari perawat penjaga khusus bangsal Dyandra dan Fani pun meninggalkan Dyandra yang sudah tertidur
"Bagaimana Fan?" tanya Stevan diluar
"Traumanya mengerikan kak" jawab Fani
"Dia selalu menyebut " aku takut" dan "m*ti" Fani ga paham maksudnya kak" jawab Fani
Stevan menggeram dan rahangnya mengeras bisa dipastikan dia sangat marah dan emosinya tidak stabil. Wanita yang ditemuinya semalam masih sehat bahkan sempat perang saliva dengannya dipangkuannya kini terbaring lemah dan berteriak teriak
"Ooohh..apa yang sudah terjadi padanya" batin Stevan
"Kuserahkan penjagaan Dyandra kepadamu Fani, kakak mohon temanilah dia" balas Stevan
"Tentu kak,tenangkan dirimu kak" jawab Fani
"Tian..bagaimana penyelidikanmu?,lama sekali?" tanya Stevan
"Luar biasa bos,tempat kejadian perkara bersih,rapi tidak ada bekas atau jejak apapun yang tersisa..sangat licin sekali bisa dipastikan adalah pekerjaan seorang mafia kelas atas bahkan noda darah atau pecahan kaca pun tidak ada sama sekali" jawab Tian
"Si*l" maki Stevan
__ADS_1
"Kumpulkan anak anak Tian, kita kemarkas" jawab Stevan pelan agar tidak terdengar Mami dan Fani
"Mi..Stevan pamit sebentar mengecek tempat kecelakaan Dyandra mana tau ada sesuatu yang bisa dijadikan petunjuk" pamit Stevan
Mami hanya mengangguk pelan dia khawatir apa yang ditakutkannya terjadi
"Kak..jangan gegabah, pikirkan baik baik sebelum melakukan sesuatu kak" pinta Mami
"Minta saran Kakek Scott, Mami mohon jangan melakukan sesuatu yang kelak akan kau sesali kak" lanjut Mami
"Ya mi" langsung mengecup kening Mami Rita
"Fan..titip kakak iparmu" kata Stevan sambil tersenyum
"Pasti kak,tenangkan dirimu jangan emosi" pinta Fani
"Bos,ada info terbaru kuharap kau tenang dulu" sahut Tian saat mereka sudah didalam mobil
"Jangan bertele tele Tian atau kucampakkan kau kembali ke salon Mama Rosa" ancam Stevan
"Hhhmmmm"
"Yang mengantar Dyandra ke rumah sakit B adalah Mang Asep sopir pribadi Argawijaya" jawab Tian
"Breng**k..berarti Vanessa ada disana atau Papi Danny tapi tidak mungkin Papi Danny" teriak Stevan
"Tenang dulu bisa saja Mang Asep sedang keluar atau memang mengantarkan Nona Vanessa atau Mami Nadia ke suatu tempat lalu melihat kecelakaan itu terjadi" balas Tian
__ADS_1
"Lagipula mereka tidak mengenal Nona Dyandra kecuali Nona Vanessa sehingga Mang Asep mengantarkan ke rumah sakit terdekat saja kan tanpa harus menghubungimu" balas Tian
"Benar juga" kata Stevan
"Tapi akan lebih baik Bos hubungi Papi Danny untuk izin bicara dengan Mang Asep" sahut Tian
"Ya" jawab Stevan
ddrrttt...dddrrrrtttt..
Bunyi Ponsel Papi Danny memutus fokus Papi saat bersama Opa Benny Argawijaya
Ya disinilah Papi Danny sedang berdiskusi dengan Opa Benny tentang permasalahan ini
"Stevan Pa" kata Danny
"Kenapa kau takut?. Kau orangtua baginya harusnya dia akan bicara sopan padamu walaupun dia tau siapa pelakunya" jawab Opa Benny tegas
"Yes boy" jawab Danny tenang karena seperti inilah dia biasa berkomunikasi dengan putra sahabat kecilnya Stevan. Danny berusaha sewajar mungkin menjawab setiap pertanyaan Stevan
"Baik Stevan tunggu Papi di Mansion" jawab Danny
"Dia meminta izin menginterogasi Mang Asep soal Asep mengantarkan wanita itu ke rumah sakit" jawab Danny
"Kau terlalu memanjakan Vanessa sejak kecil saat tanda tanda itu sering muncul kau abai dan denial. Saat di Melbourne harusnya kau segera memberikan pertolongan psikologis padanya karena dokter disana lebih canggih" jawab Opa Benny dengan penuh emosi pada Danny
"Papa akan meminta maaf langsung kepada Scott,Papa permisi dulu" jawab Opa Benny
__ADS_1
"Hmmm..pada akhirnya masalah percintaan anak muda diselesaikan oleh para kakek kakek..astaga Danny Argawijaya bagaimana caramu mendidik anakmu?" jawab Opa Benny kesal