Pelangi Asmara

Pelangi Asmara
Pengecut 2


__ADS_3

Tian belum berani mengatakan apa apa karena dia juga belum yakin akan hipotesanya. Dia akan menyelidiki hari ini siapa Dyandra dan apa hubungannya dengan Stevan. Dia berniat memnta cctv Bar Lovely lewat Anto.


Sesampainya dikantor langsung menggunakan lift khusus yang hanya boleh dipakai keluarga Max dan kini bertambah Tian. Stevan masuk kedalam ruangannya tergesa gesa dengan wajah penuh amarah,Ira yang melihat tidak berani menyapa bos nya itu.


"Tian, tolong cari tau tentang kelas Psikolgi Fani,siapa saja nama-nama mahasiswanya dalam 1 kelas dan dosen dosennya sekalian dengan foto fotonya" perintah Stevan


"Foto bos?" tanya Tian


"Udah kerjakan dulu Tian" tegas Stevan dengan mata melotot


"Hari pertama Tian taringnya sudah keluar" batin Tian


"Siap bos " jawab Tian


"Gini amat elu jatuh cinta bro ,lah buat apa juga ngumpulin foto orang" batin Tian sambil ngurut dada


"Pasti ini berawal dari Bar" Tian ngedumel sambil jalan keruangannya karena mereka sama sama mengenal Dyandra juga berawal dari sana


"Dia memang gadis manis dan badannya menggoda tapi apa kurangnya Vanessa lebih seksi,putih,karirnya bagus anak pejabat berpengaruh" batin Tian


"Ira,masuk.." perintah Stevan dari interkomnya


Ira sang sekretaris seksi masuk dengan kerjngat dingin


"Elu, mulai besok ubah gaya berpakaianmu lenih sopan ini kantor bukan bar" perintah Stevan. Sedangkan yang kerja di Bar saat diluar pakaiannya sopan dan tertutup


"Saya naikkan gajimu 2x lipat untuk keperluan pribadimu,sepet mata saya melihatmu. Apa jadwal hari ini?. dan tolong kosongkan semua jadwal mulai sore saya akan keluar dari pukul 2 dan tidak kembali lagi" perintah dingin Stevan


"Baik pak saya mengerti" jawab Ira


Ira mulai membacakan jadwal Stevan dari pagi dan rencana untuk sore yang seharusnya dilakukan tapi jadi ditunda sampai besok. Jadwal ini juga ada ditangan Tian jadi Tian sudah tau apa yang disiapkan sebelum Stevan melakukan semua aktivitasnya


"Keluar" perintahnya lagi


"Permisi pak" jawab Ira


"Bawakan kopi pait segera" perintah Stevan

__ADS_1


"Sepait hatiku melihatmu tertawa dengan pria lain Andra" batin Stevan


Jelek banget mood Bos mengerikan sekali padahal aku memang berniat menggodanya dengan berpakaian minim begini


Stevan pun sibuk dengan aktivitasnya dikantor dengan Tian yang selalu mengekorinya kemanapun dia pergi meeting atau bertemu rekan kolega bisnis mereka.Pilihan Mami Rita tidak salah dengan Tian yang bisa mengimbangi cara berfikir cepat dan tidak biasa putranya dalam mengeksekusi ide ide dari otak cerdas Stevan


Kampus Jurusan Psikologi


"What???.kerjaan gila ini, apa apaan permintaan Tuan muda mu itu?." tanya Pak Alfian Direktur kampus ini yang juga sesekali memberi materi pada beberapa mata kuliah. Walau sudah berumur dia tidak mau hanya duduk saja namun dia tetap mengajar agar ilmunya bisa diturunkan ke anak muda. Papi Stanford sangat mengenal baik Pak Alfian karena mereka sudah berteman sejak SMA


"Tunggu laporanku dalam sejam diemail mu" jawab Pak Alfian


Diruangan B para mahasiswa serius mengikuti mata kuliah pagi ini lalu sang dosen dipanggil keluar dan hanya memberi tugas saja.


"Fan..kamu menghubungi Pak Andy soal keterlambatanku kemaren?" tanya Dyandra pelan


Hari ini Fani sedikit bingung dengan sikap menghindar Dyandra ke Fani tapi Andra tidak menjelaskan ada apa dengan Fani. Andra pun tidak tega mendiamkan sahabatnya itu dan memang bukan salahnya jadi Andra akan jujur pada Fani soal semalam dengan Bu Marta


"Iya Ndra,sebenarnya aku menghubungi Kak Anto..aku takut kamu akan dimarahi Ndra" penjelasan Fani


"Aku bisa menutup Bar itu sekarang juga jika aku mau Ndra dan aku bisa menghajar orang orang yang sudah menghinamu Ndra" emosi Fani memuncak


"Iisshhh kau ini Fan jangan berlebihan seperti itu..jangan lakukan itu, banyak yang menggantungkan harapan rezeki disana Fan" balas Andra


"Maafkan aku Ndra tapi aku tidak terima kamu dihina seorang sahabat Stephani Putri Max..tidak ada satu manusia pun yang bisa merendahkan keluarga Maxmilian Ndra" jawab Fani


Fani memeluk Andra,Dyandra merasakan kehangatan sebuah keluarga karena dia hanya anak tunggal sejak saudara lelakinya meninggal waktu kecil karena sakit


"Aku tidak mau dikira memanfaatkan persahabatanku denganmu Fan,tadinya aku ingin menghindarimu tapi melihat wajahmu ini aku tidak tega..Menyedihkan sekali" jawab Andra sambil senyum mengejek


"Makasih Ndra,oh ya nanti bisa kan ikut makan malam dirumahku?" tanya Fani


"Kuusahakan ya Fan" jawab Dyandra


"Kita Video call sama Nana ya Fan,tadi pagi dia telfon aku sedang buru buru berangkat" kata Andra. Dan mereka bertiga pun saling bercerita dan Andra berkeluh kesah soal Bar tanpa menceritakan soal Stevan dan dirinya


"Aku terlalu pengecut mengakui perasaanku yang sudah mulai mencintai kakakmu Fan,aku takut dengan status sosial kita" batin Dyandra

__ADS_1


Max Tower


Stevan yang baru saja selesai meeting dengan kolega bisnis dari Kupang Nusa Tenggara Timur untuk membangun proyek menara dan infrastruktur disana merasakan lelah di satu sisi dia masih terbakar emosi dengan pemandangan Andra dengan seorang pria satu sisi lagi memikirkan Kakek dengan Vanessa.


"Hhmmm..Andra" batin Stevan


"Bos.ini semua informasi yang dibutuhkan soal jurusan Nona Muda Fani" kata Tian


"Ok.thanks Yan" jawab Stevan


Dia membaca semua file mahasiswa yang ada dan fokusnya hanya pada "ddeeegggg" hatinya berdesir melihat file berisi foto Dyandra Karenina, menemukan segala informasi tentang Dyandra namun tidak dengan lelaki yang dilihatnya tadi


"Kenapa tidak semua" tanya Stevan


"Ini semua datanya Van lengkap dengan informasi keluarga dan lain lain" jawab Tian


"Bisa jadi dia mahasiswa jurusan lain karena lelaki ini juga yang dilihatnya di Bar malam itu" batin Stevan


"Aku tidak terima milikku bersama bahkan disentuh pria lain" batin Stevan dengan rahang mengeras dan tangan dikepal


"Kau mencintainya bos,kenapa sulit sekali mengakuinya jangan jadi pengecut Van" batin Tian


"Kita ke Restoran B untuk jemput Nona Vanessa lalu kerumah jemput Mami Rita bos" kata Tian membuyarkan lamunan Stevan


"Ok" jawab Stevan


Stevan pun melangkah ke ruangan Ira menyerahkan file projek ke Kupang untuk dipelajari


"Selesaikan hal yang kurang koordinasi dengan Sinta karyawan Mami, besok pagi file ini sudah ada kembali di ruangan saya" kata Stevan dingin


"Baik pak" jawab Ira sambil menatap mata biru indah Stevan dan mengagumi ketampanannya


"Saya keluar" kata Stevan dan langsung memotong tatapan mata Ira padanya. Dia paham dengan arti tatapan Ira tersebut


"Ya pak" jawab Ira sambil menunduk


"Sudahlah Ra terlalu dingin sulit digapai" batin Ira

__ADS_1


__ADS_2