
Bu Marta datang tergesa gesa mencari Andra yang masih sibuk membereskan tumpahan makanan dan minuman dilantai lorong ruangan VVIP. Dia mendapat perintah dari atasannya Pak Andy yang sudah marah marah mengingat pengawasan Bu Marta terhadap pelayanan yang tidak becus
Begitu mendapati Andra Bu Marta langsung menarik lengan Andra dengan kasar "Kau sudah merusak suasana para tamu VVIP ha..cepat kau antarkan ulang makanan dan minuman buat VVIP No 1 sekarang juga,biarkan semua ini dibersihkan cleaning service" bentak Bu Marta
"Aku tidak bisa Bu,seragamku juga kotor bu" jawab Andra dengan wajah sembab
"Kau ambil baju baru di ruanganku,aku tidak peduli bagaimana keadaanmu..cepat,mereka sudah menunggumu" jawab bu Marta tegas sambil melotot
Dengan tertatih tatih Andra segera membersihkan diri dan mengganti seragam baru namun ternyata seragam itu ukurannya lebih kecil dari ukuran Andra terutama di bagian atas dimana belahan da*a Andra nampak jelas dan berbentuk indah. Andra sangat risih namun dia tidak dapat berbuat apa-apa saat ini yang jelas dia harus segera mengantar ulang pesanan ruangan VVIP No 1
Dengan senyum yang dipaksakan Andra menuju lorong ruangan VVIP No 1
tokk..tok..tok..
"Masuk" Edo dengan smirk nya
__ADS_1
"Permisi Tuan tuan ini pesanan tambahan yang tuan pesan,untuk yang pesanan pertama tadi saya bereskan ya tuan" Andra berkata sambil kepalanya menunduk
"Silahkan" Aldo menjawab dengan tetap memandang takjub dengan penampilan Andra
Selama Andra meletakkan dan membereskan sisa makanan yang pertama, 5 pasang mata menatap Andra dengan intens tanpa bersuara. Mereka seakan akan belum puas menikmati keindahan seorang Andra disini
"Eekhemmm...ehemm..". bariton Stevan memecah keheningan
"Van,lu laper bro..ini ayam bakar paling endess bro" Tian menyahuti deheman Stevan sambil memberikan piring berisi ayam bakar dan nasi sedangkan yang lain mulai sibuk mengambil gelas masing masing . Stevan memang belum makan dari siang mengingat dia baru sampai dari Melbourne dan langsung disambut oleh para sahabatnya dan mengajak kumpul disini
Stevan tidak menyangkal pemandangan indah didepan sungguh menggoda terlebih sekarang posisi Andra tepat didepannya, mereka sempat bertemu mata dan saling mengunci pandangan satu sama lain namun Andra segera membuang wajah mengingat bagaimana tadi dia dibentak, dihina bahkan disebut kotor oleh mulut Stevan
"Cciihhh..resek lo,ga pantes buat seorang Stevan" jawab Stevan diikuti tawa Edo dan Aldo
Andra yang mendengar mengepal tangannya dengan erat kalau bukan karena Nana dia juga tidak mau berurusan dengan pelayanan tamu seperti saat ini
__ADS_1
"Sudah selesai Tuan,saya permisi" Andra berdiri dan menundukkan kepalanya
"Terimakasih manis,oh ya ini tips buat kamu Andra manis" Edo berniat menyelipkan gepokan lembaran merah yang cukup banyak ke baju bagian da*a Andra namun dengan sigap Andra mundur dan menahan dengan nampan besi didepan benda berharga miliknya
"Maaf jika kurang berkenan,ambillah kau sudah memberikan servis yang baik" Edo masih bersikeras dengan tipsnya
"Terimakasih Tuan,tidak perlu. Permisi Tuan-tuan" Andra berbalik badan menuju pintu keluar sambil menetralkan jantungnya. Satu sisi dia deg-degan bertemu pandangan dengan Stevan dan entah kenapa Andra menyukai bola mata biru itu yang sangat teduh namun mengingat kelakuan pria yang tadi hampir melecehkannya dia berubah muak dan berniat tidak mau kembali lagi kesana
Kelima pria didalam cukup terkejut dengan cara sikap menghindar Andra dan penolakannya terhadap tips yang sangat besar dari Bos Kapal Edo Morgan
"Hheeemm..sok ga butuh" Stevan menyeringai
"Ehh..gimana baju lo bro udh kotor gitu. Di mobil gue ada sepasang klo lo mau pake tadi gue siapin rencana mau ke Bandung ngecek butik disana ehh taunya ga jadi" Aldo menimpali
"Ga usah,ini udah lumayan gue bersihin..gue cabut aja Vanessa tadi telfon nungguin dirumahnya" jawab Stevan
__ADS_1
"Ok bro,be careful man" Anto berdiri dan tos ala mereka berlima
Mereka berlima sudah bersahabat sejak SMA namun Aldo,Edo dan Stevan lanjut kuliah di luar negeri sedangkan Anto dan Tian kuliah di universitas swasta Elite di Indonesia sambil membantu usaha orangtua mereka