Pelangi Asmara

Pelangi Asmara
Kesehatan jiwa


__ADS_3

"Maafkan kecerobohan Danny Pap" ucap Danny pada Kakek Scott.


"Kau memang seharusnya meminta maaf tapi bukan padaku tapi pada Stevan,dia dari awal memang tidak mencintai Vanessa. Mereka memang sudah bersama sejak kecil tapi bukan berarti bisa mencintainya. Vanessa seperti adik baginya,kau ingat beberapa kali dia diganggu oranglain Stevan selalu pasang badan buat Vanessa, dia melindunginya apalagi kala itu dia belum memiliki adik sampai Stevan SMP" terang Kakek


"Aku tahu Kek" jawab Danny sambil menunduk


dddrrrtttt....dddrrtttt..ponsel Danny Argawijaya berdering


"Mas..hhhuuuu..Mas..Vanessa" Nadia terbata bata untuk berkata sambil menangis


"Kenapa sayang?,tenang dulu" jawab Danny


"Huuuu..dia berteriak teriak mengerikan sambil memukul mukul tembok Mas" ucap Nadia diujung telfon maasih terisak menangis


"Tolong pulang Mas, aku takut" jawab Nadia


"Ya sayang..tenangkan dirimu dan selalu panggil nama Vanessa ya,aku jalan pulang sayang" jawab Danny


"Ya Mas, aku tutup telfonnya ya" jawab Nadia

__ADS_1


"Segeralah bawa ke rumah sakit Gracias Dannny,dia harus segera mendapatkan pertolongan kesehatan jiwa" kata Kakek Scott sambil menepuk pundak Danny


"Papi ikut dan menolongmu membujuk Vanessa" kata Opa Benny Argawijaya


"Aku akan menghubungi Stanley menyiapkan segala hal dirumah sakit untuk Vanessa,bagaimanapun juga dia sudah kuanggap cucuku Ben" balas Kakek Scott


"Thank you always oldfriend" jawab Opa Ben sambil memainkan tos tangan ala mereka.


Kala muda mereka bersahabat layaknya putra mereka Danny dan Stanford Ardi lalu turun ke cucu mereka Stevan dan Vanessa yang hampir saja menikah. Mereka bukan tipikal sahabat yang menjodohkan anak anak mereka karena mereka memberikan kebebasan dengan siapapun pasangan anak mereka kelak.


Kedua Argawijaya itu pun bergegas ke Mansion Wijaya untuk menghadapi Vanessa dan Mental Breakdown nya. Danny paham sudah waktunya Vanessa benar benar harus mendapatkan perawatan kejiwaan yang baik agar dia sembuh dan normal kembali.


Stevan tiba di Mansion Max dengan terburu buru karena dia sudah berjanji bertemu Papi Danny untuk membicarakan soal Vanessa. Dia sudah mengetahui dari anak buah Tian soal kejadian kecelakaan Dyandra.


"Kakek..apakah Papi Danny tadi kemari Kek?" tanya Stevan


"Ya tadi dia sudah datang bersama Benny" jawab Kakek Scott


"Uncle Ben, Kek?" tanya Stevan dengan menaikkan alisnya

__ADS_1


"Opa Ben Stevan sopanlah pada orangtua" jawab Kakek Scott


Waktu Stevan masih kecil Opa Ben memperkenalkan dirinya dengan Uncle Ben dan setiap bertemu selalu minta disapa Uncle Ben jadi sampai dewasa jika bukan dihadapan Kakek maka Stevan terbiasa memanggil Uncle Ben. Memang Opa Ben itu adalah bekas preman di masa muda nya jika bukan Kakek Scott menyadarkan dan mengajarkannya banyak hal tidak mungkin dia bisa sesukses sekarang dengan banyak bisnis terutama Danny tidak bisa menjadi salah satu pejabat berpengaruh dinegara ini


"Lalu dimana Papi Danny sekarang Kek?" tanya Stevan


"Kau mau bertanya soal Vanessa dan Dyandra pada Danny?" tanya Kakek Scott


Stevan menatap Hans yang setia berdiri tegak dibelakang Kakek Scott, Stevan tahu sebelum hal apapun terjadi didunia ini rasa-rasanya Hans sudah terlebih dahulu tau. Hans yang ditatap pun hanya tersenyum tipis


"Hhhmmm..Kakek sudah tau semuanya" jawab Stevan sambil menatap Kakek tajam


"Kakek paham emosi di hatimu, tp Kakek sudah mengajarkanmu untuk mencerna setiap kejadian pasti ada sesuatu dibalik itu" jawab Kakek


"Kau bersama Vanessa dari kecil apa kau tidak merasa bahwa Vanessa sakit selama ini" tanya Kakek Scott


"Tidak Kek" jawab Stevan sambil mengernyitkan dahinya


"Baca laporan ini" jawab Kakek Scott sambil memberikan beberapa berkas laporan kesehatan jiwa Vanessa dari dokter spesialis jiwa di Melbourne

__ADS_1


__ADS_2