
Sampai ke pukul 3 sore Stevan masih berkutat dengan berkas yang ga ada habisnya hingga dirasa perutnya sudah merintih. Untungnya tadi pagi sarapan Stevan banyak sekali sehingga tenaganya cukup hingga menjelang sore ini.
"Woii broo,serius amat sih..gue denger lu belum makan siang bro" Tian nyelonong masuk ke ruangan sahabat plus atasannya itu.
"Biasakan ketuk pintu Tian,lo sama gue bisa jadi sahabatan tapi ini kantor and lo bawahan gue,paham" sahut Stevan dengan tatapan mata siap menelan Tian hidup hidup
"Siap pak bos,ni gue bawain makan siang..lo mesti sehat supaya perusahaan maju dan gue masih bisa kerja disini bro buat kasih anak istri makan" sahut Tian sambil menaikkan alisnya.
Tadi jam 1 Tian berencana mau masuk kedalam ruangan sahabatnya itu namun ditahan Ira yang baru keluar dari sana dengan cemberut mengatakan kalau bosnya sedang super sibuk ga nyahutin waktu diajak makan siang. Tian langsung paham tabiat sahabatnya yang memang jika fokus tidak bisa diganggu karena kalau dia tidak benar benar sibuk Stevan pasti memghubunginya untuk makan siang bersama
"Thanks" jawab Stevan
"Its ok,makan dulu gue balik ke ruangan bro" sahut Tian
Persahabatan mereka memang sudah sangat dekat susah senang mereka rasakan bersama. Tian sebenarnya memiliki orangtua yang juga punya usaha lebih tepatnya mami nya dengan usaha salon yang lumayan rame sedangkan papanya juga sudah meninggal yang juga sahabat Papi Stanford itulah kenapa Mami Rita menawarkan Tian posisi Wakil Direktur Keuangan Max Grup sejak papanya meninggal dan dilanjutkan perginya Papi Stanford ditambah dari sekolah Tian memang dikenal lebih cerdas dibanding sahabat Stevan lainnya.
"Tian,tar malam ngumpul di L ya kabari yang lain" sambung Stevan sambil mengunyah
"Siap pak bos,lu bandar kan" smirk Tian menegaskan
"Hhhmmmm" sahut Tian
"Gue ga tahan sehari ga ketemu sama lu Ndra" batin Stevan. Entah kenapa suara merdu sedikit mendesah itu sanggup memporakpandakan hatinya kini.
__ADS_1
ddrrtt...dddrrttt..ponsel Stevan merusak lamunan Stevan akan Dyandra
"Ya Van" jawab Stevan,ternyata yang menghubunginya adalah Vanessa tunangannya. Sebenarnya dia masih kesal dengan Vanessa yang berniat menangguhkan pernikahannya
"Sayang,kok gitu manggil nama sih" rengek Vanesaa
"Maaf sayang" jawab Stevan,bagaimanapun saat ini dia memiliki Vanessa yang telah menemaninya selama 3th ini. Sejak kepergian Papi yang sangat menghancurkan hatinya Vanessa lah yang hadir buat Stevan walau Kakek dan Neneknya tidak menyukai Vanessa.
"Jadi kerumah kan sayang,udah janji loh dan aku kangen" rengeknya kembali
"Sejam lagi aku kesana" jawab singkat Stevan
"Aku mau kita ke Mall A ya ada butik temenku yang baru buka cabang yang" bujuk rayu Vanessa
"Ok"
"Ok sayang" jawab Stevan ogah ogahan
Dan disinilah mereka berdua di Mall A dan ternyata Fani bersama Andra juga ada di Mall A,tadi Mami Rita menyuruh mang Ujang menjemput ke kampus lalu mengantar serta menunggui Fani sekaligus mengantar pulang kembali
Butik teman Vanessa bersebelahan dengan Toko buku terlengkap di Mall tersebut.
"Selamat ya say nambah lagi nih cabangnya say" ucapan selamat Vanessa buat teman satu frame Filmnya. Dan yang diucapkan selamat malah curi curi pandang dengan Stevan yang ikut bersama
__ADS_1
Stevan sudah biasa dengan hal seperti ini jadi sikapnya pun tetap dingin,Vanessa yang sadar segera menarik Stevan untuk berkeliling butik tersebut sebenarnya dia tidak terlalu dekat hanya dia ingin ada alasan kuat untuk bisa membuat Stevan pergi jalan jalan
"Eh kak Stevan,kak Vanessa" teriak Fani dari depan butik teman Vanessa
Stevan dan Vanessa langsung melihat ke arah suara dan "deggg" jantung Stevan tak teratur melihat gadis hitam manis itu disana.
"Hai Fani ngapain kesini?" sahut Vanessa
"Nyari buku buat referensi tugas kak,tadi ngajakin kak Stevan dia bilang sibuk ehhhh diajak calon Nyonya ikut aja tuhh" sindir Fani pada sang kakak
"Kan tadi nelfonnya jam 1an saat itu kakak masih sibuk" jawab Stevan sambil mencubit hidung sang adik
"Aawww..sakit kak,iya deh pak Presdir Max Grup" sahut Fani
"Lama banget juga di Mall udah sore loh belum pulang?" sahut Stevan kembali
"Issshhh kita kan mau ngabisin harta kakak sama Papi" jawab Fani asal
"Kak Vanessa kenalin sahabat Fani Dyandra" Vanessa acuh tak acuh menerima tangan Dyandra
"Dyandra Karenina kak" sambil tersenyum dan jangan lupakan lesung pipit mautnya yang memabukkan itu.
"Oh Tuhan tolong ga tahan begini terus,jangan bilang main solo lagi sore ini" batin Stevan dengan wajah lemas,entah kenapa yang dibawah langsung mengeras hanya mendengar suara dan melihat lesung pipitnya yang menawan itu.
__ADS_1
"Kenapa kak?" suara merdu itu lagi spontan keluar dan menyentuh lengan Stevan yang terlihat lemas
"****" umpat Stevan kesal