
pagi telah kembali menyapa dan meninggalkan sang malam ke belahan bumi lainnya.
Icha berjalan ke arah kebun halaman belakang sambil membawa bakul untuk menyimpan hasil tanaman hari ini , Icha hari ini panen cabe rawit dan akan segera ia bawa ke pasar setelah memanen.
setiap hari Icha memanen dan mengganti tanaman baru lagi, tak terasa sebakul telah di isi oleh cabe rawit yang berwarna merah, Icha bangkit setelah menyiram tanaman nya dan memberi pupuk.
Icha berjalan ke arah samping rumahnya, melihat ayam dan mencari telur siapa tahu hari ini ia bisa makan telur ayam lagi .
Icha memang anak yang mandiri, karena hidup dengan serba terbatas ia memiliki rumah yang tak terlalu luas ,halaman depan penuh dengan tanaman hias , halaman belakang penuh dengan sayur mayur dan beberapa pohon buah seperti mangga, jeruk dan delima, sedangkan di samping kiri rumahnya masih memiliki halaman yang ia pakai sebagai kandang ayam dan di sebelah kanan sengaja ia buat kolam tanah dan di isi oleh ikan nila.
jika untuk makan saja Icha sudah nggk khawatir lagi, tentu bukan hanya makan yang ia pikirkan hasil dari mnjual sayur ,buah dan ikan nila ia belikan pakaian jadi dan di jajakan pada para ibu ibu di kampung kadang ia juga menerima pesanan perabot rumah tangga.
Icha hanya gadis kampung yang tamat SMA, andai bibi nya tak cepat meninggalkan nya mungkin Icha masih bisa melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi lagi.
Icha yang di minta mengajar anak anak mengaji bukan karena ia lulus pesantren namun karena ia rajin dalam memperhatikan anak anak kampung yang mengaji nya saja masih belum terlalu lancar Icha juga termasuk majelis taklim masjid kampung ini selepas shalat ashar biasa Icha dan temannya mengumpulkan para anak anak dan mengaji bersama sampai akhirnya pemerintah memberi sumbangan Al-Qur'an dan IQro untuk rumah hafidz di masjid kampung ini.
banyak sekali lelaki yang ingin memperistri dirinya namun tak pernah Icha respon keinginannya menikah memang ada tapi ia merasa belum menemukan sosok yang pas dengan dirinya, meski banyak lelaki yang ia tolak tapi lelaki itu tak menyimpan rasa sakit hati pada Icha karena Icha memang terkenal adalah sosok yang baik Icha selalu di lindungi oleh orang orang kampung karena pembawaannya yang sederhana dan periang bisa berteman dengan siapa saja.
.............
berbeda jauh dengan kehidupan Rangga di kampung ini, Rangga yang hanya hidup bersama putrinya , ia setiap pagi harus menyiapkan sarapan untuk Maya, Menyiram tanaman hias nya, dan bersiap kapan saja jika puskesmas membutuhkannya, ia di terima sebagai dokter di kampung ini selain ingin melupakan istri dan calon istri yang tidak jadinya, Rangga sangat sulit melupakan mereka dengan kesibukannya sebagai dokter dan berperan sebagai ayah serta ibu untuk putrinya.
terkadang Rangga lelah, ia bukan lah lelaki yang kuat yang seperti orang lihat Rangga kadang rapuh, tapi semenjak di kampung ini, rasanya beda Rangga menemukan semua orang menjadi saudaranya, Ia sangat di hargai dan di hormati apa apa ia tak pernah beli jika ada pasien selalu membawakan nya buah buahan , ikan dan sayur mayur, begitulah Rangga dan Maya seperti menemukan keluarga baru di kampung ini.
Maya juga senang di kampung ini memiliki teman yang banyak tak seperti di kota ia selalu di ejek karena tak memiliki ibu , Maya yang dulu suka jajan ke mall sekarang lebih suka jajan ke warung pa Sodik .
Maya rela harus kehilangan kamar mewahnya, bonekanya yang banyak karena di sini Maya bisa mandi di sungai bareng teman temanya, bisa bermain Enggrang dan masih banyak lagi Maya senang di sini sesekali Maya mengadu pada ayahnya.
..........
hari ini puskesmas padat sekali sepertinya kampung sedang di Landa diare mulai dari anak anak dan dewasa semua mengeluh diare karena akhir akhir ini air yang di pake warna keruh karena banjir hulu.
Rangga memeriksa pasien satu persatu namun Rangga kelimpungan pada akhirnya ia menelfon rumah sakit pusat untuk mengirim satu orang dokter lagi ke puskesmasnya, hanya 3 jam berlalu setelah ia menelfon sebuah mobil Avanza merah memasuki halaman puskesmas turunlah seorang lelaki berparas tinggi semampai , ia bergerak melangkah memasuki puskesmas dengan wajah yang tak suka .
ia mengedarkan pandangannya pada penjuru puskesmas seperti ia tak terima di tempatkan di sini, ia berlalu semua orang yang berpapasan dengan nya melempar senyum lalu senyuman itu di tarik mengganti dengan wajah yang jutek .
ia masuk di mana dokter Rangga dalam kelimpungan saat Rangga melihat Tama ia tersenyum dan mulai memperkenalkan Tama pada masyarakat di sini.
"perkenalkan ibu-ibu bapak-bapak ini adalah dokter Tama iya di sini akan menjadi partner saya untuk membantu di Puskesmas ini ".
dokter Tama semua warga di sini memakai BPJS gratis, dan kita sudah seharusnya membantu mereka, Tama mulai mengobati pasien dengan wajah yang di tekuk kadang ada pasien yang tak mau di bantu olehnya karena takut di suntik mati katanya ' .
Rangga hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan Tama seperti itu, sepertinya ia salah mengirim orang ke kampung ini.
setelah semua selesai dan pasien telah pulang ke rumah masing-masing dokter Rangga mulai menemani dokter Tama untuk melihat perumahan yang akan ia gunakan selama di kampung ini, karena dokter Tama bertugas selama 1 bulan observasi di kampung ini semoga diare cepat berlalu.
dokter Tama Dan dokternya sama-sama beriringan menuju belakang Puskesmas dan Rangga mulai memperlihatkan perumahan yang kosong pas di samping perumahan miliknya.
__ADS_1
sore hari Tama merasa jengah di dalam kamar saja ingin jalan jalan menelusuri kampung ini siapa tau ada yang bening bisa di ambil mainan batin nya.
sama meminjam motor dinas pada Puskesmas dan mulai mengelilingi kampung ini ia sangat penasaran apa sih keistimewaan kampung ini sehingga Rangga yang terkenal sebagai dokter teladan bisa betah di kampung ini.
Rangga yang naik motor dan melihat-lihat kampung sesekali warga melihatnya dengan tatapan tak suka karena warga telah mendengar cerita dari beberapa warga yang telah dari Puskesmas bahwa kampung ini kedatangan seorang dokter yang jutek.
sama sepertinya mendengar suara air terjun, iya malam ada air terjun di sebelah sana dan mulai mendekati air terjun itu, namun saat dia memarkirkan motornya tak sengaja ia melihat seorang gadis yang cantik sedang duduk di atas batu dan menghadap pada air terjun itu sedang mencuci pakaiannya.
Tama mulai mendekat dan ia ingin basa-basi pada perempuan yang ada di hadapannya ini, wanita itu pakai adalah yang sedang mencuci bajunya di sungai ini.
memang terbiasa mencuci baju di waktu seperti ini karena pagi dan siang hari ia sangat sibuk hari ini kan dia libur mengajar mengaji di masjid karena dia memang selalu meluangkan waktu untuk mencuci pakaiannya, rumah Ica memang tak memiliki saluran yang langsung dari sungai karena ia pikir Ia hanya tinggal seorang diri dan sungai pun tak jauh dari tempat tinggalnya Icha sudah biasa di sungai sendiri karna jika warga di sini sudah mengenal Icha.
Icha berbalik dan melihat Tama, begitu pula dengan tama yang memasang senyuman manis ke arah Icha.
Icha lalu menundukkan pandangannya ia sadar bahwa bajunya telah basah meski ia telah memakai jilbab namun baju yang basah telah menggambarkan tubuhnya yang menerawang tiba-tiba Icha mengambil sarung untuk menutupi tubuhnya.
sama semakin dekat dengan senyuman seperti orang yang mendapatkan bidadari, Tama semakin mempercepat langkahnya dan dekat dengan keberadaan Icha, Icha yang takut karena ia baru melihat lelaki ini ia belum tahu tentang berita warga yang menceritakan dokter ganteng yang jutek .
'' kamu siapa ?
''perkenalkan saya Tama dokter baru yang bertugas di Puskesmas di kampung ini.
''oh terus, apa yang membuatmu datang kemari bukan ke tempatmu di puskesmas Celetuk Icha yang tak suka karena lelaki ini berani-berani memandang dirinya sedangkan warga di sini jika melihatnya sangat menentukan pandangannya begitupun dengan Icha ''.
Tama mulai memperlihatkan senyum yang seakan menerkam dirinya, Tama semakin dekat dan berkata .
Icha hanya tersenyum kecut, sepertinya lelaki ini ingin minum kudanya namun kali ini lelaki ini salah alamat Icha bukanlah perempuan yang lemah meski tubuhnya itu kecil dan mungil tapi kekuatannya melebihi kekuatan seorang pria .
Icha mulai ingin melangkah pergi dengan bakul yang di dalamnya telah terisi pakaian yang bersih telah ia cuci.
Icha berjalan dan melewati begitu saja dokter Tama , Tama pun murka dan mencekal lengan tangan Icha sehingga bakul yang ia bawa jatuh.
Icha refleks dan berusaha melepaskan lengannya yang telah Tama genggam Icha pun tak sengaja menendang kaki milik tama
Icha lalu memungut bakul yang terjatuh, Tama yang tak puas masih berusaha menghadang Icha ia bangkit dan menarik baju Icha dari belakang karena keadaan baju Icha yang basah akhirnya Tama bisa dengan mudah merobek baju milik Icha , Tama yang semakin buas karena melihat tubuh Icha yang mulus dan pengait bra yang kelihatan karena jilbab Icha yang pendek membuat Tama mampu melihat tubuh bagian belakang Icha.
Icha pun tersentak, ia merasa lelaki ini sudah sangat kurang ajar ia meminta tolong namun tak ada yang mendengar, Icha berusaha lari dan Icha menutupi belakang tubuhnya dengan sarung .
'' mau kemana kamu? ayolah nggk usah jual mahal kita senang senang aja di sini Abang bakalan tanggung jawab ko' .
Icha yang sedari tadi tak ingin meladeni dokter gila ini, setelah sampai di jalan dan telah ada rumah warga meski tak banyak Icha mulai menyimpan bakulnya.
Tama yang semakin kalap mengejar tak sadar bahwa sekelilingnya telah ada rumah warga .
Tama mulai ingin meraih Icha lagi namun kali ini Icha benar benar murka Icha menerima tangan Rangga yang mulai meraihnya perintil tangan itu lalu ia banting Rangga ke rumput kemudian memberi sedikit pelajaran pada buah sakar nya.
ada seorang warga yang tak sengaja lewat karena ingin membawa sapinya minum ke sungai .
__ADS_1
warga itu mulai melihat Icha yang sekarang tengah kesusahan lari dari Tama.
warga mendekat .
'' nak Icha apa yang sedang terjadi.
'' dokter gila ini ingin menodai saya kang jawab Icha pada warga itu, namun Tama menyangkal ia katakan bahwa Icha berusaha menggodanya karena Icha tahu saya dokter.
warga yang telah mengenal Icha sedari kecil mulai , menarik kerah baju Tama dan memberi sedikit Bogeman pada mulut yang pernah sekolah tapi seperti isi comberan itu.
ia menarik Tama ke balai kampung semua orang melihat Tama di seret dan kejadian itu sampai pada telinga dokter Rangga.
Icha yang sedari tadi syok dengan kejadian ini ia pulang dulu ke rumahnya shalat ashar dan segera berjalan menuju balai kampung semua warga telah duduk di sana serta kepala kampung dan dokter Rangga yang bertanggung jawab karena lelaki itu adalah partner kerjanya.
bi Mina melihat Icha dan memeluknya semua warga terlihat geram , kepala kampung mulai persidangan ini.
Kapala kampung : " baru kali ini saya melihat dokter yang tak punya etika seperti anda .
Tama yang sedari tadi menahan sakit dan di dudukan pada kursi kayu yang keras ini ia memalingkan wajahnya saat di sebut tak punya etika ia pun mulai berbicara.
" andai saya mau banyak wanita di kota lebih cantik dari gadis miskin itu, ngapain saya perkosa dia di sungai nggk elit banget , Tama lalu ingin beranjak dari duduk nya.
Tama yang sedari tadi memperhatikan partner kerjanya itu ia mengepalkan tangannya sudah gatal menghajar mulut dokter comberan ini.
" jika tak suka dengan ku , aku bisa pergi dari kampung ini dan kalian tak akan lagi mendapat kesehatan gratis udah gratis ngeyel lagi .
semua warga menatapnya marah, namun Rangga yang tak kuasa menahan emosi berjalan dan memukul dengan sangat buas pada partnernya itu.
Tama tergelak, tak ada yang menolongnya termasuk kepala kampung yang segan dengan dokter Rangga dokter baik hati ini.
'' rupanya kamu masih sangat receh , sama seperti saat kuliah dulu, kamu tak berubah dongo' nya .
Tama tak bisa bicara lagi , Rangga menelfon rumah sakit pusat dan saat itu juga Tama di pecat tanpa hormat sekarang seluruh kampung memusuhi nya .
ia heran siapa gadis ini sampai semua orang di kampung ini melindunginya.
" kamu telah hampir menodai gadis desa yang kami jaga . ucap bi Mina
" dokter Rangga maaf nak' bawa teman mu ini keluar dari kampung ini kamu tak perlu bantuannya
" nak Icha adalah anak semua warga kampung ini di saat orang tuanya tiada nak Icha adalah tanggung jawab kami ucap kang Karman .
Rangga bergegas menyeret Rangga masuk ke dalam mobilnya akan ia antarkan Rangga ke kota setelah menitip Maya ke BI Mina.
semua warga benar benar murka , para ibu ibu kini memeluk Icha satu persatu mereka tak ingin ada warga dan orang lain menyakiti permata kampung mereka meski Icha hanya lulusan SMA Icha lah yang menolong mereka mengubah air sungai menjadi listrik.
warga kampung maju berkat Icha dan semua orang di kampung ini menyayanginya.
__ADS_1