
Hari-hari segera berlalu dengan cukup cepat, hingga Adelia sudah kembali pulih dan sekarang sudah bekerja kembali untuk Lucas.
Saat ini, ketika Adelia memasuki ruang kerja Tuan Mudanya itu, Adelia melihat ekspresi tidak enak di wajah Tuan Mudanya itu.
Memang, sejak kejadian sebelumnya, Adelia dan Tuan Mudanya itu, dalam situasi yang canggung.
Baik Lucas atau Adelia terlihat saling menghindari tatapan masing-masing.
Terutama Lucas, yang masih merasa sangat malu dengan mimpi yang sebelumnya dimilikinya.
Adelia mencoba untuk bersikap tenang, jelas menghindari satu sama lain dan menjadi canggung seperti ini bukanlah hal yang baik.
Jadi, memang Adelia sengaja kesini, untuk mencoba menghilangkan kecanggungan dengan Tuan Mudanya.
Namun sekarang, ketika menatap Tuan Mudanya memiliki ekspresi kesal karena sesuatu jelas membuat Adelia merasa bingung dan bertanya-tanya.
"Ada apa Tuan Muda? Apakah Anda menemukan masalah?"
Lucas cukup kaget dengan kedatangan Adelia itu namun segera mencoba menormalkan ekspresinya dan berkata,
"Ini soal insiden yang menimpa kita sebelumnya soal penyergapan itu aku sudah menyuruh anak buahku untuk menyelidikinya namun bahkan sampai sekarang dalang dibalik semua itu masih tidak ditemukan seolah-olah semuanya benar-benar bersih dan rapi,"
Baru setelah mendengar itu Adelia mulai memikirkan soal masalah insiden itu yang memang merupakan penyergapan yang ditujukan kepada Tuan Mudanya, jelas itu merupakan hal yang sangat berbahaya karena menyangkut nyawa Tuan Mudanya.
Jika sampai dibiarkan Siapa yang tahu kejadian apa yang akan ada kedepannya.
"Sebaiknya memang penyelidikan ini dilanjutkan lebih dalam siapa tahu bisa menemukan petunjuk, nanti Aku akan menyuruh orang juga untuk menggambar wajah salah satu orang yang menyerap kita,"
Lucas yang mendengar itu menjadi terkejut,
"Ah, benar juga kamu sempat melihat wajah salah satu dari mereka, sayangnya, kami semua tidak sempat melihat wajahnya karena para peyergap benar-benar langsung mengenakan topeng mereka,"
"Ya, aku kebetulan melintas wajah salah satunya Aku harap, ini bisa menjadi sebuah petunjuk penting,"
"Kamu benar, Mohon bantuannya Adelia. Aku ingin dalang dibalik semua ini segera ditemukan Siapa yang tahu jika hal ini ada hubungannya dengan kecelakaan yang menimpa Kak Theo,"
Ketika Lucas mulai memikirkan dan memanggil nama kakaknya itu jelas ekspresi kesedihan dan keputusan muncul di sana.
Adelia melihat itu, lalu mencoba memberikan beberapa penghiburan,
"Tidak apa-apa, kita pasti akan menemukan dalang dibalik semua ini. Namun yang lebih penting sekarang adalah keselamatan Tuan Muda untuk sementara waktu, sebaiknya Tuan Muda tidak perlu pergi-pergi dulu,"
Lucas yang mendengar itu segera berkata lagi,
"Tidak, aku tidak bisa hanya diam saja dan berada di kantor atau di rumah, ada beberapa hal yang harus aku urus, dan lagi, jika ada penyergapan lagi itu malah lebih bagus mungkin kita bisa menangkap salah satu dari para penyergap itu dan mulai mengintrograsinya, Aku pastikan Aku tidak akan ceroboh lagi,"
"Jagan seperti itu, jangan membuat Tuan Muda menjadi umpan, jika sampai hal buruk terjadi pada Tuan Muda, apa yang bisa kami lakukan tanpa Tuan Muda?"
Lucas yang mendengar nada kekhawatiran dari pelayan pribadinya itu segera tersenyum,
"Yakinlah Aku bisa menjaga diriku sendiri,"
Adelia yang melihat senyuman itu hanya merasa sedikit tersipu, ini adalah serangan tiba-tiba!
Senyuman Tuan Mudanya selalu menjadi sebuah senyuman memikat yang mematikan!
Benar-benar berbahaya!
Adelia jelas wajahnya sedikit memerah lalu mulai sedikit mengalihkan wajahnya.
"Ya, ya," kata Adelia dengan gugup.
Lucas sebelumnya tidak terlalu memperhatikan gerak-gerik gadis di depannya itu.
Namun sejak kejadian hari itu entah kenapa pandangannya terkadang tidak bisa lepas dari Adelia.
Walaupun dirinya juga akan merasa sedikit malu jika mengingat kejadian sebelumnya apalagi kejadian dalam mimpinya itu.
Mimpi malam itu benar-benar terlalu liar, mimpi dirinya melakukan hal-hal semacam itu dengan Adelia.
Dan bagaimana Adelia memanggil namanya, 'Lucas,' bukan Tuan Muda.
__ADS_1
Dan ekpersi Adelia yang memerah karena merasa malu ketika mereka melakukannya.
Dan sekarang, Adelia baru saja menujukan ekpersi malu-malu itu, wajahnya yang tiba-tiba menjadi sedikit memerah dan gugup itu, terlihat cukup menggemaskan dan lucu.
Lucas terlalu tenggelam dalam pikirannya itu, segera mencoba menenangkan dirinya untuk berhenti memikirkan hal-hal konyol dan tidak masuk akal.
Setelah, ada Ayah Lucas yang masuk ke dalam ruangan itu.
Dua orang itu, jelas segera mengembalikan ekspresi mereka dan bersikap tenang menyambut orang yang datang.
"Ada apa Ayah kesini?"
Max segera menunjukkan ekspresi dingin dan berkata,
"Aku memiliki tugas untukmu untuk menangkap penghianat, ini data penting dan lokasi terakhir Penghianat itu, jika dia melarikan diri, kamu habisi saja dia,"
Ayah Lucas itu, segera melemparkan sebuah dokumen kemeja putranya itu.
Lucas, menatap dokumen itu dengan ekspresi terkejut, di sana ada laporan soal penyelundupan senjata yang mereka jual oleh salah satu anak buah mereka.
Yang sepertinya dia malah bekerja sama dengan kelompok lainnya, demi keuntungannya sendiri.
Lucas tahu, pada akhirnya dirinya memang harus turun tangan mengurusi hal-hal bermasalah seperti ini, bisnis Keluarganya yang bermasalah.
"Baik, Ayah. Semuanya pasti akan aku bereskan hari ini,"
Max segera berkata lagi,
"Ya, kamu memang harus segera membereskan semua ini kamu tidak boleh mengecewakanku,"
Setelah memberikan perintah, Max segera pergi dari sana, namun sebelum Max pergi, dia melewati Adelia yang menyapanya dengan sopan.
Max Tentu saja tidak merespon sapa itu karena dia selalu tidak menyukai Pelayan Pribadi milik Putranya itu.
Adelia jelas tidak mempermasalahkan hal-hal ini.
Dan ketika Max pergi, tinggal mereka berdua sekarang.
Adelia menunjukkan ekspresi ragu dan segera berkata,
"Apakah tidak apa-apa?"
Ya, Lucas sejujurnya tidak begitu menyukai untuk mengotori tangannya dan harus berlumuran darah membereskan orang semacam ini, namun ini adalah perintah dari ayahnya yang tidak bisa dirinya tolak, demi rencana masa depannya nanti, jadi bahkan walaupun saat ini dirinya harus berlumuran darah dirinya akan tetap melakukannya.
Lucas mengambil pintol dari laci mejanya, menatap pistol itu tanpa ekspresi, dan segera memasukannya ke dalam salah satu tempat senjata di jas miliknya.
"Tidak apa-apa aku akan menahan semua ini,"
Adelia hanya bisa menatap khawatir, ketika melihat Tuan Mudanya seperti ini.
Karena Adelia tahu, Tuan Mudanya seperti apa, dia memiliki masalalu yang sulit, soal kematian Ibu Kandung Tuan Muda, Masalalu Ibu Kandung Tuan Mudanya, juga soal Kecelakaan yang menimpa Kakaknya Theo.
Tuan Mudanya, harus menghadapi semua itu sendirian, dan menanggung beban berat itu.
Adelia hanya bisa mendukungnya sebisa dirinya.
####
Sore itu, di salah satu gang, terlihat beberapa orang berkumpul di sana.
Lucas menatap kearah beberapa orang yang ada di hadapannya itu.
"Jadi begitu, setelah ketahuan kalian akhirnya menunjukkan jati diri kalian? Dasar Penghianat!"
Salah satu Pria disana, terlihat menatap Lucas dengan ekpersi agoran.
"Hahaha... Tuan Muda Lucas, Kamu pikir kamu akan bisa menangkapku?"
Lucas segera tersenyum dan berkata lagi,
"Mari kita lihat apakah bisa?"
__ADS_1
Lucas hanya membawa sedikit bodyguard, dan lawan mereka cukup banyak.
Adelia tentunya tidak ada disana, karena Lucas yang menyuruhnya pergi dari tempat berbahaya itu, namun dari arah Adelia bersembunyi, dia bisa melihat semua adegan itu.
Adegan pertarungan berbahaya menggunakan senjata Api.
Beberapa bodyguard Tuan Mudanya, ada yang sempat terkena tembakan.
Namun tidak ada sedikitpun yang mengenai Tuan Mudanya, malahan, semua tembakan Lucas berhasil mengenai sasaran.
Sekarang bisa terlihat, walaupun Lucas di keroyok, Lucas ada di pihak yang di untungkan.
Darah dari korban tembakannya, mengenai baju Lucas, dan tangannya, membuat Lucas merasa sedikit jijik, namun dirinya menahannya.
Dan sekarang hanya ada satu orang yang harus dirinya tangkap, dia mencoba melarikan diri.
Adelia, diam-diam membututi Tuan Mudanya itu, untuk memastikan keamanannya.
Lucas sendiri fokus mengejar target, sampai mereka tiba di salah satu gang kecil. Lucas berhasil menembak tangan dan kaki Pria itu.
"Kamu pikir kamu masih bisa lari lagi?"
Pria itu, yang saat ini terluka lalu segera bersujud dan memohon,
"Tolong Ampuni Aku Tuan Muda..."
"Kamu pikir keluargaku akan memaafkan penghianat sepertimu? Jangan terlalu berharap," kata Lucas sambil menunjukkan ekpersi dinginnya, yang semakin membuat Pria itu ketakutan.
Dan dengan sekali tembakan, Lucas mengenai organ tubuh Pria itu, yang membuatnya kesakitan, dan kehilangan kesadarannya.
Tepat setelah itu, Adelia dan para anak buah Lucas yang lain muncul.
"Kalian bereskan semua kekacauan ini,"
Adelia sudah siap dengan baju ganti untuk Tuan Mudanya itu. Pertama Adelia memberikan saputangan untuk Lucas membersihkan wajahnya yang penuh dengan darah.
"Ini Tuan Muda,"
"Sepertinya aku harus mandi, noda darah ini tidak akan hilang jika aku tidak mandi,"
"Ada sebuah kamar mandi umum, di dekat sini,"
"Ya Mari segera ke sana,"
Namun sayangnya, mereka tidak sadar jika saat ada di gang itu, ada seseorang yang melihat kejadian itu.
Itu adalah seorang gadis tertentu, yang saat ini memiliki ekpersi ketakutan, dia segera mencoba pergi dari sana, berniat muntah, karena semua adegan mengerikan yang dilihatnya.
"Ukhh... Dia.... Dia memang Lucas Liones, dari Keluarga Mafia Kejam itu, sudah Aku duga dia memang seperti Kelurganya yang kejam, mengambil nyawa orang tanpa ampun seperti itu,"
Gadis itu yang ketakutan, mencoba menenangkan dirinya dan pergi ke salah satu taman dekat sana.
Dia mulai, mencoba menghilangkan rasa takutnya, dan minum Air putih.
Butuh waktu cukup lama, sampai gadis itu bisa memulihkan kondisinya, setelah adegan mengerikan yang di lihatnya.
Gadis itu segera berniat pergi dari taman itu dengan buru-buru, sampai dia melewati sebuah kamar mandi tertentu, saat Lucas sudah selesai dengan urusannya.
Gadis itu yang tidak melihat jalan, tidak sengaja menabrak Lucas.
"Eve? Sangat kebetulan kita bertemu di sini," kata Lucas dengan senyumannya, ketika tidak sengaja malah bertemu dengan gadis yang disukainya itu.
Adelia yang ada disampingnya, menatap gadis cantik yang di sapa Tuan Mudanya itu.
Jadi itu, Eve Letizia Amory?
Eve sendiri, yang melihat Lucas tersenyum kearahnya, tiba-tiba merasa merinding ketakutan.
"Lu... Lucas..."
"Apakah kamu tidak apa-apa?"
__ADS_1
Lucas mencoba membantu Eve untuk berdiri, dengan tangannya, namun Eve langsung ingat itu adalah tangan yang sama, yang berlumuran darah sebelumnya, membuat Eve secara refleks menepis tangan itu.