Pelayan Pribadi Ekslusif Milik Tuan Mafia

Pelayan Pribadi Ekslusif Milik Tuan Mafia
Episode 33: Bimbing


__ADS_3

Lucas akhirnya memutuskan untuk masuk ke dalam ruangan itu.


Tatapan matanya segera bertemu dengan tatapan Adelia, yang cukup terkejut ketika melihat Tuan Mudanya ada disana.


Alfano juga melihat kedatangan Lucas selalu segera berkata dengan senang,


"Lucas, kamu lihat? Adelia akhirnya sadar!! Ini benar-benar hari yang baik!"


"Ya, kamu benar," kata Lucas, lalu tatapannya kembali menatap ke arah Adelia.


Dan segera berkata pada Adelia,


"Bagaimana keadaan mu?"


Adelia yang tiba-tiba ditanya itu segera mengangguk dan berkata,


"Ya, aku sudah cukup baik-baik saja sekarang, tidak perlu terlalu cemas,"


Berikutnya, ada keheningan diantara mereka berdua, Adelia jujur tidak tahu harus berkata apa ketika melihat Tuan Mudanya.


Jika boleh jujur, Adelia ingin memeluk Tuan Mudanya itu, dirinya sangat bersyukur bisa selamat dan bisa kembali menatap ke arah Tuan Mudanya itu.


Jujur, disaat dirinya pikir dirinya tidak akan selamat, hal yang ada dalam pikirannya adalah wajah dari Tuan Mudanya itu.


Betapa dirinya ingin melihat wajah Tuan Mudanya itu...


Yang juga mengingatkannya pada sebuah pertanyaan yang pernah Tuan Mudanya tanyakan.


'Apakah kamu tidak menginginkan untuk memiliki ku?'


Jawabannya sebenanya sudah sangat jelas, dirinya ingin memiliki Pria itu seutuhnya, bisa memeluknya, menciumnya...


Lalu....


Adelia yang tiba-tiba memikirkan hal-hal tidak senonoh itu segera menutup dirinya kedalam selimut.


"Aku... Aku pikir Aku butuh Istirahat,"


Lucas sendiri, tidak tahu masih harus berekspresi seperti apa ketika berhadapan dengan gadis itu segalanya terasa begitu canggung dan rasanya sangat aneh jika dirinya minta maaf tiba-tiba.


Lucas tahu, Adelia seperti apa, jika dirinya minta maaf, Adelia akan marah.


"Tentu saja, kamu bisa Istirahat dulu, nanti aku akan segera memanggil dokter untuk segera memeriksa kondisi mu, lagi pula kamu baru saja sadar," kata Alfano.


Lalu, Alfano segera menuju ke sofa, begitu pula Lucas.


Lucas sekarang mulai kehilangan momentum bahwa dirinya tadi sempat ingin izin meminta pergi karena ada ukuran.


Rasanya, dirinya masih tidak tega untuk meninggalkan Adelia hanya bersama dengan Alfano.


Dirinya tidak ingin mereka menjadi dekat...


Apakah ini hal-hal yang terlalu egois?


Lucas sendiri merasa tidak tahu.

__ADS_1


Setelah beberapa saat, telepon Lucas kembali segera berbunyi.


Lucas pikir, itu dari Kakeknya lagi.


Dirinya baru saja ingin mencoba mencari alasan lagi agar bisa menunda perjalanannya ke luar kota.


Namun ternyata, telepon itu berasal dari rumah sakit tempat Kakaknya dirawat.


Lucas yang melihat nomor telepon itu segera merasa tidak nyaman.


Apakah karena tadi dirinya berbohong pada Kakeknya, bahwa Kakaknya yang ada di Rumah Sakit dalam masalah?


Dan sekarang, Kakaknya benar-benar ada dalam masalah?


Alfano yang melihat Lucas itu memiliki ekspresi pucat segera bertanya karena khawatir,


"Telepon dari siapa itu kenapa ekspresimu menjadi seperti itu?"


"Dari Rumah Sakit tempat Kakak di rawat,"


Alfano tahu juga soal kondisi Kakak Lucas, Theo, Alfano juga kenal dengan Kakak Lucas cukup baik.


"Angkat saja, mungkin itu hanya pemantauan kondisi rutin Kamu jangan terlalu banyak berpikir yang macam-macam," kata Alfano mencoba menengakan.


Lucas segera mengangkat teleponnya, Alfano benar, mungkin saja itu hanya laporan kondisi rutin kakaknya.


Namun hal yang dirinya dengar dari ujung telepon adalah sesuatu yang mengejutkan.


"Kakak sudah sadar?"


Adelia yang ada di tempat tidur itu jelas mendengar pembicaraan di telepon tentang Kakak Tuan Mudanya sadar.


Tentu saja Ini adalah hal yang bagus.


Telepon itu, segera ditutup.


Dan sekarang, tatapan Lucas menatap kearah Adelia.


Namun sebelum Lucas mengatakan apapun Adelia sudah berkata duluan,


"Tuan Muda sebaiknya segera menemui Kakak Tuan Muda, Aku tidak apa-apa ditinggal di sini, sudah ada Tuan Muda Alfano,"


Lucas lalu menatap Alfano, yang langsung mengangguk.


Lucas akhirnya tidak memiliki pilihan selain meninggalkan mereka berdua bersama.


Lagi pula memang lebih aman jika Alfano bersama dengan Adelia, jadi Adelia tidak perlu lagi terlibat hal-hal berbahaya dengan dirinya.


Lucas akhirnya segera memutuskan untuk pergi dari tempat itu.


"Alfano, tolong jaga Adelia untukku,"


"Kamu jangan khawatir aku pasti akan menjaganya dengan baik,"


Lucas tersenyum lalu segera keluar dari ruangan itu.

__ADS_1


####


Ketika sampai di Rumah Sakit, Lucas menatap ke arah kakaknya yang saat ini sudah sadar dan kata dokter kondisinya baik-baik saja.


Lucas senang, akhirnya Kakaknya pulih, Lucas saat ini mulai menangis, menatap Kakaknya itu, menangis karena begitu bahagia melihat kakaknya sadar.


"Kita belum bertemu sebentar Kenapa kamu sekarang menjadi cengeng?" Kata Theo dengan heran, menatap ke arah adiknya yang menangis itu.


"Kakak tidak tahu, ini sudah dua tahun...."


Theo lalu segera menatap kearah adiknya itu, dan segera memeluknya, mencoba untuk menenangkannya.


"Sekarang sudah tidak apa-apa, semuanya baik-baik saja, Kakak sudah sadar oke?"


"Aku benar-benar sangat takut, Kakak tiba-tiba kecelakaan seperti itu.... Dan bahkan kemarin Adelia masuk ke jurang juga,"


"Huh? Adelia kenapa?"


Sekarang, Lucas mulai menjelaskan soal kejadian yang menimpa Adelia, memang Lucas sedikit malu ketika bilang pada Kakaknya itu, soal bagaimana dirinya dan Adelia sempat di foto ketika berciuman itu.


"Jadi begitu, kalian akhirnya berkencan?"


Lucas yang mendengar komentar dari kakaknya itu segera menunjukkan ekspresi malu, dan mencoba untuk mengelak,


"Ini... Ini tidak seperti itu..."


Theo lalu terdiam sebentar sambil memikirkan sesuatu,


"Apakah Adelia akhirnya mengaku padamu?"


Lucas yang mendengar itu akhirnya menunjukkan ekspresi terkejut.


"Tunggu... Tunggu, Kakak tahu soal perasaan Adelia?"


Theo lalu segera menatap adiknya dengan ekspresi menyedihkan, seolah-olah merasa betapa tidak pekanya adiknya itu.


"Hah, kamu itu kalau sudah masalah cinta, sangat tidak peka bukan? Aku saja sudah sadar dari lama, tentang bagaimana Adelia menatapmu, dia itu selalu menyukaimu, dari dulu, hanya kamu yang ada di matanya dan aku pikir itu tidak berubah bahkan sampai sekarang,"


Lucas segera menunjukkan ekspresi terkejut ketika mendengar itu, seolah-olah tidak mempercayai apa yang kakaknya barusan katakan.


"Dia... Dia menyukaiku? Sejak kapan?"


Theo yang ditanya itu segera menggelengkan kepalanya,


"Kenapa kamu tidak tanya sendiri kepada orangnya?"


Lucas yang ditanya itu segera terdiam.


"Astaga, Lucas Kamu itu kenapa jadi seorang pria malah pengecut seperti ini? Jika kamu menyukai seseorang, sebaiknya segera kamu katakan saja, tidak perlu merasa gengsi atau malu seperti itu,"


"A... Apa yang Kakak katakan?"


Theo yang mendengar pertanyaan itu segera tersenyum dan berkata,


"Aku melihat, Bagaimana kamu menceritakan soal Adelia... Aku tahu, sepertinya hubungan kalian sudah berkembang lebih daripada yang aku kira, tidak lebih tepatnya, tentang bagaimana kamu membicarakan Adelia, kamu terlihat sudah memiliki perasaan padanya? Firasat ku bilang begitu,"

__ADS_1


__ADS_2