
Ini adalah hari yang baru, dan seperti hari-hari berikutnya, Adelia sudah bangun lebih pagi untuk melayani Tuan Mudanya.
Tuan Mudanya, sebenarnya tidak terlalu membutuhkan banyak hal di pagi hari, dia rata-rata penyiapan semuanya sendiri, jadi Adelia hanya menunggu di luar kamar tidur.
Sekarang, pintu kamar itu mulai terbuka.
Yang Adelia lihat adalah wajah Tuan Mudanya, yang sepertinya cukup pucat karena tidak bisa tidur.
"Tuan Muda begadang?"
"Itu benar Aku begadang, aku hanya sedang memikirkan soal bagaimana cara Aku mendekati Eve, apakah mungkin masih ada kesempatan?"
Adelia yang mendengar itu sebisa mungkin mencoba tetap tersenyum.
"Tentu saja, Tuan Muda, saya selalu yakin jika ada kesempatan,"
"Tapi kamu juga tahu, setelah penolakan pertama itu, Eve setelahnya memperlakukan ku dengan dingin, akan selalu menghindar untuk bertemu denganku, aku benar-benar tidak mengerti,"
"Emm, mungkin Nona Eve masih terpengaruh soal rumor tentang Keluarga Tuan Muda,"
Lucas terlihat terdiam sebentar lalu segera berpikir,
"Ya, itu mungkin benar, namun sebenarnya aku juga tidak tahu bagaimana cara untuk mendekatinya, aku benar-benar tidak memiliki pengalaman,"
Adelia terlihat sedang berpikir sebentar,
"Tapi bukankah Tuan Muda bilang jika sebelumnya kalian cukup dekat? Sering mengobrol bersama?"
"Ah, itu biasanya Eve yang mulai membuka topik pembicaraan, aku hanya mengikuti dan mendengarkan apa yang dia katakan,"
Adelia segera teringat, jika Tuan Mudanya ini, memang sedikit bicara, dia biasanya cukup pendiam, makanya orang-orang selalu salah paham dan menilai dia itu orang yang dingin.
"Jadi, mungkin Tuan Muda mulai harus mencoba lebih banyak aktif,"
"Namun aku tidak mengerti bagaimana caranya, apakan kamu memiliki nasehat? Apakah kamu pernah memiliki pengalaman jatuh cinta sebelumnya?
Pertanyaan itu, hanya di katakan Lucas dengan santai.
Namun, Adelia menjadi terdiam karena begitu binggung bagaimana cara menjawabnya.
Tapi jadinya juga tidak ingin terlihat terlalu memalukan karena tidak memiliki pengalaman semacam itu.
"Aku memilikinya, Aku pernah jatuh cinta sebelumnya,"
Lucas yang mendengar itu jelas segera terkejut.
"Kamu pernah jatuh cinta sebelumnya? Dengan siapa? Kenapa kamu tidak pernah memberitahuku hal penting semacam itu? Lalu Apakah sebenarnya kamu benar-benar sudah memiliki seorang Kekasih?"
__ADS_1
Adelia segera dibombardir dengan begitu banyak pertanyaan.
"Tuan Muda jangan salah, ini sebenarnya hanya cinta satu arah,"
"Apakah kamu pernah menyatakan cintamu?"
"Belum,"
"Lalu kenapa kamu sudah mengambil kesimpulan jika itu cinta satu arah?"
"Itu karena aku memiliki keyakinan yang cukup tinggi jika orang yang Aku suka tidak memiliki perasaan romantis sedikitpun padaku,"
Lucas yang mendengar itu segera merasa,
"Tapi bagaimana kamu yakin? Kamu kan belum pernah mengatakannya,"
Adelia yang di interogasi itu, merasa jika dirinya sepertinya salah menjawab.
Bukankah lebih baik dari awal dirinya bilang tidak pernah jatuh cinta saja?
Agar Tuan Mudanya tidak terlalu banyak bertanya.
"Dia menyukai orang lain,"
"Hmm, ini sedikit sulit. Tapi apakah orang yang kamu suka itu sudah jadian dengan orang yang di sukainya itu?"
"Emm, belum?"
Lucas yang mendengar itu segera tersenyum dan berkata,
"Kalau begitu, kamu masih memiliki kesempatan Adelia. Orang yang kamu suka belum menjadi milik siapapun, jadi kamu juga jangan menyerah dengan cintamu,"
Adelia ingin sekali berteriak jika orang yang dirinya suka tidak lain dan tidak bukan adalah pria yang ada di hadapannya.
Namun jelas dirinya tidak berani mengatakannya.
"Itu... Itu sedikit sulit,"
"Tapi kamu sendiri yang bilang padaku untuk tidak menyerah pada cintaku, namun Kenapa kamu terlihat putus asa pada cintamu?"
Adelia tidak tahu harus menjawab seperti apa ketika ditanya semacam itu.
"Ini... Ini sedikit berbeda dengan Tuan Muda,"
Sebelum Lucas bertanya lagi, ponsel Adelia segera berbunyi, ini adalah telepon dari pelayan lainnya yang sama-sama melayani Tuan Muda Lucas.
Adelia segera menjawab panggilan itu, yang mengatakan bahwa ada hal mendesak.
__ADS_1
Ketika mendengar itu ekpersi Adelia segera menjadi buruk.
Lucas juga melihat tentang perubahan ekskresi dari Pelayannya itu.
"Ada apa Adelia?"
"Tuan Muda Theo Baru saja masuk dalam kondisi kritis,"
Lucas yang mendengar itu jelas segera merasa.
"Tunggu? Bagaimana hal seperti itu bisa terjadi? Bukankah kondisinya stabil kemarin?"
"Sepertinya... Ada seseorang yang mencoba untuk mencelakakannya, para pengawal kita sepertinya sedikit ceroboh,"
"Sial. Mari kita segera ke sana,"
Dua orang itu segera menuju ke Rumah Sakit tempat Kakak Tuan Mudanya di rawat.
Sangat beruntung ketika mereka sudah sampai di sana masa kritis itu sudah lewat.
Tuan Muda Theo sekarang kembali pada tidur panjangnya, yang entah kapan akan bangun.
Ini sudah terjadi sejak dua tahun lalu.
Kecelakaan yang menimpa Tuan Muda Theo.
"Sial. Aku hampir saja kehilangan Kakakku,"
Ekpersi Lucas saat ini tengah menunjukkan sebuah kesedihan ketika menatap kakaknya yang saat ini tidak sadarkan diri dan terbaring, seperti itu.
Adelia menatap Tuan Mudanya itu, yang sekarang jelas tengelam dalam kesedihannya.
Bagaimanapun juga, Tuan Muda Theo adalah satu-satunya orang yang menjadi tumpuan Tuan Mudanya di Kelurga ini.
Seseorang yang paling berarti baginya, Saudara nya satu-satunya.
Melihat ekpersi itu jelas membuat Adelia tidak senang.
Jadi tanpa sadar, Adelia menarik Lucas dalam pelukannya.
"Tidak apa-apa Tuan Muda, semuanya pasti akan baik-baik saja. Tuan Muda Theo pasti akan segera sadar,"
"Tapi ini sudah dua tahun... Orang-orang itu selalu mengambil sesuatu yang berharga dariku, dulu adalah Ibuku, sekarang Kakakku... Seolah-olah aku ditinggalkan sendirian di dunia ini,"
"Tuan Muda bicara apa? Masih ada aku di sini yang akan selalu disisimu baik Sekarang atau nanti, Aku bersumpah, akan selalu berada di sisimu,"
"Sejujurnya aku juga merasa sangat senang memiliki kamu disisiku... Rasanya sedikit berat ketika aku hanya sendirian... Tidak sanggup menghadapi semua ini,"
__ADS_1