Pelayan Pribadi Ekslusif Milik Tuan Mafia

Pelayan Pribadi Ekslusif Milik Tuan Mafia
Episode 37: Sebuah Harapan (END)


__ADS_3

Ini adalah sebuah hari yang baru, tentu saja saat ini Lucas dalam keadaan baik-baik saja dan sekarang ada di sebuah apartemen, bersama Adelia yang duduk disampingnya.


Dua orang itu, saat ini sedang menonton salah satu siaran berita yang saat ini menunjukkan sebuah berita tentang bagaimana Putra ketiga Keluarga Liones sedang terlibat kasus penyelundupan senjata api.


"Berdaraskan laporan Kepolisian, kasus ini masih ditangani lebih lanjut dan masih sedang diselidiki tentang kebenarannya apakah ini hanya semacam salah paham atau memang benar-benar terjadi,"


Ada gambah dimana Deminic saat ini di bawa oleh Polisi untuk dimintai keterangan lebih lanjut.


Lucas yang berita itu jelas saja merasa cukup senang lalu segera meletakkan kepalanya ke pundak Adelia mencoba untuk bersikap manja.


"Lihatlah Adelia, satu persatu rencana kita berjalan dengan lancar,"


"Ya, Tuan Muda,"


Lucas yang mendengar itu segera menunjukkan ekspresi cemberut dan berkata lagi,


"Kenapa kamu masih menggunakan kebiasaan lamamu untuk memanggilku Tuan Muda? Sekarang kamu kekasihku, panggilah saja namaku,"


Adelia yang mendengar keluhan itu segera merasa cukup malu dan berkata dengan jujur,


"Aku masih belum terbiasa,"


Lucas yang melihat ekspresi malu-malu itu segera mendekatkan wajahnya, lalu memberikan ciuman singkat di bibir Adelia.


"Pfff... Kamu itu, harus mulai terbiasa setelah semua, lagi pula ini sudah dua minggu sejak kita berdua Berkencan,"


Adelia juga menyadarinya, tidak terasa sudah satu minggu berlalu sejak insiden kecelakaan itu, dan hal-hal benar-benar berjalan dengan baik.


Hal-hal yang tidak akan pernah Adelia duga.


"Seolah aku baru saja bermimpi tentang semua ini dan menjadi takut untuk bangun,"


"Adelia, ini jelas bukan mimpi ini adalah kenyataan sekarang aku ada di hadapanmu, dan Aku adalah milikmu,"


Adelia yang mendegar itu jelas merasa senang.


"Ya, Aku tahu. Ngomong-ngomong apa rencanamu untuk hari ini?"


Lucas yang ditanya itu segera terdiam sebentar seolah sedang berpikir,


"Bagaimana jika kita pergi berkencan?"


Adelia yang mendengar itu jelas merasa cukup kaget dan segera bertanya lagi,


"Emmm, Aku pikir bukankah rencana tuan muda untuk menjatuhkan keluarga Liones sedang berjalan? Aku rasa tidak ada yang lebih penting selain mengurus soal hal-hal itu,"


Lucas yang mendengar itu segera tertawa,


"Apa? Tidak ada yang lebih penting daripada kamu, ada kalanya kita harus bersantai sejenak,"


Adelia yang mendegar itu merasa sedikit tersipu, ekpresi yang membuat Lucas semakin tidak tahan.


Lucas lalu segera menarik Adelia pergi dari sana, dan sesuai rencana mereka kedua orang itu saat ini sedang akan pergi berkencan.


Ini dimulai dari mereka berdua menuju ke salah satu Mall populer di kota.


Adelia terkejut ketika melihat Lucas menjagaknya kesalah satu toko pakaian ternama.


"Adelia, sebenarnya aku inginkan kamu berapa hadiah namun kamu tahu aku tidak benar-benar tahu soal selera baju yang kamu suka bagaimana jika kamu memilihnya sendiri?"


Adelia yang mendengar itu jelas merasa ragu,


"Tapi bukankah ini terlalu berlebihan?"


Lucas jelas menjadi gemas ketika melihat sikap itu, lalu segera mencibut pipi Adelia.


"Kenapa kamu dari tadi bersikap canggung seperti itu sih? Kamu Kekasihku, tentu saja aku selalu berharap bisa memberikan yang terbaik untukmu, pokoknya pilih semua hal yang kamu suka di sana,"


Walaupun Lucas blang begitu, Adelia yang tiba-tiba disuruh memilih gaun-gaun indah itu jelas saja menjadi bingung, dan akhirnya Lucas menyuruh Adelia untuk mencoba berbagai macam pakaian.


Adelia yang sudah mencoba pakaian itu, segera keluar dari ruang ganti.


Lucas yang melihat Adelia mengenakan gaun itu, sepintas menjadi terdiam karena merasa terpesona dengan penampilan Adelia.


Ya, itu karena Adelia tentu saja sangat jarang memakai pakaian atau gaun-gaun indah jenis ini Adelia biasanya lebih suka memakaipakaian formal seorang Asisten, jika di rumah dia akan memakai pakaian pelayan.


Adelia yang melihat Lucas dari tadi diam itu, jelas menjadi gugup karena takut pakaian yang dipakainya itu tidak cocok dengan penampilannya.


Adelia sendiri merasa dirinya hanya gadis yatim piatu biasa, tidak pernah mengharapkan memakai pakaian mewah dan mahal semacam ini.


"Apakah terlihat aneh?"


Lucas yang mendengar itu segera tersenyum dan menggelengkan kepalanya, kemudia berkata,


"Tidak sama sekali, kamu jelas sangat cantik terutama ketika memakai baju itu,"


Adelia hanya bisa tersenyum canggung dan berkata,


"Ah, Tuan Mu.. Lucas, kamu terlalu berlebihan aku tidak merasa cocok dengan pakaian-pakaian semacam ini,"


"Kenapa? Jelas kamu terlihat sangat cantik ketika memakai semua pakaian kamu sangat cocok malah aku benar-benar suka ketika kamu memakai hal-hal seperti ini, namun bukan berarti aku bilang jika pakaian yang kamu pakai sebelumnya tidak bagus, hanya saja, Adelia, itu karena kamu cantik jadi kamu sama cocok memakai pakaian apapun,"


"Kamu sepertinya belajar membual kata-kata manis,"


Keduanya benar-benar menikmati kencan mereka yang indah hari itu, pergi ke mall, makan siang, menonton film di bioskop, sampai akhirnya Lucas membelikan Adelia sebuket bunga ketika mereka akan kembali pulang ke apartemen.


Adelia yang mendapatkan buket mawar merah itu jelas merasa senang, merasa jika hari ini adalah hari terindah dalam hidupnya bisa pergi dengan Tuan Mudanya yang sekarang menjadi Kekasihnya.


Seolah sebuah mimpi yang menjadi kenyataan, kebahagiaan yang tidak akan pernah Adelia kira.


Adelia benar-benar berharap jika hari-hari indah ini akan terus berjalan dengan damai.


Namun sayangnya, saat perjalanan pulang itu mobil mereka berdua segera dihadang oleh seseorang, atau lebih tepatnya oleh segerombolan mobil yang menghentikan Mobil yang mereka berdua tumpangi.

__ADS_1


Lucas yang melihat ke arah mobil yang menghadang mereka itu jelas merasa mobil itu familiar.


Lucas tentu saja memiliki banyak pengawal yang mengikutinya bahkan sempat memanggil bantuan.


Hal-hal seperti ini kurang lebih sudah diperhitungkan dengan baik.


Lucas lalu segera keluar dari mobilnya dengan tenang, dan pemilik mobil yang menghadangnya itu juga segera keluar.


Disana, ada seorang Pria parubaya dan seorang wanita yang mulai keluar dari mobil.


Lucas yang melihat mereka berdua segera mendekat dan tersenyum sambil memberikan salam,


"Ayah dan Ibu? Kenapa kalian di sini untuk menemuiku apakah ada sesuatu yang penting?"


Pria itu, Max Liones Ayah Lucas yang bersama dengan Ibu Tiri Lucas, Carlotte Liones, Max segera menujukan wajah marah dan berkata dengan dingin kepada putranya itu,


"Kejadian di Kota Y, yang membuat adikmu tertangkap itu apakah itu semua adalah rencanamu, Lucas?"


Lucas yang mendengar itu segera berkata,


"Aku jelas tidak tahu apa-apa tentang itu, dan kenapa Ayah mencariku dan malah menuduhku?"


Carlotte yang menata putra tirinya itu segera mengelak langsung segera brtksts dengan marah,


"Lucas! Jika bukan kamu lalu siapa? Kamu sudah tidak perlu bersikap sok tidak tahu semua bukti jelas mengarah padamu jika kamu yang menghancurkan soal itu kepada polisi,"


Lucas lalu segera tersenyum lagi dan berkata,


"Lalu kenapa dengan itu?"


Max yang mendengar pengakuan dari putranya itu hendak menampar putranya namun Lucas sudah menepis tangan Ayahnya itu.


"Lucas! Sekarang kamu benar-benar bersikap sangat berani bukan?"


"Apa? Kamu tidak berhak untuk menyentuh wajahku atau melukaiku sedikitpun kamu adalah seorang pria yang bahkan tidak bisa melindungi istri dan anaknya sendiri tidak berhak bersikap seperti seorang ayah di depanku yang mencoba mengajari putranya,"


"Apa yang kamu katakan?"


"Hah, Tuan Max Liones, aku tahu bahwa anda itu tentu saja tidak cukup bodoh, soal kematian Almarhum Ibu Kandungku, soal penyebab kecelakaan itu jelas kamu pasti tahu penyebabnya namun memilih pura-pura tidak tahu,"


Max yang mendengar putranya mulai membahas hal-hal di masa lalu itu segera berkata dengan dingin,


"Apa? Kamu mulai membahas soal wanita gila itu? Dia sudah kehilangan kewarasannya, itulah kenapa dia celaka itu adalah hal yang pantas untuk dia dapatkan,"


Lucas yang mendengar itu segera dipenuhi kemarahan namun dirinya tahu harus menahan diri, hanya berkata,


"Itukah kenapa Anda meninggalkan Aku dan Kak Theo? Membiarkan kami berdua disiksa di bawah pengawasan Kakek sejak lama,"


"Semua orang juga tahu siapa penguasa keluarga Liones,"


Lucas yang mendengar itu segera tertawa dan berkata,


"Hahaha, ternyata kamu Pria pengecut!"


"Lucas, jaga bicaramu di depan ayahmu atau kamu itu sudah menjadi anak yang durhaka? Atau kamu seperti itu karena rayuan dari Pelayanmu itu? Hah, Aku sempat mendengar jika kamu memiliki hubungan dengan pelayan pribadimu sendiri, dan setelah aku lihat ternyata benar ternyata kamu juga termakan oleh rayuan dari pelayanmu itu, lihatlah gadis pelayan murahan itu, dia sekarang memakai gaun yang indah dan perhiasan mahal astaga, Lucas kamu benar-benar ditipu oleh seorang wanita," kata Carlotte sambil menatap Adelia.


Lucas yang mendengar tentang bagaimana Adelia malah dihina itu jelas merasa marah,


"Apakah itu dikatakan oleh seorang wanita yang dulu merayu Ayahku dengan datang ke tempat tidurnya? Padahal jelas Ayahku dulu Pria beristri? Owh, astaga betapa murahan,"


"Lucas! Tutup mulutmu itu jadi! Apakah kamu sekarang berani membangkang? Kamu pasti sangat membenci ibu tiri dan saudara dirimu itulah kenapa kamu menjebloskan Deminic ke penjara?"


"Memangnya kenapa kalau Iya?"


"Lucas! Kamu harus tahu jika hal itu juga akan membahayakan keluarga Liones, kamu pikir kakekmu akan diam saja setelah tahu tentang itu?"


"Kakek dan Keluarga Liones? Hal-hal itu tidak penting sama sekali malah bagus jika keluarga Liones terlibat, hingga jatuh,"


"Lucas! Kamu sekarang mencoba memberontak dan berani pada Keluarga Liones?"


"Kenapa kalau Iya?"


Max segera menyuruh para pengawal dan anak buahnya itu untuk segera menangkap putranya itu karena dicurigai memiliki rencana yang tidak benar dan akan di introgasi.


Namun Lucas tentu saja sudah siap dengan para pengawalnya itu.


Masing-masingpengawal dari pihak Ayah Lucas dan Lucas masing-masing sudah membawa pistol dan mengarahkannya hadapan masing-masing.


Max tentu saja segera berteriak dengan marah pada pengawal Lucas.


"Lucas adalah penghianat Keluarga Liones! Dan kalian semua adalah pengawal yang bekerja di Keluarga Liones, jadi turunkan senjata kalian atau kalian semua tahu akibatnya,"


Namun tidak ada dari pihak Lucas yang menurunkan senjatanya, Lucas malah mengeluarkan senjatanya yang menodonhkannya pada Ayahnya.


"Lucas kamu...."


Di tengah keributan itu, Max tiba-tiba mendapatkan sebuah telepon dari anak buahnya, Lucas tentu saja masih diam karena dari pihak ayahnya itu juga belum melakukan tembakan dan tidak berniat untuk memprovokasi lebih dalam.


Hanya menunggu ayahnya itu mengangkat telepon karena mungkin kabar yang akan didapatkan adalah sesuatu yang sudah dirinya dan kakaknya rencanakan sebelumnya.


"Apa? Pabrik di Distrik A mengalami kebakaran bagaimana bisa? Tidak hanya disana, namunyang di kota B dan C? Gudang di Kota M di periksa Polisi? Dan masih ada banyak insiden bagaimana bisa hal-hal ini terjadi begitu tiba?"


Max jelas menjadi marah kepada bawahannya itu namun tatapannya langsung segera menatap ke arah Putranya Lucas.


"Lucas! Apakah itu semua perbuatanmu?"


Namun Lucas tidak memberikan jawaban hanya segera menyuruh Adelia masuk mobil dan segera mengarahkan pistolnya, orang pertaman yang dia tembak adalah Ibu Tirinya, tentu saja itu bukan bagian yang vital, karena terlalu mudah jika Ibu Tirinya mati begitu saja, tanpa lebih dulu merasakan penderitaan dan keputusasaan.


Terjadi pertempuran yang cukup sengit disana, namun akhirnya pihak Lucas yang menang.


"Lucas! Kamu jelas saja tidak akan lolos dari hal ini!"


Lucas yang mendengar kata-kata kemarahan dari ayahnya itu segera berkata,

__ADS_1


"Ah? Aku takut, apakah aku harus berkata seperti itu? Tentu saja tidak," kata Lucas lalu mulai mengarahkan pistol pada Ayahnya itu.


Lucas menembak, namun sehaga di buat meleset dan hanya mengenai rambut Ayahnya, membuat Max menjadi gemetar ketakutan.


Lucas tersenyum lagi dan berkata,


"Ini terlalu mudah jika kalian berdua berakhir seperti ini bukan? Mari nikmati pertunjukan ini sampai akhir," kata Lucas dengan wajah dinginnya itu.


Ketika sampai di mobil, Lucas merasa tangannya gemetar, hal-hal yang barusan dirinya lakukan adalah sebuah tindakan paling berani yang pernah dirinya lakukan.


Adelia jelas melihat tentang bagaimana tangan Lucas gemetaran itu, segera memegang tangan itu untuk mencoba menenangkannya.


"Lucas, kamu sudah melakukannya dengan cukup baik sekarang tidak perlu khawatir atau cemas lagi ini semua sudah direncanakan bukan?"


Lucas yang mendengar kata-kata penuh semangat itu langsung segera menarik Adelia kedalam pelukannya.


"Aku benar-benar sangat senang memilikimu sebagai Kekasihku, sesungguhnya ini semua berkat kamu aku memiliki keberanian untuk akhirnya bisa mengambil langkah ini, kamu adalah seseorang yang memberiku sebuah harapan agar aku bisa melangkah maju untuk semua rencana ini, semua karena ada kamu disisiku, Terimakasih Adelia... Aku selama ini selalu kuat menghadapi keluarga ini bahkan ketika aku ada dalam titik terendahku, kamu selalu bisa membuat aku tetap kuat agar aku bisa terus berharap agar maju,"


Adelia yang mendengar kata-kata itu hanya segera membalas pelukannya dan berkata,


"Sejujurnya, Lucas kamu adalah orang yang selalu memberikan Aku semangat dan harapan sampai Aku bisa bertahan seperti ini, bahkan ketika Aku masa pelatihan yang sangat melelahkan dulu, bahkan ketika menjadi Pelayan juga, kamu dan sikap ramahmu terhadapku yang menganggap aku sebagai manusia, hal-hal itu selalu memberiku sebuah harapan untuk terus maju,"


Lucas yang mendengar itu, sebenarnya tidak pernah mengira jika gadis yang ada dalam pelukannya ini menganggap dirinya lebih daripada yang dirinya kira.


Ya, mungkin mereka berdua memang saling menguatkan selama ini, untuk bisa bertahan di Keluarga Liones.


Masing-masing, selalu memberikan harapan satu sama lainnya agar terus bisa mengamil langkah maju.


"Ya, Adelia... Aku sangat beruntung memilikimu, Aku sungguh sangat mencintaimu,"


"Aku juga mencintaimu,"


Dua orang itu, saling berpelukan satu sama lain, cukup lama, menikmati Waktu mereka saling berbagi kasih bahkan walaupun situasinya saat ini tidak terlalu mendukung.


Sampai ponsel Lucas berbunyi, dan Lucas melepaskan pelukannya.


Adelia menatap kearah ponsel Lucas yang ada nama Theo disana.


"Ya, Kak, ada apa? Apakah semuanya berjalan lancar?"


'Tentu saja, sekarang Aku sedang menuju ke tempat persembunyian Kakek, rencana kita sebentar lagi berjalan dengan sempurna,"


"Aku juga sudah menangkap Ayah, lalu...."


'Ya, semua berjalan dengan baik, harusnya tidak lama lagi, kita berdua bisa mengalahkan Keluarga Liones,'


Lucas yang mendengar kata-kata dari kakaknya di ujung telepon itu jelas merasa lega.


Karena semua rencana mereka Akhirnya bisa selesai berkat bantuan dari semua orang yang saling bergandeng tangan.


Dari Alfano, dan bahkan Eve yang ikut membantu berkat bujukan Alfano.


Rencana yang sudah disiapkan diam-diam lama akhirnya terjadi.


"Semuanya sudah baik-baik saja, hanya tinggal beberapa langkah lagi," kata Lucas dengan senang.


"Tentu saja, Aku selalu berharap jika kita berdua segera cepat lolos dari kekacauan ini," kata Adelia lagi.


Lucas lalu mengegam tangan Adelia, dan berkata,


"Tentu, mari kita merencanakan pernikahan kita setelah semua kekacauan ini berakhir?"


Adelia yang mendengar itu, lalu segera kaget, wajahnya menjadi memerah, karena tidak mengira akan muncul sebuah lamaran yang tiba-tiba.


"Lucas kamu...."


"Aku tahu ini bukan saat yang bagus untuk mengatakan itu, untuk melamar mu, aku selalu memiliki timing yang buruk bukan? Bahkan saat menyatakan cintaku, benar-benar sangat tidak romantis, namun tengah saja besok ketika kita menikah, pasti itu akan menjadi sebuah pesta yang meriah dan sangat romantis hingga kamu merasa menjadi gadis paling beruntung di dunia karena menikah denganku,"


Adelia yang mendengar kata-kata jujur dari pria yang ada di hadapannya itu lalu segera tertawa, dan berkata,


"Kamu selalu bisa membuatku terkejut... Jadi, Aku akan menunggu ketika hari itu tiba,"


"Ya, ini tidak akan lama aku yakin dengan kamu berada di sisiku kita berdua akan bisa melalui semuanya,"


"Bahkan walaupun Aku hanya seorang Pelayan yatim piatu?"


"Status tidaklah penting, yang paling penting adalah cinta yang kita berdua miliki,"


Keduanya lalu segera saling bergandengan tangan, kembali untuk menguatkan satu sama lain.


Jika harapan selalu ada...


Bahkan saat ini...


Jika, mereka berdua selalu bersama-sama semua kemungkinan akan selalu ada.


Tidak peduli apa status mereka.


Adelia dan Lucas akan menemukan kebahagiaan yang mereka cari.


Dan mendapatkan harapan yang selalu mereka kejar....


...****************...


...Tamat...


...****************...


Catatan Penulis: Terimakasih atas dukungannya sejauh ini, makasih yang sudah baca sejauh ini,😊😊😊


Mari dukung Penulis di karya-karyanya lainnya,😆😆😆


Sampai Jumpa lagi, 🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2