
"Istirahat lah, aku akan suruh Pio menyalakan pemanas," ucap Albert sembari mengecup mesra kening Mastany.
Tak lupa kecupan kedua dia peruntukkan ke perut Mastany yang semakin membuncit saja.
"Kau begitu baik Albert," ucap Mastany sembari tersenyum kecil, namun sebenar nya dalam hati ia begitu tak suka saat berada di sisi Albert, terlebih setelah ia mengandung.
"Oh ya, apa aku boleh meminta mu malam ini?," tanya Albert dengan penuh harap.
Karna sejak kehamilan Mastany terkuak beberapa bulan lalu, Albert tidak lagi meminta bercinta setiap malam nya.
Hasrat dan nafsu nya begitu ia tahan demi kesehatan bayi yang ada di kandungan Mastany, yang bahkan ia tidak tahu sebenar nya siapa ayah biologis bayi itu.
Hal itu juga akhir nya berdampak baik bagi Pio, ia tak lagi kesakitan setiap hari nya karna harus melayani nafsu Albert yang tak pernah terpuaskan setiap malam tanpa jeda.
Mastany segera mengangguk pelan dan tersenyum menanggapi permintaan suami nya.
Membuat Albert begitu kegirangan hingga meloncat loncat seperti anak kecil sampai ia masuk ke dalam kereta nya lalu melaju cepat menuju ke dunia bisnis nya yang selalu penuh kesibukan dan tipu daya itu.
Saat tak sengaja mendengar itu semua, Pio langsung bergegas masuk ke dalam kamar Mastany.
"Kenapa kau menyetujui nya?, kau kan bisa menolak permintaan nya itu bukan?," seru Pio seketika itu juga.
Ia nampak terlihat kusut dengan perut yang juga membuncit.
Nampak nya ia juga tengah hamil saat itu.
"Dan kenapa aku harus menolak permintaan suami ku?," seru Mastany tetap mencoba senyaman mungkin bersandar di ranjang nya, sembari sesekali mengelus perut buncit nya.
Melihat semua itu, Pio merasa iri dan tak terima.
Mereka sama sama perempuan, biarpun dia bukan istri sah tuan Albert, tapi dia mengandung anak majikan nya itu, ia juga berhak setidak nya bersantai menikmati masa masa kehamilan nya.
"Setidak nya kau bisa menolak nya demi bayi ku ini?, dia juga butuh beristirahat seperti calon bayi mu itu," keluh Pio membuat Mastany geram dan langsung berjalan mendekati nya.
"Aku sudah menyuruh mu menggugurkan kandungan itu bukan!, aku tak suka ada penerus keturunan Kristos selanjut nya di dunia ini!, tapi kau tak mau mendengarkan ku!," sentak Mastany sembari menekan wajah Pio dengan kasar nya.
"Apa kau juga langsung melakukan perintah macam itu kepada bayi mu jika di perintah kan Umma?," ucap Pio membuat Mastany seakan di tampar saat itu juga.
__ADS_1
"Tutup mulut mu!, bayi ku tidak membawa dosa apapun, berbeda dengan bayi mu itu!, dan sejak awal kau melayani Albert hanya karna imbalan dari ku bukan?, kenapa kau tetap mempertahan kan bayi nya itu?," ucap lirih Mastany di telinga Pio sembari tangan nya yang sibuk mencengkram erat rambut Pio hingga membuat kepala Pio mendongak ke atas.
"Terlepas dari semua itu, dan bagaimana pun ia bisa tercipta, dia itu tetap darah daging ku dan aku ibu nya, aku akan mempertahankan dia selama aku hidup," sahut Pio membuat Mastany perlahan melepaskan cengkraman nya.
"Oke, fine!, kita lihat seberapa kuat kalian dalam kondisi seperti ini," ucap Mastany menarik Pio keluar dari kamar nya dan segera membanting pintu kamar dengan begitu keras.
Mastany yang masih di selimuti emosi.
Mencoba mencari cara untuk menggugurkan kandungan Pio sebelum Pio bertindak di luar kendali.
Terlebih setelah beberapa hari yang lalu, orang kepercayaan Mastany telah mengabarkan bahwa kondisi orang tua Pio mulai stabil.
Jangan sampai Pio berbalik menyerang ku dan nekat membongkar semua nya setelah mengetahui orang tua nya telah sembuh.
Pandangan Mastany langsung tertuju pada telfon rumah di atas laci kamar nya.
Ia segera meraih telfon itu dan segera menghubungi seseorang.
📱"Sabah Mastany, tumben kau menelfon ku?, kau dan bayi kita baik baik saja kan?," seru sebuah suara seketika saat panggilan Mastany berhasil terhubung.
📱"Yekka, bawa pesanan ku secepat nya, oke!," ucap Mastany begitu serius nya.
📱"Jika kau tak membawa nya!....", seru Mastany seketika di hentikan oleh Yekka.
📱"Oke, oke!, aku akan membawa nya!, tapi tolong jangan katakan ancaman konyol mu itu lagi," sahut Yekka seketika menutup sambungan telfon nya.
Kau akan rasakan jika berani menolak permintaan ku Pio, batin Mastany sembari memandang wajah nya di pantulan cermin.
Wajah yang begitu cantik namun tersimpan dendam yang begitu besar di balik nya.
Sementara di ruang kerja Albert.
Pio dengan sengaja menguping pembicaraan Mastany dengan Yekka dari telfon ruang kerja Albert.
Tangan nya begitu gemetar saat gagang telfon itu ia coba letakkan kembali di atas tatakan nya.
Ia langsung terduduk lemas di kursi kerja Albert sembari memegangi perut buncit nya yang mungkin tinggal satu bulan lagi menuju kelahiran nya.
__ADS_1
"Aku harus berhati hati malam ini," ucap Pio sembari mengelap keringat dingin yang mengucur di kening nya.
Â
"Kau siap hanny?," ucap Albert malam itu, bahkan sebelum ia beristirahat dari penat nya bekerja seharian.
Ia begitu tak sabar mencumbui istri nya malam itu.
Terlebih momen itu kini ia hanya bisa dapatkan sekali dalam satu minggu.
Ia sebenar nya semakin bergairah dari pada yang dulu setelah lawan beradu nya tengah dalam kondisi mengandung.
Seakan ia bisa merasakan sensasi yang lebih memuaskan saat beradu dengan perut buncit sang istri.
Yang tanpa ia sadari, perut buncit Pio lah yang selalu ia remas dan tekan setiap minggu nya.
Sedangkan Mastany terlihat bingung karna teh yang ia sediakan di laci kamar telah menghilang entah kemana.
"Aku sudah buang teh itu Umma, rencana mu pasti gagal malam ini," ucap Pio sembari mengintip mereka dari kejauhan.
"Mana teh stamina ku?," tanya Albert sembari melucuti kemeja nya sendiri.
"Tutup dulu pintu nya, pelayan kita mengintip," ucap Mastany membuat Pio kelabakan.
Sementara Albert dengan begitu geram nya segera bergegas mendekat dan menarik kerah baju Pio.
"Apa kau tak bisa menjaga pandangan mu itu,?, hah!, apa kau rindu dengan belaian seorang lelaki!," sentak Albert seketika membuat hati Pio begitu tersayat sayat.
"M- maaf tuan, tapi jangan pernah katakan hal seperti itu," ucap Pio sesenggukan sembari memegangi perut nya.
Ia seakan tak mau sang bayi mendengar kata kata kasar dari mulut ayah kandung nya.
"Aku benar bukan!, lalu kenapa kau bisa hamil tanpa suami?. Jika bukan karna istri ku yang kasihan memecat mu, aku sudah usir perempuan tak bermoral seperti mu!," sentak Albert sekali lagi, membuat sang jabang bayi menendang dengan keras nya seakan ia tahu rasa sakit yang sedang di alami sang ibu.
"Sudahlah Albert, dia hanya iri pada kita, lebih baik kau minum ini, aku sudah siapkan Vot*a ini untuk mu," ucap Mastany sembari tersenyum licik ke arah Pio.
Membuat tatapan Pio langsung mengarah pada sebotol Vot*a yang di bawa oleh Mastany.
__ADS_1
A- apa ini?, apa dia punya rencana juga dengan minuman itu?, harus nya aku sudah menggagalkan rencana nya, batin Pio begitu gelisah saat itu.