Pembalasan Queensany

Pembalasan Queensany
Bab 30.


__ADS_3

Tok..


Tok..


Tok..


Tok..


Ketukan pintu malam itu membuat Yekka kembali terbangun bahkan sebelum ia sempat memejamkan mata nya di atas ranjang empuk nya malam itu.


"Astaga!, aku begitu lelah hari ini, urusan pekerjaan, urusan Mastany, begitu membuat ku frustasi hari ini!, sekarang apa lagi ini?" keluh Yekka sembari berjalan ogah ogahan menuju pintu depan.


Saat pintu terbuka, Yekka begitu terkejut saat melihat Mastany segera berlari masuk ke dalam rumah dengan begitu ketakutan.


Namun Yekka di buat makin terkejut saat melihat pisau berkarat ada di genggaman Mastany saat itu.


"Mastany?, kau tak apa?," tanya Yekka sembari mencoba mengambil pisau berkarat yang ada di genggaman Mastany.


Yekka begitu takut, Mastany akan berbuat nekat karna tekanan keadaan yang menimpa nya akhir akhir ini.


Saat Mastany sadar bahwa Yekka bereaksi ketakutan saat melihat pisau di tangan nya.


Mastany segera melempar pisau itu jauh dari mereka dan segera berlari memeluk Yekka.


Satu satu nya orang yang bahu nya bisa ia pakai untuk bersandar.


"Di- dia!," seru Mastany seakan sulit untuk sekedar menyampaikan suatu hal yang begitu membuat nya ketakutan saat itu.


"Tenanglah!, apa pun itu kau sudah aman di sini, oke!," seru Yekka mencoba semakin erat memeluk Mastany.


"Wanita itu!, wanita itu kembali Yekka!," seru Mastany begitu ketakutan hingga tubuh nya tak henti henti nya gemetar ketakutan.


"Siapa?, siapa wanita yang kau maksud?, apa pelac*r itu?," tanya Yekka mencoba mencerna semua kekhawatiran dalam diri Mastany.


"Bukan, bukan dia. Pio!, Pio telah kembali!," seru Mastany sembari mengintip keluar rumah, ia begitu takut Pio mengikuti nya hingga ke rumah Yekka.


"Kenapa kau jadi begitu takut hanya dengan Pio Mastany?," tanya Yekka begitu heran dengan sikap Mastany saat itu.

__ADS_1


"Di- dia mungkin ingin membalaskan dendam nya pada ku Yekka!, dan dia!, bayi nya!," seru Mastany meracau tak karuan hingga membuat Yekka semakin kebingungan.


"Katakan dengan jelas Mastany!, sebenar nya ada apa dengan mu?," seru Yekka sembari mengguncang kedua bahu Mastany demi mendapatkan fokus dari Mastany saat itu.


"Bayi nya, bayi nya sungguh mengerikan Yekka!," seru Mastany dengan mata yang terus berderai air mata mengingat pertemuan nya dengan Pio beberapa jam yang lalu.


"Tunggu, tunggu!, kau bilang bayi Pio meninggal saat dilahirkan bukan?," seru Yekka mencoba meluruskan semua nya.


"Itulah yang ku maksud Yekka!, bayi nya itu sudah membusuk, bahkan sudah hampir tinggal tulang belulang saja saat aku melihat nya barusan!," seru Mastany tak henti henti nya meracau ketakutan.


Penjelasan dari Mastany begitu membuat Yekka tercengang tak percaya.


Bagaimana dia bisa mempertahan kan bayi nya yang sudah meninggal?, bahkan ia memperlakukan nya layak nya seorang bayi yang masih hidup. Aku merasa Pio menyimpan dendam besar kepada Mastany akan kematian anak nya itu, hingga ia bersikap tak wajar seperti itu, batin Yekka tak tega melihat Mastany terus gelisah ketakutan sepanjang waktu.


"Sudahlah, aku akan coba cari dia dan selesaikan semua masalah ini, oke," ucap Yekka mencoba menenangkan Mastany walaupun dalam hati nya Yekka juga merasa was was setelah itu.


Tak menutup kemungkinan, keselamatan diri nya pun akan ikut terancam dengan kembali nya Pio malam itu.


"Selama ini ia memakai cadar untuk lolos dari pencarian kita Yekka!," seru Mastany begitu tak menyangka Pio akan sepintar itu untuk menghindar dari mereka.


Mendengar penuturan Mastany, Yekka langsung teringat akan kejadian roti beracun yang hampir mencelakai nyawa William, ayah Mastany tepat di malam itu.


"Berjanjilah kau akan menemukan nya Yekka!, aku begitu takut," seru Mastany begitu nampak ketakutan, rasa takut yang tak pernah ditunjukkan oleh diri Mastany sekalipun.


"Aku berjanji. Dan untuk saat ini sebaik nya aku antar kau pulang, orang tua mu pasti menunggu mu," ucap Yekka mencoba menarik tangan Mastany menuju ke kereta nya.


Namun, Mastany sedikitpun tak bergeming dari tempat nya.


"Apa kau masih ingin di sini?," ucap Yekka mengamati Mastany yang kini tengah berjalan menuju salah satu sudut rumah nya.


"Aku tak akan meninggalkan pisau ini di sini," ucap Mastany dengan cepat memungut pisau berkarat nya sembari berjalan melewati Yekka begitu saja.


Sebenar nya apa yang spesial dari pisau berkarat itu untuk nya?, batin Yekka memilih menyimpan rasa penasaran nya dalam hati dan kembali pada rencana awal nya untuk mengantar Mastany pulang malam itu.


---##--


Di sepanjang perjalanan, hanya hening yang terjadi di dalam kereta mereka.

__ADS_1


Bahkan semenjak Mastany mengaku bertemu Pio, setelah itu tatapan Mastany begitu terlihat kosong di setiap waktu nya.


"Syukurlah kau menemukan nya Yekka," seru Serril begitu lega saat mendapati Mastany telah pulang bersama dengan Yekka.


"Apa kau tidak pamit pada Ummi mu saat meninggalkan rumah Mastany?," tanya Yekka namun tak di hiraukan oleh Mastany.


Mastany perlahan berjalan menuju kamar nya tanpa memperdulikan siapapun yang ada di sana.


"Untung ada kau nak, saat Ummi mendapati kamar nya kosong, Ummi begitu khawatir dengan keselamatan Mastany, entah apa yang tengah dia pikirkan saat ini," seru Serril begitu khawatir dengan kondisi putri nya yang semakin mengkhawatirkan. Meskipun ia begitu kecewa dan marah terhadap sang putri, tapi jiwa keibuan nya begitu sangat menyayangi dan mengkhawatirkan Mastany lebih dari siapapun juga.


"Aku juga semakin khawatir dengan kondisi nya, ia bahkan tak seceria saat pertama aku mengenal nya," sahut Yekka sembari menghela nafas panjang.


"Apa kau punya saran untuk nya nak?," tanya Serril begitu berharap dengan sosok lelaki di hadapan nya kini.


"Esok aku akan coba membujuk nya menemui psikiater, Umma jangan khawatir, Mastany kita akan tersenyum kembali secepat nya," ucap Yekka seketika membuat perasaan Serril sedikit lega.


"Syukhron nak," ucap Serril sembari menyeka air mata nya.


Sementara di dalam kamar.


Mastany begitu terlihat frustasi dengan duduk di sudut kamar nya.


Ia benar benar takut Pio akan membuat anak nya atau orang tua nya bernasib sama seperti bayi nya.


"Tidak!, aku tidak bersalah apapun dalam hal ini!, jika dia berani menyentuh anak dan keluarga ku, aku pastikan dia akan menyesal!," ucap Mastany mencoba memikirkan cara untuk menghindar dari Pio yang kemungkinan besar masih mengincar ia dan keluarga nya.


Sementara di dalam Kastil.


Albert masih begitu marah akan semua yang telah terjadi pada hidup nya.


"Bodoh!, kenapa aku bisa tertipu dengan Mastany!," teriak Albert terus mengobrak abrik seisi kamar tanpa memperdulikan putra nya yang tengah menangis.


Namun tak lama dari itu, terdengar suara pintu di ketuk dari luar Kastil.


Karna para pembantu sudah pulang ke rumah mereka, mau tak mau Albert harus membuka pintu untuk tamu nya seorang diri.


"Siapa kau?," tanya Albert keheranan saat melihat seorang wanita bertamu ke rumah nya saat malam telah larut.

__ADS_1


"Aku kebetulan mendengar suara tangis bayi, jika di ijinkan aku mau membantu menenangkan nya," ucap wanita itu yang tak lain adalah wanita pelac*ur yang beberapa minggu lalu telah tidur dengan Albert tanpa Albert tahu kebenaran nya.


__ADS_2