Pembalasan Queensany

Pembalasan Queensany
Bab 59.


__ADS_3

"Kita dimana?,".


"Menurut mu, tempat apa ini?,".


Dengan senyum merekah, Mastany terus berlari bahagia bersama lelaki yang kini telah kembali memegang tangan nya dengan erat.


Sesekali ia menatap ke arah kedua kaki nya yang kini telah leluasa bergerak dan berlari tanpa beban sedikit pun.


Rasa sakit di tubuh nya pun telah menghilang.


Rambut hitam dan panjang milik nya pun kini telah kembali.


Bahkan kecantikan nya kini kian memancar kembali dari raut wajah nya.


"Yekka?, apakah aku bermimpi?,".


"La, sudah saat nya aku menjemput mu, kau sudah terlalu menderita di sana sayang,".


Sedetik pun, kini tatapan Mastany tak berpaling dari lelaki yang begitu ia rindukan.


Lelaki yang begitu istimewa dalam hidup nya.


"Yekka, apakah aku boleh bertanya sesuatu?,".


"Sebaik nya tidak, itu hanya akan merusak kebahagiaan ini Mastany, lupakan semua nya, lepaskan beban mu dan semua pertanyaan dalam hati mu,".


Entah kenapa, Mastany hanya mengangguk dan tersenyum dengan jawaban dari sang kekasih.


Ia genggam semakin erat tangan Yekka sembari menikmati kebebasan nya kini.


Mereka kembali tertawa dan berlarian seperti dahulu.


Kini seakan tak ada lagi beban di pundak mereka, terutama di pundak Mastany.

__ADS_1


Namun tiba tiba, bayangan akan sang putra kembali muncul di benak nya.


"Bagaimana aku bisa melupakan putra kita?,".


"Kau masih menyayangi nya setelah semua perbuatan nya pada mu?,".


"Dia tidak bersalah apapun juga pada ku Yekka, itu semua murni karma hidup ku, aku yang begitu beruntung di beri kesempatan hidup kedua oleh Allah malah menyianyiakan kesempatan itu, hingga membuat hidup kedua ku lebih menyedihkan dari pada kehidupan ku yang dulu,".


"Kini kau menyadari semua nya, itu bagus. Semua akan baik baik saja, putra kita sudah dewasa, kita akan bertemu lagi dengan nya kelak, kau mengerti ucapan ku bukan?,".


Dengan sebuah anggukan, Mastany perlahan mencoba melupakan semua nya, rasa sakit, khawatir dan kegundahan dalam hati nya.


Ia berlari dan berlari bersama sang kekasih dengan tawa yang menggema hingga perlahan hilang di balik cahaya.


---##-----


"Sudah cukup!, jika kau memilih wanita tua itu silahkan!," sentak Adam dengan emosi yang menggebu gebu.


Membuat Marwa seketika diam, seakan mulut nya kini tak bisa lagi menjawab semua amarah dan kata kata buruk yang keluar dari mulut suami nya.


Ku harap keburukan dan kedurhakaan kita ini tidak berdampak buruk pada takdir hidup putra kita mas, batin Marwa sembari menyeka air mata nya.


Perlahan ia berjalan mendekati Mastany yang berada tepat di depan jendela kamar ruangan itu.


Yang merupakan sebuah tempat favorit Mastany semenjak ia di asingkan ke dalam rumah Lansia.


Marwa seakan tak bisa membendung lagi air mata nya saat menatap kemana arah jendela kamar itu.


"Lihatlah!, itu rumah kita. Pasti lah ibu setiap hari duduk di sini dan menatap rindu ke arah rumah kita," ucap Marwa tersedu sedu, seakan kepedihan dari Mastany begitu ia rasakan saat itu.


"Cukup!," sentak Adam tak terima dengan semua hal yang ingin Marwa coba jelaskan pada nya.


"Bagaimana jika Aslan memperlakukan kita seperti ini!, apa mas terima!," seru Marwa penuh dengan tatapan penuh kekecewaan.

__ADS_1


Mendengar seruan Marwa, Adam seakan bungkam saat itu juga.


"20 tahun ibu hanya bisa menatap atap rumah kita, 20 tahun ia merindukan putra nya mas!, rumah kita begitu samar dan jauh terlihat dari sini, namun mungkin itu pengobat rindu bagi ibu mu di setiap hari nya," keluh Marwa meluapkan semua rasa kekecewaan nya.


"Bahkan mungkin saat Aslan lahir, ia begitu bahagia mendengar kabar itu dari para suster, ibu pasti selalu berdoa untuk kebaikan cucu nya walaupun ia tak pernah melihat rupa nya sedikitpun," ucap Marwa dengan berlinang air mata.


"Dia bahkan tak peduli pada ku," ucap Adam dengan nada yang mulai merendah.


"Itu bukan keinginan nya Mas, percayalah, tidak ada yang lebih menyayangi mu di banding kan dia," ucap Marwa perlahan mulai mendekati Mastany dan mengecup kening nya.


"Sudah cukup Marwa!, semua ucapan mu tidak akan mengubah keputusan ku," seru Adam kembali membulatkan tekat dan keangkuhan nya.


Namun, tak terdengar jawaban apapun dari Marwa saat itu.


Marwa begitu nampak tercengang dan mematung tepat di hadapan Mastany.


"Ada apa dengan mu?," tanya Adam saat melihat perubahan dari reaksi Marwa saat itu.


Perlahan ia mencoba mendekat walaupun sebenar nya ia tak mau.


"Lihatlah!, dia bahkan memilih tidur saat kita berdebat tentang nya," keluh Adam kesal.


Namun tangisan Marwa tiba tiba membuat hati nya tersayat.


Marwa begitu histeris sembari memeluk Mastany seketika itu juga.


"Ibu!," seru Marwa seketika membuat Adam lemas.


"A- apa arti nya semua ini Marwa?, jangan membuat ku bingung," seru Adam nampak tegang.


"Ibu mas!, ibu sudah pergi!," seru Marwa membuat Adam terduduk di lantai.


Ia seakan tertusuk seribu pedang walaupun sejak awal itulah yang ia inginkan dari dulu.

__ADS_1


"Kenapa dada ku sesak sekali," keluh Adam dengan ekspresi bingung namun tanpa mengeluarkan air mata setetes pun.


__ADS_2