
"Ayo kita pulang mas," ucap Marwa setelah hari hampir senja waktu itu.
Sudah berjam jam yang lalu satu per satu dari para pelayat telah pergi dari area pemakaman, meninggalkan mereka bertiga di samping makam yang dengan jelas bertuliskan nama Yekka di sana.
"Tega sekali Ayah pada ku," rintih Adam tak henti henti nya menangis di pusaran sang Ayah.
Karna sejati nya, hanya Yekka lah satu satu nya orang tua yang ada di samping Adam selama ini, sosok ayah sekaligus seorang ibu yang harus nya di perankan oleh Mastany Adam dapatkan sepenuh nya dari kasih sayang Yekka seorang.
"Beliau sudah tenang mas, ia hanya akan lebih menderita jika kau terus saja meratapi kepergian nya. Jangan lupa, masih ada aku dan ibu mu yang akan selalu ada untuk mu mas," ucap Marwa membuat Adam seketika bangkit dan memeluk erat sang wanita pujaan hati nya itu.
Dalam pelukan nya, Adam kembali menangis untuk meluapkan semua rasa sedih nya hari itu.
"Kau lelaki kuat mas, jangan patah semangat hanya karna satu takdir buruk menimpa mu," ucap Marwa sembari mengusap air mata kesedihan yang masih belum reda dari kedua pelupuk mata Adam.
"Terima kasih," ucap lirih Adam mencoba menarik nafas panjang dan melepaskan sedikit kesedihan nya di sana kala itu.
"Apa kau sudah siap untuk pulang sekarang?," tanya Marwa setelah melihat Adam mulai sedikit tenang.
__ADS_1
Seketika Adam hanya mengangguk sembari menatap ke arah sang ibu, lalu beberapa saat kemudian Adam berlalu pergi begitu saja tanpa memperdulikan ibu nya sedikitpun.
Astagfirullah, batin Marwa sembari mengambil alih tugas Adam sebagai seorang anak kepada Mastany saat itu.
Dengan senyum tulus, Marwa segera mendorong kursi roda Mastany hingga sampai ke tempat kereta mereka berada tanpa di perintah oleh siapapun.
"Bisa bantu aku memindahkan ibu ke dalam kereta?," tanya Marwa yang permintaan nya kali itu sama sekali tak di hiraukan oleh Adam sedikitpun.
"Aku tak punya cukup kekuatan untuk mengangkat ibu mu masuk ke dalam kereta," keluh Marwa begitu menyayangkan sikap Adam kepada ibu kandung nya sendiri.
"Terima kasih," ucap Marwa merasa lega untuk sesaat.
"Aku melakukan ini karna permintaan mu saja," ketus Adam sembari mulai bergegas memacu kereta nya untuk kembali pulang ke rumah.
----##---##---
__ADS_1
"Aku tak mau melanjutkan pernikahan ini," seru Marwa dengan berderai air mata.
"Jika aku bersalah aku minta maaf, tapi tolong jangan tinggalkan aku," seru Adam terus mencoba membujuk Marwa agar mengurungkan niat nya itu.
"Aku tak mau menikah dengan seorang lelaki yang bahkan tak peduli dengan ibu nya sendiri," ucap Marwa begitu tak setuju dengan sikap dingin dan acuh Adam selama ini kepada ibu kandung nya sendiri.
"Tapi tanpa kehadiran nya pun, acara pernikahan kita akan tetap baik baik saja," seru Adam masih teguh dengan pendirian nya.
"Sudah ku duga itulah jawaban mu Mas, baiklah kalau begitu, aku permisi, anggap saja kita tidak ada hubungan apa apa lagi mulai sekarang," seru Marwa sembari menatap ke arah Mastany yang hanya bisa duduk terdiam di ranjang kamar seperti biasa nya.
"Sekarang apa mau mu?," tanya Adam akhir nya menyerah.
"Aku ingin ibu mu bisa hadir memberi restu pada acara sakral kita nanti," ucap Marwa sembari memegang erat ke dua tangan Adam.
"Baiklah jika itu mau mu, tapi setelah ini jangan sekali kali membahas hal ini lagi dengan ku," ucap Adam memberi sebuah syarat.
"Baiklah mas, insyaallah," sahut Marwa tak memikirkan kembali apa yang akan di lakukan Adam setelah pernikahan benar benar telah di di resmikan nanti nya.
__ADS_1