
"Tidak!, aku sudah datang sejauh ini, mana mungkin aku melewatkan waktu untuk bertemu dengan nya," ucap Serril sembari berjalan menapaki tangga teras Kastil kuno itu.
Sesekali Yekka memandang ke arah kursi di mana Mastany sering menunggu nya hingga tiba di sana.
Namun kursi itu nampak kosong dan membuat Yekka langsung merasa ganjal akan hal itu.
"Apa kau bawa kunci nya?," tanya Serril membuyarkan lamunan Yekka.
"Segera nyonya," sahut Yekka segera merogoh kunci duplikat Kastil yang ada di dalam saku nya.
Kunci yang pernah ia miliki saat ia bekerja kepada Albert, kunci itu tetap ada walaupun Albert telah memecat nya secara tak hormat pada beberapa waktu silam.
Seketika Yekka nampak tercengang saat itu juga.
Perlahan ia membuka pintu itu dan mempersilahkan Serril tuk masuk ke dalam.
Tak biasa nya pintu ini lupa di kunci oleh nya, batin Yekka mencoba mengikuti Serril yang mulai berjalan menuju ke perapian.
Pandangan Serril langsung saja tertuju ada lembaran lembaran kertas yang penuh akan sketsa desain yang belum selesai.
"Selama ini dia masih membuat sketsa?," tanya Serril kepada Yekka yang lebih tahu akan Mastany.
"Benar nyonya, tapi saat ia hampir menyelesaikan semua nya, ia selalu mengamuk dan berakhir dengan mengunci diri nya di kamar." keluh Yekka.
"Dia masih butuh waktu Yekka, ku harap kau lebih sabar lagi menghadapi nya," ucap Serril hanya bisa berharap kepada sosok Yekka yang begitu menyayangi Mastany.
Sesaat kemudian, Serril menemukan sebuah surat yang tergeletak di tumpukan sketsa milik Mastany.
"A- apa ini?" ucap Serril nampak syok dengan apa yang tengah ia temukan.
"Memang nya apa itu nyonya?," tanya balik Yekka juga begitu penasaran di buat nya.
Tanpa menjawab sepatah kata pun, Serril segera berlari tunggang langgang menyusuri setiap lorong Kastil sembari menggendong Carlos di dekapan nya.
__ADS_1
Reaksi yang di tunjukkan Serril saat itu begitu membuat Yekka langsung merasa khawatir saat itu juga.
"Nyonya, tolong jelaskan apa yang tertulis di kertas itu?," seru Yekka tanpa bisa menghentikan kegelisahan Serril saat itu.
Ia terus berlari dan berlari hingga tak menghiraukan Carlos yang mulai menangis tak nyaman dalam dekapan nya.
"Cepat lah cari Mastany Yekka!, cepat!," seru Serril terus berusaha mencari Mastany di setiap ruangan yang ada di dalam Kastil.
Tanpa bertanya lagi, Yekka segera berlari ke arah bagian Kastil yang lain, reaksi dari Serril sudah lebih dari cukup untuk mengatakan bahwa Mastany tengah dalam bahaya.
Bahaya yang mungkin berasal dari diri Mastany sendiri.
Sadarlah Mastany!, jangan berbuat nekat, bagaimana nasib Carlos nanti jika terjadi apa apa padamu, batin Yekka terus mencari di mana kemungkinan Mastany berada.
"Nak!, kau di mana!, ini Ummi, Ummi datang untuk menemui mu, maafkan Ummi jika akhir akhir ini sikap Ummi begitu keterlaluan pada mu, keluar lah sayang!," teriak Serril dengan harapan Mastany bisa mendengar nya dan segera menemui nya.
Namun usaha mereka ternyata nihil.
Kastil itu begitu sunyi tanpa terlihat ada orang lain selain mereka di sana.
"La Nyonya," sahut Serril seketika menatap tajam ke arah Yekka.
"Sejak beberapa hari ini kau terus memanggil ku dengan sebutan nyonya, aku lebih suka kau panggil aku seperti dulu, panggil aku Umma," keluh Serril sesaat merasa kecewa akan sebutan Yekka pada nya.
"A- aku hanya malu, aku sudah melakukan hal begitu tercela hingga Carlos pun lahir ke dunia ini, maafkan aku," ucap Yekka tanpa berani menatap mata Serril saat itu.
"Itu sudah tidak penting lagi Yekka, aku tak peduli hinaan orang orang setelah semua ini terjadi, bagi ku sekarang, Carlos adalah yang utama, ayah nya adalah menantu ku, lelaki pilihan anak ku," seru Serril membuat Yekka sesekali menyeka mata nya yang tak bisa ia tahan lagi.
Tiba tiba Serril teringat akan ruang bawah tanah yang beberapa hari ini menjadi pembicaraan hangat masyarakat sejak pembunuhan Albert dan jasad Queensany di temukan di sana.
"Ruang bawah tanah Yekka!," seru Serril kembali bergegas menuju ruang bawah tanah sembari di ikuti oleh Yekka.
"Itu pintu masuk nya Umma," seru Yekka sembari berlari melewati pintu itu.
__ADS_1
Namun seketika langkah nya terhenti dan tubuh nya seakan lunglai seketika.
"Apa dia ada di sini?," seru Serril sembari mencoba mengatur nafas karna telah lelah berlari di usia nya yang tidak muda lagi.
Melihat Yekka tak bereaksi sama sekali dengan pertanyaan nya, Serril segera menatap ke arah kemana pandangan Yekka tertuju.
Seketika ia langsung syok dan terduduk di tempat nya berada.
Ia langsung menangis dengan histeris nya sembari memeluk Carlos di pelukan nya.
"Mastany!, putri ku!," teriak Serril saat melihat Mastany telah tergeletak di dalam lubang di tanah dengan darah yang telah mengucur di pergelangan tangan nya.
Seketika Yekka tersadar dari syok nya dan segera turun menuju lubang tempat Mastany berada.
"Bangun Mastany, apa yang kau lakukan?, hah!, benar benar bodoh!," keluh Yekka sembari memeriksa kondisi Mastany saat itu.
Namun kondisi nya sudah terlihat tanpa harapan lagi.
Mulut Mastany pun nampak mengeluarkan busa yang menandakan ia bukan hanya nekat melukai pergelangan tangan nya, tapi juga meminum sebuah racun.
"Tolong selamatkan dia Yekka," rintih Serril terus menangis dan seakan mulai kehilangan kesadaran nya saat itu karna begitu syok nya melihat keadaan sang putri.
Dengan sigap Yekka berusaha membalut pergelangan tangan Mastany yang terluka dengan menyobek baju nya.
Tangan nya sudah dingin, nadi nya hampir tidak teraba, ya Allah selamatkan dia, beri dia kesempatan sekali lagi, batin Yekka begitu tak tega melihat kepedihan Serril saat itu.
Yekka terus berusaha mengembalikan denyut nadi Mastany, segala upaya ia lakukan sebelum akhir nya ia langsung menggendong tubuh Mastany dan berlari sekuat tenaga menuju kereta nya.
"Pergilah!, selamatkan nyawa putri ku, aku baik baik saja di sini," seru Serril saat Yekka melambatkan lari nya di saat hendak menuju ke tempat kereta nya berada.
"Tunggulah di sini Umma, aku akan berusaha menyelamatkan Mastany," seru Yekka sembari meneruskan lari nya.
Dengan terus menangis tersedu sedu, Serril berusaha bangkit dan memulihkan ketegaran hati nya.
__ADS_1
"Aku tidak mau diam di sini sedangkan putri ku begitu membutuhkan ku sekarang," ucap Serril berusaha kembali berjalan mencari sesuatu yang bisa ia kendarai untuk pergi menyusul Yekka dan Mastany ke rumah sakit terdekat.
"Maafkan nenek ya sayang," ucap Serril sembari memasukkan Carlos ke dalam keranjang sebuah sepeda dan dengan cepat ia memacu sepeda itu hingga ke rumah sakit.