
"Baiklah, aku tunggu ayah di meja makan, satu jam lagi akan ada wanita spesial yang datang untuk meminta restu dari ayah, ayah tidak melupakan itu semua bukan?," ucap Adam mencoba mengingatkan acara penting mereka di hari itu.
"Ayah tidak akan lupa, tenanglah," sahut sang ayah meyakinkan.
"Baiklah," ucap Adam sembari berjalan keluar dari kamar itu tanpa merasakan firasat apapun lagi.
Sesekali, Yekka nampak menghela nafas panjang nya serta menampakkan senyum di raut wajah nya yang telah keriput itu.
"Kau tahu Mastany, untuk hari ini, untuk pertama kali nya. Harapan ku, keinginan ku, angan angan ku pada mu telah pupus, bertahun tahun aku menunggu mu pulih Mastany, tapi apa ini?," keluh kesah Yekka ia coba luapkan sembari menyuapi Mastany dengan tangan nya yang tak berhenti gemetar.
"Tapi di usia ku yang sekarang, aku cukup bisa bernafas lega karna Adam putra kita telah menjadi orang yang sukses dan tangguh, kini dia juga telah memiliki seorang tambatan hati nya Mastany, dan itu juga menandakan bahwa ia sudah tak membutuhkan ku lagi," ucap Yekka dengan mata yang mulai basah.
Sekali lagi, Yekka menghela nafas panjang nya.
"Aku mencintai mu Mastany, Allah lah saksi nya," ucap Yekka tak sehari pun lupa untuk mengucapkan nya langsung di hadapan Mastany, satu satu nya wanita yang begitu ia cintai sepanjang hidup nya.
Perlahan Yekka mencoba menggenggam erat kedua tangan Mastany.
__ADS_1
Namun tetap saja, tak ada reaksi apapun dari Mastany saat itu.
Hanya diam dan diam lah reaksi Mastany di saat itu dengan tatapan mata yang tetap saja nampak begitu kosong.
-----#----#----
2 jam kemudian.
"Ayah!, lihatlah siapa yang datang," seru Adam sudah nampak berdiri di depan pintu kamar milik sang ibu.
Dengan wajah yang begitu sumringah nya, nampak seorang wanita muda yang cantik tengah berdiri di samping nya dengan pipi yang bersemu merah karna merasa malu saat ingin diperkenalkan oleh sang ayah dari kekasih pilihan nya yang tak lain ialah Adam.
"Mungkin dia tertidur," ucap wanita itu mencoba menghilangkan kegelisahan di wajah Adam.
Karna hati nya merasa ada yang tak beres di dalam.
Adam mencoba membuka pintu kamar itu tanpa izin terlebih dahulu dari sang ayah seperti biasa nya.
__ADS_1
"Assalammualaikum," ucap Adam secara perlahan, karna ia berfikir mungkin yang dikatakan kekasih nya itu benar, bahwa sang ayah tertidur saat selesai menyuapi sang ibu.
"Apakah ayah mu sudah terbiasa tidur di sandaran ibu mu mas?," tanya wanita itu saat melihat Yekka tengah terpejam di sandaran Mastany saat mereka telah benar benar masuk ke dalam kamar.
Namun, entah kenapa melihat itu semua membuat hati Adam semakin merasa ada yang tak benar saat itu.
"Ayah, lihatlah, ada Marwa datang," ucap Adam perlahan mencoba membangunkan sang ayah.
Sedangkan Marwa begitu terfokus pada sosok Mastany yang terdiam mematung dengan tatapan mata kosong namun nampak meneteskan sebuah air mata.
"M- mas?," ucap Marwa merasa sesuatu yang tak beres telah terjadi di sana.
"Ayah?," seru Adam sekali lagi sembari mencoba memegang bahu sang ayah.
Namun karna tak ada reaksi sedikitpun dari sang ayah, tangan Adam mencoba meraba leher sang ayah dengan reflek nya.
Saat itu juga, detik itu juga, tangisan Adam mulai pecah hingga mengejutkan Marwa tepat saat itu juga.
__ADS_1
"Mas?, ada apa ini?," tanya Marwa begitu bingung dengan tangisan Adam yang begitu tiba tiba.