
Siang itu suasana begitu hening.
Mastany nampak terduduk diam dengan tatapan mata kosong di bawah sebuah pohon besar.
Tatapan nya begitu terlihat menyedihkan saat itu.
Mata nya yang lelah dan putus asa begitu terlihat jelas tepat pada saat itu juga.
Angin sesekali berhembus menerpa diri nya, hingga sebuah kerudung hitam yang tengah ia kenakan ia biarkan terbang entah kemana.
"Ummi tidak bisa melakukan ini pada ku," keluh Mastany perlahan mulai melangkah kan kaki nya menuju sebuah Masjid yang terletak tak jauh dari tempat nya kini berada.
Sesekali ia mencoba mengusap air mata yang terus mengalir dari kedua pelupuk mata nya.
"Berhenti Mastany!, jangan lakukan itu," cegah Yekka saat Mastany hampir tiba di pintu masuk Masjid.
"Kenapa Yekka?, kau tahu semua ini tak benar bukan!, menyingkirlah!," sentak Mastany sembari mendorong Yekka dari jalan nya.
"Mengertilah kondisi nya Mastany!, apa kau tidak kasihan dengan Ummi mu?," seru Yekka terus mencoba menghadang Mastany yang masih berusaha untuk masuk.
"Ummi juga harus mengerti aku Yekka!," seru Mastany tetap bersikeras masuk, namun sebelum ia benar benar masuk ke dalam Masjid itu sang Ummi telah lebih dulu keluar dari sana dan tepat berhenti di hadapan nya.
"Ummi?, di mana Abi?," tanya Mastany sesenggukan.
"Pergilah, tidak ada guna nya kau di sini," ucap Serril sembari memalingkan muka sayu nya dari Mastany.
"Kenapa Ummi?, apa sedikitpun Ummi tak mau melihat ku lagi?," keluh Mastany sembari mencoba mengontrol tubuh nya yang begitu nampak syok dan gemetar saat itu.
"Sebelum kau mengakui semua kejahatan mu, jangan pernah temui aku bahkan Abi mu lagi, belum puas kah kau melakukan ini semua?,"ucap Serril sembari berjalan pergi meninggalkan Mastany begitu saja.
Banyak kerabat juga teman terdekat mereka juga tengah berjalan keluar dari dalam Masjid saat itu.
Sama hal nya seperti Serril, mereka bahkan tak mau menatap Mastany atau sekedar menyapa nya.
Ada begitu banyak tatapan kekecewaan yang tertuju pada Mastany saat itu.
Dengan segera Mastany langsung berlari masuk ke dalam Masjid dan mencari keberadaan sang Abi.
"Apa yang tengah kau cari nak?," tanya seorang Kyai saat melihat kegelisahan di wajah Mastany.
__ADS_1
"Abi, Abi ku!, keranda, jasad!, di mana kau meletakkan nya?," seru Mastany terbata bata.
"Kau?," ucap sang Kyai menatap heran ke arah Mastany.
"Ya!, aku anak dari jasad lelaki itu," seru Mastany begitu tak sabar melihat sang Abi untuk yang terakhir kali nya.
Karna sejak hari di mana William tak sadarkan diri, para dokter telah menyatakan ia meninggal dunia beberapa saat kemudian.
Kabar itu pun membuat guncangan hebat pada diri Serril serta Mastany.
Rasa kehilangan mereka begitu tak terbendung hari itu.
Namun di tengah duka yang begitu mendalam, Mastany tidak di izinkan sedikitpun melihat ataupun mendekati jasad sang Abi.
"Aku anak nya!, kenapa aku tak di perbolehkan melihat nya!," sentak Mastany di malam itu dengan begitu histeris nya.
"Maaf nyonya, ini adalah permintaan langsung dari nyonya Serril," sahut pihak rumah sakit terus terngiang ngiang di pikiran Mastany sejak malam itu.
"Dia ada di sana," sahut sang Kyai sembari menunjuk ke arah sebuah keranda yang telah siap di kuburkan saat itu.
Mastany kembali berlari dan mendekat ke arah keranda yang di tunjuk oleh sang Kyai.
Namun lagi lagi, rasa kecewa yang ia dapatkan.
Dengan lemas nya, Mastany langsung terduduk di samping keranda William dan meringkuk sembari menangisi kepergian sang Abi.
"Efwan Abi," rintih Mastany di sela sela tangis nya.
Ucapan itu bahkan terus di ulang ulang oleh Mastany hingga akhir.
Sementara Yekka memilih untuk diam dan tak melakukan apapun hingga Mastany puas meluapkan kepedihan hati nya saat itu.
Apa yang telah kau lakukan Mastany?, kenapa kau tidak terus terang kepada ku sejak awal akan semua nya?, batin Yekka menyesali apa yang telah terjadi kini.
Dari kejauhan, nampak Serril tidak benar benar pergi dari sana, ia melihat semua ratapan dari sang putri serta tangisan menyayat nya secara diam diam.
Ia begitu terpukul karna keluarga nya telah hancur berantakan hanya karna sebuah ambisi jiwa dari masa lalu.
"Kini tinggal aku Abi, kenapa kau tak membawa ku juga ikut bersama mu," rintih Serril tak kuasa membendung air mata nya.
__ADS_1
Sesaat kemudian, Serril benar benar pergi dari sana tanpa menoleh kembali ke belakang.
...***...
Sejak kepergian William, Serril memutuskan untuk kembali ke rumah masa kecil nya.
Mencoba melupakan kenangan pahit yang dalam beberapa tahun terakhir ini hinggap di hidup nya.
Ia juga memutuskan untuk membawa pergi Carlos sang cucu untuk menetap bersama nya.
Itu pun juga atas izin dari Yekka selaku ayah kandung dari Carlos sendiri.
Ia tak ingin sang cucu nanti nya juga menjadi pelampiasan dendam sang ibu yang tak lain adalah putri nya sendiri.
Serril melakukan itu semua juga karna ingin mengulang masa kecil nya di rumah sederhana peninggalan orang tua nya itu.
Perbedaan nya adalah, kini bukan ia yang berstatus sebagai anak, melainkan sebagai seorang orang tua bahkan sebagai seorang pendidik bagi cucu nya.
Sementara Mastany, kini telah benar benar menguasai Kastil secara keseluruhan seperti keinginan terbesar nya.
Bahkan surat kuasa atas kepemilikan Kastil atas nama diri nya pun telah di cap mutlak oleh petinggi negara sebagai milik nya.
Namun bukan senyum kebahagiaan yang terukir di wajah nya setelah semua terwujud.
Mastany lebih banyak diam dan melamun di dalam Kastil sepanjang hari.
"Aku telah berhasil, aku berhasil Queensany," ucap Mastany namun tanpa ekspresi sedikitpun.
Melihat perbedaan dan keanehan yang terjadi pada Mastany selaku pemilik baru Kastil itu, para pengunjung mulai merasa ketakutan dan risih untuk datang ke sana.
Hingga perlahan, Kastil itu sudah tidak menjadi primadona masyarakat lagi.
Bahkan beberapa bagian bangunan Kastil mulai rusak karna tidak di rawat sebaik Albert semasa dia hidup.
Kini hanya ada satu manusia yang mendiami dan tetap bertahan di Kastil itu, yaitu Mastany.
Sesekali Yekka akan datang dan membujuk Mastany untuk melupakan masa lalu dan menata kembali hidup nya.
Namun seperti nya nasehat dari Yekka tak bisa lagi di cerna dengan baik oleh jiwa Mastany yang telah hancur berantakan saat itu.
__ADS_1
"Demi Carlos, sadarlah dan akhiri semua nya Mastany," seru Yekka masih berusaha menyadarkan Mastany.
Kau benar, semua ini harus segera berakhir, batin Mastany sembari menatap sayu ke arah Yekka, dan tak berselang lama Mastany pun kembali meninggalkan Yekka begitu saja seperti hari hari lain nya.