Pembalasan Queensany

Pembalasan Queensany
Bab 56.


__ADS_3

Tepat di hari itu.


Gemuruh kemeriahan telah melengkapi kegembiraan kedua mempelai.


Beberapa detik yang lalu, kata sah telah menggema di seluruh penjuru rumah besar milik Adam.


Menandakan bahwa sekali lagi, kedua insan telah di per satukan dengan bahagia di atas muka bumi.


"Kini dia adalah istri mu, dan begitupun sebalik nya, perlakukan pasangan mu dan gauli mereka sesuai ajaran agama yang ada," ucap sang penghulu mencoba menasehati kedua mempelai yang baru saja akan memulai hidup baru mereka.


"Insyaallah," ucap Adam dan Marwa secara bersamaan.


Sesekali, Marwa sempat mencuri pandang ke arah para tamu.


Ia berharap sang suami tidak mengingkari janji nya sedikitpun.


Marwa langsung kembali bernafas lega dan kembali merekahkan senyum nya saat melihat sang ibu mertua telah duduk dengan nyaman di deretan kursi para tamu.


Melihat semua itu, sudah begitu membuat Marwa begitu bahagia, walaupun Mastany tak duduk di barisan kursi yang terdepan, kursi yang sudah sengaja ia persiapkan untuk sang ibu mertua.

__ADS_1


---##---


"Siapa yang sedang kau cari?," tegur Adam saat melihat sang istri nampak kebingungan di tengah acara pesta mereka yang belum juga usai.


"Apa kau melihat ibu?, dan di mana bibi Sun?, aku takut ia melupakan waktu minum obat ibu malam ini," ucap Marwa begitu nampak cemas.


Mendengar semua itu, Adam begitu kesal namun ia mencoba menahan nya.


Terlebih malam itu adalah pesta yang begitu berarti dalam hidup nya.


"Ibu sudah aku kirim ke rumah baru nya," ucap Adam dengan begitu santai nya.


Ucapan yang begitu santai namun begitu menampar bagi Marwa saat ia mendengar semua pengakuan itu.


"Bukan, ini adalah rumah ayah ku," ucap Adam tetap dengan ekspresi santai nya hingga membuat para tamu tak menyadari perdebatan yang terjadi di antara mereka saat itu.


"Mas sudah berjanji bukan?," ucap Marwa dengan penuh kekecewaan.


"Aku hanya berjanji akan mengizinkan ibu menyaksikan pernikahan kita. Apa ada yang salah?.

__ADS_1


Dan aku ingatkan satu hal, kau juga telah berjanji sayang, kau tidak akan mengungkit hal ini lagi selama nya, dan aku menagih nya malam ini," bisik Adam sembari kembali berbaur dengan para tamu nya meninggalkan Marwa yang masih tercengang dan syok di tempat nya berada.


"Kau tak apa Marwa?," tegur seorang tamu wanita saat melihat gerak gerik aneh dari Marwa saat itu.


Namun belum sempat mereka mendapat sebuah jawaban, Marwa telah lebih dahulu pingsan dan membuat acara pun terpaksa di hentikan.


---##----##----


"Buk, maaf, ini lah tempat tinggal kita sekarang, semua ini atas perintah dari tuan Adam," ucap bibi Sun sembari membuka sebuah jendela yang nampak masih baru ada nya.


Jendela kecil yang setidak nya bisa membuat Mastany melihat dunia luar dari dalam kamar nya.


Kamar yang telah di susun sedemikian lengkap nya untuk memenuhi keperluan Mastany setiap hari nya.


Di sulap sebaik dan serapi apapun juga, sejarah kamar itu tidak akan pernah hilang dari tempat nya.


Kamar yang sejati nya adalah sebuah ruangan bawah tanah, yang merupakan sebuah ruangan saksi bisu kejadian kejadian buruk yang pernah terjadi di sana.


"Kastil ini begitu luas dan bagus, tak ku sangka setelah terbengkalai bertahun tahun lama nya Kastil ini kembali hidup dan menjadi rumah bagi para lansia di kota ini, bahkan menjadi rumah untuk ibu kandung sang pewaris nya," keluh bibi Sun sembari menghela nafas panjang, mencoba melepaskan rasa sakit atas ketidak adilan sang majikan pada ibu kandung nya sendiri.

__ADS_1


Apa yang begitu membuat tuan Adam membenci mu nyonya?, bagaimana kau bisa kuat dengan semua rasa sakit ini?, batin bibi Sun begitu prihatin dengan sang majikan yang kini hanya bisa melihat keluar jendela kamar nya untuk melihat dan merasakan daun berterbangan dan angin berhembus menerpa diri nya.


Namun seperti biasa nya, Mastany bahkan tak berkedip ataupun menyahut akan semua ucapan yang keluar dari mulut nya.


__ADS_2