
"Kau kesini hanya untuk membicarakan selingkuhan mu itu!," keluh Mastany sembari memalingkan muka nya dari hadapan Albert.
"Apa Ummi tak salah dengar?, kau juga berani berselingkuh Albert!," sentak Serril kembali terbakar emosi saat mendengar kenyataan itu.
"Diam!. Aku jelaskan satu hal nenek tua!, Petra itu sebenar nya adalah tunangan ku yang sah!, dan satu hal lagi, apa kau tahu bahwa sebenar nya putri mu lah sebenar nya selingkuhan ku!," sentak Albert membuat mata Serril membulat sempurna, dengan mulut yang tak bisa berkata apa apa lagi.
"Jika memang itu benar, kau juga tak di perbolehkan bersikap kasar pada istri ku!," teriak William saat menyaksikan kejadian itu dari arah teras.
Seketika Albert segera memandang ke arah William.
Dan kemarahan nya semakin memuncak saat melihat Yekka tengah berdiri di samping sang mertua.
"Apa selama ini kau juga masih berhubungan dengan nya?, cepat katakan!," sentak Albert kembali menatap tajam ke arah Mastany, membuat Serril semakin khawatir dengan keselamatan sang putri.
"Aku yang memanggil nya!, bukan wanita itu, jadi cepat enyahlah dari rumah ku ini!," seru William dengan kaki yang gemetar, hingga ia akan roboh jika tidak ada Yekka yang menopang tubuh nya saat itu.
Wanita itu?, apa Abi tak menganggap ku anak nya lagi?, batin Mastany seakan tersayat sayat saat mendengar nya.
William begitu syok saat itu hingga membuat kondisi tubuh nya semakin memburuk.
Tubuh dan sendi nya sudah mengalami penurunan fungsi sejak beberapa tahun lalu.
Hingga membuat nya tidak bisa leluasa bergerak lagi seperti dulu.
Dan pantangan terbesar untuk penyakit nya itu adalah tentang kestabilan emosi.
Ia harus terus berada di suasana yang tenang dan bahagia jika itu memang bisa di lakukan.
"Anak dan ayah sama saja, menyusahkan!," seru Albert membuat Mastany naik pitan.
Mastany begitu marah saat orang tua nya di sangkut pautkan dengan masalah di antara mereka.
"Cepat keluar dari rumah ku!," teriak Mastany sembari mendorong tubuh Albert agar menjauh dari nya.
Ia semakin jijik dan tak sudi berada di dekat lelaki seperti Albert.
"Jawab dulu pertanyaan ku!, apa kau yang bertanggung jawab akan semua yang menimpa Petra?, hah!, apa kau yang telah membunuh nya!," teriak Albert membuat semua nya begitu syok mendengar nya.
Bahkan Serril pun hampir pingsan saat mendengar semua itu.
"Ummi!," seru Mastany segera menangkap tubuh sang ibu yang hampir ambruk.
"Cepat katakan wanita ******!," teriak Albert seperti orang kerasukan.
__ADS_1
"Hentikan Albert!," sentak Yekka tanpa melepaskan tangan nya dari tubuh William yang masih begitu lemas saat itu.
"Aku tak tahu apa yang terjadi pada wanita mu itu!, sekarang enyahlah dari sini!," teriak Mastany sembari mengambil sebilah pisau buah di atas meja dan menodongkan nya ke arah Albert.
Melihat Mastany yang tak main main saat menodong nya, Albert memilih pergi dari sana namun tanpa berhenti mencari tahu akan kebenaran di balik kematian Petra.
--------##-----
"Abi, maafkan aku," ucap Mastany memecah keheningan setelah keributan yang telah terjadi beberapa saat yang lalu.
Namun, William bahkan tak sedikitpun mau menatap wajah Mastany.
Ada raut wajah kekecewaan yang mendalam dalam tatapan William dan Serril saat itu.
"Ummi!, tolong jelaskan kepada Abi Ummi!, buat ia bicara Ummi!," seru Mastany sembari bersujud di hadapan Serril yang juga membisu saat itu.
"Albert tak akan berbicara semua itu tanpa sebab Mastany," ucap Serril membuat Mastany hanya bisa tertunduk seketika itu juga.
"Aku tak menyangka, begitu banyak hal yang tak kita ketahui setelah ia dewasa," keluh William sembari menyeka air mata nya.
Sementara Yekka hanya diam berdiri di pintu depan, mencoba membiarkan seorang anak dan orang tua nya menyelesaikan masalah mereka.
"Abi, apa Abi percaya dengan semua omong kosong itu?," seru Mastany mencoba membela diri nya.
"Ya Allah, apa dosa ku di masa lalu sampai kau menguji ku sedemikian rupa," keluh William sembari berusaha bangkit dari duduk nya dan bergegas masuk ke dalam kamar nya dengan di ikuti oleh sang istri.
Meninggalkan Mastany sendiri yang terus mematung di tempat saat itu.
"Bersabarlah, kau itu wanita kuat," ucap Yekka yang tiba tiba telah berada di samping nya.
Namun tanpa menatap ke arah Yekka, tangisan Mastany perlahan mulai pecah.
Dan saat tangan Yekka ingin mencoba menyeka air mata Mastany, wanita itu memilih pergi dari sana dan segera masuk ke dalam kamar nya.
Kini hanya Yekka sendirian yang ada di sana.
Bola mata nya mulai menatap ke sekeliling rumah itu.
Nampak sepi dan sunyi.
Begitu mengingatkan nya pada suasana di rumah tempat tinggal nya.
Albert memang lelaki bajingan, tapi ucapan nya malam ini begitu terngiang ngiang di otak ku Mastany, apa kau memang sekeji itu?, hingga harus menghabisi Petra demi sebuah Kastil tua?, batin Yekka sembari berjalan pergi meninggalkan rumah itu.
__ADS_1
Sementara di dalam kamar.
Mastany sudah tak berada di mana pun.
Kamar milik nya kosong, dan jendela kamar nya telah terbuka kedua nya, namun dengan pintu kamar yang masih terkunci dari dalam.
------##-----
"Aku akan selesaikan semua nya malam ini lelaki biadab!," ucap Mastany sembari berjalan tergesa gesa menyusuri jalanan sepi malam itu dengan membawa sebilah pisau berkarat di balik falwa nya.
Namun sebelum ia sampai di Kastil.
Ia tak sengaja bertabrakan dengan seorang wanita bercadar di sebuah persimpangan jalan.
Hingga membuat wanita itu tersungkur bersama bayi dalam dekapan nya.
"Efwan Ukhti, efwan," ucap Mastany masih mengesampingkan emosi nya dan masih mencoba bertanggung jawab menolong wanita yang tak sengaja bertubrukan dengan nya.
"Apa kau tak bisa hati hati!, bayi ku bisa terluka!," sentak wanita itu begitu histeris nya.
"Tapi aku sudah minta maaf, dan bayi mu juga baik baik saja, ia bahkan tak terjatuh dari pelukan mu," seru Mastany begitu kesal dengan sikap berlebihan wanita itu.
"Kau jahat!, kau memang wanita jahat!," sentak wanita itu semakin histeris di hadapan Mastany.
"Tapi dia tak apa apa!, dia bahkan tak menangis, coba aku periksa keadaan nya," seru Mastany mencoba meraih sang bayi dari dekapan wanita bercadar itu.
"Jangan sentuh anak ku!, kau sudah begitu membuat ku marah!," sentak wanita itu seketika membuat Mastany curiga.
Sesaat kemudian, Mastany begitu tercengang dengan tebakan nya sendiri.
"Apa kau?," ucap Mastany sembari mencoba mendekati wanita itu yang sedikitpun tak mau di dekati oleh Mastany.
Reaksi nya malah membuat Mastany semakin penasaran di buat nya.
"Aku ingin melihat bayi itu!," ucap Mastany membuat wanita itu semakin erat mendekap bayi nya yang bahkan wajah nya pun tak terlihat sedikitpun karna tudung yang menutupi bayi itu.
"Pergi kau wanita iblis!," teriak wanita itu semakin membuat Mastany juga semakin memaksa untuk merampas bayi wanita itu.
Hingga saat tangan Mastany berhasil menyibak sedikit tudung bayi itu.
Mastany langsung syok hingga tersungkur di jalanan.
Sedangkan wanita itu langsung berlari pergi dan menghilang dari pandangan Mastany dengan begitu cepat nya.
__ADS_1