
Dengan tangan yang masih gemetar begitu hebat nya, dengan peluh yang masih menetes dari kening nya.
Serril perlahan membaca surat yang sengaja di tulis Mastany sebelum ia nekat melukai diri nya sendiri.
Air mata mulai mengucur deras saat beberapa baris kalimat baru saja terbaca oleh nya.
Serril masih berusaha tuk tegar di saat itu.
Ia paksakan diri nya untuk tetap kuat sembari terus membaca surat Mastany hingga selesai.
Ummi, jika mungkin Ummi membaca surat ini, mungkin aku sudah tidak ada lagi di dunia ini.
Aku tak tahu lagi harus menebus semua kesalahan ku di kehidupan ini dengan cara apa.
Ummi tahu, aku juga begitu terpukul akan hilang nya sosok Abi dalam hidup ku.
Sejak saat itu aku hanya bisa menjalani hari hari ku dengan penuh gejolak dan keputusasaan.
Aku kesal dan aku marah pada diri ku sendiri.
Biarlah aku menanggung dosa dan karma ku ini sendiri.
Setidak nya inilah harga mahal yang harus aku tebus untuk mendapatkan ketenangan bagi jiwa ku sebagai Queensany.
Mungkin ini sudah takdir ku Ummi, inilah yang terbaik untuk saat ini.
Dan untuk anak ku Carlos, Ummi sangat menyayangi mu walaupun mungkin kau tidak akan mengingat aku sebagai ibu mu saat kau dewasa nanti.
Aku sudah cukup tenang karna meninggalkan mu dengan seorang nenek dan ayah yang begitu menyayangi mu.
Ummi, di sini aku juga ingin memberikan sebuah pengakuan.
Aku Mastany, aku adalah orang tunggal yang telah membunuh Albert suami ku.
Hanya karna alasan dendam, hanya itu saja.
Aku bersedia berita ini di publikasikan demi untuk membersihkan nama Pio dan juga Sesil yang telah sempat aku fitnah dalam masalah ini.
Sekali lagi aku minta maaf, kepada Ummi, Abi, kekasih ku dan juga kepada semua orang yang telah aku rugikan, bahkan kepada dunia dan negara yang telah membesarkan nama ku.
Wassalam...
__ADS_1
Seusai membaca semua isi surat itu, Serril langsung pingsan di seketika itu juga.
Dan di saat itu pula, Serril pun juga segera di tangani oleh dokter dan dinyatakan koma setelah nya.
...***...
3 hari kemudian.
Angin begitu terasa kencang di hari itu.
Terlihat ratusan pelayat sudah mulai meninggalkan area pemakaman.
Mereka berjalan pergi meninggalkan Yekka seorang diri hanya dengan Carlos kecil di pelukan nya tepat di waktu senja itu tanpa mengucap sepatah kata pun.
Raut wajah sedih namun masih berusaha untuk tetap tegar, itulah gambaran wajah Yekka tepat di saat itu.
Meskipun diri nya masih dalam keadaan berduka.
Masih banyak orang orang di sekeliling nya yang terus menggunjing akan dosa besar yang telah Mastany perbuat.
Karna setelah selesai membaca surat kedua dari Mastany.
Sejak saat itu, Pio dan Sesil di nyatakan bebas dan bersih atas kasus pembunuhan Albert.
Namun mereka tetap di masukkan kembali ke tempat rehabilitasi negara demi keamanan mereka dan semua orang tanpa terkecuali.
Semua pihak juga memutuskan tidak akan memaksa lagi Pio untuk menyerahkan tulang belulang sang bayi, karna hanya dengan memeluk nya setiap saat Pio bisa terkontrol dan mudah di atur.
Sedangkan Sesil, lebih banyak berdiam diri di sepanjang hari dengan tatapan mata yang kosong, ia masih begitu syok dengan semua yang ia lihat di depan mata nya saat Albert dengan jelas di bunuh tepat di hadapan nya.
Perlahan, Yekka berjalan mendekat ke makam yang masih basah itu.
Di saat itu, air mata nya tak lagi bisa terbendung lagi.
Ia menangis sejadi jadi nya di sana.
Sesekali ia menciumi nisan yang tepat berada di hadapan nya.
"Maafkan aku, maafkan aku," rintih Yekka di sela sela tangisan nya.
"Jika aku memilih menggagalkan rencana jahat nya itu sejak awal, ini semua tidak akan pernah terjadi, dan kau juga pasti akan tetap hidup di tengah tengah kami. Tapi nyata nya, aku begitu gelap mata dengan cinta ku, aku biarkan dan malah aku dukung rencana jahat nya, sekali lagi maafkan aku Ummi," keluh Yekka begitu merasa bersalah saat itu, ia terus meluapkan rasa penyesalan nya ke sebuah makam baru yang bertuliskan nama Serril Atmaja.
__ADS_1
Ia begitu tak menyangka Serril akan menyerah setelah berjuang melewati koma selama 3 hari lama nya.
Tak dapat di pungkiri ia pergi dengan membawa luka kekecewaan terhadap putri satu satu nya yang ia miliki yaitu Mastany.
"Kau begitu merugi Mastany, sangat merugi, kau akan semakin hancur dan menyesal setelah ini," ucap Yekka sembari menciumi Carlos sang putra.
Ia juga begitu tak menyangka Carlos akan bernasib sedemikian rupa.
Ia baru saja di tinggal pergi oleh sang kakek, dan kini nenek nya pun ikut pergi meninggalkan nya.
Kasih sayang yang harus nya masih berlimpah kepada nya kini semua hilang tak berbekas.
...***...
"Anak ku, mulai sekarang nama mu adalah Adam, kita tinggalkan semua kepahitan yang telah lalu, sekarang kau aman bersama ayah, ayah akan mencoba menjadi seorang ayah, ibu bahkan kakek sekaligus nenek untuk mu," ucap Yekka saat menimang nimang bayi Carlos yang sudah nampak semakin besar, sehat dan lucu yang kini telah berganti nama menjadi Adam.
Hari itu tepat 3 bulan sudah sejak kepergian Serril.
Karna tidak ada lagi yang menjaga bayi Adam saat ia bekerja, Yekka memutuskan untuk membawa Adam setiap ia bekerja.
Beruntung bagi nya, majikan baru nya begitu mengerti akan kondisi nya dan begitu terbuka menerima Yekka sebagai tukang kebun sekaligus penjaga di rumah mewah nya.
Adam juga begitu beruntung karna majikan nya begitu menyayangi nya seperti anak mereka sendiri.
"Apa Adam nakal nyonya?, saya minta maaf jika memang dia bertingkah berlebihan hari ini," ucap Yekka saat melihat sebuah ruangan kembali berantakan setelah ia membereskan nya beberapa saat yang lalu.
"La Yekka!, la, dia begitu menggemaskan. Justru aku yang mengambil semua barang ini untuk bermain bersama nya, maafkan aku ya, aku membuat ruangan ini kembali berantakan," sahut sang majikan tak sekalipun bersikap angkuh di depan Yekka yang hanya seorang pesuruh di sana.
"Tidak perlu nyonya, nyonya terlalu baik," ucap Yekka begitu merasa bersalah di buat nya.
"Apa kalian akan pulang?," tanya sang nyonya besar.
"Benar nyonya, setelah saya membereskan ruangan ini kembali," sahut Yekka mulai kembali beberes.
"Bisa kah kau tunggu sampai waktu makan malam, aku masih ingin bermain bersama Adam, jika kau tidak keberatan," seru sang nyonya besar membuat Yekka semakin merasa tak enak hati.
"Nyonya tak perlu meminta nya, kami akan turuti semua keinginan nyonya," sahut Yekka dengan wajah yang terus tertunduk.
"Terima kasih, hanya Adam yang bisa menghibur ku sekarang ini, kau tahu sendiri bukan, anak dan cucu ku banyak, tapi tak ada satu pun dari mereka yang mau menginap atau sekedar mengunjungi kedua orang tua ini," keluh sang nyonya besar langsung membuat Yekka terenyuh saat itu juga.
Dia begitu kaya dan hidup tanpa kekurangan apapun, tapi hidup nya begitu sepi karna anak anak yang tak peduli lagi dengan orang tua mereka yang telah menua, semoga kelak Adam tak seperti itu, batin Yekka terus menunggu hingga sang majikan benar benar telah selesai bermain dengan Adam.
__ADS_1