Pembalasan Queensany

Pembalasan Queensany
Bab 50.


__ADS_3

Dengan tangan yang gemetar dan air mata yang tak berhenti menetes.


Yekka berusaha menyodorkan secarik kertas yang baru saja ia tanda tangani kepada sang dokter yang merawat Mastany selama ini.


"Kuatkan diri mu, ini lah yang terbaik untuk nya, untuk mu dan untuk putra kalian," ucap sang dokter mencoba untuk menghibur Yekka yang tengah bersedih walaupun ia tahu itu semua tak akan mengurangi kepedihan siapapun juga ketika tengah dalam posisi di tinggal kan oleh seseorang yang berharga di kehidupan mereka.


Namun tak ada jawaban apapun dari mulut Yekka kala itu.


Dengan sekuat tenaga, ia mencoba bangkit dan mulai berjalan keluar dari ruangan sang dokter, meskipun kaki nya kini terasa begitu lemas hanya untuk menapak di lantai rumah sakit.


Beberapa perawat dan pasien kini menatap Yekka dengan penuh iba, seolah olah mereka tahu kepedihan yang di rasakan Yekka saat itu.


Bahkan beberapa wanita akan menangis dan menyempatkan diri menggendong serta memeluk Adam dengan erat nya saat itu, seakan mereka tahu bagaimana rasa nya jika seorang ibu dan anak terpaksa harus di pisahkan oleh kehidupan.


"Masuklah tuan, dia membutuhkan kehadiran mu kini," ucap seorang suster meminta agar Yekka ikut masuk ke dalam ruangan Mastany saat prosedur pelepasan alat bantu di tubuh Mastany di mulai.


Perlahan kaki nya mulai memasuki ruangan itu lagi, tapi di saat itu, satu langkah saja seakan begitu penuh duri bagi Yekka.


"Aku tidak bisa!," seru Yekka kembali bergegas keluar dari ruangan itu dan langsung meraih Adam kembali ke pelukan nya.


Tangisan Yekka langsung pecah di saat itu juga.


Tak ada seorang pun yang mendekat dan mencoba menghibur nya kembali, termasuk sang dokter, karna mereka semua tahu, Yekka hanya butuh waktu untuk meluapkan semua kesedihan nya di saat itu.


Hanya waktu yang bisa menghibur nya dan menyembuhkan luka nya di masa depan.


"Mari kita mulai sus," ucap sang dokter kembali pada tugas yang tengah menunggu nya saat itu.


Yaitu terpaksa menjadi malaikat maut untuk pasien nya sendiri.


"Bismillah, lepaskan semua beban mu nyonya, sebentar lagi kau tidak akan merasakan sakit lagi," ucap lirih sang dokter sembari melepas satu persatu alat penunjang kehidupan di tubuh Mastany tanpa terkecuali.


Saat tiba di alat yang terakhir, sang dokter seakan kehilangan kekuatan tangan nya sendiri.

__ADS_1


Ia tiba tiba berhenti saat prosedur itu hampir selesai di lakukan.


"Dok, kasihan dia," ucap sang suster mencoba kembali mengembalikan ketegaran dari sang dokter.


"Kau benar," sahut sang dokter perlahan mulai melepas selang oksigen dari mulut dan hidung Mastany.


Namun, sang dokter dan para suster yang berada di sana masih terlihat tetap berdiri di tempat nya tanpa beranjak sedikitpun walaupun semua prosedur itu telah selesai mereka lakukan.


Tak berselang lama, mereka nampak saling berpandangan dengan menunjukkan raut wajah kebingungan mereka.


"Dok?," ucap sang suster sampai bingung harus berucap apa.


Sementara sang dokter entah sudah berapa kali menatap jam dinding yang terpasang di ruangan itu.


"Tolong stetoskop nya suster!," ucap sang dokter begitu penasaran kepada satu pasien nya itu.


Dengan cekatan ia mulai memeriksa kondisi Mastany kembali bahkan meraba denyut nadi di pergelangan tangan sang pasien.


"Sudah lewat lebih dari 15 menit dok," ucap sang suster keheranan.


Entah itu adalah sebuah karma atau anugrah, tidak ada yang dapat memastikan nya.


...***...


"Dia masih di sini dok?,"


Merupakan kalimat pertama yang keluar dari mulut Yekka di saat sang dokter mengutarakan kondisi terkini dari Mastany.


"Seperti yang kau lihat, detak jantung nya masih berdetak dengan normal sampai sekarang," ucap sang dokter masih begitu heran dengan semua itu.


Seketika raut wajah Yekka berubah menjadi penuh syukur tapi masih di selimuti kegelisahan yang nampak jelas di sana.


"Lalu, apa lagi sekarang dok?," tanya Yekka sembari menggenggam erat tangan Mastany.

__ADS_1


"Jika kita masih pada rencana awal, aku bisa memberi mu pilihan untuk memberikan ia suntik m*ti atau membiarkan nya tanpa asupan makanan apapun itu mulai dari sekarang, itu terserah pada mu," ucap sang dokter begitu terdengar mengerikan di telinga siapapun yang mendengar nya.


"Apa dokter bercanda?," sahut Yekka sedikit kesal akan tawaran dari sang dokter.


"Semua keputusan ada di tangan mu tuan," ucap sang dokter meluruskan segala nya.


...***...


"Kau yakin dengan keputusan mu ini?," tanya sang dokter dengan penuh keraguan.


"Ini sudah yang paling tepat dokter, aku akan merawat nya di rumah ku ini, aku akan beri dia makan semampu ku, akan ku rawat dia sampai kapan pun juga," sahut Yekka sembari menatap Mastany yang kini telah berbaring di ranjang kamar nya sendiri.


Kamar yang telah di persiapkan untuk seorang wanita yang ia harapkan akan kembali sehat dan hidup bersama dengan ia dan putra mereka di rumah sederhana nya itu.


"Kau lelaki yang luar biasa Yekka, beruntung sekali dia bisa mendapatkan cinta mu. Kabari aku jika kau butuh sesuatu," ucap sang dokter beranjak pergi dari sana.


"Selamat datang Mastany, mulai sekarang kita akan rawat Adam sama sama, oke. Maafkan aku harus membawa mu pulang, semua milik ku dan peninggalan dari orang tua mu sudah habis untuk biaya pengobatan mu selama di rumah sakit, kini aku sendiri yang akan merawat mu, aku akan menyuapi mu dengan tangan ku ini sampai nanti kau bisa melakukan semua nya lagi sendiri," ucap Yekka menatap lekat lekat Mastany yang hanya berbaring terpejam saja selama berbulan bulan lama nya.


Hari demi hari, Yekka terus merawat Mastany sesuai janji nya.


Ia akan berangkat bekerja sembari mengasuh Adam di siang hari.


Dan ia akan segera pulang saat pekerjaan nya selesai untuk merawat Mastany dan membuatkan nasi cair serta susu khusus untuk bisa di makan Mastany melewati selang makan nya.


Satu bulan berlalu, tiba tiba sesuatu terjadi pada diri Mastany.


Membuat Yekka terkejut dan bergegas mencari dokter yang dahulu sempat merawat Mastany selama di rumah sakit.


"Ini aneh tuan, aku belum pernah menemukan kasus seperti ini," ucap sang dokter saat memeriksa kondisi Mastany yang kini telah bisa membuka mata nya dan bahkan bisa kembali berkedip.


"Sebaik nya ini merupakan kabar baik dok," ucap Yekka penuh harap.


"Tapi dia tidak merespon apapun juga, bahkan tatapan nya kosong," ucap sang dokter kembali mematahkan kebahagiaan Yekka.

__ADS_1


"Ta- tapi dok," seru Yekka masih berharap sang dokter bisa memulihkan kondisi Mastany saat itu.


"Tuan, entah bagaimana tuan merawat nya hingga ia bisa seperti sekarang ini, tetaplah merawat nya dengan sepenuh hati, mungkin bukan lewat medis dia bisa sembuh, melainkan dari kasih sayang orang orang yang begitu mencintai nya seperti tuan," ucap sang dokter kembali pergi dari sana tanpa memberikan sebuah harapan kecil bagi kesembuhan Mastany.


__ADS_2