Pembalasan Queensany

Pembalasan Queensany
Bab 55.


__ADS_3

Setelah keadaan mulai membaik, dan suasana hati Adam juga sudah mulai pulih.


Tepat setelah peringatan 100 hari dari Yekka, Adam dan Marwa memutuskan tanggal pernikahan mereka jatuh pada bulan purnama di bulan berikut nya.


"Ku harap kau ingat akan janji mu mas," ucap Marwa begitu takut calon suami nya akan kembali bersikap tak sopan pada ibu kandung nya sendiri.


Kekhawatiran Marwa bukan hal yang tidak mendasar.


Sikap dan tutur kata Adam memang sudah kembali membaik setelah 100 hari peringatan dari almarhum sang ayah, namun itu hanya berlaku di hadapan Marwa, teman teman dan kolega nya yang lain, bukan untuk Mastany selaku ibu kandung nya.


Adam akan kembali berwajah datar dan bersikap dingin setiap berpapasan dengan Mastany walaupun di dalam rumah nya sendiri.


"Aku akan selalu ingat janji ku itu," sahut Adam sembari memeluk sang calon istri tercinta.


"Dan aku ingin katakan satu hal pada mu, mulai saat ini jika ada seseorang yang meminta sebuah desain dari ku, jawab saja aku sudah berhenti dari pekerjaan itu, kini aku hanya memiliki satu profesi, profesi ku kini hanyalah seorang pengusaha properti seperti almarhum kakek, kau mengerti?," ucap Adam dengan begitu serius nya.


Tanpa membuat Adam menunggu lama, hanya sebuah anggukan yang di tunjukkan Marwa atas semua permintaan dari Yekka kepada nya saat itu.

__ADS_1


Walaupun sebenar nya ia tahu, kalau bakat desain yang di miliki Adam begitu spesial dan unik seperti bakat yang di miliki oleh Mastany yang sering kali ia dengar dari banyak orang.


Dosa apa yang pernah kau lakukan nyonya, sampai masa tua mu begitu menyedihkan seperti ini, batin Marwa sembari kembali memeluk calon suami nya dengan penuh kasih dan harapan.


Semoga Allah menolong mu keluar dari masalah ini mas, batin Marwa tak henti henti nya berdoa untuk kebaikan Adam, lelaki yang begitu ia cintai.


----------##------


Hari terus berjalan dengan begitu cepat.


Tanpa terasa tinggal menghitung hari acara pernikahan Adam dan Marwa akan segera di laksanakan.


"Pagi ibu," ucap Adam sembari membuka jendela kamar Mastany pagi itu.


Hal yang bahkan mungkin baru pertama kali nya dilakukan oleh Adam semenjak kepergian sang ayah beberapa bulan yang lalu.


"Ah, aku lupa. Ibu tidak akan pernah menjawab ucapan ku, dari dulu, sekarang atau bahkan nanti," ucap Adam sembari menatap Mastany dengan tatapan penuh dengan kekecewaan.

__ADS_1


"Aku begitu ingat saat ayah selalu berusaha mendekatkan ku pada ibu sejak aku masih kecil dulu, tapi ayah juga tak pernah memikirkan satu hal saat melakukan hal sia sia itu, bagaimana aku akan mengenal dan menyayangi ibu ku jika ibu ku saja tak pernah bisa menatapku atau bahkan memanggil nama ku untuk sekali saja?," keluh Adam dengan mata yang mulai basah.


Sedangkan Mastany tetap saja tak berekspresi dan merespon apapun yang tengah di ucapkan sang putra kepada nya.


"Kini aku sudah dewasa ibu, aku akan menikah, dan sesuai janji ku pada Marwa, aku akan bawa ibu untuk menyaksikan acara pernikahan anak lelaki mu ini. Tapi maaf ibu, aku tidak bisa berjanji aku akan membawa ibu masuk ke dalam kehidupan bahagia ku bersama istri ku, sudah cukup ibu menyusahkan ayah bertahun tahun lama nya hingga ayah akhir nya pergi tanpa kebahagiaan sedikitpun, dan aku tak mau berakhir mengenaskan seperti hidup ayah, tidak ibu!, ibu tidak bisa melakukan itu pada ku, jadi nikmati lah beberapa hari terakhir ibu bersama kami, semoga ibu bisa mengerti," ucap Adam sembari berjalan meninggalkan kamar Mastany tanpa kembali mau menoleh kebelakang.


"Bibi, tolong urus ibu ku, seperti nya dia buang air kecil," keluh Adam sembari kembali sibuk dengan ponsel nya.


"Baik tuan," ucap seorang wanita paruh baya yang nampak terlihat sebagai seorang pekerja baru di sana.


📱" Mas tak lupa memberi ibu sarapan bukan?, apa aku harus kesana untuk membantu merawat ibu?," ucap Marwa tak luput sehari pun menanyakan hal yang sama setiap hari nya.


"Tenanglah Marwa, oke!, sudah ada bibi Sun yang akan merawat ibu 24 jam penuh.


Jadi pikirkan saja hari bahagia kita dan tetaplah diam di rumah sampai waktu itu tiba," sahut Adam sembari langsung menutup panggilan telfon dari Marwa yang selalu saja menanyakan keadaan dari sang ibu mertua.


"Aku harap kau juga ingat janji mu setelah ini Marwa," ucap Adam sembari kembali membuka sebuah dokumen yang sepintas ada nama Mastany tertera di dalam sana.

__ADS_1


"Maafkan aku ayah, tapi aku bukan ayah yang bisa begitu sabar merawat ibu dengan begitu luar biasa nya. Aku juga ingin bahagia walaupun harus melakukan ini semua," ucap Adam sembari kembali sibuk dengan mesin ketik nya.


__ADS_2