Pembalasan Queensany

Pembalasan Queensany
Bab 27.


__ADS_3

"Ini kan yang kau inginkan!, sekarang enyahlah dari hadapan ku!," sentak Albert sembari mendorong Mastany keluar dari Kastil nya.


Hingga membuat para pengunjung Kastil di sisi lain bangunan itu langsung mematung menyaksikan kejadian itu.


Pasal nya yang mereka tahu, Mastany dan Albert merupakan keluarga yang harmonis dan serasi sejauh yang mereka lihat.


"Kembalikan putra ku!, kau tidak bisa memisahkan ku dengan nya!," sentak Mastany masih bersikeras menerobos masuk untuk mengambil anak nya yang berhasil di rebut oleh Albert.


"Lupakan dia!, dia akan hidup bahagia hanya dengan ku!," seru Albert sembari menutup pintu dengan keras nya.


"Kau akan membayar semua nya Albert, camkan itu!," ucap Mastany sembari berjalan perlahan meninggalkan Kastil itu dengan perasaan begitu terhina.


------##---


"Berani nya dia melakukan ini semua pada mu sayang!," seru Serril begitu tak menyangka semua itu akan terjadi kepada putri nya.


Memang Albert bukanlah lelaki baik di mata nya, namun suka ataupun tidak ia harus rela menerima nya sebagai menantu sebab putri nya sendiri lah yang memilih Albert untuk menjadi suami nya.


Tapi hal itu tak pernah ia sangka bisa di lakukan oleh Albert kepada putri semata wayang nya.


Sebab selama ini Serril jelas melihat bahwa sang menantu begitu tergila gila pada sang putri.


Walaupun tak bisa di pungkiri bahwa Albert hanya menjalin hubungan dengan Mastany saja, dan tak pernah mau menjalin hubungan dengan mereka sebagai orang tua kandung Mastany.


"Kita harus rebut Carlos bagaimana pun cara nya," seru Serril mencoba menenangkan Mastany yang hanya terdiam menangis di tempat duduk nya.


Berbeda dengan Serril, William tak sekalipun bersuara saat Mastany datang dan meluapkan kesedihan nya itu.


Tak lama kemudian, William segera beranjak pergi dari sana dan berjalan menuju pintu keluar.


"Abi?, mau kemana kau?, apa kau tidak sedikitpun prihatin dengan kondisi putri mu ini?," seru Serril membuat langkah kaki William terhenti.

__ADS_1


"Dia tak akan mengerti kekhawatiran kita ini sayang, bahkan sebelum ia menikah pun kekhawatiran ini sudah ada sejak lama, tapi apa?, dia menepis semua nya, seolah olah dunia akan mengikuti kemauan nya itu. Ini kan yang kau inginkan Mastany!, jadi terima lah konsekuensi nya," ucap William tanpa menatap ke arah sang putri yang kini begitu tercengang dan terpukul mendengar ucapan sang Abi.


Apa selalu aku yang harus menanggung konsekuensi di dunia ini Abi?, ini tak adil!, Abi tak tahu apa yang telah ku alami hingga kini, hanya untuk memberikan sebuah konsekuensi bagi orang biadab itu!, batin Mastany hanya bisa menangis pergi masuk ke dalam kamar nya.


"Abi, apa harus seperti ini sikap mu?. Ingatlah!, dia itu putri mu, kita masih punya kewajiban kepada nya hingga kita benar benar meninggalkan dunia ini," ucap Serril dengan mata yang mulai basah.


"Aku akan lebih menderita dan menyesal saat aku mati tanpa bisa melihat putri kita hidup bahagia!, apa kau tak mengerti itu!," seru William bergegas pergi dari rumah tanpa menggunakan tongkat jalan nya yang sudah 1 tahun ini menemani nya berjalan.


Seakan karna kekecewaan nya itu, membuat rasa sakit di kaki nya seketika ia lupakan.


Serril hanya bisa menangis di sudut sofa siang itu.


Menyaksikan suami dan anak nya tuk pertama kali nya berjauhan dan seperti tak saling mengenal lagi.


------##-----


"Ini kunci nya tuan," ucap seorang biro properti yang mengurusi jual beli rumah atas kepemilikan rumah milik Petra.


"Apa yang dia pikirkan hingga tega meninggalkan Suriah begitu saja?, jika itu karna Mastany, aku begitu menyesal Petra, apa kau tau itu?," ucap Albert sembari menyusuri rumah mantan kekasih nya yang hilang tanpa jejak sedikitpun.


Nyonya Petra bahkan menjual rumah ini tanpa datang langsung ke kantor kami tuan....


Kami di berhentikan mendadak di hari itu tuan, tanpa kesalahan apapun, bahkan hanya dengan sebuah surat dan uang pesangon untuk 2 bulan, di surat itu pun dia menulis tidal ingin melihat wajah kami lagi untuk selama nya....


Ucapan orang orang yang Albert temui terus saja terngiang ngiang di pikiran nya.


"Mungkin aku bisa mendapatkan sebuah petunjuk di sini," ucap Albert terus berjalan menyusuri lekuk rumah itu.


Namun tak ada yang berarti di dalam rumah itu.


Rumah itu sudah kosong tanpa perkakas apapun di sana.

__ADS_1


Hingga langkah kaki nya telah sampai ke sebuah taman belakang rumah.


"Semua bunga ini layu dan tak terawat, jika kau ada di sini pasti kau akan marah besar Petra," ucap Albert sembari menghela nafas panjang dengan tangan nya yang mencoba memungut beberapa bunga yang telah kering di pohon nya yang layu.


Lalu tatapan nya tiba tiba tertarik pada sebuah bunga mawar merah kesukaan Petra yang sudah tumbuh besar di tengah taman.


"Sebaik nya aku bawa kau pulang, setidak nya ada satu bunga yang masih bisa di selamat kan," ucap Albert mengambil sebuah sekop dan langsung mencongkel akar tanaman itu.


Namun saat ia mencoba menarik akar nya keluar, tiba tiba ia di kejutkan dengan menyembul nya sebuah tulang jari jemari yang begitu membuat nya histeris seketika.


"I - ini tak mungkin!," seru Albert sembari berlari tunggang langgang mencari bantuan.


Beberapa menit kemudian.


Rumah itu sudah penuh akan polisi, pekerja medis dan para wartawan yang begitu penasaran dengan di temukan nya tulang belulang di halaman belakang rumah itu.


Dengan cepat, pihak properti lah yang di interogasi terlebih dahulu, dan Albert juga harus terima saat ia harus di interogasi dan di berikan banyak pertanyaan dari semua orang.


Namun saat petugas autopsi menjelaskan fakta pertama untuk temuan nya itu.


Albert di buat syok dengan semua penuturan mereka.


"Usia nya sekitar 30 tahun tuan, dan sudah di pastikan ia berjenis kelamin perempuan, perkiraan dia di bunuh sekitar satu tahun yang lalu. Kemungkinan besar ia adalah nyonya Petra, pemilik terakhir rumah itu, tapi semua masih belum bisa di benarkan sebelum kami membawa nya ke rumah sakit untuk autopsi lebih lanjut," ucap seorang petugas medis membuat Albert langsung lemas dengan keringat dingin di seluruh tubuh nya.


Mastany?, apa dia ada kaitan nya dengan pembunuhan ini?, batin Albert antara marah dan takut saat itu, pasal nya jika Mastany benar benar terlibat akan semua itu, nyawa nya kemungkinan besar juga dalam bahaya.


"Tuan?," seru seorang polisi membuyarkan lamunan Albert.


"Efwan sir, saya hanya begitu syok dengan semua ini," sahut Albert sembari menyeka keringat dingin di kening nya.


"Sebaik nya tuan pulang, dan jangan ragu untuk memberitahu kami jika tuan mendapatkan petunjuk baru untuk kasus ini," ucap sir polisi segera kembali menyelesaikan tugas nya.

__ADS_1


Pasti, dan jika benar dia dalang semua ini, aku lah orang pertama yang akan buat perhitungan dengan nya, batin Albert sembari melajukan kereta nya meninggalkan tempat terkutuk itu.


__ADS_2