
Sejak saat itu, Yekka semakin yakin kalau Mastany akan pulih suatu hari nanti.
Lamunan nya mulai menggambarkan kehidupan yang indah suatu saat nanti saat mereka bertiga bisa menjadi keluarga yang sempurna, tepat nya di saat Mastany telah kembali pulih seperti sedia kala.
"Kau sudah mau membuka mata indah mu itu, aku ucapkan terima kasih. Bukan tidak mungkin kau juga akan kembali berbicara lagi melalui bibir ranum mu itu esok hari," ucap Yekka penuh harap.
Sepanjang hari Yekka terus merawat Mastany dengan penuh rasa cinta sembari terus memegang kuat harapan nya itu dalam hati nya.
Hari demi hari, bulan demi bulan, bahkan tahun berganti tahun.
Yekka tak pernah bosan merawat Mastany yang tak kunjung menunjukkan sebuah kemajuan.
Keadaan Mastany tetap saja tak berubah, ia hanya bisa berkedip dengan pandangan mata yang selalu nampak kosong.
Meskipun Adam masih sangat kecil untuk mengerti semua nya, Yekka tetap berusaha memperkenalkan sosok Mastany kepada Adam sejak Mastany tinggal di rumah sederhana mereka.
Ia memperkenalkan sosok Mastany secara perlahan kepada Adam untuk mempererat ikatan sang putra dengan sang ibu.
Saat waktu menyuapi Mastany tiba, Adam akan di biasakan duduk atau berbaring di samping Mastany, Yekka terus mengajak nya bercanda layak nya sebuah keluarga yang lengkap dan bahagia, dengan ada nya sosok seorang ibu sekaligus ayah di samping nya.
Walaupun kenyataan nya, Mastany tak sedikitpun merespon apapun yang berusaha di lakukan Yekka untuk mengembalikan kebahagiaan keluarga kecil nya itu.
**5** tahun berlalu.
Adam tumbuh semakin besar dan sehat berkat asuhan dari sang ayah yang baik, telaten dan pekerja keras seperti Yekka.
Adam juga semakin terlihat tampan dan cerdas saat ia mulai dikenalkan pada sebuah sekolah kanak kanak pada masa itu.
"Ayo, ayo!, kita berangkat," seru Yekka sembari membantu Adam menghabiskan suapan sarapan terakhir di piring nya.
"Baik ayah," sahut Adam dengan manis nya sembari meraih segelas susu buatan Yekka yang tak akan pernah lupa ia buat setiap hari nya untuk sang putra tercinta.
Segelas susu itu juga sudah biasa di habiskan oleh Adam dengan sekali tegukan saja.
__ADS_1
Karna jika tersisa sedikit saja, omelan akan segera keluar dari mulut Yekka meskipun hari masih terbilang pagi.
"Tunggu Adam!, apa kau sadar telah melupakan sesuatu?," tanya Yekka sembari merapikan meja makan.
Meskipun ia juga harus berangkat bekerja setiap pagi nya.
Ia selalu menyiapkan kebutuhan Adam terlebih dahulu serta memastikan Adam telah benar benar kenyang sebelum berangkat ke sekolah.
"La ayah," ucap Adam sedikit kebingungan dengan pertanyaan yang kini di lontarkan sang ayah kepada seorang anak kecil seperti diri nya.
"Temui lah ibu mu dulu, oke," perintah dari Yekka di setiap pagi nya kepada Adam sebelum ia berangkat ke sekolah.
Tanpa banyak berfikir lagi, Adam akan segera menuruti perintah itu sesuai dengan apa diinginkan Yekka.
"Baiklah ayah," ucap Adam patuh sembari berjalan memasuki kamar sang ibu.
Perlahan ia berjalan semakin mendekat ke arah Mastany yang sudah nampak cantik dan segar di atas ranjang.
Sebelum matahari menampakkan sinar nya, Yekka selalu memastikan Mastany telah mandi dan kenyang di setiap hari nya.
Melihat itu, Yekka merasa ada perubahan dalam diri sang anak.
Kenapa dengan nya?, batin Yekka perlahan mulai mendekati sang putra dan meluruskan hal yang mengganjal di hati nya.
"Mana doa yang ayah ajarkan pada mu Adam?, kenapa kau tidak mengucapkan nya hari ini?," tanya Yekka dengan serius nya sembari memegang kedua bahu sang putra.
Dari pandangan dan sorot mata nya, Yekka semakin yakin, kini ada yang sedang di pikirkan oleh sang putra.
"Ayah, kenapa aku harus selalu minta doa dan restu ibu saat aku akan berangkat sekolah?, ibu saja bahkan tak pernah menjawab ucapan ku sekalipun," ucap Adam mulai memiliki beragam pertanyaan dalam diri nya tentang dunia dan keluarga nya, khusus nya tentang keadaan sang ibu.
"Ayah sudah katakan berulang kali pada mu, ibu sedang sakit. Dan dia memang masih bisa diam saat kau meminta doa baik dari nya, tapi ayah yakin dia sudah mengatakan amin untuk kebaikan putra nya ini di dalam hati nya," sahut Yekka berusaha menepis opini opini buruk Adam kepada Mastany.
Namun hanya diam yang di tunjukkan Adam saat itu.
__ADS_1
Sembari menatap kembali sang ibu, perlahan ia mulai berjalan kembali ke sisi nya dan mengulang apa yang biasa ia lakukan sebelum berangkat ke sekolah.
"Ibu, doakan Adam agar selamat dan di lindungi Allah di mana pun Adam berada. Dan doakan Adam juga agar lebih pintar lagi sesuai harapan ayah dan ibu," ucap Adam membuat hati Yekka kembali lega, setidak nya usaha nya mendidik Adam tidak berakhir dengan kegagalan.
"Anak pintar, ayo kita berangkat ke sekolah nak," seru Yekka kembali terlihat sibuk sembari bergegas untuk memanaskan mesin kereta nya.
"Oh ya ibu, doakan juga agar ayah selalu sehat dan bisa menemani ku setiap hari nya, karna aku tidak akan lagi memiliki teman bermain jika ayah juga sakit seperti ibu," ucap Adam sebelum diri nya benar benar pergi dari hadapan sang ibu.
Tak terasa air mata Mastany pun menetes membasahi kedua pipi nya.
Namun tetap dalam keadaan diam dan tanpa sebuah ekspresi selayak nya biasa nya.
Bahkan air mata itu tidak ada yang bisa menyeka nya hingga kering dan tak berbekas lagi di pipi nya.
Hidup seakan kini telah mengutuk nya.
Mastany begitu terjebak dalam alam antara hidup dan mati.
Ketakutan yang dulu pernah ada di hati Yekka kini mulai terlihat dalam diri Adam.
Adam mulai jarang menemani Yekka merawat sang ibu.
Ia lebih suka bermain sendirian di taman belakang rumah dari pada harus duduk diam di samping sang ibu yang bahkan tak bisa menatap nya dan memanggil nama nya untuk sekali saja.
"Besok ayah harus mengambil kerja tambahan, kau bisa kan......," ucap Yekka belum sempat menyelesaikan kalimat nya.
"Aku juga harus berada di sekolah hingga sore Ayah," seru Adam berusaha mengelak dari permintaan sang ayah yang tidak lain adalah merawat Mastany selama ia bekerja lembur.
"Tapi kau masih sekolah kanak kanak, apa yang akan kau lakukan seharian di sekolah nak?," seru Yekka tak habis pikir.
"Aku harus membaca beberapa buku agar aku bisa terpilih untuk masuk ke sekolah dasar terbaik Ayah," seru Adam begitu dewasa walaupun umur nya masih belum genap 6 tahun.
"Masih banyak sekolah lain yang mau memberi mu pendidikan gratis nak," keluh sang ayah.
__ADS_1
"La!, aku tidak mau sekolah lagi jika aku tidak masuk ke sekolah terbaik itu!," seru Adam sembari meninggalkan sarapan nya begitu saja, bahkan pagi itu gelas susu nya tidak ia sentuh sama sekali.
"Ia begitu mirip dengan mu Mastany, begitu ambisius dan sulit sekali di tebak," ucap Yekka mau tak mau harus kembali mengatur jadwal kerja nya agar bisa mengurus Mastany setelah pulang bekerja nanti.